Tampilkan postingan dengan label unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label unik. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Oktober 2014

Mengenal Pedalaman Suku Badui dan Keselarasannya dengan Alam

Sebagai negara yang kaya akan kekayaan alam dan keragaman budaya, Indonesia tidak hanya menawarkan aneka wisata alam dan sejarah saja, tetapi juga desa-desa unik yang masih menjaga kearifan lokalnya hingga saat ini. Sebut saja Suku Badui di Banten yang memiliki adat-istiadat yang unik. Suku Badui berada sekitar 120 km dari Kota Jakarta. Perjalanan yang tidak singkat ini akan menjadi momen yang menyegarkan kita dari penatnya ibu kota, karena di sepanjang jalan kita bisa melihat dan merasakan suasana alam yang begitu asri. Adapun Suku Badui membagi wilayahnya menjadi dua bagian yaitu Suku Badui Dalam dan Suku Badui Luar. Letak perbedaan kedua suku ini bisa dilihat dari adat-istiadat mereka, di mana Suku Badui Dalam masih menjaga ketat adat-istiadat. Suku Badui Luar juga tetap menjaga adat-istiadat namun sudah bisa berbaur dengan masyarakat di sekitar mereka. Meskipun Suku Badui Luar tidak terlalu menjaga ketat adat-istiadat, namun ciri kehidupan mereka tetap sama seperti Suku Badui Dalam yakni hidup sederhana, berdampingan, anti narkoba, dan berselaras dengan alam.

Menurut sejarah, kata Badui berasal dari Bedouin atau Badawi yang diberikan seorang peneliti berkebangsaan Belanda. Diakibatkan aksen penduduk setempat, kata Bedouin atau Badwi pun bergeser menjadi Badui. Perkampungan Suku Badui berjarak 40 kilometer dari Rangkasbitung dan untuk mencapainya, pengunjung disarankan untuk menaiki kereta api ataupun angkutan umum lainnya yang sampai ke Kabupaten Rangkasbitung. Setelah sampai di Rangkasbitung, pengunjung harus melanjutkan perjalanan hingga sampai di Ciboleger, pintu masuk menuju perkampungan Suku Badui. Sesampainya di Terminal Ciboleger, pengunjung akan disambut oleh anak-anak Suku Baduy. Kebanyakan mereka berdiri di emperan toko untuk berjualan souvenir. Anak-anak ini sudah bisa berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dan sedikit-sedikit sudah mulai memahami Bahasa Inggris. Oleh karena itu, anda tidak perlu ragu untuk bertanya ataupun meminta salah satu dari mereka untuk menjadi tour guide.

Memasuki perkampungan Badui, anda akan merasakan perbedaan yang begitu mencolok dengan suasana perkotaan. Di wilayah Badui Luar, anda bisa melihat orang-orang Suku Badui mengenakan pakaian khas mereka yang berwarna hitam, putih, mengenakan ikat kepala, dan tidak mengenakan alas kaki. Di wilayah ini, pengunjung masih diperbolehkan untuk mendokumentasikan hal-hal di sekitar, baik itu orang-orang Suku Badui maupun rumah-rumah jerami mereka. Sepanjang perjalanan, anda akan menyusuri sungai-sungai kecil dan lumbung padi yang biasanya diletakkan di halaman depan tiap-tiap rumah. Untuk bisa mencapai Suku Badui Dalam, anda harus melewati jembatan bambu yang merupakan pemisah sekaligus penghubung antara Suku Badui Luar dan Suku Badui Dalam. Bila dibandingkan dengan perkampungan Badui Luar, Suku Badui Dalam terasa lebih asri dengan bukit-bukit hijaunya. Suku Badui Dalam memang hidup selaras dengan alam. Suku Badui Dalam sangat percaya bahwa jika mereka bersikap baik pada alam, maka alam juga akan bersikap baik pada mereka. Oleh karena itulah, mereka tidak pernah menggunakan sabun, sampo, dan odol saat mandi. Mereka tidak ingin barang-barang seperti itu mencemari sungai dan lingkungan mereka. Selain itu, mereka juga juga tidak bersentuhan dengan tape-deck, radio, dan alat elektronik lainnya, juga tidak mengenakan alas kaki dan kendaraan saat bepergian. Suku Badui Dalam terbiasa berjalan kaki ke manapun mereka pergi.


1. Suku Badui Dalam


2. Perkampungan Badui


3. Lumbung Padi Suku Badui

Bagi anda yang ingin merasakan hidup berdampingan dengan Suku Badui Dalam, anda bisa menginap di sana. Selama menginap, anda akan merasakan hidup tanpa gadget, listrik, dan kamar mandi, dan anda harus menggantungkan diri pada alam, seperti mandi dan buang air di sungai. Semua peraturan itu harus ditaati karena jika dilanggar akan dikenakan sanksi adat. Jangan lupa untuk membawa senter, anti nyamuk, dan obat-obatan. Di dalam perkampungan Badui tidak ada puskesmas, mereka terbiasa menggunakan daun untuk mengobati penyakit yang mereka derita.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://erzariani.blogspot.com/2014/03/mengenal-kehidupan-suku-baduy.html
2. http://pesonaindahindonesia.blogspot.com/2013/03/wisata-alam-dan-budaya-suku-baduy-desa.html
3. http://www.indonesiahebat.org/uploads/default/files/lumbung-padi-suku-baduy.jpg

Rabu, 27 Agustus 2014

WISATA ISLAM DI MASJID SERIBU PINTU, TANGERANG


1. Masjid Pintu Seribu

Jika di Semarang ada Lawang Sewu sebagai wisata horornya, di Tangerang pun ada wisata religinya yakni di Masjid Pintu Seribu yang terkesan unik bagi siapapun saat berkunjung ke sana. Tentu saja tempat wisata ini dapat dikunjungi oleh berbagai kalangan usia. Masjid Seribu Pintu yang penuh dengan kenangan sejarah, jejak islam, serta menambah wawasan ini, dibangun di tanah seluas 1 hektar pada tahun 1978. Uniknya sebelum masjid ini dibangun, masjid ini tidak memakai rancangan gambar yang biasa dilakukan sebelum membangunnya. Sehingga masjid ini memiliki perpaduan arsitek yang bercampur-campur, yang dapat membuat pengunjung tertegun akannya.

Pendiri Masjid ini adalah warga keturunan Arab, di mana warga sekitar memanggilnya dengan sebutan Al-Faqir. Beliau merupakan santri dari Syekh Hami Abas Rawa Bokor, Ia juga membangun Masjid tersebut dengan biayanya sendiri. Masjid yang katanya memiliki seribu pintu ini, terletak di RT 01 RW 03, Kampung Bayur, Priuk Jaya, Jatiuwung, Kabupaten Tangerang, Banten. Untuk mencapai lokasi tak perlu sulit atau kerepotan, hanya dibutuhkan waktu yang tak lama dari pusat kota Tangerang. Ruangan dalam masjid ini nampak layaknya mushola dikarenakan ruangannya memiliki sekat-sekat. Adapun nama dari setiap mushola diantaranya mushola Fathulqorib, Tanbihul-Alqofilin, Durojatun Annasikin, Safinatu-Jannah, Fatimah hingga mushola Ratu Ayu, dengan masing-masing mushola memiliki luas area sekitar 4 meter.

Ada sebuah ruangan khusus yang digunakan untuk yang ingin beristiqomah sepanjang malam, yaitu ruang tasbih. Untuk menuju lorong tasbih sangat gelap juga lembab dan memiliki banyak sekali pintu yang berkelok-kelok. Namun, tak perlu khawatir, karena setiap ruangan ada penunjuk jalannya. Di dalam ruang tasbih terdapat tasbih berukuran besar yang terbuat dari kayu dan terpajang di salah satu sudut ruang berteralis besi, memiliki 99 butir, berdiameter 10 cm dan tertulis Asma’ul Husna. Konon, tasbih tersebut merupakan tasbih terbesar di Indonesia.


2. Ruang Tasbih

Terdapat ornamen angka 999 yang menghiasi beberapa pintu di masjid ini. Di mana, angka 999 tersebut merupakan penggabungan antara 99 Asma’ul Husna dan 9 Wali Songo. Di antara pintu-pintu masjid dapat kita temui banyak lorong yang sempit dan gelap layaknya labirin.


3. Ornamen 999


4. Lorong Masjid Pintu Seribu

Masjid Seribu Pintu merupakan salah satu aset berharga bagi warga Tangerang yang pantas menjadi tempat wisata yang layak dan berbobot. Namun karena ruang lahan di kota Tangerang yang tak begitu luas, membuat pemerintah kota mencoba untuk memfokuskan fasilitas-fasilitas yang hendak diusung serta diresmikan secepatnya. Bahkan ada usulan jika setiap hari sabtu dan minggu diadakan wisata rohani ke Masjid Al-Adzom juga Masjid Seribu Pintu. Hal ini ditujukan agar Kota Tangerang tiap minggunya dipadati oleh pengunjung. Serta mengenal tempat wisata lainnya di kota Tangerang. Dan semoga artikel ini, dapat menjadikan Masjid Seribu Pintu dikenal oleh masyarakat luas.

Oleh : Ardan Esand
Gambar:
1. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgR1TRRYkr-AC1TOwQVBI47BZ918449S9n3xKEqUhlqX8OPuQUqbg-tXIv0k1tTLZMS1G6oP2GkYShZvBErarLvxzUF88pKjppGmwFNRQyPkAkZMKQg69Z8sHK4tNYXab4Uxj6psFWeeTI/s1600/Masjid+Pintu+Seribu.jpg
2. http://store.tempo.co/cover/medium/foto/2012/03/16/s_11C29807.jpg
3. http://bantenculturetourism.com/wp-content/uploads/2011/05/12_1.jpg
4. http://neomisteri.com/wp-content/uploads/2012/10/Masjid-Pintu-Seribu-2.jpg

Senin, 21 Juli 2014

Menikmati Keindahan Perpaduan Warna Danau Linow


Sumber : http://cybersulutnews.co.id/wp-content/uploads/2014/02/Danau-Linow-183449858.jpg

Tidak perlu sampai jauh-jauh terbang ke luar negeri hanya untuk berwisata. Indonesia sendiri mempunyai tempat-tempat wisata yang unik dan patut untuk dikunjungi. Danau Linow yang terletak di provinsi Sulawesi Utara dan tepatnya di kota Tomohon pasti dapat menjawab kebutuhan setiap kita yang ingin memilih tempat wisata yang unik. Danau Linow juga merupakan salah satu tempat wisata favorit di kota Tomohon ini. Sebenarnya apakah yang membuat Danau Linow ini terkenal unik?

Air di danau Linow dapat berubah menjadi warna-warna yang berbeda yaitu tepatnya ada 3 warna. Ada warna hijau, cokelat muda sampai biru. Tetapi, apakah yang membuat danau Linow bisa berubah warna? Danau Linow sendiri berhubungan dengan gunung Lokon di Tomohon. Oleh sebab itu, air di danau Linow mengandung belerang dengan kandungan yang tidak terlalu tinggi. Selain itu tanaman-tanaman air di danau Linow juga ikut berperan dalam perubahan warna di danau tersebut. Serta di siang hari, cahaya matahari dapat membiaskan air di danau Linow. Sungguh indah bila dapat menikmati perpaduan dari 3 warna di danau Linow ini.

Danau Linow dapat dikunjungi dengan mudah karena akses jalannya yang berhubungan dengan jalan utama. Tips bagi yang ingin berwisata ke danau Linow, sebaiknya dikunjungi pada saat cuaca tidak terlalu panas seperti pada saat pagi hari atau menjelang sore. Menikmati udara yang sejuk dan tidak terlalu panas juga menjadi satu hal yang dapat menarik minat pengunjung untuk berwisata ke tempat ini. Terutama bagi yang seharian bekerja dan lelah dapat berkunjung sebentar ke danau Linow untuk menyegarkan pikiran dan tubuh.

Di danau Linow juga tersedia alat transportasi berupa perahu kayuh atau kano. Bagi pengunjung yang ingin menelusuri danau Linow ini dapat menyewa alat transportasi ini. Tetapi ada yang tidak diperbolehkan yaitu menelusuri danau hingga mencapai daerah air yang panas dari gunung. Selain itu, pada saat cuaca tidak bersahabat terutama musim penghujan, pengunjung sebaiknya tidak menelusuri danau karena perahu kayuh atau kano yang kita tumpangi bisa-bisa oleng akibat angin kencang. Setelah puas menelusuri danau Linow, pengunjung juga mendapatkan pelayanan lain yaitu kafe yang tersedia di dekat bukit di sekitar danau. Sambil memandangi keindahan pesona danau Linow dengan ditemani secangkir kopi, pengunjung pasti akan merasa fresh kembali.

Harga yang ditawarkan bagi para pengunjung juga sangat terjangkau yaitu Rp.5000 per orang. Harga tersebut tidaklah sebanding dengan apa yang akan kita dapat di danau Linow ini. Mulai dari keindahan warna-warna air danaunya, tempatnya yang sejuk dan asri, kafe-kafe di sekitar danau yang siap melayani pengunjung, dan lain-lain. Semua itu pastinya akan membuat para pengunjung tidak mau melupakan danau Linow yang indah ini.

Oleh : Stevanus
Sumber:http://travel.kompas.com/read/2014/01/22/1334466/Linow.Danau.Tiga.Warna.di.Tomohon

Jumat, 16 Mei 2014

Eksotisme Candi Ijo Tak Kalah dengan Candi Prambanan.







Masih ingatkah film-film kolosal di Indonesia seperti Angling Darmo, Saur Sepuh, diantaranya yang demikian itu. Hal itu tidak semata-mata tayangan pada film-film belaka, namun adakalanya kita bisa menyaksikan kehebatan yang ditularkan melalui film tersebut. Banyak di sana sini bangunan-bangunan yang megah terlihat dalam layar kaca menggambarkan betapa dahsyatnya pembuatan skenario film tersebut dengan menonjolkan bangunan-bangunan megah agar mendukung daya khayal penonton mengenai sejarah masa lampau begitu megah bangunannya walaupun mungkin dibuat dengan tiruan atau replika semisal istana-istana dan candi-candi.

Tidak sampai di situ saja, berbicara mengenai candi-candi di Negara Indonesia tersebar beribu candi di nusantara. Terlebih-lebih candi di pulau Jawa yang mana di bawah kekuasaan Mataram terutama Mataram kuno yang bercorak Hindu. Banyak sekali peninggalan-peninggalan masa kini yang masih tersisa seperti yang kita kenal dan masyarakat seantero negeri ini mengenal yaitu candi Prambanan yang tercatat UNESCO sebagai warisan budaya dunia di mana terletak di Sleman Yogyakarta. Banyak pengunjung baik turis domestik maupun manca negara. Begitu sangat terkenalnya candi Prambanan ini dikenal candi Hindu yang tertinggi di Indonesia. Namun jangan salah ada yang lebih menarik lagi ketika di Yogyakarta rasa-rasanya belum puas jika hanya berkunjung di candi Prambanan. Padahal di sekitar candi Prambanan sangat banyak candi-candi kecil yang eksotis, menarik, dan unik. Yaitu candi Ijo yang masih belum terkenal di kalangan umum memang letaknya agak tinggi dari candi Prambanan dan agak ke pelosok menyusuri jalan pedesaan. Candi Ijo adalah sebuah kompleks percandian bercorak Hindu, berada 4 kilometer arah tenggara dari Candi Ratu Boko atau kita-kira 18 kilometer di sebelah timur kota Yogyakarta.

Candi Ijo terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Candi ini berada lereng barat sebuah bukit yang masih merupakan bagian perbukitan Batur Agung, kira-kira sekitar 4 kilometer arah tenggara Candi Ratu Boko. Posisinya berada pada lereng bukit dengan ketinggian rata-rata 375 meter di atas permukaan laut Candi ini dinamakan ‘Ijo’ karena berada di atas bukit yang disebut Gumuk (Wikipedia).

Sayang pemerintah setempat belum mengelola candi Ijo ini secara maksimal terutama jalan transportasi menuju candi Ijo ini. Padahal sangat menarik yang memang turunan candi Hindu di Prambanan. Keindahannnya sungguh luar biasa berada pada ketinggian gunung dan sewaktu-waktu berkabut menambah aura yang eksotis dengan udara yang dingin. Jika musim panas tiba memang lokasi wisata ini cenderung panas dan tidak ada jajanan di sekitar candi. Maka jika akan berkunjung di lokasi candi ini harus mempersiapkan dari rumah.


Candi Ijo saat berkabut

Seiring berjalannya waktu, candi Ijo kini mulai dikenal oleh wisatawan, mereka tertarik melihat pesona alam di sekitar candi dan candi yang berderet rapi dengan dialasi rerumputan hijau yang alami. Bukan khayalan lagi seperti di film-film kolosal tetapi inilah bukti bahwa Indonesia masih menyimpan kekayaan yang luar biasa.

Menguliti sedikit agar perjalanan di candi Ijo ini tidak menjadi perjalanan angsia-sia, namun menjadikan perjalanan yang penuh pembelajaran. Candi Ijo ini dibangun antara kurun abad ke-10 sampai dengan ke-11 Masehi pada saat zaman Kerajaan Medang periode Mataram. Ijo berarti hijau yang pertama kalinya ada dalam prasasti Poh yang berasal dari tahun 906 Masehi dalam prasasti tersebut bahwa ada seseorang yang berasal dari desa ijo yang menghadiri upacara keagamaan. Bhunmyinya ahila sebagai berikut: “Anak wanua i Luang hijo i “. Di dalam candi-candi tersebut sering ditempatkan arca-arca dewa yang bernilai seni tinggi.  Kitab-kita India kuno menyebutkan pemilihan lokasi untuk mendirikan statu bangunan kuil/dewa dilihat Amat berharga, bahkan lebih utama dibandingkan  bangunan kuil/candi. Di dalam kitabb kuno menyebutkan bahwa lahan atau tanah merupakan Vastu atau atau tempat tinggal yang paling utama bagi dewa atau  manusia. Lahan seperti ini  biasanya lahan yang subur dan tidak jauh dari mata air. Lahan seperti ini  biasanya hádala lahan yang subur dan tidak jauh dari mata air.

Itulah mengapa candi Ijo ini menjadi referensi penting selain candi prambanan yang mempunyai daya pikat luar biasa, penuh eksotis dan menjadikan wisata sejarah yang menyenangkan.

Oleh:
Desi Ariani
Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Ijo
http://wisatasejarah.wordpress.com/2010/07/14/sejarah-candi-ijo/
Gambar : Dok.Pribadi

Rabu, 26 Februari 2014

Eksotika Alam Hutan Kina Bukit Unggul



Dulu, ada sebuah cerita di mana segerombolan orang terpaksa mengungsi ke hutan. Tetapi kehidupan di sana memang berat. Satu persatu mereka sakit dan meninggal dunia. Semua gejalanya sama. Badan terasa sakit, berkeringat disertai demam yang tinggi. Tetapi ada seorang yang mampu bertahan hidup. Dalam kesendirian dan rasa sakit, ia merayap mencari sumber air. Ketika sampai di kubangan, ia pun segera meminum air itu. Anehnya, semakin lama sakitnya malah semakin baik. Setelah diselidiki, ternyata ada khasiat obat di kubangan itu. Dan pohon tumbang yang terendam air itulah penyebabnya. Ternyata, itulah pohon kina yang sampai kini terkenal menjadi obat penyakit malaria.

Dan sensasi pohon kina itu bisa kita temukan pada sebuah agrowisata bernama Bukit Unggul. Ini merupakan kawasan hutan kina yang dikelola oleh PTPN VIII. Bahkan ada pabrik pengolahannya juga. Kawasan ini terletak di desa Cipanjalu kecamatan Cilengkrang kabupaten Bandung. Letaknya unik, karena ada di tengah, berbatasan dengan kabupaten Bandung Barat (kecamatan Lembang), kabupaten Subang, kabupaten Sumedang dan kota Bandung. Lokasinya sekitar 11 km dari arah alun-alun Ujungberung, Bandung. Tapi bisa juga dicapai dari arah Cibodas Lembang sejauh 17 km.

Jalan menuju arah sana memang tidak bagus. Apalagi sejak dari desa Ciporeat, keadaannya berlubang dan berbatu-batu. Tetapi apa yang akan didapatkan sungguh merupakan suatu kepuasan. Bagaimana bebauan pepohonan menusuk hidung. Angin hutan bertiup sepoi-sepoi menyegarkan badan. Suatu keadaan yang sangat kontras dengan kota yang penuh polusi dan kebisingan.

Sepanjang kanan kiri jalan diapit jurang dan bukit yang penuh pohon kina atau Eucalyptus. Bunga-bunga liar pun seolah tak mau kehilangan pesona, tumbuh dengan suburnya. Tak puas rasanya mata memandangi eksotika gunung dan bukit di sekitarnya. Bagi aku pribadi, inilah refreshing yang sebenarnya.

Jalanan memang cukup sepi. Tak banyak orang berlalu lalang. Juga tak banyak rumah di kiri kanan jalan. Tapi sering kita berpapasan dengan grup pecinta sepeda yang ingin menaklukkan medan yang cukup berat. Bagi mereka, wisata Bukit Unggul mempunyai tantangan tersendiri. Selain jalannya yang tidak bersahabat, arealnya menanjak terus. Pastinya dibutuhkan stamina yang prima untuk menggowes sepedanya.

Masuk kawasan hutan lebih dalam, jalannya juga cukup besar. Kami lalu berhenti di sebuah warung untuk minum dan beristirahat sejenak. Ada beberapa rumah penduduk sederhana. Sambil minum kami berbincang dengan seorang bapak yang sudah lama tinggal di sana. Ia menunjukkan bukit-bukit yang mengelilingi tempat kami berada. Jaraknya terlihat cukup dekat. Ada gunung Palasari, gunung Manglayang dan bukit Tunggul yang terlihat paling dekat.

Lalu dia menceritakan sesuatu yang unik. Katanya kalau pergi ke pasar, penduduk harus menempuh perjalanan sejauh 17 km ke Lembang. Dan bukan ke Ujungberung yang jaraknya lebih dekat. Hal itu dikarenakan akses ke Lembang lebih bagus dengan tersedianya sarana transportasi berupa ojek dan jalan yang lebih bagus.

Setelah istirahat sejenak, atas petunjuk bapak itu, kami melanjutkan perjalanan. Kawasan wisatalah tujuannya. Di sana kami disuguhi berbagai pemandangan yang lebih menakjubkan lagi. Selain penangkaran rusa, kami juga bisa melihat camping ground. Ada juga sebuah pemancingan yang dikelilingi taman dengan bunga-bunganya yang menawan. Airnya tercurah menjadi semacam air terjun buatan menuju sungai. Tempat itu dinamakan situ Sangkuriang.

Melewati sungai banyak batu-batu besar yang cocok untuk mereka yang suka bernarsis ria. Latar belakangnya benar-benar hutan alami yang gelap dan cukup menyeramkan. Ada alur sungai yang airnya jernih sekali. Tapi kita harus melewati jembatan dari kayu yang kalau diinjak akan sedikit bergoyang.

Oh ya, beberapa kali kami berpapasan dengan burung perkutut yang hinggap. Rasanya ingin sekali menangkapnya karena lucu. Tetapi , tentu saja tidak kami lakukan. Kami kan harus menjaga kelestarian alam. Semoga saja burung-burung itu tidak ada yang menangkap untuk dipelihara. Keberadaan mereka yang bebas biarlah tetap jadi penyeimbang alam.

Keluar dari kawasan itu, menuju arah lain kita bisa melihat pemandangan taman dengan air terjunnya yang eksotik. curug Batu Sangkur Dekat sana ada taman bertingkat yang dipenuhi bunga-bunga aneka rupa. Belum saung-saung yang disebarkan di beberapa lokasi memudahkan pengunjung untuk mengaso dan menikmati pemandangan dari atas.

Bagi mereka yang menyukai tantangan bisa mencoba flying fox. Wow, pasti tak akan terlupakan mencoba tantangan satu itu. Bayangkan saja, meluncur dari ketinggian dengan pemandangan warna-warni taman yang indah. Sayangnya, aku tidak punya keberanian melakukan itu.

Oh ya, kalau mau berekreasi ke Bukit Unggul, sebaiknya membawa persediaan makanan dan air dari rumah. Sebab, hanya ada sedikit warung yang berjualan. Kawasan ini belum ramai seperti kawasan wisata lainnya. Tetapi bagi aku, sekali lagi, inilah refreshing yang sebenarnya.

Oleh : Dewi Iriani

Uniknya Ayam Ketawa



Ayam ketawa? Apakah anda sudah pernah mendengar sebelumnya? Jika belum, rasa-rasanya akan timbul keingintahuan yang tinggi mengenai ayam ini. Sekilas jika kita melihatnya, sebenarnya ayam ketawa ini mirip dengan ayam-ayam lain pada umumnya. Perbedaan yang paling mencolok yaitu karakter suara berkokoknya yang menyerupai suara ketawa manusia. Karakter suara dan jumlah ayam ketawa sendiri yang masih terbatas membuat ayam ketawa menjadi satwa yang dilindungi. Nah, bagi anda yang belum mengetahui asal-usul dari ayam ketawa, ayam ini berasal dari daerah Sidrap, Sulawesi Selatan. Dahulu ayam ini hanya dipelihara oleh bangsawan-bangsawan kerajaan bugis sebagai simbol status sosial yang tinggi, hal itu menyebabkan jumlah ayam ketawa sangat terbatas. Keengganan masyarakat ketika itu untuk memeliharanya karena mereka merasa segan dan sebagai tanda penghormatan kepada para bangsawan-bangsawan tersebut. Namun, demi menjaga keselamatan ayam ketawa agar tidak punah, saat ini pemerintah sudah memperkenankan kepada masyarakat untuk memelihara dan membudidayakan ayam ketawa.

Ayam jenis ini merupakan ayam yang unik, kenapa? Selain suara berkokoknya yang menyerupai interval suara ketawa manusia, juga beberapa mempercayai bahwa ayam ketawa bisa mendatangkan hoki bagi kehidupan mereka. Jelas saja mereka mempercayai hal itu, sebab harga satu ekor ayam ketawa anakan berumur 10-15 hari berkisar antara 500 sampai 750 ribu, sedangkan untuk ayam ketawa dewasa yang sudah bisa berkokok ‘ketawa’ pasti bisa mencapai 5-10 juta rupiah, belum lagi ayam ketawa yang sering menjadi langganan juara dalam setiap lomba, hmm harganya bisa dipatok mencapai 50 juta rupiah. Wow, sangat menggiurkan bukan.

Kepercayaan-kepercayaan lain juga ditunjukkan sebagian tokoh masyarakat bugis terhadap ayam ketawa. Mereka mempercayai bahwa warna bulu dari ayam ketawa itu sendiri mengandung artian-artian khusus yang berpengaruh terhadap pemiliknya. Sehingga ada pengklasifikasian tertentu bagi ayam ketawa , seperti berikut :

  • Bakka : Ayam ketawa dengan warna dasar putih mengkilap, dengan variasi warna hitam, oranye, merah dan kaki berwarna hitam atau putih. Ayam ini dipercaya mampu mengembangkan/memperbanyak harta pemiliknya.
  • Ceppage : Ayam ketawa dengan warna dasar hitam, dengan variasi warna dasar hitam dan putih, bintik-bintik putih di bagian badan sampai pangkal leher dengan warna kaki hitam. Arti dari ayam ini adalah kebaikan rezeki kepada pemilik.
  • Lappung : Ayam ketawa dengan warna dasar hitam, ditambah variasi warna merah hati dan pada kakinya berwarna hitam. Ayam ketawa jenis ini membawa arti dapat menampung harta.
  • Koro : Memiliki warna dasar hitam dengan variasi bulu berwarna hijau, putih dan kuning mengkilap. Ayam ketawa jenis ini dipercaya mampu menunjukkan rezeki kepada pemiliknya.
  • Ijo Buota : Ayam ketawa dengan warna dasar hijau ditambah variasi merah, warna hitam pada sayap dan warna kuning pada kakinya. Arti dari ayam ketawa ini dipercaya membuat harta bertahan lama atau abadi.
  • Bori Tase’ : Mempunyai warna dasar Merah, dengan penambahan warna bintik-bintik kuning keemasan pada badannya. Ayam jenis ini juga dipercaya mendatangkan keberuntungan dan menambah rezeki.

Demikianlah ulasan singkat mengenai keunikan yang dimiliki ayam ketawa, ternyata dibalik karakternya yang unik, menyimpan banyak kepercayaan-kepercayaan masyarakat terhadapnya, ditambah lagi nilai ekonomisnya yang tinggi, lengkaplah sudah kelebihan-kelebihan dari ayam ketawa dibanding dengan ayam lainnya. Mudah-mudahan anda mulai tertarik untuk memilikinya, setidaknya menjaga satwa Indonesia agar tidak punah. Terima kasih

Oleh : Roma Doni
Referensi: http://ayam-gagak.blogspot.com
Sumber Photo : Google.com