Tampilkan postingan dengan label sunan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sunan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Juni 2014

Menggali Pesona Kudus

Jika kita mendengar nama Kota Kudus maka tak ayal yang terbentang di isi kepala adalah tentang industri rokoknya. Tidak salah memang, perusahaan rokok sudah dirintis dan berkembang pesat di Kudus sejak abad ke 19, sejak itu pula muncul perusahaan-perusahaan lain yang merajai pasar dan masih eksis hingga saat ini.

Meskipun begitu, kabupaten yang terletak di Jawa Tengah ini juga menyimpan keunikannya sendiri. Seperti gadis kecil, kecantikan Kudus masih terlihat malu-malu dan kalah gemerlap dengan nama besar industri rokoknya.

Padahal jika kita mau menggali ada beberapa tempat menarik yang dapat dikunjungi di kota ini, diantaranya adalah:

  1. Menara Kudus

    Bangunan kuno ini diperkirakan dibangun pada abad ke 16 oleh Ja’far Sodiq atau Sunan Kudus, salah seorang ulama besar waktu itu. Menara ini sesungguhnya berdiri di dalam kompleks masjid, sekaligus makam Sunan Kudus sendiri.

    Yang membuat bangunan ini unik yaitu bentuknya yang juga menyerupai candi, bahkan di area depan terdapat gapura yang juga asli dengan arsitektur hindu yang kental. Hal-hal ini disebut-sebut sebagai bukti bahwa Islam di Kudus waktu itu diajarkan dengan jalan akulturasi budaya sehingga berjalan dengan sukses.


    Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

    Di sekitar menara ini terdapat kompleks pedagang karena sampai sekarang kompleks Menara Kudus masih ramai dikunjungi peziarah, terutama pada malam Jum’at. Karena keeksotisannya dan kekentalannya terhadap Islam, kompleks Menara Kudus ini pernah digunakan tempat pengambilan gambar dalam sebuah film lokal.

  2. Wisata Colo

    Kudus bagian utara merupakan daerah pegunungan yang terkenal dengan nama Gunung Muria. Di kaki Gunung Muria inilah desa Colo berada. Dengan kenampakan alam khas pegunungan dan cuaca yang lembut membuat banyak wisatawan yang datang kemari untuk berlibur melepas lelah. Jika saat sore tiba kadang-kadang kita bisa melihat atlet-atlet bulu tangkis klub Djarum sedang berlatih di sini.

    Daerah Colo juga terdapat makam seorang ulama yang terkenal dengan nama Sunan Muria. Beliau merupakan salah seorang ulama besar yang menyebarkan agama Islam di sekitar gunung Muria. Pada hari-hari tertentu daerah ini juga ramai oleh peziarah yang ingin melakukan wisata rohani.


    Sumber Gambar: https://rumahedelweiss.files.wordpress.com/2011/07/colo.jpg

    Wisatawan juga dapat bermain di air terjun di daerah ini, meskipun tidak terlalu besar tapi air yang sejuk cukup bermanfaat untuk melepas stres.Untuk memfasilitasi pengunjung, pemerintah telah membangun sebuah hotel yang cukup baik di daerah ini.

  3. Mata Air Tiga Rasa

    Jika kita meneruskan perjalanan dari air terjun Montel yang terletak di kawasan Colo, maka kita dapat mencapai sebuah tempat yang tenang dan teduh karena dikelilingi pepohonan besar. Tempat ini sesungguhnya juga merupakan sebuah makam seorang ulama, namun yang terkenal di sini yaitu 3 buah mata air yang memiliki rasa berbeda. Inilah yang dinamakan Mata Air Tiga Rasa.


    Sumber Gambar: http://www.tempatwisatamu.com/wp-content/uploads/2013/11/kudus-3-rasa.jpg

    Untuk mencapai daerah ini pengunjung dapat berjalan kaki atau menyewa jasa ojek dari kawasan Colo. Perkebunan kopi muria akan terlihat di kanan kiri jalan menuju tempat ini. Mata Air Tiga Rasa relatif masih sepi karena tidak semua kalangan mengetahui kawasan wisata ini.

  4. Museum Kretek

    Museum ini merupakan museum yang berisi dokumentasi tentang segala hal yang berhubungan dengan produksi rokok di Kudus. Di sini pengunjung dapat mengamati alur sejarah industri rokok, termasuk bungkus-bungkus rokok asli bahkan dari zaman sebelum Indonesia merdeka.


    Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

    Pengunjung juga akan mengetahui cara-cara membuat rokok tradisional dari diorama yang dipertontonkan di museum ini. Alat-alat pembuat rokok asli juga dipajang di sini. Di halaman museum terdapat rumah asli khas Kudus dengan perabotan yang juga semakin menggambarkan kondisi sebenarnya.

    Baru-baru ini juga dibangun arena bermain air sehingga anak-anak juga bisa belajar sekaligus berlibur di museum ini.

Oleh: Arena Bayu

Rabu, 05 Maret 2014

Maling Gentiri ternyata pahlawan di Blora

Barangkali agak mengejutkan jika kita mendengar kisah tentang seorang tokoh bernama Gentiri, karena ternyata ada dua buah versi cerita yang meliputi sepak terjangnya. Satu cerita diangkat dari legenda tanah Blora yang konon menyebut Gentiri ini sebagai Ratu Adil karena perannya yang teramat penting dan cukup vital dalam membantu mengentaskan kemiskinan di kota Blora, khususnya di wilayah Kawengan, jepon. Dan satu buah riwayat diangkat dari kota Kudus, terkait hubungan Gentiri dengan Sunan Muria yang tinggal di lereng gunung Muria.

Dalam versi yang pertama, Gentiri dikenal oleh masyarakat Blora sebagai seseorang yang memiliki ilmu tinggi. ia adalah putra dari Kiai Ageng Pancuran. Gentiri tidak hanya hebat dalam hal keilmuan, namun ia juga ringan tangan. Hal ini terbukti dengan upayanya untuk membantu masyarakat miskin yang tinggal di Kawenan agar keluar dari kesusahan hidup yang mereka alami. Namun sayangnya, Gentiri justru memanfaatkan ilmunya yang mandraguna tersebut untuk mencuri harta benda para adipati dan orang-orang kaya. Kemudian harta curian tersebut ia serahkan kepada orang-orang miskin yang hidup sebatang kara. Itulah sebabnya, masyarakat Kawenan menyebutnya dengan julukan, “Maling Gentiri.” Bahkan sebagian besar penduduk Kawenan yang ditolong oleh Maling Gentiri ini menyebutnya sebagai juru selamat atau ratu adil. Akan tetapi dalam perjalanan waktu, Gentiri sadar bahwa perbuatannya (baca: mencuri) adalah perbuatan yang keliru. Sehingga ia pun insyaf dan tidak lagi mengambil hak orang lain. Hingga pada akhirnya, ia wafat dan dimakamkan di desa Kawenan, Jepon.

Sementara itu, versi yang kedua menyebutkan bahwa Gentiri dan kakaknya yang bernama Kapa merupakan adik seperguruan dengan Sunan Muria. Keduanya membantu Sunan Muria mengejar Adipati Pathak Wharak yang menculik Dewi Roroyono, putri dari Sunan Ngerang. Mereka meminta Sunan Muria untuk kembali ke gunung muria saja karena harus membimbing dan memberikan pengajaran kepada masyarakat sekitar. Sehingga keduanya berjanji akan mengembalikan Dewi Roroyono dalam keadaan hidup pada ayahandanya, Sunan Ngerang. Maka Sunan Muria pun akhirnya menuruti permintaan mereka untuk pulang. Dan keesokan harinya Sunan Muria bertemu dengan Adipati Pathak Wharak untuk mengambil Dewi Roroyono, akan tetapi kedua kakak beradik (Kapa dan Gentiri) sudah memulangkan Dewi Roroyono. Namun terjadi perkelahian antara Pathak wharak dan Sunan Muria karena Pathak Wharak bermaksud mengambil kembali Dewi Roroyono, padahal Dewi Roroyono telah dijodohkan dengan Sunan Muria. Sehingga Pathak Wharak pun kalah dan hilang kesaktiannya.

Maka setelah peristiwa itu, Sunan Ngerang pun menikahkan putrinya dengan Sunan Muria untuk memenuhi janjinya. Yakni jika yang menolong perempuan akan dijadikan anak, sedang jika yang membebaskan putrinya itu laki-laki akan dijadikan menantu. Dan karena Kapa dan Gentiri telah berjanji mengambil Dewi Roroyono dari tangan Pathak Wharak untuk Sunan Muria, maka putri cantik itu dinikahkan dengan penguasa Gunung Muria tersebut. Namun sayangnya, setelah pernikahan Sunan Muria dengan Dewi Roroyono, kakak beradik tadi dirasuki oleh iblis dan tergoda oleh kemolekan tubuh Dewi Roroyono. Sehingga mereka pun bertekat untuk menculik Dewi Roroyono untuk mereka peristri. Maka Gentiri pun pergi lebih dulu untuk mengambil kesempatan menculik sang putri. Akan tetapi karena Sunan Muria jauh lebih sakti dibanding dia, maka Gentiri pun tewas di puncak gunung Muria. Sementara Kapa pun mati di tangan Sunan Muria ketika menculik istrinya dan membawanya pergi ke tempat Wiku Lodhang Datuk.

Kedua versi ini tentu tidak bisa diklaim mana yang paling benar, namun hal ini bisa menjadi pelajaran bagi kita bersama. Bahwa seburuk apapun sifat dan watak seseorang tentu masih ada hal-hal baik yang ada dalam dirinya. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita turut menghargai warisan budaya berupa sejarah dari tokoh bernama Gentiri ini dengan menziarahi makamnya di Desa Kawengan, Jepon, kabupaten Blora.

Oleh : Mayshiza Widya