Tampilkan postingan dengan label putri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label putri. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Oktober 2014

Indahnya Gua Putri Baturaja di Sumatera Selatan


1. Papan Sambutan Kepada Pengunjung

Jika anda tengah mengunjungi Sumatera Selatan, sempatkanlah diri anda untuk melangkahkan kaki ke salah satu kabupatennya yang bernama Ogan Komering Ulu. Di sana anda bisa menemukan sebuah gua yang dipenuhi stalaktit dan stalagmit. Menurut legenda masyarakat sekitar, keberadaan Gua Putri ini erat kaitannya dengan legenda Si Pahit Lidah. Dahulu kala, ada seorang putri cantik bernama Dayang Merindu yang merupakan selir Prabu Amir Rasyid. Pada suatu pagi, Dayang Merindu mandi di Sungai Semuhun. Saat ia mandi, seorang pengembara yang dikenal sebagai Si Pahit Lidah muncul dan lewat di hadapannya. Si Pahit Lidah ingin menyapa Dayang Merindu, namun kehadirannya tidak digubris sama sekali. Mendapat perlakuan seperti itu, Si Pahit Lidah pun berkata bahwa sikap diamnya Dayang Merindu seperti batu. Seketika, Dayang Merindu pun berubah menjadi batu. Si Pahit Lidah kemudian melanjutkan perjalanan menuju desa di mana Keluarga Dayang Merindu berdiam. Namun apa yang dilihatnya tidak seperti desa karena sepi sekali. Si Pahit Lidah pun berujar bahwa desa sepi itu seperti gua. Dalam sekejap, desa itu pun berubah menjadi gua.

Gua Putri merupakan salah satu objek wisata arkeologi yang patut dikunjungi. Aneka stalaktit yang menggantung di langit gua dan stalagmit yang melekat di lantai gua, serta cahaya redup yang muncul dari beberapa lampu di dalam gua membuat gua ini terlihat ajaib. Untuk dapat menyusuri gua, anda tidak perlu menunduk bahkan sampai merangkak karena Gua Putri memiliki lebar sekitar 20 m dan tinggi sekitar 20 m. Memasuki gua, anda akan menemukan kumpulan stalakmit yang menyerupai panggung kecil, sementara di sampingnya anda akan menemukan aliran air Sungai Semuhun yang menyerupai kolam. Tidak jauh dari kolam, anda akan menemukan stalakmit yang menyerupai tungku memasak. Selain itu, anda juga akan menemukan hamparan karst yang seperti panggung, di mana pada sisi belakang terdapat untaian stalaktit berukuran kecil dan besar. Di sisi hamparan karst tersebut, terdapat aliran Sungai Semuhun yang dulunya diyakini sebagai tempat permandian para putri. Konon, tempat mandi ini diyakini dapat mewujudkan keinginan siapa saja yang mandi di sana.


2. Gua Putri Baturaja

Melihat aneka stalaktit-stalakmit di dalam gua dapat menyegarkan mata, terutama bagi mereka yang sehari-harinya bergelut di keramaian kota. Ditambah suara gemercik air di dalam gua, dapat membuat pikiran kita lebih rileks. Selain menyuguhkan keindahan gua, pihak pengelola juga menyiapkan kedai makanan-suvenir, museum Si Pahit Lidah, dan juga ruang pertunjukan. Di dalam museum tersebut, tersimpan aneka kerangka manusia purba. Untuk mencapai Gua Putri, pengunjung bisa menggunakan moda transportasi apa saja yang sampai ke Desa Padang Bindu, Semidang Aji, OKU. Jika anda berangkat dari Kota Palembang, jarak yang ditempuh sekitar 230 km dengan waktu tempuh sekitar 7 jam. Bila tidak menggunakan kendaraan pribadi, anda bisa menggunakan jasa travel yang berangkat dari Palembang. Biasanya travel-travel ini mudah ditemukan di areal parkir Pasar 16 Ilir, Pangkal Jembatan Ampera, dan Pamor (Depan RM Pagi Sore Kertapati). Untuk dapat memasuki kawasan Gua Putri, setiap pengunjung dipungut retribusi sebesar Rp 5000,00 untuk pengunjung dewasa, Rp 3000,00 untuk pelajar, dan Rp 2500,00 untuk pengunjung anak-anak.

Gua Putri adalah salah satu tujuan wisata yang cukup populer di Sumatera Selatan. Di luar legendanya, Gua Putri adalah salah satu bukti keagungan Ilahi yang menciptakan sebuah gua besar dengan sedemikian indahnya. Tunggu apa lagi? Ayo menyusuri Gua Putri. Ayo ke Sumatera Selatan!

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://milanistibaturaja.files.wordpress.com/2013/04/images-1.jpg
2. http://news.liputan6.com/read/2078686/menikmati-stalaktit-dan-stalagmit-di-gua-putri-baturaja

Selasa, 03 Juni 2014

Pulau Moyo, Terlalu Manis untuk Tak Dikunjungi


Pulau Moyo [sumber: http://assets.kompas.com/data/photo/2013/10/25/1028309moyooo780x390.jpg]

Tersebutlah satu pulau hening dan damai. Dan seorang putri cantik dari negeri yang jauh mendatangi tempat itu untuk menepis kekalutan hatinya. Selama tiga hari dua malam ia menghabiskan waktu mendengarkan suara-suara meneduhkan dari sekelilingnya. Ia yang datang dengan mata sayu, berkat keheningan dan kedamaian tempat itu, ia pun pulang dengan mata penuh binar.

Pulau dan putri cantik itu bukanlah cerita dongeng. Mereka nyata. Pulau itu bernama Pulau Moyo, dan putri itu bernama Lady Diana. Barangkali nama putri itu tidak asing bagi banyak orang—ia putri Inggris istri Pangeran Charles yang meninggal pada 1997. Tapi Pulau Moyo? Barangkali ini masih asing bagi orang Indonesia. Jika dikatakan ini sebagai daerah wisata, barangkali pula tempat yang indah ini masih belum-belum dikenal oleh para wisatawan dan pelancong.

Pulau Moyo ini merupakan yang terbesar kedua di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Ia ditetapkan sebagai taman buru dan taman laut pada September 1986. Awalnya berupa suaka alam dan margasatwa. Luas pulau yang berada di bagian utara Sumbawa ini adalah 30.000 hektar. Panjangnya dari selatan ke utara 27 km. Sedangkan dari barat ke timur sekitar 8-20 km.

Lady Diana mendatangi Pulau Moyo ini pada Senin pagi 16 Agustus 1993 bersama 11 anggota rombongannya, tiga wanita sebaya, dan beberapa pengawalnya. Ia menumpang kapal cruise Aman XI ke pulau Moyo. Waktu itu diserang ‘galau’. Rumah tangganya bersama Pangeran Charles sedang tidak baik. Barangkali itulah sebabnya ia datang ke Pulau yang terkenal karena kesunyian dan ketenangannya ini. Ia mengusir kalut hatinya dengan mendengar kicau burung gosong, suara langkah kaki rusa, babi hutan, sapi liar dan kera abu-abu. Bayangkanlah di sore hari putri cantik ini datang menyendiri menyaksikan dan mendengarkan percik air terjun Mata Jitu dan Diwu Mbai. Hmmm..


Salah satu air terjun di Pulau Moyo [sumber: http://www.pulaumoyo.com/images/portfolio/popup/matajt.jpg]

Meski pernah didatangi Lady Diana—juga selebritis dunia seperti Mick Jagger—tempat ini tetap masih asing bagi para wisatawan nasional, bahkan lokal. Padahal tempat ini menyediakan sajian pemandangan alam yang natural serta beberapa jenis hewan langka dan air terjun yang menyejukkan.

Cara menuju ke Pulau Moyo

Misalkan anda berada di luar wilayah Nusa Tenggara Barat, dan belum pernah mengunjungi Pulau Moyo di sebelah utara Sumbawa ini, ada beberapa alternatif untuk menuju ke sana: ambillah garis start dari Mataram. Anda bisa menggunakan jalan darat atau udara. Untuk darat, anda bisa menyewa mobil travel yang akan menempuh perjalanan kurang lebih 6 jam. Atau jika menempuh perjalanan udara, anda bisa menggunakan jasa Maskapai yang buka setiap hari dari Mataram-Sumbawa Besar. Pesawat Fokker 50 dan sebuah Maskapai yang terbang setiap Selasa dan Jumat akan menerbangkan anda ke selama 35 menit.

Jika sudah tiba di Sumbawa, berangkatlah ke pantai di Kenanga Beach Cottage. Dari sana anda bisa berangkat menggunakan kapal ke Pulau Moyo. Kapal akan berlabuh di Labuhan Aji, sebuah pelabuhan tempat para penduduk lokal dan backpacker menumpang kapal sumbangan Amanwana Resort yang gratis bagi penduduk lokal, dan dikenakan biaya Rp. 15.000 untuk yang bukan orang lokal.


Transportasi penyeberangan menuju Pulau Moyo [sumber: http://www.pulaumoyo.com/potojarum.html]

Anda tak perlu khawatir soal mencari tempat tinggal. Anda bisa tinggal di rumah penduduk di dekat pantai atau di penginapan sederhana yang ada di sana. Jika anda memilih penginapan, anda mengeluarkan biaya sekira Rp. 150.000 per malam. Sudah termasuk makan tiga kali sehari.

Hanya memang anda harus bersiap-siap untuk kondisi seperti ini di Pulau Moyo: di pulau itu anda tak akan mendapatkan satu pun mobil, listrik hanya menyala pada malam hari, kondisi jalan tak rata, dan untuk menuju beberapa tempat tujuan wisata, seperti air terjun Mata Jitu dan Diwu Mbai, jalan menanjak dan sedikit berdebu.

Tapi sekali anda tiba di tempat tujuan, semua ‘petualangan’ itu akan terbayar lunas. Kesejukan hutan akan merangkul anda. Dingin air terjun di tengah hutan itu menunggu anda untuk menjamahnya.

Jika anda belum juga puas, tak perlu khawatir. Ada bisa mencoba snorkeling di sore hari sambil menyaksikan matahari pulang ke barat. Ada banyak pantai eksotis di Pulau Moyo yang bisa anda selami. Seperti Raja Sua, Ai Manis dan Tanjung Pasir.


Rumah-rumah penduduk di pinggir pantai dinaungi pohon kelapa menjulang dan langit biru lazuardi. [sumber: http://www.pulaumoyo.com/images/portfolio/popup/sebotok.jpg]

Penasaran dan tertarik untuk mendatangi dan menikmati alam Pulau Maya? Rancanglah perjalanan anda. Hanya saja disarankan jangan melakukan perjalanan ke sana pada kisaran bulan Desember-April. Gelombang ombak yang besar tidak bersahabat. Datanglah ke sana pada Juli-Agustus. Dan nikmatilah wisata anda. Barangkali seperti Lady Diana, anda pun akan pulang dengan mata berbinar.

Sungguh, Pulau Moyo terlalu manis untuk tidak anda kunjungi.

Oleh : Dedy Hermansyah
Sumber:
1. http://lomboknews.com/2007/10/03/moyo-pun-didatangi-lady-diana/
2. http://bangmek.wordpress.com/2012/01/12/kisah-kedatangan-lady-diana-ke-pulau-moyo/
3. http://travel.kompas.com/read/2013/10/25/1122078/Mencari.Keheningan.di.Sumbawa.Pulau.Moyo.Tempatnya
Sumber gambar:
1. http://www.anneahira.com/sumbawa.htm
2. http://travel.kompas.com/read/2013/10/25/1122078/Mencari.Keheningan.di.Sumbawa.Pulau.Moyo.Tempatnya
3. http://www.pulaumoyo.com/

Rabu, 05 Maret 2014

Maling Gentiri ternyata pahlawan di Blora

Barangkali agak mengejutkan jika kita mendengar kisah tentang seorang tokoh bernama Gentiri, karena ternyata ada dua buah versi cerita yang meliputi sepak terjangnya. Satu cerita diangkat dari legenda tanah Blora yang konon menyebut Gentiri ini sebagai Ratu Adil karena perannya yang teramat penting dan cukup vital dalam membantu mengentaskan kemiskinan di kota Blora, khususnya di wilayah Kawengan, jepon. Dan satu buah riwayat diangkat dari kota Kudus, terkait hubungan Gentiri dengan Sunan Muria yang tinggal di lereng gunung Muria.

Dalam versi yang pertama, Gentiri dikenal oleh masyarakat Blora sebagai seseorang yang memiliki ilmu tinggi. ia adalah putra dari Kiai Ageng Pancuran. Gentiri tidak hanya hebat dalam hal keilmuan, namun ia juga ringan tangan. Hal ini terbukti dengan upayanya untuk membantu masyarakat miskin yang tinggal di Kawenan agar keluar dari kesusahan hidup yang mereka alami. Namun sayangnya, Gentiri justru memanfaatkan ilmunya yang mandraguna tersebut untuk mencuri harta benda para adipati dan orang-orang kaya. Kemudian harta curian tersebut ia serahkan kepada orang-orang miskin yang hidup sebatang kara. Itulah sebabnya, masyarakat Kawenan menyebutnya dengan julukan, “Maling Gentiri.” Bahkan sebagian besar penduduk Kawenan yang ditolong oleh Maling Gentiri ini menyebutnya sebagai juru selamat atau ratu adil. Akan tetapi dalam perjalanan waktu, Gentiri sadar bahwa perbuatannya (baca: mencuri) adalah perbuatan yang keliru. Sehingga ia pun insyaf dan tidak lagi mengambil hak orang lain. Hingga pada akhirnya, ia wafat dan dimakamkan di desa Kawenan, Jepon.

Sementara itu, versi yang kedua menyebutkan bahwa Gentiri dan kakaknya yang bernama Kapa merupakan adik seperguruan dengan Sunan Muria. Keduanya membantu Sunan Muria mengejar Adipati Pathak Wharak yang menculik Dewi Roroyono, putri dari Sunan Ngerang. Mereka meminta Sunan Muria untuk kembali ke gunung muria saja karena harus membimbing dan memberikan pengajaran kepada masyarakat sekitar. Sehingga keduanya berjanji akan mengembalikan Dewi Roroyono dalam keadaan hidup pada ayahandanya, Sunan Ngerang. Maka Sunan Muria pun akhirnya menuruti permintaan mereka untuk pulang. Dan keesokan harinya Sunan Muria bertemu dengan Adipati Pathak Wharak untuk mengambil Dewi Roroyono, akan tetapi kedua kakak beradik (Kapa dan Gentiri) sudah memulangkan Dewi Roroyono. Namun terjadi perkelahian antara Pathak wharak dan Sunan Muria karena Pathak Wharak bermaksud mengambil kembali Dewi Roroyono, padahal Dewi Roroyono telah dijodohkan dengan Sunan Muria. Sehingga Pathak Wharak pun kalah dan hilang kesaktiannya.

Maka setelah peristiwa itu, Sunan Ngerang pun menikahkan putrinya dengan Sunan Muria untuk memenuhi janjinya. Yakni jika yang menolong perempuan akan dijadikan anak, sedang jika yang membebaskan putrinya itu laki-laki akan dijadikan menantu. Dan karena Kapa dan Gentiri telah berjanji mengambil Dewi Roroyono dari tangan Pathak Wharak untuk Sunan Muria, maka putri cantik itu dinikahkan dengan penguasa Gunung Muria tersebut. Namun sayangnya, setelah pernikahan Sunan Muria dengan Dewi Roroyono, kakak beradik tadi dirasuki oleh iblis dan tergoda oleh kemolekan tubuh Dewi Roroyono. Sehingga mereka pun bertekat untuk menculik Dewi Roroyono untuk mereka peristri. Maka Gentiri pun pergi lebih dulu untuk mengambil kesempatan menculik sang putri. Akan tetapi karena Sunan Muria jauh lebih sakti dibanding dia, maka Gentiri pun tewas di puncak gunung Muria. Sementara Kapa pun mati di tangan Sunan Muria ketika menculik istrinya dan membawanya pergi ke tempat Wiku Lodhang Datuk.

Kedua versi ini tentu tidak bisa diklaim mana yang paling benar, namun hal ini bisa menjadi pelajaran bagi kita bersama. Bahwa seburuk apapun sifat dan watak seseorang tentu masih ada hal-hal baik yang ada dalam dirinya. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita turut menghargai warisan budaya berupa sejarah dari tokoh bernama Gentiri ini dengan menziarahi makamnya di Desa Kawengan, Jepon, kabupaten Blora.

Oleh : Mayshiza Widya