Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Oktober 2014

Mengenal Pedalaman Suku Badui dan Keselarasannya dengan Alam

Sebagai negara yang kaya akan kekayaan alam dan keragaman budaya, Indonesia tidak hanya menawarkan aneka wisata alam dan sejarah saja, tetapi juga desa-desa unik yang masih menjaga kearifan lokalnya hingga saat ini. Sebut saja Suku Badui di Banten yang memiliki adat-istiadat yang unik. Suku Badui berada sekitar 120 km dari Kota Jakarta. Perjalanan yang tidak singkat ini akan menjadi momen yang menyegarkan kita dari penatnya ibu kota, karena di sepanjang jalan kita bisa melihat dan merasakan suasana alam yang begitu asri. Adapun Suku Badui membagi wilayahnya menjadi dua bagian yaitu Suku Badui Dalam dan Suku Badui Luar. Letak perbedaan kedua suku ini bisa dilihat dari adat-istiadat mereka, di mana Suku Badui Dalam masih menjaga ketat adat-istiadat. Suku Badui Luar juga tetap menjaga adat-istiadat namun sudah bisa berbaur dengan masyarakat di sekitar mereka. Meskipun Suku Badui Luar tidak terlalu menjaga ketat adat-istiadat, namun ciri kehidupan mereka tetap sama seperti Suku Badui Dalam yakni hidup sederhana, berdampingan, anti narkoba, dan berselaras dengan alam.

Menurut sejarah, kata Badui berasal dari Bedouin atau Badawi yang diberikan seorang peneliti berkebangsaan Belanda. Diakibatkan aksen penduduk setempat, kata Bedouin atau Badwi pun bergeser menjadi Badui. Perkampungan Suku Badui berjarak 40 kilometer dari Rangkasbitung dan untuk mencapainya, pengunjung disarankan untuk menaiki kereta api ataupun angkutan umum lainnya yang sampai ke Kabupaten Rangkasbitung. Setelah sampai di Rangkasbitung, pengunjung harus melanjutkan perjalanan hingga sampai di Ciboleger, pintu masuk menuju perkampungan Suku Badui. Sesampainya di Terminal Ciboleger, pengunjung akan disambut oleh anak-anak Suku Baduy. Kebanyakan mereka berdiri di emperan toko untuk berjualan souvenir. Anak-anak ini sudah bisa berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dan sedikit-sedikit sudah mulai memahami Bahasa Inggris. Oleh karena itu, anda tidak perlu ragu untuk bertanya ataupun meminta salah satu dari mereka untuk menjadi tour guide.

Memasuki perkampungan Badui, anda akan merasakan perbedaan yang begitu mencolok dengan suasana perkotaan. Di wilayah Badui Luar, anda bisa melihat orang-orang Suku Badui mengenakan pakaian khas mereka yang berwarna hitam, putih, mengenakan ikat kepala, dan tidak mengenakan alas kaki. Di wilayah ini, pengunjung masih diperbolehkan untuk mendokumentasikan hal-hal di sekitar, baik itu orang-orang Suku Badui maupun rumah-rumah jerami mereka. Sepanjang perjalanan, anda akan menyusuri sungai-sungai kecil dan lumbung padi yang biasanya diletakkan di halaman depan tiap-tiap rumah. Untuk bisa mencapai Suku Badui Dalam, anda harus melewati jembatan bambu yang merupakan pemisah sekaligus penghubung antara Suku Badui Luar dan Suku Badui Dalam. Bila dibandingkan dengan perkampungan Badui Luar, Suku Badui Dalam terasa lebih asri dengan bukit-bukit hijaunya. Suku Badui Dalam memang hidup selaras dengan alam. Suku Badui Dalam sangat percaya bahwa jika mereka bersikap baik pada alam, maka alam juga akan bersikap baik pada mereka. Oleh karena itulah, mereka tidak pernah menggunakan sabun, sampo, dan odol saat mandi. Mereka tidak ingin barang-barang seperti itu mencemari sungai dan lingkungan mereka. Selain itu, mereka juga juga tidak bersentuhan dengan tape-deck, radio, dan alat elektronik lainnya, juga tidak mengenakan alas kaki dan kendaraan saat bepergian. Suku Badui Dalam terbiasa berjalan kaki ke manapun mereka pergi.


1. Suku Badui Dalam


2. Perkampungan Badui


3. Lumbung Padi Suku Badui

Bagi anda yang ingin merasakan hidup berdampingan dengan Suku Badui Dalam, anda bisa menginap di sana. Selama menginap, anda akan merasakan hidup tanpa gadget, listrik, dan kamar mandi, dan anda harus menggantungkan diri pada alam, seperti mandi dan buang air di sungai. Semua peraturan itu harus ditaati karena jika dilanggar akan dikenakan sanksi adat. Jangan lupa untuk membawa senter, anti nyamuk, dan obat-obatan. Di dalam perkampungan Badui tidak ada puskesmas, mereka terbiasa menggunakan daun untuk mengobati penyakit yang mereka derita.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://erzariani.blogspot.com/2014/03/mengenal-kehidupan-suku-baduy.html
2. http://pesonaindahindonesia.blogspot.com/2013/03/wisata-alam-dan-budaya-suku-baduy-desa.html
3. http://www.indonesiahebat.org/uploads/default/files/lumbung-padi-suku-baduy.jpg

Selasa, 03 Juni 2014

Pulau Moyo, Terlalu Manis untuk Tak Dikunjungi


Pulau Moyo [sumber: http://assets.kompas.com/data/photo/2013/10/25/1028309moyooo780x390.jpg]

Tersebutlah satu pulau hening dan damai. Dan seorang putri cantik dari negeri yang jauh mendatangi tempat itu untuk menepis kekalutan hatinya. Selama tiga hari dua malam ia menghabiskan waktu mendengarkan suara-suara meneduhkan dari sekelilingnya. Ia yang datang dengan mata sayu, berkat keheningan dan kedamaian tempat itu, ia pun pulang dengan mata penuh binar.

Pulau dan putri cantik itu bukanlah cerita dongeng. Mereka nyata. Pulau itu bernama Pulau Moyo, dan putri itu bernama Lady Diana. Barangkali nama putri itu tidak asing bagi banyak orang—ia putri Inggris istri Pangeran Charles yang meninggal pada 1997. Tapi Pulau Moyo? Barangkali ini masih asing bagi orang Indonesia. Jika dikatakan ini sebagai daerah wisata, barangkali pula tempat yang indah ini masih belum-belum dikenal oleh para wisatawan dan pelancong.

Pulau Moyo ini merupakan yang terbesar kedua di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Ia ditetapkan sebagai taman buru dan taman laut pada September 1986. Awalnya berupa suaka alam dan margasatwa. Luas pulau yang berada di bagian utara Sumbawa ini adalah 30.000 hektar. Panjangnya dari selatan ke utara 27 km. Sedangkan dari barat ke timur sekitar 8-20 km.

Lady Diana mendatangi Pulau Moyo ini pada Senin pagi 16 Agustus 1993 bersama 11 anggota rombongannya, tiga wanita sebaya, dan beberapa pengawalnya. Ia menumpang kapal cruise Aman XI ke pulau Moyo. Waktu itu diserang ‘galau’. Rumah tangganya bersama Pangeran Charles sedang tidak baik. Barangkali itulah sebabnya ia datang ke Pulau yang terkenal karena kesunyian dan ketenangannya ini. Ia mengusir kalut hatinya dengan mendengar kicau burung gosong, suara langkah kaki rusa, babi hutan, sapi liar dan kera abu-abu. Bayangkanlah di sore hari putri cantik ini datang menyendiri menyaksikan dan mendengarkan percik air terjun Mata Jitu dan Diwu Mbai. Hmmm..


Salah satu air terjun di Pulau Moyo [sumber: http://www.pulaumoyo.com/images/portfolio/popup/matajt.jpg]

Meski pernah didatangi Lady Diana—juga selebritis dunia seperti Mick Jagger—tempat ini tetap masih asing bagi para wisatawan nasional, bahkan lokal. Padahal tempat ini menyediakan sajian pemandangan alam yang natural serta beberapa jenis hewan langka dan air terjun yang menyejukkan.

Cara menuju ke Pulau Moyo

Misalkan anda berada di luar wilayah Nusa Tenggara Barat, dan belum pernah mengunjungi Pulau Moyo di sebelah utara Sumbawa ini, ada beberapa alternatif untuk menuju ke sana: ambillah garis start dari Mataram. Anda bisa menggunakan jalan darat atau udara. Untuk darat, anda bisa menyewa mobil travel yang akan menempuh perjalanan kurang lebih 6 jam. Atau jika menempuh perjalanan udara, anda bisa menggunakan jasa Maskapai yang buka setiap hari dari Mataram-Sumbawa Besar. Pesawat Fokker 50 dan sebuah Maskapai yang terbang setiap Selasa dan Jumat akan menerbangkan anda ke selama 35 menit.

Jika sudah tiba di Sumbawa, berangkatlah ke pantai di Kenanga Beach Cottage. Dari sana anda bisa berangkat menggunakan kapal ke Pulau Moyo. Kapal akan berlabuh di Labuhan Aji, sebuah pelabuhan tempat para penduduk lokal dan backpacker menumpang kapal sumbangan Amanwana Resort yang gratis bagi penduduk lokal, dan dikenakan biaya Rp. 15.000 untuk yang bukan orang lokal.


Transportasi penyeberangan menuju Pulau Moyo [sumber: http://www.pulaumoyo.com/potojarum.html]

Anda tak perlu khawatir soal mencari tempat tinggal. Anda bisa tinggal di rumah penduduk di dekat pantai atau di penginapan sederhana yang ada di sana. Jika anda memilih penginapan, anda mengeluarkan biaya sekira Rp. 150.000 per malam. Sudah termasuk makan tiga kali sehari.

Hanya memang anda harus bersiap-siap untuk kondisi seperti ini di Pulau Moyo: di pulau itu anda tak akan mendapatkan satu pun mobil, listrik hanya menyala pada malam hari, kondisi jalan tak rata, dan untuk menuju beberapa tempat tujuan wisata, seperti air terjun Mata Jitu dan Diwu Mbai, jalan menanjak dan sedikit berdebu.

Tapi sekali anda tiba di tempat tujuan, semua ‘petualangan’ itu akan terbayar lunas. Kesejukan hutan akan merangkul anda. Dingin air terjun di tengah hutan itu menunggu anda untuk menjamahnya.

Jika anda belum juga puas, tak perlu khawatir. Ada bisa mencoba snorkeling di sore hari sambil menyaksikan matahari pulang ke barat. Ada banyak pantai eksotis di Pulau Moyo yang bisa anda selami. Seperti Raja Sua, Ai Manis dan Tanjung Pasir.


Rumah-rumah penduduk di pinggir pantai dinaungi pohon kelapa menjulang dan langit biru lazuardi. [sumber: http://www.pulaumoyo.com/images/portfolio/popup/sebotok.jpg]

Penasaran dan tertarik untuk mendatangi dan menikmati alam Pulau Maya? Rancanglah perjalanan anda. Hanya saja disarankan jangan melakukan perjalanan ke sana pada kisaran bulan Desember-April. Gelombang ombak yang besar tidak bersahabat. Datanglah ke sana pada Juli-Agustus. Dan nikmatilah wisata anda. Barangkali seperti Lady Diana, anda pun akan pulang dengan mata berbinar.

Sungguh, Pulau Moyo terlalu manis untuk tidak anda kunjungi.

Oleh : Dedy Hermansyah
Sumber:
1. http://lomboknews.com/2007/10/03/moyo-pun-didatangi-lady-diana/
2. http://bangmek.wordpress.com/2012/01/12/kisah-kedatangan-lady-diana-ke-pulau-moyo/
3. http://travel.kompas.com/read/2013/10/25/1122078/Mencari.Keheningan.di.Sumbawa.Pulau.Moyo.Tempatnya
Sumber gambar:
1. http://www.anneahira.com/sumbawa.htm
2. http://travel.kompas.com/read/2013/10/25/1122078/Mencari.Keheningan.di.Sumbawa.Pulau.Moyo.Tempatnya
3. http://www.pulaumoyo.com/

Rabu, 26 Februari 2014

Yuk, Liburan Ke Pulau Seribu - 2

Cara Murah Ke Pulau Seribu

Nah, setelah Anda tahu begitu banyaknya tempat wisata di Pulau Seribu. Tentunya, ada sebagian Anda yang menginginkan cara murah ke Pulau Seribu. Secara umum ada tiga cara murah yang bisa Anda lakukan.

  1. Gunakanlah Biro Wisata Perjalanan

    Banyak orang yang kurang mengetahui bahwa untuk melakukan wisata yang bisa mengunjungi banyak tempat dan memiliki guide, maka berangkatlah menggunakan biro wisata perjalanan atau travel. Anda bisa mencari informasinya melalui surat kabar atau melalui internet. Biasanya, ada travel yang menjanjikan perjalanan murah ke Pulau Seribu.

    Tentu saja, pihak travel akan menjanjikan untuk Anda jenis-jenis paket yang disediakan. Anda mesti memilihnya. Jika berangkat menggunakan biro wisata perjalanan atau travel, Anda mesti legowo mungkin ada lokasi wisata yang kurang mengena di hati. Namun penulis menyarankan untuk menikmati saja. Bisa jadi, setelah Anda mengunjunginya akan menyenangkan.
  2. 2. Hubungi Hotel-Hotel di Sekitar Pulau Seribu

    Selain menggunakan biro wisata perjalanan atau travel, Anda juga bisa menghubungi hotel-hotel yang terdapat di Pulau Seribu. Tanyakan saja, apakah hotel tersebut memiliki paket tour wisata di sekitar Pulau Seribu. Biasanya, pihak hotel memiliki. Sehingga Anda yang datang dari luar provinsi atau kota tak kebingungan saat wisata di Pulau Seribu. Umumnya, pihak hotel juga menyediakan Guide.

    Yang membedakan menggunakan paket hotel dengan paket biro wisata perjalanan adalah, jika Anda berasal dari luar pulau jawa, maka Anda mesti membeli tiket pesawat sendiri. Jika menggunakan biro wisata perjalanan atau travel, maka Anda tak lagi memikirkan biaya tiket pesawat. Umumnya, paket yang disediakan pihak travel sudah termasuk dengan tiket pesawat return (pulang pergi).
  3. 3. Melalui Teman

    Nah, ini juga termasuk cara murah liburan ke Pulau Seribu. Anda tinggal mencari teman, apakah ada yang tinggal di sekitar Pulau Seribu. Jika ada, maka tanyakanlah kepadanya, siap atau tidak menemani Anda wisata di Pulau Seribu. Maka, Anda bakal murah dalam hal guide dan tempat penginapan jika teman Anda mengizinkan tinggal di rumahnya selama liburan.

    Atau, Anda bisa memintanya untuk mencarikan hotel murah di Pulau Seribu. Sehingga tugas Anda hanya mencari tiket murah ke Jakarta. Ini jelas sangat bisa membuat wisata perjalanan Anda ke Pulau Seribu menjadi murah. Anda tak perlu membayar guide. Dan pastinya, teman Anda pasti paham jenis wisata yang mana paling menarik dan sesuai.

    Ini sangat berbeda dengan menggunakan paket biro wisata perjalanan. Menggunakan biro wisata perjalanan, ketika Anda tidak menyukai paket wisata yang dipilih, maka tidak bisa untuk segera cepat kembali atau membatalkan paket.

    Berbeda juga dengan menggunakan paket hotel yang Anda hubungi via telepon atau informasi yang didapat di internet. Pasalnya, jika Anda merasa tidak nyaman dan kurang menikmati paket yang ditawarkan, maka Anda tidak bisa begitu saja pindah ke hotel yang lain.
Nah, inilah bentuk-bentuk wisata yang ada di Pulau Seribu. Plus, di artikel ini pun dipaparkan cara murah untuk ke Pulau Seribu. Semuanya tergantung pada pilihan Anda. Semoga liburan Anda di Pulau Seribu murah dan menyenangkan.

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution

Menelusuri Jejak Sejarah di Benteng Vredeburg

Jogja, salah satu kota besar di Pulau Jawa yang terkenal akan kebudayaannya. Bagi anda yang belum pernah ke Jogja, mari datang dan lihat betapa indahnya kota ini. Jogjakarta memiliki banyak objek wisata yang dapat dikunjungi. Ada Candi Prambanan, Pantai Parangtritis, Kebun Binatang Gembira Loka, Keraton, Alun-alun Kidul, dan lain sebagainya. Itulah sebagian objek wisata yang umumnya dikunjungi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara dan kali ini saya akan memperkenalkan objek wisata yang cukup berbeda yaitu Museum Benteng Vredeburg, sebuah museum yang baru saja saya kunjungi di Bulan Januari yang lalu.

Museum Benteng Vredeburg adalah sebuah benteng sekaligus museum peninggalan Belanda, terletak di Jl. Jend. A. Yani No. 6 Jogjakarta, tidak jauh dari Malioboro pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Jogja. Untuk masuk ke dalam Museum ini, pengunjung cukup membayar Rp 2000,00 bagi pengunjung dewasa dan setengahnya bagi pengunjung anak-anak. Ada dua jalan yang dibuka untuk masuk ke dalamnya. Jalan pertama yaitu melalui pintu gerbang depan yang disusul jembatan kecil yang mencuatkan air mancur di sisi kanan dan kiri, sementara jalan kedua melalui Taman Budaya yang letaknya persis di belakang Museum Benteng Vredeburg.



Saat itu kami baru saja mengunjungi Taman Budaya dan melanjutkan perjalanan kami ke Benteng Vredeburg melalui pintu belakang. Karena masuk melalui pintu belakang, maka hal pertama yang kami lihat adalah petunjuk arah untuk menelusuri benteng tersebut.



Petunjuk adanya diorama membelokkan arah kami menuju diorama yang dimaksud. Sungguh menakjubkan apa yang kami lihat saat memasuki gedung tersebut. Hal-hal bersejarah yang biasanya hanya dapat kita ketahui melalui buku-buku sejarah tergambar jelas pada minirama-minirama di dalam diorama tersebut.

Terdapat 4 diorama yang dapat dikunjungi, tetapi karena kami masuk melalui pintu belakang, diorama yang pertama kami kunjungi ialah diorama 3 yang berisikan perjalanan sejarah yang dimulai dari tercetusnya perjanjian Renville hingga pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat.



Melanjutkan perjalanan menuju diorama 4, kami memasuki sebuah ruangan yang tampak tak terawat. Jangan kaget bila saat membuka pintu, ada kotak kaca berisikan replika pakaian pejuang semasa G-30 S/PKI yang akan menyambut di ujung lorong. Ruangan itu tampak sedikit menyeramkan, membuat kita seakan mampu merasakan aura kekejaman PKI di masa dulu.



Tidak terlalu banyak yang harus disusuri di dalam diorama 4. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju diorama 1.



Diorama 1 berisikan peristiwa-peristiwa penting mengenai zaman Diponegoro hingga kependudukan Jepang di Jogja. Melanjutkan perjalanan ke Diorama 2, kami melewati banyak minirama yang menggambarkan peristiwa Proklamasi hingga terjadinya Agresi Militer.

Saat keluar dari pintu diorama 2, dua buah meriam dan dua buah patung Jend. Soedirman menyambut pandangan mata kami. Sungguh patung yang megah. Banyaknya pengunjung yang datang membuat kami harus antre untuk berfoto dengan patung Jend. Soedirman.



Penelusuran kami berhenti tepat di Gedung Pertemuan dan Gedung Audio Visual yang sangat disayangkan tertutup saat itu. Sungguh penelusuran sejarah yang menyenangkan. Banyak hal yang kami dapatkan dari penelusuran di Benteng ini. Hari sudah sore saat kami menyelesaikan penelusuran, kami pun memutuskan untuk pulang dan meninggalkan Benteng yang indah ini. Kami berjanji, di waktu mendatang, kami akan kembali lagi ke Benteng ini, informan bisu yang telah menceritakan banyak sejarah mengenai tanah air.

Oleh : Rahel Simbolon

Puncak Tertinggi Jawa Tengah



Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah. Gunung dengan tinggi 3.432 m di atas permukaan laut dengan posisi geografis 7°14,30' LS dan 109°12,30' BT yang terletak di perbatasan daerah kabupaten Pemalang dan kabupaten Banyumas. Di mana wilayah utara dari gunung ini berada dalam kawasan kabupaten Pemalang sementara wilayah selatan masuk kawasan kabupaten Banyumas. Namun gunung Slamet juga sedikit menjorok pada kawasan kabupaten Banjarnegara dan Brebes.

Gunung ini mempunyai empat kawah di puncaknya. Gunung yang berada di sebelah utara kota Purwokerto dan di sebelah barat kota Purbalingga ini juga mempunyai beberapa sumber air panas. Dari sumber air panas itulah memunculkan beberapa kawasan wisata air panas salah satunya wisata pemandian air panas Guci. Dan kaki gunung Slamet pada daerah Purwokerto ini juga dijadikan salah satu kawasan wisata bernama Baturraden.

Tahun lalu aku berkesempatan melakukan pendakian menuju puncak gunung tertinggi di Jawa Tengah itu. Jalur pendakian yang dilalui bukan merupakan jalur yang pada umumnya digunakan oleh para pendaki yang biasanya melalui daerah Banyumas atau lewat daerah Guci. Jalur yang ditempuh merupakan jalur dari desa tepat di mana aku tinggal dan dibesarkan. Jalur itu masih dekat dengan desa Gunungsari, di bagian pojok barat daya yang juga berbatasan dengan desa Jurangmangu. Di sana juga si juru kunci gunung Slamet tinggal.

Rombongan terdiri dari tiga puluh orang termasuk aku di dalamnya. Sore, setelah waktu ashar, rombongan beranjak menuju tempat si juru kunci. Begitulah kepercayaan warga sekitar yang mengharuskan menemui juru kunci gunung Slamet terlebih dahulu sebelum melanjutkan pendakian ke puncak Slamet. Perwakilan ketua pendakian menemui si juru kunci dan mengatakan jumlah pendaki dalam rombongan. Mitosnya, kata orang sekitar rombongan pendaki diharuskan berjumlah genap, tidak tahu kenapa.

Setelah diberi welingan dan dibakarkan kemenyan oleh si juru kunci rombongan memulai pendakian. Dipimpin oleh ketua rombongan kami menuju pondok awal masuk ke jalur pendakian gunung Slamet. Pos awal jalur pendakian dinamakan Plawangan, merupakan awal memulai rute pendakian untuk jalur pendakian yang kami tempuh. Di Plawangan kami sampai pada pukul 7 malam. Kami beristirahat sejenak dan berdoa untuk kembali melanjutkan pendakian menuju pos pertama di Pondok Gribig.


Pondok Gribig siang hari

Tak lama berselang, sekitar satu jam perjalanan kami berhasil mencapai di pos Pondok Gribig, 1700 meter di atas permukaan laut. Rombongan kembali beristirahat untuk menyantap bekal yang telah dipersiapkan, mulai dari lontong, ketupat, singkong rebus, dan juga keripik tempe serta ikan asin sebagai lauknya. Perjalanan dilanjutkan kembali menuju pos kedua. Medan yang kami lalui sekarang sangat berbeda dengan medan sebelumnya. Medan sekarang sulit untuk dilalui. Banyak pohon tumbang melintang di jalur perjalanan kami dan itu sangat menghambat laju perjalanan. Pos kedua ini juga memiliki jarak yang cukup jauh dari pos pertama. Sering rombongan berhenti sejenak untuk melepas lelah dan juga sembari menyantap kembali bekal makanan mereka. Akhirnya sampailah rombongan di Pondok Pakis, pos kedua di jalur pendakian tersebut. Tak tahu tepatnya pukul berapa kami sampai di sana.


Pondok pakis siang hari

Tak lama perjalanan dilanjutkan. Dingin sudah terasa sampai ke tulang. Pukul 11.52 malam kami berhasil sampai di pos ketiga Samyang Rangkam, 2665 mdpl. Setelah beristirahat dan melemaskan badan pendakian dilanjutkan kembali. Medan semakin kacau, banyak pohon tumbang bekas kebakaran hutan melintang pada rute yang kami lewati. Angin semakin kencang berhembus, kami pun juga sudah mulai kesulitan bernafas dengan kadar oksigen semakin menipis.


Pondok gua siang hari

Keesokan harinya, pukul 01.32 dini hari kami mencapai pos terakhir di Pondok Gua, tempat pemberhentian akhir untuk beristirahat sebelum mencapai puncak Slamet. Di pos itu kami mengistirahatkan mata yang belum sempat terpejam selama perjalanan. Pendakian menuju puncak dilanjutkan kembali pada pukul 04.31 pagi. Pendakian akhir melewati watu cadas, daerah penuh batu untuk mencapai puncak. Pukul 05.53 kami berhasil sampai di puncak tertinggi di Jawa Tengah, kami tidak mendapatkan sunrise, tapi terbayarkan dengan keindahan saat kami berada di puncak. Dan rasa lelah, letih, dan ngantuk selama perjalanan semua terbayarkan hanya dalam waktu yang singkat di sana. Paradiso, Indonesia itu memang indah.


Kawah Slamet


Segoro pasir

Oleh : Ario Dwi Prabowo
Referensi :
http://0ne-science.blogspot.com/2011/10/gunung-slamet.html
http://wikimapia.org/655748/Daerah-Puncak-Gunung-Slamet