Tampilkan postingan dengan label pengunjung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengunjung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Oktober 2014

Makan Hemat di Angkringan Jogja Istimewa

Siapa yang tidak suka makanan murah nan lezat. Semua orang pasti suka. Sayangnya, di era seperti sekarang ini, makanan murah nan lezat itu sulit ditemukan. Sekalipun ada makanan murah, sering rasanya tidak sesuai keinginan kita. Namun jika anda ke Jogja, anda akan menemukan makanan-makanan murah nan lezat itu. Di mana? Tentu saja di angkringan. Jogja sangat terkenal dengan angkringannya, bukan hanya harga murah yang ditawarkan dari tiap makanannya, tapi juga kelezatan makanan dan suasana hangat yang terasa. Di angkringan-lah,perbedaan kasta tidak akan terlihat. Di sana semua orang sama, makan dengan menggunakan tangan ataupun duduk lesehan, yang penting makan kenyang, hati senang. Berikut 5 angkringan yang bisa anda temukan di Jogja:

  1. Angkringan Lek Man

    Nama angkringan satu ini sudah sangat terkenal seantero Jogja. Kopi Jos, itulah minuman unggulannya. Kopi Jos disajikan dalam keadaan panas dengan arang yang merah menyala. Arang pada kopi ini dipercaya mampu menetralisir kafein sehingga kafein pada Kopi Jos lebih rendah dibanding kopi-kopi umumnya. Satu gelas Kopi Jos dihargai Rp 3000. Sementara menu makanan pada angkringan ini tidak jauh beda dari angkringan lainnya, yaitu nasi kucing, sate telur puyuh, aneka gorengan, sate usus, dan sebagainya. Letak Angkringan Lek Man yang berdekatan dengan Stasiun Tugu membuat angkringan ini banyak dikunjungi wisatawan dari luar Jogja.


    1. Kopi Jos Disajikan dengan Arang

  2. Angkringan KR

    Angkringan ini merupakan salah satu yang teramai di Kota Jogja, terlebih bila weekend tiba. Dibanding angkringan lainnya, menu makanan angkringan ini jauh lebih banyak. Nasi kucingnya memiliki beberapa macam, ada nasi sambal teri, nasi rica ayam, nasi oseng tempe, nasi uduk spesial, nasi telor, nasi bebek, nasi goreng lombok ijo, nasi bumbu bali, dan nasi kornet ayam. Masing-masing harga makanan ini berkisar Rp 3000-Rp 3500 saja. Selain gorengan, ada juga sate keong, sate usus, dan sate telur puyuh. Sebagai makanan penutup, bisa juga mencicipi es susu tape ijo. Dengan menempati teras sebuah kantor , angkringan ini memiliki areal yang luas, pengunjung pun bisa memilih untuk makan di kursi gerobak, kursi taman, ataupun lesehan di teras.


    2. Angkringan KR

  3. Angkringan Lek Adi

    Dari segi tempat, angkringan ini tidak seperti angkringan lainnya yang menggunakan gerobak. Angkringan ini lebih menyerupai warung makan. Hanya saja, menu makanannya memang khas angkringan. Di sini pengunjung bisa menemukan nasi kucing, nasi bakar, gorengan, aneka sate, tongseng keong dan wedang. Angkringan yang berlokasi di Kotagede ini sering dijadikan tempat berburu lauk saat malam hari. Bagi beberapa pengunjung, menu spesial dari angkringan ini adalah nasi bakar dan wedang asemnya yang terasa kecut namun segar.


    3. Angkringan Lek Adi

  4. Angkringan Wilijan

    Angkringan yang berlokasi di Jalan Wilijan ini menyediakan menu makanan yang beragam. Selain menu khas angkringan seperti nasi kucing, aneka gorengan dan sate, angkringan Wilijan juga menyediakan tempura, nugget, telur dadar dan ceplok, ayam goreng, pecel, oseng usus, dan terong balado. Rasa sate usus angkringan ini berbeda dari sate usus angkringan lainnya yang manis. Sate usus angkringan Wilijan terasa gurih dan cenderung pedas. Keunikan lain dari angkringan ini ialah penyajian teh gula batu. Pengunjung akan mendapatkan satu penyaring teh, satu gelas berisikan gula batu, dan satu gelas berisikan rendaman daun teh dalam air panas.


    4. Teh Gula Batu


Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://www.yukpegi.com/indonesia/jawa-tengah/yogyakarta/menikmati-malam-di-angkringan-lik-man-yogyakarta/
2. http://www.satyawinnie.com/2014/07/nangkring-di-angkringan-kr-yogyakarta.html
3. http://perjalanangibraltar.blogspot.com/2013/04/angkringan-nganggo-suwe.html
4. http://heiupit.wordpress.com/2014/09/22/jalan-jajan-di-jogja/

Selasa, 14 Oktober 2014

Merasakan Suasana Kelam di Pulau-pulau Kepulauan Seribu

Tempat wisata yang seram hampir selalu menarik minat mereka yang punya jiwa pemberani dan selalu tertantang, tanpa terkecuali orang-orang Indonesia. Di Indonesia sendiri, ada banyak tempat yang dianggap angker dan selalu dijadikan tempat uji nyali. Jika selama ini, kita hanya mengenal keangkeran pada rumah dan kuburan, cobalah untuk merasakan keangkeran sebuah pulau. Rasakanlah bagaimana atmosfer sebuah pulau yang tak berpenghuni. Jangan kira pulau-pulau seperti itu hanya ada di luar negeri saja. Tidak! Indonesia juga memiliki pulau-pulau tak berpenghuni dan dianggap angker. Di manakah itu? Cobalah langkahkan kaki anda menuju satu kepulauan di sekitar Jakarta, yakni Kepulauan Seribu. Selama ini Kepulauan Seribu dikenal sebagai kepulauan yang dihuni oleh pulau-pulau cantik seperti Pulau Pramuka, Pulau Tidung, dan Pulau Pari. Namun siapa sangka, beberapa pulau di kepulauan tersebut sangat sunyi dan diisi dengan bangunan-bangunan kuno bekas zaman kolonial. Di satu sisi, pulau-pulau ini memang bisa dijadikan sebagai tujuan wisata sejarah. Namun bila malam tiba, pulau-pulau ini menjadi seram. Banyak juga pengunjung yang merasa takut dengan kesunyian pulau-pulau tersebut. Jika anda merasa tertantang, cobalah untuk datang ke pulau ini :

  • Pulau Onrust

    Pulau ini merupakan salah satu yang terdekat dari Pelabuhan Muara Angke. Di sini terdapat pusat Taman Arkeologi Onrust, reruntuhan bangunan Belanda, makam Kartosoewirjo (tokoh DI/TII pada masa pemerintahan Soekarno), kuburan Belanda, museum, sumur, penjara, dan benteng. Salah satu pengunjung yang pernah bermalam di Pulau Onrust berujar bahwa di Onrust tidak ada listrik bila malam tiba. Dan yang lebih seramnya lagi, beberapa pengunjung pernah mengaku melihat penampakan seorang noni Belanda yang membawa lentera putih. Memang Onrust memiliki panorama sunset yang begitu menawan, namun ketika hari semakin gelap, bangunan-bangunan tua Onrust terlihat seram, suasana pun menjadi semakin horor. Meskipun begitu Pulau Onrust cukup sering didatangi oleh pengunjung yang ingin berkemah. Di sana juga terdapat penjaga yang menjual makanan dan minuman.


    1. Makam Keramat

  • Pulau Karya

    Pulau ini berada di tengah di antara pulau-pulau lainnya di Kepulauan Seribu dan bertetangga dengan Pulau Panggang. Saat ini Pulau Karya dijadikan sebagai kantor pemerintahan Kepulauan Seribu dan Tempat Pemakaman Umum. Meskipun begitu Pulau Karya memiliki sejarah kelam. Sebelumnya pulau ini diberi nama Pulau Kuburan Cina. Fakta sejarah menyebutkan bahwa dulunya Pulau Karya dijadikan sebagai tempat pelarian etnis Tionghoa dari kerja paksa Ratu Elizabeth. Oleh karena tidak memiliki obat, mereka pun meninggal satu per satu dan dikuburkan di Pulau Karya.

  • Pulau Kelor

    Pulau ini berukuran lebih kecil dan berhadapan dengan Pulau Onrust. Saking kecilnya, pengunjung bisa mengelilinginya hanya dengan berjalan kaki dengan waktu 10 menit. Tidak ada satu pun bangunan rumah, warung, apalagi penginapan di pulau ini. Hanya ada sebuah benteng berwarna merah bata bernama Benteng Martello. Benteng ini dibangun pada abad ke-17 oleh Belanda untuk dijadikan sebagai menara pengawas dan pertahanan dari Inggris. Suasana malam pulau ini sangatlah gelap, tanpa cahaya sedikit pun. Angin yang berembus pun kencang sekali. Pengunjung yang tengah kemping dan merasa kedinginan bisa berlindung di Benteng Martello.


    2. Benteng Martello

  • Pulau Cipir

    Pulau satu ini bertetangga dengan Pulau Onrust dan Pulau Kelor. Sama seperti Pulau Onrust, Pulau Cipir juga memiliki reruntuhan bangunan Belanda yakni reruntuhan rumah sakit yang langsung menghadap ke laut. Menurut sejarah, pada masa penjajahan Belanda dahulu, rumah sakit ini pernah menjadi rumah sakit karantina bagi mereka yang memiliki penyakit menular dan juga sebagai tempat karantina para jamaah haji. Pulau ini terlihat semakin angker manakala melihat tembok-tembok bangunan berwarna gelap itu. Ditambah lagi tanaman-tanaman liar yang tumbuh di beberapa sudut. Ada satu lagi rumah singgah di zaman Belanda yang masih berdiri kokoh hingga sekarang. Jika merasa punya nyali yang kuat, silakan masuk dan rasakan atmosfer di dalamnya.


    3. Reruntuhan Rumah Sakit

Bagaimana? Keempat pulau ini memiliki kisah kelam masing-masing dan yang pasti bisa menjadi tujuan wisata yang seru. Meskipun terkesan seram, bangunan-bangunan sejarah ini sudah menjadi cagar budaya dan sudah seharusnya kita sebagai warga yang baik harus melestarikan pulau-pulau ini dengan tidak mengotorinya. Ayo segera langkahkan kakimu menuju Kepulauan Seribu!

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://winnyradc.wordpress.com/2013/09/16/mengenal-wisata-jakarta-pulau-onrust-cipir-dan-kelor/
2. http://travel.detik.com/read/2013/05/16/192126/2248206/1383/onrust--3-pulau-horor-lain-di-kepulauan-seribu
3. http://mylittlejourney85.files.wordpress.com/2012/11/pulau-cipir.jpg

Jumat, 10 Oktober 2014

Merasakan Perdamaian di Bukit Kasih Manado

Indonesia adalah bangsa yang majemuk, di mana di dalamnya terdapat banyak keragaman, mulai dari agama, suku, adat-istiadat, bahkan bahasa yang berbeda di setiap daerahnya. Keragaman inilah yang pada akhirnya membuat para founding fathers kita menetapkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya “Berbeda-beda tetap satu jua”. Di beberapa tempat di Indonesia, keragaman itu bisa berjalan dengan harmonis. Masyarakat yang berbeda agama dan suku tetap bisa hidup berdampingan satu sama lain. Di Pulau Sulawesi, masyarakat Minahasa mempraktikkan semboyan “Torang Samua Ba’saudara” dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dalam Bahasa Indonesia, semboyan itu berarti “Kita semua bersaudara”. Tidak hanya bisa dilihat dan didengar dari keseharian masyarakat Minahasa saja, semboyan ini juga bisa kita lihat pada sebuah objek wisata bernama Bukit Kasih. Bukit ini merupakan tempat wisata yang letaknya di kaki Gunung Soputan. Penamaan Bukit Kasih diberikan karena melihat orang-orang dengan berbagai agama bisa dengan damainya berkumpul di bukit ini. Dengan semboyan “Torang Samua Ba’saudara”nya, rakyat Minahasa menjadikan bukit ini sebagai simbol perdamaian sekaligus media agar kita selalu kita ingat akan kerukunan yang harus kita jalin antar umat beragama.

Areal wisata ini berada di lokasi sumber belerang, maka ketika anda menyusuri areal ini, pengunjung akan menemukan beberapa kawah belerang di kanan dan kiri jalan. Selain kawah, pengunjung juga bisa melihat bukit-bukit hijau yang hijau. Suasana kompleks wisata ini sangat asri. Memasuki kompleks wisata, pengunjung akan menemukan tugu toleransi yang berdekatan dengan pintu masuk. Penamaan Tugu Toleransi diberikan karena di setiap sisi tugu yang berbentuk segi lima ini terdapat gambar, simbol, dan kutipan ayat dari Kitab Suci kelima agama tersebut. Beranjak dari Tugu Toleransi, pengunjung harus menjejakkan langkahnya menuju puncak Bukit Kasih. Untuk mencapainya, pengunjung harus menaiki anak-anak tangga yang panjang. Perjalanan ini cukup melelahkan. Oleh karena itu, pengunjung disarankan untuk mengenakan sepatu yang aman dan nyaman. Jangan lupa untuk menyiapkan stamina semaksimal mungkin, mengingat perjalanan cukup curam. Tetapi, perjuangan melelahkan tersebut akan terbayarkan saat anda melihat pemandangan yang indah.


1. Tugu Toleransi

Dari jarak pandang yang jauh, pengunjung bisa melihat perbukitan yang rimbun dan kelima tempat ibadah di atas puncak Bukit Kasih. Jangan takut bila anda menemukan wajah berbentuk besar di dinding tebing. Wajah besar itu merupakan pahatan wajah nenek moyang penduduk Minahasa, Lumimuut, dan Toar. Pembuatan pahatan wajah ini dimaksudkan agar masyarakat tidak melupakan nenek moyangnya.

Di atas puncak Bukit Kasih, kita bisa menemukan kelima tempat ibadah, yaitu Masjid, Gereja Katolik dan Protestan, Vihara, dan Pura. Kelima tempat ibadah ini dihubungkan oleh anak tangga. Kelima tempat ibadah yang terhubung dan Tugu Toleransi merupakan simbol perdamaian bahwa setiap penganut agama yang berbeda tetap bisa hidup secara berdampingan. Selain kelima tempat ibadah tersebut, terdapat juga beberapa kolam berukuran kecil berisikan air panas yang bisa digunakan pengunjung untuk merendam kaki setelah lelah berjalan jauh. Dari atas puncak ini juga pengunjung bisa melihat birunya Danau Tondano.


2. Kelima Tempat Ibadah

Objek wisata Bukit Kasih berada di Desa Kanonangan, Kabupaten Minahasa, sekitar 55 kilometer dari sisi selatan Manado. Dari pusat Kota Manado, pengunjung bisa mencapai Bukit Kasih dengan menggunakan kendaraan pribadi ataupun angkutan umum dengan jarak tempuh 1 jam. Objek wisata ini juga memiliki beberapa fasilitas, seperti warung yang menjual makanan ringan, kolam air panas alami, dan hotel yang berada tidak jauh dari lokasi Bukit Kasih.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://visitsindonesia.com/wp-content/uploads/2013/12/BKM.jpg
2. http://www.gocelebes.com/wp-content/uploads/2013/03/tempat-ibadah-bukit-kasih.jpg

Senin, 06 Oktober 2014

Indahnya Gua Putri Baturaja di Sumatera Selatan


1. Papan Sambutan Kepada Pengunjung

Jika anda tengah mengunjungi Sumatera Selatan, sempatkanlah diri anda untuk melangkahkan kaki ke salah satu kabupatennya yang bernama Ogan Komering Ulu. Di sana anda bisa menemukan sebuah gua yang dipenuhi stalaktit dan stalagmit. Menurut legenda masyarakat sekitar, keberadaan Gua Putri ini erat kaitannya dengan legenda Si Pahit Lidah. Dahulu kala, ada seorang putri cantik bernama Dayang Merindu yang merupakan selir Prabu Amir Rasyid. Pada suatu pagi, Dayang Merindu mandi di Sungai Semuhun. Saat ia mandi, seorang pengembara yang dikenal sebagai Si Pahit Lidah muncul dan lewat di hadapannya. Si Pahit Lidah ingin menyapa Dayang Merindu, namun kehadirannya tidak digubris sama sekali. Mendapat perlakuan seperti itu, Si Pahit Lidah pun berkata bahwa sikap diamnya Dayang Merindu seperti batu. Seketika, Dayang Merindu pun berubah menjadi batu. Si Pahit Lidah kemudian melanjutkan perjalanan menuju desa di mana Keluarga Dayang Merindu berdiam. Namun apa yang dilihatnya tidak seperti desa karena sepi sekali. Si Pahit Lidah pun berujar bahwa desa sepi itu seperti gua. Dalam sekejap, desa itu pun berubah menjadi gua.

Gua Putri merupakan salah satu objek wisata arkeologi yang patut dikunjungi. Aneka stalaktit yang menggantung di langit gua dan stalagmit yang melekat di lantai gua, serta cahaya redup yang muncul dari beberapa lampu di dalam gua membuat gua ini terlihat ajaib. Untuk dapat menyusuri gua, anda tidak perlu menunduk bahkan sampai merangkak karena Gua Putri memiliki lebar sekitar 20 m dan tinggi sekitar 20 m. Memasuki gua, anda akan menemukan kumpulan stalakmit yang menyerupai panggung kecil, sementara di sampingnya anda akan menemukan aliran air Sungai Semuhun yang menyerupai kolam. Tidak jauh dari kolam, anda akan menemukan stalakmit yang menyerupai tungku memasak. Selain itu, anda juga akan menemukan hamparan karst yang seperti panggung, di mana pada sisi belakang terdapat untaian stalaktit berukuran kecil dan besar. Di sisi hamparan karst tersebut, terdapat aliran Sungai Semuhun yang dulunya diyakini sebagai tempat permandian para putri. Konon, tempat mandi ini diyakini dapat mewujudkan keinginan siapa saja yang mandi di sana.


2. Gua Putri Baturaja

Melihat aneka stalaktit-stalakmit di dalam gua dapat menyegarkan mata, terutama bagi mereka yang sehari-harinya bergelut di keramaian kota. Ditambah suara gemercik air di dalam gua, dapat membuat pikiran kita lebih rileks. Selain menyuguhkan keindahan gua, pihak pengelola juga menyiapkan kedai makanan-suvenir, museum Si Pahit Lidah, dan juga ruang pertunjukan. Di dalam museum tersebut, tersimpan aneka kerangka manusia purba. Untuk mencapai Gua Putri, pengunjung bisa menggunakan moda transportasi apa saja yang sampai ke Desa Padang Bindu, Semidang Aji, OKU. Jika anda berangkat dari Kota Palembang, jarak yang ditempuh sekitar 230 km dengan waktu tempuh sekitar 7 jam. Bila tidak menggunakan kendaraan pribadi, anda bisa menggunakan jasa travel yang berangkat dari Palembang. Biasanya travel-travel ini mudah ditemukan di areal parkir Pasar 16 Ilir, Pangkal Jembatan Ampera, dan Pamor (Depan RM Pagi Sore Kertapati). Untuk dapat memasuki kawasan Gua Putri, setiap pengunjung dipungut retribusi sebesar Rp 5000,00 untuk pengunjung dewasa, Rp 3000,00 untuk pelajar, dan Rp 2500,00 untuk pengunjung anak-anak.

Gua Putri adalah salah satu tujuan wisata yang cukup populer di Sumatera Selatan. Di luar legendanya, Gua Putri adalah salah satu bukti keagungan Ilahi yang menciptakan sebuah gua besar dengan sedemikian indahnya. Tunggu apa lagi? Ayo menyusuri Gua Putri. Ayo ke Sumatera Selatan!

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://milanistibaturaja.files.wordpress.com/2013/04/images-1.jpg
2. http://news.liputan6.com/read/2078686/menikmati-stalaktit-dan-stalagmit-di-gua-putri-baturaja

Mengenal Pedalaman Suku Badui dan Keselarasannya dengan Alam

Sebagai negara yang kaya akan kekayaan alam dan keragaman budaya, Indonesia tidak hanya menawarkan aneka wisata alam dan sejarah saja, tetapi juga desa-desa unik yang masih menjaga kearifan lokalnya hingga saat ini. Sebut saja Suku Badui di Banten yang memiliki adat-istiadat yang unik. Suku Badui berada sekitar 120 km dari Kota Jakarta. Perjalanan yang tidak singkat ini akan menjadi momen yang menyegarkan kita dari penatnya ibu kota, karena di sepanjang jalan kita bisa melihat dan merasakan suasana alam yang begitu asri. Adapun Suku Badui membagi wilayahnya menjadi dua bagian yaitu Suku Badui Dalam dan Suku Badui Luar. Letak perbedaan kedua suku ini bisa dilihat dari adat-istiadat mereka, di mana Suku Badui Dalam masih menjaga ketat adat-istiadat. Suku Badui Luar juga tetap menjaga adat-istiadat namun sudah bisa berbaur dengan masyarakat di sekitar mereka. Meskipun Suku Badui Luar tidak terlalu menjaga ketat adat-istiadat, namun ciri kehidupan mereka tetap sama seperti Suku Badui Dalam yakni hidup sederhana, berdampingan, anti narkoba, dan berselaras dengan alam.

Menurut sejarah, kata Badui berasal dari Bedouin atau Badawi yang diberikan seorang peneliti berkebangsaan Belanda. Diakibatkan aksen penduduk setempat, kata Bedouin atau Badwi pun bergeser menjadi Badui. Perkampungan Suku Badui berjarak 40 kilometer dari Rangkasbitung dan untuk mencapainya, pengunjung disarankan untuk menaiki kereta api ataupun angkutan umum lainnya yang sampai ke Kabupaten Rangkasbitung. Setelah sampai di Rangkasbitung, pengunjung harus melanjutkan perjalanan hingga sampai di Ciboleger, pintu masuk menuju perkampungan Suku Badui. Sesampainya di Terminal Ciboleger, pengunjung akan disambut oleh anak-anak Suku Baduy. Kebanyakan mereka berdiri di emperan toko untuk berjualan souvenir. Anak-anak ini sudah bisa berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dan sedikit-sedikit sudah mulai memahami Bahasa Inggris. Oleh karena itu, anda tidak perlu ragu untuk bertanya ataupun meminta salah satu dari mereka untuk menjadi tour guide.

Memasuki perkampungan Badui, anda akan merasakan perbedaan yang begitu mencolok dengan suasana perkotaan. Di wilayah Badui Luar, anda bisa melihat orang-orang Suku Badui mengenakan pakaian khas mereka yang berwarna hitam, putih, mengenakan ikat kepala, dan tidak mengenakan alas kaki. Di wilayah ini, pengunjung masih diperbolehkan untuk mendokumentasikan hal-hal di sekitar, baik itu orang-orang Suku Badui maupun rumah-rumah jerami mereka. Sepanjang perjalanan, anda akan menyusuri sungai-sungai kecil dan lumbung padi yang biasanya diletakkan di halaman depan tiap-tiap rumah. Untuk bisa mencapai Suku Badui Dalam, anda harus melewati jembatan bambu yang merupakan pemisah sekaligus penghubung antara Suku Badui Luar dan Suku Badui Dalam. Bila dibandingkan dengan perkampungan Badui Luar, Suku Badui Dalam terasa lebih asri dengan bukit-bukit hijaunya. Suku Badui Dalam memang hidup selaras dengan alam. Suku Badui Dalam sangat percaya bahwa jika mereka bersikap baik pada alam, maka alam juga akan bersikap baik pada mereka. Oleh karena itulah, mereka tidak pernah menggunakan sabun, sampo, dan odol saat mandi. Mereka tidak ingin barang-barang seperti itu mencemari sungai dan lingkungan mereka. Selain itu, mereka juga juga tidak bersentuhan dengan tape-deck, radio, dan alat elektronik lainnya, juga tidak mengenakan alas kaki dan kendaraan saat bepergian. Suku Badui Dalam terbiasa berjalan kaki ke manapun mereka pergi.


1. Suku Badui Dalam


2. Perkampungan Badui


3. Lumbung Padi Suku Badui

Bagi anda yang ingin merasakan hidup berdampingan dengan Suku Badui Dalam, anda bisa menginap di sana. Selama menginap, anda akan merasakan hidup tanpa gadget, listrik, dan kamar mandi, dan anda harus menggantungkan diri pada alam, seperti mandi dan buang air di sungai. Semua peraturan itu harus ditaati karena jika dilanggar akan dikenakan sanksi adat. Jangan lupa untuk membawa senter, anti nyamuk, dan obat-obatan. Di dalam perkampungan Badui tidak ada puskesmas, mereka terbiasa menggunakan daun untuk mengobati penyakit yang mereka derita.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://erzariani.blogspot.com/2014/03/mengenal-kehidupan-suku-baduy.html
2. http://pesonaindahindonesia.blogspot.com/2013/03/wisata-alam-dan-budaya-suku-baduy-desa.html
3. http://www.indonesiahebat.org/uploads/default/files/lumbung-padi-suku-baduy.jpg

Senin, 29 September 2014

Menikmati Keindahan Nisan Bergaya Kolonial di Museum Taman Prasasti


1. Museum Taman Prasasti

Jika selama ini anda mengunjungi museum untuk mengamati koleksi dan benda peninggalan yang terpajang, mungkin anda boleh mencoba penelusuran museum dengan pengalaman yang berbeda. Di mana itu? Tentu saja di Museum Taman Prasasti yang berada di Tanah Abang Jakarta. Mengapa museum ini bisa memberikan pengalaman yang berbeda? Karena di museum ini, anda tidak akan melihat koleksi yang terpajang di atas meja ataupun di dalam lemari kaca. Di dalam Museum Taman Prasasti, anda akan menemukan berbagai kuburan tua yang merupakan tempat peristirahatan terakhir para tokoh penting berkebangsaan Eropa pada masa kolonial. Museum Taman Prasasti berdiri di atas tanah dengan luas 1,2 Ha, di mana di dalamnya terdapat berbagai koleksi nisan, prasasti, dan patung yang memiliki nilai seni dan sejarah yang tinggi.

Dahulu TPU ini bernama Kerkhof Laan dan menjadi pemakaman Eropa paling besar di Asia. Ketika dibangun pada tahun 1795, TPU ini bertujuan untuk mengantisipasi lonjakan penduduk Batavia yang semakin meningkat pesat. Pada tahun 1808, TPU ini menerima banyak nisan yang dipindahkan dari kuburan lain, seperti dari Gereja Belanda yang ada di Kota, yang kini telah menjadi Museum Wayang dan dari Gereja Sion. Pemindahan nisan ini dilakukan atas perintah Daendels yang melakukan pelarangan terhadap tradisi menguburkan jenazah di gereja atau di tanah pribadi. Diperkirakan, batu nisan di Kerkhof Laan yang dulunya berjumlah 4600, kini hanya tersisa 1242 buah. Sebelumnya pemakaman ini juga dikenal sebagai pemakaman Kebon Jahe Kober dan dimanfaatkan sejak tahun 1795. Pada tahun 1795, tepatnya pada saat kepemimpinan Ali Sadikin, pemakaman ini ditutup. Sebagian kerangka dibawa pulang oleh kerabat ke Belanda, sementara sisanya masih dipertahankan, kemudian ditata ulang dan dijadikan Museum Taman Prasasti. Pada tahun 1977, pemakaman ini diresmikan sebagai Museum Taman Prasasti oleh Ali Sadikin selaku Gubernur DKI Jakarta.

Pada saat masuk ke kompleks pemakaman, pengunjung akan menemukan sebuah lonceng terbuat dari perunggu yang terdapat pada pintu gerbang. Dahulu lonceng digunakan untuk memberikan isyarat atau tanda bagi petugas pemakaman, dentang pertama menandakan berita kematian, sedangkan dentang yang terus-menerus menandakan kedatangan jenazah, lonceng akan berhenti berdentang apabila jenazah telah sampai di gerbang pemakaman. Di dalam sebuah ruangan terdapat satu peti jenazah berukir yang kabarnya dulu digunakan sebagai pembaringan jasad Presiden Soekarno dan satu peti jenazah polos yang disiapkan untuk Mohammad Hatta, namun tidak jadi digunakan.


2. Suasana Museum Taman Prasasti

Di dalam Museum Taman Prasasti ini pengunjung bisa mengamati berbagai nisan para tokoh yang berpengaruh di zaman Hindia Belanda dahulu. Tokoh-tokoh penting yang pernah dimakamkan di museum ini antara lain Dr. H. F. Roll selaku pendiri STOVIA, J.H.R. Kohler selaku tokoh militer di masa Perang Aceh, Miss Riboet selaku tokoh opera era 1930-an, Olivia Raffles yang merupakan istri dari Thomas Stamford Raffles, dan juga Soe Hok Gie aktivis mahasiswa di era 60-an yang wafat di Gunung Semeru sehari sebelum hari ulang tahunnya.


3. Nisan Soe Hok Gie

Museum Taman Prasasti kerap dijadikan sebagai latar fotografi, baik untuk koleksi pribadi, pre wedding, ataupun video klip. Bila anda pernah memperhatikan video klip Ungu-Demi Waktu, anda akan melihat Museum Taman Prasasti sebagai latarnya. Keindahan patung dan nisan bergaya kolonial serta nuansa duka yang tidak menyeramkan membuat tempat ini menjadi menarik untuk dikunjungi. Museum Taman Prasasti ini berada tepat di samping Kantor Walikota Jakarta Pusat. Untuk mencapainya, pengunjung yang menggunakan kendaraan umum bisa menaiki bus Transjakarta rute Blok M-Kota dan Mikrolet 08 rute Tanah Abang-Kota.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://travelmatekamu.com/wp-content/uploads/2014/04/kotawisataindonesia.jpg
2. http://nusapedia.com/uploads/timthumb.php?src=makam.jpg&h=292&w=658
3. http://assets.kompasiana.com/statics/files/2014/03/13952189971335921247.jpg

Kamis, 11 September 2014

Menikmati Pesona Indah Danau Toba dan Sekitarnya


1. Pemandangan Danau Toba

Danau Toba adalah salah satu keagungan Tuhan yang tercipta di nusantara kita. Airnya yang jernih, udara yang sejuk dan segar, dan pemandangan yang begitu mempesona dengan aneka pegunungan hijau menjadikan Danau Toba menjadi tujuan wisata yang begitu mengagumkan. Danau Toba merupakan hasil letusan gunung berapi sekitar 70 ribu tahun yang lalu. Menurut perkiraan, efek letusan tersebut, terjadi kepunahan dan kematian massal. Letusan ini sangat memengaruhi keadaan dunia karena mengakibatkan perubahan iklim. Danau Toba memiliki luas 1145 km2 sehingga lebih layak disebut lautan dibanding danau. Di kawasan Asia Tenggara, Danau Toba merupakan danau terluas.

Danau Toba juga memiliki sebuah pulau di bagian tengahnya bernama Samosir. Pulau Samosir berada pada ketinggian 1000 m dpl. Dan ternyata di dalam Danau Toba, masih ada dua danau kecil, yaitu Danau Aek Natonang dan Danau Sidihoni yang berada tepat di tengah Samosir. Bila kita mengarahkan pandangan ke pinggir Danau Toba, kita bisa melihat air terjun yang mempesona dan Tanjung Unta, sebuah tanjung yang hampir serupa punggung unta.

Danau Toba atau dalam bahasa Batak sering disebut Tao Toba merupakan tempat yang sangat cocok bagi siapapun yang ingin bersantai, menghilangkan penat, merasakan ketenangan, dan juga keindahan gunung yang berderet. Letak Danau Toba yang berada 900 m dpl membuat udara di sekelilingnya terasa sejuk, segar, dan jauh dari polusi. Selain menikmati kesejukan udaranya dan keindahan panoramanya, pengunjung juga bisa berperahu dan berenang untuk semakin melihat keindahan tersebut dalam jarak yang dekat.

Jika anda ingin mengenal bagaimana masyarakat Batak di sekitar Danau Toba, anda bisa tinggal di Pulau Samosir untuk beberapa lama. Di sekitar Danau Toba, ada banyak penginapan yang bisa anda tempati selama anda menjelajahi Danau Toba, Pulau Samosir, dan sekitarnya. Di Pulau Samosir, anda bisa melihat aneka kuburan batu yang masih tradisional, rumah adat Batak Toba yang disebut Rumah Bolon, Makam Raja Sidabutar yang berusia 500 tahun, dan juga Patung Sigale-Gale, sebuah patung yang bisa menari. Selain itu, anda juga bisa mengunjungi Desa Janggah, tempat penghasil ulos dan juga Rumah Pengasingan Presiden Pertama RI, Soekarno yang berada di tepi Danau Toba. Umumnya para wisatawan meramaikan Danau Toba saat sedang liburan sekolah dan saat sedang ada festival tahunan seperti Festival Danau Toba. Di saat-saat seperti itu,  pengunjung bisa melihat bagaimana cara masyarakat Batak menghormati arwah nenek moyang mereka, melihat tarian dan juga nyanyian Batak yang sangat khas dengan iringan serulingnya.


2. Patung Sigale-gale

Danau Toba terletak di Kota Parapat. Jarak antara Parapat dan Medan sekitar 176 km dan dapat ditempuh dalam waktu 6 jam dengan menggunakan bus. Tersedia rute Medan-Parapat untuk bisa sampai ke tempat ini dengan tarif Rp 40.000,00. Untuk memudahkan pencarian bus, anda disarankan untuk sampai di Medan pada pagi hari, karena biasanya bus akan membawa pengunjung langsung ke Kawasan Danau Toba. Setibanya di Parapat, anda bisa menggunakan kapal feri menuju Pulau Samosir, yang beroperasi mulai pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore dengan tarif Rp 10.000. Sembari menunggu kapal berangkat, anda bisa mengarahkan kamera anda ke berbagai objek indah di sekitar danau.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://lifeistravelling.files.wordpress.com/2012/02/toba-lake.jpg
2. http://tobalitour.com/news/4077935-si_gale_gale_puppet_pulau_samosir-829870457.jpg

Jumat, 29 Agustus 2014

Taman Alam Lumbini, Maha Karya Indonesia Di Brastagi


1. Taman Alam Lumbini

Selama ini dunia mungkin hanya mengenal Myanmar dan Thailand yang dipenuhi oleh pagoda-pagoda megah dan indah, namun ternyata Indonesia juga memiliki pagoda yang tidak kalah indah. Sebut saja Taman Alam Lumbini, sebuah kompleks taman yang memiliki pagoda nan megah di dalamnya. Taman Alam Lumbini berada di Desa Tongkoh Brastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Adapun taman alam ini diresmikan pada tahun 2010 yang lalu dengan melibatkan 100 bhiksu Indonesia, 400 bhiksu Thailand. 650 bhiksu Myanmar, dan selebihnya berasal dari negara lain.

Pagoda di Taman Alam Lumbini merupakan replika Pagoda Shwedagon di Burma. Untuk memasuki taman ini, pengunjung tidak dikenakan biaya sepeser pun alias gratis. Sesampainya di kawasan pagoda, pengunjung akan disambut oleh warna emas yang memenuhi seluruh bagian luar pagoda yang membuat bangunan ini tampak megah. Pada bagian kiri pagoda terdapat menara dengan puncak berbentuk bekisar, sementara pada bagian bawahnya terdapat beberapa gelang emas yang menjuntai sepanjang 1,5 meter. Sebagaimana pagoda pada umumnya, puncak pagoda ini pun dihiasi oleh banyak lonceng. Jika angin tengah bertiup dan mengenai lonceng, maka lonceng-lonceng tersebut akan berdentang. Sebelum masuk ke dalam pagoda, pengunjung diminta untuk melepaskan alas kaki dan tidak boleh membawa makanan minuman ke dalam. Memasuki pagoda, pengunjung akan menemukan empat patung Buddha yang menghadap pintu dan mengarah ke empat mata angin. Bagi pengunjung yang beragama Buddha, anda bisa bersembahyang di tempat ini. Suasananya sangat teduh, tenang, dan tenteram. Perlu diketahui, replika pagoda di Myanmar yang ada di taman ini merupakan yang tertinggi di Indonesia sehingga mendapatkan rekor MURI. Selain memiliki bangunan pagoda, taman alam ini juga memiliki hamparan taman dengan bunga-bunga yang bermekaran indah. Jika anda sudah puas mengelilingi bangunan pagoda, anda bisa bersantai di taman ini.


2. Taman Hijau di Samping Pagoda

Taman Alam Lumbini bisa dicapai dari Kota Medan dengan lama perjalanan 2-3 jam. Bagi anda yang berangkat dari Medan dan menggunakan kendaraan umum, anda bisa melakukan estafet dengan menggunakan jasa angkot Sutra dengan rute Medan-Brastagi, cukup dengan ongkos Rp 10.000 saja. Sepanjang perjalanan menuju Brastagi, anda akan disuguhkan pemandangan alam yang begitu indah diiringi dengan musik Batak yang biasa mengalun di setiap angkutan umum di Sumatera Utara. Dan satu lagi, angkot Sutra tidak akan menurunkan anda tepat di depan Taman Alam Lumbini. Anda harus berhenti di Simpang Tongkoh kemudian melanjutkan perjalanan sekitar 500 meter, barulah anda bisa sampai tepat di Taman Alam Lumbini. Untuk melanjutkannya, anda bisa menggunakan kendaraan ataupun berjalan kaki. Tapi alangkah baiknya jika anda berjalan kaki karena di pemandangan kebun stroberi di kanan dan kiri jalan bisa menyegarkan mata.

Bagaimana? Sudah siap menjelajahi salah satu maha karya Indonesia ini? Udara sejuk Brastagi akan menemani anda mengitari Taman Alam Lumbini.

Oleh: Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://static.panoramio.com/photos/large/57428527.jpg
2. http://medan.panduanwisata.com/files/2013/03/6993318383_33320fb1c1_c.jpg

Kamis, 28 Agustus 2014

Mengenali Keberadaan Kesultanan Deli Melalui Istana Maimun Medan


1. Istana Maimun Tampak Depan

Kota Medan adalah salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki banyak tujuan wisata. Selain Danau Toba yang ada di Pulau Samosir, masih ada tujuan wisata lainnya, baik itu wisata alam, kuliner, maupun sejarah. Salah satu tujuan wisata yang wajib dikunjungi bila tengah berkunjung ke Medan adalah Istana Maimun. Istana Maimun merupakan istana peninggalan Kesultanan Deli yang berada di Jl. Brigjen Katamso, Sukaraja, Medan. Menurut sejarah, Istana Maimun didirikan pada tahun 1888 oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa dan diresmikan pada tahun 1891.

Ada satu yang unik dan membuat istana ini tampak beda dari istana-istana lainnya di Indonesia, yakni gaya arsitekturnya yang merupakan kombinasi unsur Melayu, Italia, Spanyol, dan India. Pengaruh Eropa itu dapat dilihat pada ornamen pintu dorong, lampu, lemari, meja, dan kursi istana. Selain pintu yang bergaya Spanyol, anda juga bisa melihat gaya arsitektur Belanda pada bentuk jendela dan pintu yang tinggi dan lebar. Oh ya, di depan tangga, anda bisa melihat prasasti dari batuan marmer yang ditulis dalam Bahasa Belanda, dengan menggunakan huruf Latin. Pengaruh Islam dapat dilihat pada bagian atap yang berbentuk lengkung yang menyerupai bentuk perahu yang terbalik. Biasanya bentuk seperti ini hanya dapat ditemukan pada bangunan di Timur Tengah.


2. Bagian Dalam Istana Maimun

Pada bagian ruang tamu, anda akan menemukan tahta yang warnanya didominasi oleh warna kuning. Ruang tamu dengan luas 412 m2 ini digunakan untuk menobatkan Sultan Deli dan untuk melakukan agenda tradisional yang lain. Selain itu, ruangan ini juga digunakan Sultan Deli untuk menerima kunjungan dari keluarga pada saat hari raya Islam. Adapun kemegahan Istana Maimun ini bisa terwujud karena semasa Deli masih di bawah naungan Kesultanan Deli, mereka bisa mengelola hasil perkebunan dengan baik, seperti minyak dan aneka rempah-rempah. Hasil bumi yang melimpah ini memberikan penghasilan yang sangat besar bagi Kesultanan Deli.

Kemegahan Istana Maimun tidak akan membuat anda bosan menikmatinya. Di dalam istana dengan warna khas Melayu ini, anda bisa melihat puluhan kamar di lantai dua, melihat berbagai koleksi istana yang antik, dan juga bisa menikmati hawa sejuk yang tentu akan membuat anda nyaman berada di dalamnya.. Adapun bangunan istana ini terdiri dari satu bangunan induk dan dua sayap kiri-kanan. Seratus meter dari Istana Maimun berdiri sebuah masjid bernama Masjid Raya Medan.

Istana Maimun dibuka bagi umum setiap harinya mulai pukul 08.00 sampai pukul 17.00 WIB. Untuk bisa masuk ke dalam istana, pengunjung dikenakan tarif masuk sebesar Rp 5000,- bagi pengunjung dewasa dan Rp 3000,- bagi pengunjung anak-anak. Istana Maimun berlokasi di Kelurahan Aur, tepatnya di pusat Kota Medan. Untuk bisa sampai ke istana ini, pengunjung bisa menggunakan berbagai moda transportasi seperti angkutan umum, becak, ataupun becak motor. Letak Istana Maimun yang berada di tengah-tengah kota sangat memudahkan bagi siapapun yang datang berkunjung.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://winnyalna.com/wp-content/uploads/2013/09/istana-maimun.jpg
2. http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2013/07/Maimun.jpg

Rabu, 27 Agustus 2014

WISATA ISLAM DI MASJID SERIBU PINTU, TANGERANG


1. Masjid Pintu Seribu

Jika di Semarang ada Lawang Sewu sebagai wisata horornya, di Tangerang pun ada wisata religinya yakni di Masjid Pintu Seribu yang terkesan unik bagi siapapun saat berkunjung ke sana. Tentu saja tempat wisata ini dapat dikunjungi oleh berbagai kalangan usia. Masjid Seribu Pintu yang penuh dengan kenangan sejarah, jejak islam, serta menambah wawasan ini, dibangun di tanah seluas 1 hektar pada tahun 1978. Uniknya sebelum masjid ini dibangun, masjid ini tidak memakai rancangan gambar yang biasa dilakukan sebelum membangunnya. Sehingga masjid ini memiliki perpaduan arsitek yang bercampur-campur, yang dapat membuat pengunjung tertegun akannya.

Pendiri Masjid ini adalah warga keturunan Arab, di mana warga sekitar memanggilnya dengan sebutan Al-Faqir. Beliau merupakan santri dari Syekh Hami Abas Rawa Bokor, Ia juga membangun Masjid tersebut dengan biayanya sendiri. Masjid yang katanya memiliki seribu pintu ini, terletak di RT 01 RW 03, Kampung Bayur, Priuk Jaya, Jatiuwung, Kabupaten Tangerang, Banten. Untuk mencapai lokasi tak perlu sulit atau kerepotan, hanya dibutuhkan waktu yang tak lama dari pusat kota Tangerang. Ruangan dalam masjid ini nampak layaknya mushola dikarenakan ruangannya memiliki sekat-sekat. Adapun nama dari setiap mushola diantaranya mushola Fathulqorib, Tanbihul-Alqofilin, Durojatun Annasikin, Safinatu-Jannah, Fatimah hingga mushola Ratu Ayu, dengan masing-masing mushola memiliki luas area sekitar 4 meter.

Ada sebuah ruangan khusus yang digunakan untuk yang ingin beristiqomah sepanjang malam, yaitu ruang tasbih. Untuk menuju lorong tasbih sangat gelap juga lembab dan memiliki banyak sekali pintu yang berkelok-kelok. Namun, tak perlu khawatir, karena setiap ruangan ada penunjuk jalannya. Di dalam ruang tasbih terdapat tasbih berukuran besar yang terbuat dari kayu dan terpajang di salah satu sudut ruang berteralis besi, memiliki 99 butir, berdiameter 10 cm dan tertulis Asma’ul Husna. Konon, tasbih tersebut merupakan tasbih terbesar di Indonesia.


2. Ruang Tasbih

Terdapat ornamen angka 999 yang menghiasi beberapa pintu di masjid ini. Di mana, angka 999 tersebut merupakan penggabungan antara 99 Asma’ul Husna dan 9 Wali Songo. Di antara pintu-pintu masjid dapat kita temui banyak lorong yang sempit dan gelap layaknya labirin.


3. Ornamen 999


4. Lorong Masjid Pintu Seribu

Masjid Seribu Pintu merupakan salah satu aset berharga bagi warga Tangerang yang pantas menjadi tempat wisata yang layak dan berbobot. Namun karena ruang lahan di kota Tangerang yang tak begitu luas, membuat pemerintah kota mencoba untuk memfokuskan fasilitas-fasilitas yang hendak diusung serta diresmikan secepatnya. Bahkan ada usulan jika setiap hari sabtu dan minggu diadakan wisata rohani ke Masjid Al-Adzom juga Masjid Seribu Pintu. Hal ini ditujukan agar Kota Tangerang tiap minggunya dipadati oleh pengunjung. Serta mengenal tempat wisata lainnya di kota Tangerang. Dan semoga artikel ini, dapat menjadikan Masjid Seribu Pintu dikenal oleh masyarakat luas.

Oleh : Ardan Esand
Gambar:
1. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgR1TRRYkr-AC1TOwQVBI47BZ918449S9n3xKEqUhlqX8OPuQUqbg-tXIv0k1tTLZMS1G6oP2GkYShZvBErarLvxzUF88pKjppGmwFNRQyPkAkZMKQg69Z8sHK4tNYXab4Uxj6psFWeeTI/s1600/Masjid+Pintu+Seribu.jpg
2. http://store.tempo.co/cover/medium/foto/2012/03/16/s_11C29807.jpg
3. http://bantenculturetourism.com/wp-content/uploads/2011/05/12_1.jpg
4. http://neomisteri.com/wp-content/uploads/2012/10/Masjid-Pintu-Seribu-2.jpg

Selasa, 26 Agustus 2014

Selain Sungai Musi, Sumatera Selatan Juga Memiliki Objek-Objek Wisata Ini

Bagi anda yang ingin merasakan sesuatu yang baru selain berlibur di tempat yang itu-itu saja, mungkin anda bisa menyeberang sebentar ke Pulau Sumatera. Sumatera Selatan adalah salah satu provinsi di Sumatera yang dikenal sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya di masa dahulu. Selain itu, provinsi yang dikelilingi oleh air ini sangat populer dengan megahnya Jembatan Ampera dan luasnya Sungai Musi. Namun, tahukah kamu bahwa Sumatera Selatan tidak sebatas Sungai Musi dan Jembatan Ampera saja? Masih banyak objek wisata lainnya yang bisa anda telusuri di provinsi yang sangat terkenal dengan pempek ini. Seperti apa sajakah objek wisata tersebut? Mari kita simak bersama.

  1. Masjid Agung, Palembang

    Masjid ini terletak di jantung kota Palembang tepatnya di Jalan Merdeka. Gaya arsitekturnya yang merupakan kombinasi antara gaya Eropa dan China membuat masjid ini terbilang unik. Dengan tembok-temboknya yang berukuran besar, masjid ini tampak sangat megah. Halamannya pun begitu luas dan asri. Setiap hari Jumat, tepatnya pada saat Sholat Jumat, halaman luar Masjid Agung selalu diramaikan oleh pedagang-pedagang yang menjual aneka barang Islami seperti sajadah, sarung, peci, buku, dan sebagainya.


    1. Masjid Agung Palembang

  2. Bukit Sulap, Lubuklinggau

    Lubuklinggau adalah ibu kota dari Kabupaten Musi Rawas. Belakangan ini Lubuklinggau sangat terkenal dengan objek wisatanya yang bernama Bukit Sulap. Objek wisata ini termasuk baru di mana tanggal 19 Oktober 2013 lalu, Bukit Sulap baru diresmikan oleh Gubernur Alex Noerdin sebagai kawasan wisata. Ada satu keunikan Bukit Sulap yaitu bisa terlihat hilang pada saat pagi hari akibat ditutupi kabut. Selain itu, dari atas bukitnya, pengunjung bisa melihat pemandangan kota ini dan panorama Bukit Barisan. Oh ya, di sana juga ada fasilitas WiFi lho!


    2. Pemandangan Bukit Sulap Tampak Jauh

  3. Pagaralam

    Bisa dibilang wilayah ini adalah “Puncak”nya Palembang, karena udaranya yang sejuk dan bersih. Letaknya yang dikelilingi oleh Gunung Dempo dan Pegunungan Bukit Barisan membuat wilayah ini seakan-akan dipagari oleh pemandangan hijau yang benar-benar alami. Di Pagaralam, anda bisa mengunjungi wisata Gunung Dempo dan menikmati rimbunan daun teh. Untuk bisa sampai ke Pagaralam, anda harus menyiapkan mental yang kuat karena wilayah ini berada di tempat yang paling tinggi, jalan yang harus dilalui pun menanjak dan berkelak-kelok. Namun semua itu akan terbayar lunas saat anda tiba di Pagaralam dan menikmati hijau serta sejuknya kota ini.


    3. Gunung Dempo

  4. Taman Nasional Sembilang

    Taman nasional ini merupakan hutan konservasi aneka satwa yang dilindungi. Di dalam taman nasional ini, para pengunjung aneka burung, ikan, dan reptil buas. Selain melihat aneka satwa, pengunjung juga bisa menikmati deretan pohon bakau yang membentang indah. Sesekali anda akan bisa menemukan ular yang bergantung bebas di cabang-cabang pohon bakau tersebut. Untuk bisa masuk ke dalam Taman Nasional Sembilang, para pengunjung diwajibkan untuk mengajukan izin kepada Departemen Kehutanan di Palembang.


    4. Burung-burung di Taman Nasional Sembilang
Selain keempat objek wisata di atas, anda masih bisa menjelajahi objek wisata lain seperti Gua Putri Baturaja yang merupakan kutukan Si Pahit Lidah, Air Terjun Bedegung di Muara Enim yang bisa dimasuki secara gratis, Kabupaten Lahat yang dipenuhi situs megalitikum, dan juga indahnya Danau Ranau yang berada di perbatasan antara Kabupaten OKU Selatan dan Provinsi Lampung. Tunggu apa lagi? Ayo ke Sumatera Selatan!

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://simbi.kemenag.go.id/simas/index.php/profil/masjid/30/?tipologi_id=6
2. http://travel.detik.com/read/2013/11/29/081901/2427012/1519/bukit-sulap-objek-wisata-paling-baru-di-sumatera-selatan
3. http://www.gosumatra.com/gunung-dempo-sumatera-selatan/
4. http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/10/1349187486453492600.jpg

Senin, 25 Agustus 2014

Mempelajari Perjuangan Palembang Pada Masa Penjajahan di Monumen Perjuangan Rakyat


1. Monpera Tampak Depan

Pada zaman penjajahan dahulu, Belanda tidak hanya menguasai Jawa dan daerah timur Indonesia, Belanda juga melebarkan sayapnya ke sebelah barat Indonesia yakni Pulau Sumatera. Salah satu wilayah Sumatera yang ikut dikuasai oleh Belanda adalah Kota Palembang. Peristiwa peperangan yang paling amat dikenal adalah pertempuran lima hari lima malam. Bagaimanakah suasana peperangan saat itu? Masyarakat yang kurang bisa membayangkan bagaimana peristiwa pertempuran itu bisa mengunjungi Monumen Perjuangan Rakyat Palembang dan melihatnya pada relief yang terpampang di dinding Monpera.

Monumen Perjuangan Rakyat atau biasa disebut Monpera berdiri pada tanggal 23 Februari 1988 dan difungsikan untuk menyimpan benda bersejarah seperti senjata, patung pejuang, baju dinas para pejuang, dan juga relief, terkhusus benda peninggalan pertempuran lima hari lima malam. Bangunan Monpera ini berdiri megah di Jalan Merdeka persis berseberangan dengan Masjid Agung Palembang. Letaknya yang berada di pusat kota sangat memudahkan siapa saja untuk mengunjunginya. Ada yang unik dari monumen ini yakni bentuknya yang seperti enam segitiga terbalik yang saling bertautan. Pada bagian depan museum terdapat replika burung Garuda berwarna hitam.

Memasuki lantai pertama museum anda akan disambut oleh banyak bingkai foto berisikan gambar perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda. Dinding yang bercatkan warna oranye membuat ruangan museum tidak begitu seram. Selain bingkai foto, di lantai satu ini, pengunjung juga bisa melihat miniatur Monpera dan dua etalase. Etalase pertama berisikan dokumen sejarah dan pariwisata Sumatera Selatan, sedangkan etalase kedua berisikan aneka suvenir khas Sumatera Selatan. Melanjutkan langkah ke lantai dua, pengunjung bisa melihat aneka senjata hasil rampasan saat perang berjumlah 14 pucuk. Senjata-senjata ini sengaja dibuat dalam dinding kaca sehingga pengunjung hanya bisa mengamati dari luar. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi tangan-tangan jahil yang bisa merusak peninggalan sejarah tersebut.


2. Aneka Senjata

Di lantai tiga museum, pengunjung bisa melihat berbagai replika wajah pejuang Sumatera Selatan dan pakaian dinas yang dikenakan pejuang-pejuang tersebut. Masing-masing pejuang tersebut bernama dr. A. K. Gani, Haji Abdul Rozak, Brigjen TNI H. Hasan Kasim, Mayjen TNI H. Bambang Utoyo, Kol. H. Burlian, dan drg M. Isa. Sementara lantai empat dan lantai lima berisikan foto-foto pada masa pertempuran. Selanjutnya di lantai enam yang merupakan lantai puncak terdapat sebuah lubang untuk bisa naik ke atap Monpera. Dari atap Monpera ini, pengunjung bisa melihat pemandangan Kota Palembang bak melihat sudut-sudut Kota Jakarta dari lantai atas Monas. Setiap peringatan Hari Kemerdekaan RI, bendera-bendera merah putih dipasang di puncak Monpera untuk menambah semaraknya Hari Kemerdekaan Indonesia.


3. Lubang untuk Mencapai Atap Monpera

Saat keluar dari ruangan museum, pengunjung bisa mengelilingi badan Monpera dan menemukan dua relief besar berisikan tulisan. Relief pertama bertuliskan “Panglima Besar Soedirman: Korban Sudah Cukup Banyak. Sekali Merdeka Tetap Merdeka”, sedangkan relief kedua bertuliskan “Lebih Baik Hancur Bersama Debu Kemerdekaan Daripada Dijajah. Patah Tumbuh Hilang Berganti”. Beralih dari tempat ini, pengunjung bisa bersantai di gazebo dan taman yang ada di pintu masuk. Bisa dikatakan kawasan Monpera ini terbilang asri karena tak terlihat satu pun pedagang kaki lima yang masuk di wilayah Monpera apalagi di halamannya.

Bagi anda yang ingin mengunjungi Monpera, anda bisa mengarahkan kendaraan pribadi anda menuju Jalan Merdeka, tepatnya di samping Kantor Pos Pusat dan di depan Masjid Agung Palembang. Jika anda menggunakan angkutan umum, anda bisa menggunakan Bus Jurusan Plaju atau Kertapati, lalu turun di simpang Jembatan Ampera lalu menyeberang menuju Monpera. Akan lebih enak jika anda menggunakan Bus Jurusan Bukit ataupun oplet jurusan Ampera, karena angkutan-angkutan umum tersebut melintas tepat di depan Monpera. Bagi pengunjung tidak diperbolehkan untuk membawa makanan dan minuman ke dalam museum. Jika anda merasa lapar, anda bisa berjalan menyusuri lorong di samping Monpera yang dipenuhi banyak pedagang makanan. Monumen Perjuangan Rakyat ini buka setiap hari Selasa sampai Minggu pukul 08.00-15.30 WIB, kecuali hari libur nasional. Dengan tiket masuk seharga Rp 2000,00, pengunjung bisa mengetahui perjuangan Palembang lewat foto dan benda peninggalan lainnya dalam monumen berlantai enam ini.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://littlegreenangel.blogspot.com/2014/07/monpera-monumen-perjuangan-rakyat.html
2. http://pastipanji.wordpress.com/2010/09/22/jalan-jalan-di-bumi-sriwijaya-palembang-bagian-2/
3. http://littlegreenangel.blogspot.com/2014/07/monpera-monumen-perjuangan-rakyat.html

Kamis, 21 Agustus 2014

Menikmati Keindahan Indonesia di Taman Nasional Ujung Kulon


1. Pulau Peucang

Indonesia memiliki banyak taman nasional untuk melindungi flora dan faunanya yang langka. Salah satu taman nasional yang populer di Indonesia adalah Taman Nasional Ujung Kulon , tempat perlindungan badak jawa dan hewan langka lainnya seperti banteng, owa jawa, luwak, anjing hutan dan burung-burung yang hampir punah. Di atas lahan 120.000 ha ini, para pengunjung TNUK bisa bertualang di alam bebas, seperti membabat hutan dan berpetualang mencari hewan-hewan yang hampir punah. Namun bagi anda yang kurang menyukai petualangan, anda bisa menikmati suasana santai di objek-objek wisata yang disediakan Taman Nasional Ujung Kulon. Ada beberapa objek wisata yang bisa anda nikmati, seperti berikut:

  1. Pulau Peucang

    Pulau ini banyak dikunjungi oleh karena keindahan kehidupan bawah lautnya dan aneka terumbu karang, sehingga sangat cocok untuk aktivitas diving dan snorkeling. Di pulau ini juga pengunjung bisa bercengkerama langsung dengan monyet ekor panjang dan rusa yang berkeliaran. Selain itu, pengunjung juga bisa melakukan hiking ke sebuah batu besar bernama Karang Copong. Mengunjungi pulau ini sangat menyenangkan karena pengunjung bisa menikmati pemandangan matahari terbenam yang indah dengan latar belakang keindahan laut.

  2. Pulau Panaitan

    Pulau ini berada di sisi barat laut Peucang. Dengan luas 17.500 Ha, pulau ini mempunyai spot diving seperti Legon Lentah, Legon Kadam, Karang Jajar, dan Legon Samadang. Selain itu, pengunjung juga bisa melakukan surfing di lokasi bernama Teluk Kasuaris. Di sana ada sebuah titik yang dijuluki “One Palm Point”. Konon menurut para surfer, ombak pada titik ini cukup besar sehingga sangat difavoritkan.

  3. Padang Penggembalaan Cidaon

    Di padang ini pengunjung bisa melihat aneka satwa bergerak bebas, seperti burung merak, banteng, dan ayam hutan. Jika cuaca cerah, pengunjung bisa melihat banteng pada jam enam pagi hingga jam setengah delapan dan pada jam setengah lima sore hari. Para pengunjung tidak diperbolehkan untuk mendekati banteng karena bisa membuat aktivitas banteng yang tengah merumput menjadi terganggu. Pengunjung bisa melakukan pengamatan dengan menggunakan teropong.

Selain tempat-tempat di atas, masih ada objek wisata lainnya seperti Gua Sanghyangsirah yang erat dengan kehidupan Kian Santang dan selalu dikunjungi peziarah setiap bulan Maulid, Padang Penggembalaan Cibunar yang juga tempat para banteng merumput, Sumber Air Panas Cibiuk yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit kulit, Habitat Owa Jawa di Curug Cikarang, dan Pantai Selatan. Untuk bisa sampai ke Taman Nasional Ujung Kulon, pengunjung bisa melalui dua jalur yakni darat dan laut. Jika menggunakan jalur darat, pengunjung bisa menggunakan angkutan umum dari Jakarta dengan bus jurusan Jakarta-Labuan lalu dilanjutkan dengan minibus jurusan Labuan-Tamanjaya, diperkirakan waktu tempuh sekitar 7 jam. Sementara jika menggunakan jalur laut, pengunjung bisa menyewa kapal dari Labuan, Sumur, ataupun Tamanjaya untuk menuju pulau.

Taman Nasional Ujung Kulon adalah salah satu taman nasional yang cukup populer di Indonesia oleh karena keberadaan badak jawanya. Selain keanekaragaman flora dan fauna yang dilindungi, taman nasional ini juga sungguh menakjubkan dengan keindahan laut dan padang rumputnya. Jika anda merasa tertarik untuk mengetahui kehidupan satwa dan keindahan alam tempatnya bermukim, silakan datang ke Taman Nasional Ujung Kulon, surga Indonesia di ujung barat Pulau Jawa.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://www.ujungkulon.org/pulau/pulau-peucang

Senin, 04 Agustus 2014

Mengenal Tugu Khatulistiwa Pontianak


Tugu Khatulistiwa. Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/f/ff/Tugu.khatulistiwa_a.jpg

Pernahkah anda ke Pontianak? Pontianak memiliki salah satu tempat atau ikon wisata yang paling sering dikunjungi oleh para wisatawan. Tugu Khatulistiwa terletak di Pontianak provinsi Kalimantan Barat tepatnya di Jalan Khatulistiwa, Siantan Hilir. Beberapa tahun yang lalu Tugu Khatulistiwa ini mendapat perbaikan dikarenakan ada keretakan di berbagai bagian dan sampai sekarang terus diperindah kawasan di sekitarnya. Sekarang, Tugu Khatulistiwa sudah berhasil menarik banyak minat para pengunjung.

Apakah yang menarik dari Tugu Khatulistiwa ini? Tugu Khatulistiwa merupakan titik pusat/khatulistiwa garis khayal pada garis lintang nol derajat. Kita anggap bumi dibagi menjadi dua bagian, yaitu utara dan selatan, maka Tugu Khatulistiwa terletak di tengah-tengahnya. Inilah yang menyebabkan banyak orang-orang yang berbondong-bondong datang ke Tugu Khatulistiwa pada saat titik kulminasi matahari, yaitu pada saat matahari tepat berada pada garis Khatulistiwa. Semua orang yang datang tidak akan dapat melihat bayangannya sendiri karena matahari tepat berada di atas kepala kita. Biasanya peristiwa ini terjadi pada tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September.

Tugu Khatulistiwa terdiri dari empat buah tonggak kayu belian, serta tempat lingkaran yang bertuliskan EVENAAR (yang artinya adalah Ekuator) dan panah penunjuk arah di atasnya. Di sekitarnya ada kawasan taman yang disediakan bagi para pengunjung yang datang. Biaya yang perlu dikeluarkan oleh para pengunjung adalah 0 rupiah, alias gratis. Oleh karena itu, bagi para pengunjung yang ingin datang tidak perlu takut akan pengeluaran biaya.

Pada Tugu Khatulistiwa juga ada semacam catatan yang terdapat di dalam gedung. Catatan tersebut berisi sejarah-sejarah dari Tugu Khatulistiwa ini. Sedikit sejarah mengenai berdirinya Tugu Khatulistiwa akan dijelaskan sebagai berikut : Tugu Khatulistiwa bermula dari ekspedisi yang dilakukan orang-orang Belanda sekitar tahun 90-an. Mereka datang ke Pontianak dan ingin menentukan titik pusat di kota tersebut. Mulailah dibangun sebuah tugu pada tahun tersebut dan terus diperbaharui dari tahun ke tahun. Dari pengubahan kayu penunjang sampai penambahan lingkaran di atas tugu. Sampailah pada tanggal 2 September 1999, Parjoko Suryokusumo sebagai Gubernur Kalimantan Barat meresmikan Tugu Khatulistiwa.

Mungkin titik kulminasi tidak berada selalu tepat di satu tempat secara terus menerus. Beberapa waktu yang lalu titik kulminasi di kota Pontianak juga telah bergeser beberapa derajat. Jadi dibangunlah sebuah tempat baru di posisi tersebut. Sekarang telah dibangun sebuah tonggak baru yang masih terbuat dari pipa PVC (Polivinil Chlorida) dan belahan garis barat-timur yang diberi tanda dengan sebuah tali rafia. Jadi mungkin beberapa tahun lagi posisi titik khatulistiwa akan kembali bergeser. Penyebabnya mungkin karena kesalahan pembacaan alat (perbedaan alat yang semakin canggih).

Oleh karena itu, bagi para pembaca jangan ragu untuk berwisata ke Tugu Khatulistiwa Pontianak.

Oleh :Stevanus
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tugu_Khatulistiwa

Senin, 21 Juli 2014

Menikmati Keindahan Perpaduan Warna Danau Linow


Sumber : http://cybersulutnews.co.id/wp-content/uploads/2014/02/Danau-Linow-183449858.jpg

Tidak perlu sampai jauh-jauh terbang ke luar negeri hanya untuk berwisata. Indonesia sendiri mempunyai tempat-tempat wisata yang unik dan patut untuk dikunjungi. Danau Linow yang terletak di provinsi Sulawesi Utara dan tepatnya di kota Tomohon pasti dapat menjawab kebutuhan setiap kita yang ingin memilih tempat wisata yang unik. Danau Linow juga merupakan salah satu tempat wisata favorit di kota Tomohon ini. Sebenarnya apakah yang membuat Danau Linow ini terkenal unik?

Air di danau Linow dapat berubah menjadi warna-warna yang berbeda yaitu tepatnya ada 3 warna. Ada warna hijau, cokelat muda sampai biru. Tetapi, apakah yang membuat danau Linow bisa berubah warna? Danau Linow sendiri berhubungan dengan gunung Lokon di Tomohon. Oleh sebab itu, air di danau Linow mengandung belerang dengan kandungan yang tidak terlalu tinggi. Selain itu tanaman-tanaman air di danau Linow juga ikut berperan dalam perubahan warna di danau tersebut. Serta di siang hari, cahaya matahari dapat membiaskan air di danau Linow. Sungguh indah bila dapat menikmati perpaduan dari 3 warna di danau Linow ini.

Danau Linow dapat dikunjungi dengan mudah karena akses jalannya yang berhubungan dengan jalan utama. Tips bagi yang ingin berwisata ke danau Linow, sebaiknya dikunjungi pada saat cuaca tidak terlalu panas seperti pada saat pagi hari atau menjelang sore. Menikmati udara yang sejuk dan tidak terlalu panas juga menjadi satu hal yang dapat menarik minat pengunjung untuk berwisata ke tempat ini. Terutama bagi yang seharian bekerja dan lelah dapat berkunjung sebentar ke danau Linow untuk menyegarkan pikiran dan tubuh.

Di danau Linow juga tersedia alat transportasi berupa perahu kayuh atau kano. Bagi pengunjung yang ingin menelusuri danau Linow ini dapat menyewa alat transportasi ini. Tetapi ada yang tidak diperbolehkan yaitu menelusuri danau hingga mencapai daerah air yang panas dari gunung. Selain itu, pada saat cuaca tidak bersahabat terutama musim penghujan, pengunjung sebaiknya tidak menelusuri danau karena perahu kayuh atau kano yang kita tumpangi bisa-bisa oleng akibat angin kencang. Setelah puas menelusuri danau Linow, pengunjung juga mendapatkan pelayanan lain yaitu kafe yang tersedia di dekat bukit di sekitar danau. Sambil memandangi keindahan pesona danau Linow dengan ditemani secangkir kopi, pengunjung pasti akan merasa fresh kembali.

Harga yang ditawarkan bagi para pengunjung juga sangat terjangkau yaitu Rp.5000 per orang. Harga tersebut tidaklah sebanding dengan apa yang akan kita dapat di danau Linow ini. Mulai dari keindahan warna-warna air danaunya, tempatnya yang sejuk dan asri, kafe-kafe di sekitar danau yang siap melayani pengunjung, dan lain-lain. Semua itu pastinya akan membuat para pengunjung tidak mau melupakan danau Linow yang indah ini.

Oleh : Stevanus
Sumber:http://travel.kompas.com/read/2014/01/22/1334466/Linow.Danau.Tiga.Warna.di.Tomohon

Kamis, 17 Juli 2014

Menikmati Nuansa Tempo Dulu di Kota Tua Jakarta

Rasa-rasanya kita pasti tak akan pernah lupa bahwa dahulunya Indonesia pernah dikuasai Belanda selama 350 tahun. Memang kita yang hidup di era sekarang tidak merasakannya secara langsung, tetapi buku sejarah, berita, dan peninggalan-peninggalannya-lah yang membuat kita tahu. Bukti-bukti itu bisa kita lihat secara langsung lewat bangunan-bangunan buatan Belanda yang hingga kini masih berdiri megah di beberapa tempat di Indonesia. Jakarta, yang dulunya disebut Batavia merupakan tempat di mana bangunan berarsitektur kolonial banyak berdiri. Sebut saja Kota Tua, yang kini dijadikan kawasan Cagar Budaya.


(Dokumentasi Pribadi)

Arsitektur bangunan yang bercorak tempo dulu membuat Kota Tua menjadi tempat bertemunya orang-orang pecinta sejarah, begitu juga dengan para seniman fotografi yang gemar memotret gedung-gedung megah di kawasan itu. Ada enam lokasi bersejarah di Kota Tua yaitu Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Wayang, Museum Mandiri, Stasiun KA Kota, dan Pelabuhan Sunda Kelapa. Museum Fatahillah adalah tempat yang paling pas bagi anda yang berhasrat menelusuri jejak sejarah Kota Jakarta. Untuk memasuki museum-museum, anda akan dikenakan tarif murah.

Selain mengunjungi museum, anda juga bisa bersepeda layaknya meneer dan mevrouw. Tentu saja sepeda yang disediakan adalah sepeda onthel zaman dahulu, bukan sepeda modern di zaman sekarang. Dengan sepeda onthel, anda bisa berkeliling kawasan Kota Tua, hingga ke Pelabuhan Sunda Kelapa yang letaknya agak jauh dari pusat Kota Tua.

Kota Tua selalu ramai, baik itu diramaikan pengunjung ataupun para pedagang. Ada hal yang menarik di Kota Tua sejak tahun 2013 lalu, yaitu kehadiran manusia batu. Manusia batu adalah orang-orang yang mengubah penampilannya menjadi seperti orang-orang di zaman penjajahan Belanda. Manusia batu yang pria berperan selayaknya prajurit sedangkan yang wanita berperan selayaknya None Belanda. Para pengunjung yang ingin berfoto dikenakan tarif sukarela, masing-masing mereka telah menyediakan kotak sukarela. Kehadiran manusia batu telah menambah atmosfer tempo dulu, di mana dahulunya hanya ada meriam Si Jagur di halaman Museum Sejarah Jakarta yang berwujud barang.

Setelah merasa puas mengelilingi Kota Tua, umumnya para pengunjung akan lapar. Namun jangan khawatir, karena di setiap sudut Kota Tua anda akan menemukan berbagai pedagang makanan kaki lima, bahkan café. Kerak telor, gado-gado, nasi goreng, dan makanan murah lainnya ada di sana. Jika anda ingin merasakan makanan luar, anda bisa mencicipi sajian makanan di Café Batavia. Di sana anda bisa menikmati makanan dan minuman Barat, Cina, dan juga Indonesia, dengan kisaran harga Rp 32.000 – Rp 200.000. Berdasarkan ulasan dari beberapa pengunjung Café Batavia, makanan dan minuman di café itu kurang mengena di lidah orang lokal, tapi jika anda ingin mencoba secara langsung, silakan kunjungi Café Batavia di Taman Fatahillah, Kota Tua. Mengenai makanan lokal, anda bisa menemukan kuliner khas Jakarta di halaman dalam Museum Sejarah Jakarta, seperti Kerak Telor, Tauge Goreng, dan Es Selendang Mayang.


(Dokumentasi Pribadi)

Untuk sampai ke Kota Tua, anda bisa menggunakan kereta, busway, dan mikrolet. Tunggu apalagi? Ayo ke Kota Tua, jaga kelestarian, kebersihan, dan keindahannya.

Oleh : Rahel Simbolon

Senin, 30 Juni 2014

Sehari Menjelajah Keunikan Pecinan Glodok - 2

Pecinan. Apa yang terlintas dalam benak Anda saat mendengar istilah tersebut? Sebuah wilayah kota yang mayoritas penghuninya adalah warga negara Indonesia keturunan Tionghoa? Sepenggal saksi sejarah keberagaman yang masih tersisa? Atau sederetan gang-gang kecil yang dipenuhi penjaja kuliner dengan kenikmatan yang khas?

Tertarik untuk menjadi salah satu saksi pesona arsitektur dan kuliner khas Tionghoa yang masih tersisa, pada hari itu saya memutuskan untuk melakukan eksplorasi sederhana di kawasan Pecinan Glodok. Berbekal kaki yang siap melangkah, dan semangat untuk menikmati ragam suguhan wisata khas kota lama, saya berhasil menemukan tiga tempat unik yang patut Anda jelajahi di kala senggang.

Vihara Dharma Bhakti (Jin De Yuan)

Vihara Dharma Bhakti Tampak Dalam (Koleksi pribadi)


Vihara Dharma Bhakti Tampak Depan (Koleksi pribadi)


Vihara Dharma Bhakti Tampak Samping (Koleksi pribadi)

Dengan persiapan seadanya, saya memasuki halaman vihara yang didominasi arsitektur berwarna merah. Sekilas, tidak ada yang nampak istimewa dari vihara ini. Namun, sebuah pemandangan asing seketika menarik perhatian saya. Puluhan masyarakat dari berbagai kalangan usia, tampak memadati halaman lain vihara. Sesekali saya hampir bertubrukan dengan beberapa anak kecil yang berlarian menuju keramaian tersebut tanpa alas kaki, seakan sedang dikejar waktu.

“Biasa Mbak, itu lagi bagi-bagi duit,” ucap seorang ibu berbadan sedikit tambun, yang terlihat baru saja keluar dari keramaian. Pakaiannya sedikit lusuh, namun raut wajahnya tampak berseri-seri.

Ternyata, pemandangan tersebut bukan hal baru lagi di Vihara Dharma Bhakti. Berhubung hari saya berkunjung masih belum begitu jauh dari perayaan Imlek, maka nuansa Tahun Baru Cina juga masih tersisa di sana. Salah satunya, adalah kebiasaan berbagi rejeki kepada kaum yang membutuhkan di kala Imlek. Hal ini menjelaskan keberadaan puluhan pengemis yang memenuhi pelataran vihara. Beberapa dari mereka bahkan membawa tikar sebagai alas tidur, menunjukkan bahwa mereka bermukim di sana untuk jangka waktu yang tidak sebentar.

Memasuki vihara, saya langsung disambut dengan asap hio yang mengepul memenuhi ruangan. Puluhan umat menyalakan hio sambil memanjatkan doa di hadapan 24 altar sembahyang yang disusun mengelilingi vihara. Beberapa penjaga vihara tampak sibuk berlalu-lalang membersihkan vihara dari abu bekas hio, sambil sesekali mempersiapkan beberapa hio tambahan untuk pengunjung.

Ditemani oleh Agus, warga sekitar yang sehari-hari bekerja membersihkan dan menjaga keamanan vihara, saya pun diantar berkeliling untuk melihat kondisi vihara secara keseluruhan. Pada pelataran utama, saya melihat patung Dewi Kwan Im berdiri megah di tengah pelataran. Ukurannya sedikit lebih besar daripada patung-patung lain yang mengitari vihara. Ternyata, menurut Agus, Dewi Kwan Im diibaratkan sebagai “tuan rumah” Vihara Dharma Bhakti. Oleh karenanya, banyak orang datang ke vihara ini, secara khusus untuk bersembahyang kepada Dewi Kwan Im.

Vihara yang dibangun pada tahun 1650 ini, memang merupakan salah satu vihara tertua di Jakarta. Nilai historis yang melekat, membuat vihara ini tidak pernah sepi pengunjung, terutama masyarakat Tionghoa yang ingin bersembahyang. Para peziarah dan wisatawan juga kerap datang sembari melihat ritual pengunjung. Pesona khas yang terpancar, membuat vihara ini seringkali dijadikan obyek fotografi, dan juga lokasi syuting video klip.

Oleh : Maria Miracellia Bo

Selasa, 24 Juni 2014

Wisata Edukasi di Taman Pintar Yogyakarta

Jogja memang layak dijuluki sebagai Kota Pelajar. Berbagai destinasi wisata yang tersebar di berbagai sudut Jogja membuat para pengunjung bisa belajar secara langsung mengenai sejarah di masa lampau, seperti Museum Benteng Vredeburg, Taman Budaya, Keraton Yogyakarta, dan sebagainya. Namun selain wisata sejarah, Jogja juga memiliki tempat wisata edukasi di mana para pengunjung bisa belajar sekaligus berekreasi. Sebut saja, Taman Pintar Yogyakarta, wahana wisata yang terletak di kawasan Benteng Vredeburg, di Jalan Panembahan Senopati No. 1-3. Wahana wisata yang memadukan edukasi dan rekreasi ini menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi masyarakat, terutama siswa sekolah dasar.

Menurut sejarah, pembangunan Taman Pintar Yogyakarta berawal dari kepedulian Pemerintah Kota Yogyakarta terhadap dunia pendidikan. Pemerintah berharap, dengan adanya Taman Pintar, para siswa dapat diperkenalkan dengan sains sejak usia dini, begitu juga dengan kreativitas anak yang diharapkan dapat lebih terasah, sehingga Indonesia tidak hanya menerima teknologi luar saja, tapi juga bisa menciptakan teknologi sendiri. Bangunan Taman Pintar sengaja dibuat berdekatan dengan Benteng Vredeburg dan Taman Budaya, dengan harapan tetap ada keterkaitan erat antar lokasi wisata tersebut. Grand opening Taman Pintar diresmikan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, pada tanggal 16 Desember 2008.


Lokasi Vredeburg, Taman Budaya, dan Taman Pintar yang Berdekatan
(Dokumentasi Pribadi)

Ada lima zona di dalam Taman Pintar Yogyakarta, yaitu zona playground, zona PAUD, zona oval-kotak, zona memorabilia, dan zona planetarium. Zona playground merupakan ruang publik bagi pengunjung Taman Pintar, di mana tersedia berbagai arena rekreasi yang menyenangkan, yang bisa diakses secara gratis. Di zona playground ini, para pengunjung juga dapat menemukan berbagai tugu, seperti tugu keenam Presiden RI, tugu Bhinneka Tunggal Ika dan gong perdamaian nusantara yang diresmikan oleh Hamengku Buwono X.


Gong Perdamaian Nusantara
(Dokumentasi Pribadi)

Di zona PAUD yang diperuntukkan secara khusus bagi anak usia pra TK dan TK, disediakan berbagai permainan edukasi bagi anak-anak dengan menggunakan teknologi, diharapkan permainan ini dapat mengasah ketertarikan anak-anak pada teknologi. Di zona oval pengunjung bisa menikmati berbagai wahana seperti demo sains, cuaca, iklim, harmoni alam, terowongan ilusi, aquarium air tawar, kehidupan purba, dan zona agro. Di zona kotak, pengunjung bisa melihat secara langsung peraga hukum archimedes, sistem pengolahan air, pengolahan minyak bumi, pengolahan susu, dan perpustakaan. Sementara itu, di zona memorabilia, para pengunjung dapat menambah pengetahuan mengenai Sejarah Indonesia melalui peralatan peraga, seperti sejarah Kesultanan Yogyakarta, Tokoh Kepresidenan RI, dan Tokoh Pendidikan. Zona yang terakhir yaitu planetarium berisi peralatan peraga yang menampilkan pengetahuan mengenai dunia antariksa.

Adapun setiap zona bisa diakses dengan membeli tiket masuk, kecuali zona playground. Setiap zona mengenakan tarif tiket yang berbeda-beda, di mana harga tiket masuk zona PAUD sebesar Rp 3000, zona oval dan kotak dikenakan tarif Rp 10.000, untuk anak-anak dan Rp 18.000, untuk anak-anak, sementara zona planetarium mengenakan tarif Rp 15.000. Selain kelima zona di atas, pengunjung masih bisa menikmati wahana lain seperti desaku permai, rumah gerabah, rumah batik, dan wahana bahari yang tentunya tidak kalah mengasyikkan.

Taman Pintar hadir untuk mencerdaskan anak bangsa dalam kemasan yang menyenangkan namun tetap berisi. Segera ajak adik, teman, dan anak anda ke Taman Pintar Yogyakarta.


Gedung Kotak (Dokumentasi Pribadi)


Desaku Permai (http://www.tamanpintar.com)

Oleh: Rahel Simbolon

Selasa, 17 Juni 2014

Menggali Pesona Kudus

Jika kita mendengar nama Kota Kudus maka tak ayal yang terbentang di isi kepala adalah tentang industri rokoknya. Tidak salah memang, perusahaan rokok sudah dirintis dan berkembang pesat di Kudus sejak abad ke 19, sejak itu pula muncul perusahaan-perusahaan lain yang merajai pasar dan masih eksis hingga saat ini.

Meskipun begitu, kabupaten yang terletak di Jawa Tengah ini juga menyimpan keunikannya sendiri. Seperti gadis kecil, kecantikan Kudus masih terlihat malu-malu dan kalah gemerlap dengan nama besar industri rokoknya.

Padahal jika kita mau menggali ada beberapa tempat menarik yang dapat dikunjungi di kota ini, diantaranya adalah:

  1. Menara Kudus

    Bangunan kuno ini diperkirakan dibangun pada abad ke 16 oleh Ja’far Sodiq atau Sunan Kudus, salah seorang ulama besar waktu itu. Menara ini sesungguhnya berdiri di dalam kompleks masjid, sekaligus makam Sunan Kudus sendiri.

    Yang membuat bangunan ini unik yaitu bentuknya yang juga menyerupai candi, bahkan di area depan terdapat gapura yang juga asli dengan arsitektur hindu yang kental. Hal-hal ini disebut-sebut sebagai bukti bahwa Islam di Kudus waktu itu diajarkan dengan jalan akulturasi budaya sehingga berjalan dengan sukses.


    Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

    Di sekitar menara ini terdapat kompleks pedagang karena sampai sekarang kompleks Menara Kudus masih ramai dikunjungi peziarah, terutama pada malam Jum’at. Karena keeksotisannya dan kekentalannya terhadap Islam, kompleks Menara Kudus ini pernah digunakan tempat pengambilan gambar dalam sebuah film lokal.

  2. Wisata Colo

    Kudus bagian utara merupakan daerah pegunungan yang terkenal dengan nama Gunung Muria. Di kaki Gunung Muria inilah desa Colo berada. Dengan kenampakan alam khas pegunungan dan cuaca yang lembut membuat banyak wisatawan yang datang kemari untuk berlibur melepas lelah. Jika saat sore tiba kadang-kadang kita bisa melihat atlet-atlet bulu tangkis klub Djarum sedang berlatih di sini.

    Daerah Colo juga terdapat makam seorang ulama yang terkenal dengan nama Sunan Muria. Beliau merupakan salah seorang ulama besar yang menyebarkan agama Islam di sekitar gunung Muria. Pada hari-hari tertentu daerah ini juga ramai oleh peziarah yang ingin melakukan wisata rohani.


    Sumber Gambar: https://rumahedelweiss.files.wordpress.com/2011/07/colo.jpg

    Wisatawan juga dapat bermain di air terjun di daerah ini, meskipun tidak terlalu besar tapi air yang sejuk cukup bermanfaat untuk melepas stres.Untuk memfasilitasi pengunjung, pemerintah telah membangun sebuah hotel yang cukup baik di daerah ini.

  3. Mata Air Tiga Rasa

    Jika kita meneruskan perjalanan dari air terjun Montel yang terletak di kawasan Colo, maka kita dapat mencapai sebuah tempat yang tenang dan teduh karena dikelilingi pepohonan besar. Tempat ini sesungguhnya juga merupakan sebuah makam seorang ulama, namun yang terkenal di sini yaitu 3 buah mata air yang memiliki rasa berbeda. Inilah yang dinamakan Mata Air Tiga Rasa.


    Sumber Gambar: http://www.tempatwisatamu.com/wp-content/uploads/2013/11/kudus-3-rasa.jpg

    Untuk mencapai daerah ini pengunjung dapat berjalan kaki atau menyewa jasa ojek dari kawasan Colo. Perkebunan kopi muria akan terlihat di kanan kiri jalan menuju tempat ini. Mata Air Tiga Rasa relatif masih sepi karena tidak semua kalangan mengetahui kawasan wisata ini.

  4. Museum Kretek

    Museum ini merupakan museum yang berisi dokumentasi tentang segala hal yang berhubungan dengan produksi rokok di Kudus. Di sini pengunjung dapat mengamati alur sejarah industri rokok, termasuk bungkus-bungkus rokok asli bahkan dari zaman sebelum Indonesia merdeka.


    Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

    Pengunjung juga akan mengetahui cara-cara membuat rokok tradisional dari diorama yang dipertontonkan di museum ini. Alat-alat pembuat rokok asli juga dipajang di sini. Di halaman museum terdapat rumah asli khas Kudus dengan perabotan yang juga semakin menggambarkan kondisi sebenarnya.

    Baru-baru ini juga dibangun arena bermain air sehingga anak-anak juga bisa belajar sekaligus berlibur di museum ini.

Oleh: Arena Bayu