Tampilkan postingan dengan label wisatawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisatawan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Juli 2014

Menikmati Hijau dan Sejuknya Situ Patenggang, Jawa Barat

Ciwidey memang memiliki nuansa alam yang elok. Selain Kawah Putih, masih ada Situ Patenggang yang tidak kalah cantik. Letaknya juga tidak jauh dari Kawah Putih. Situ Patenggang sendiri berasal dari bahasa Sunda, di mana Situ berarti danau sedangkan Patenggang berarti saling mencari. Konon katanya, asal muasal terciptanya Situ Patenggang erat kaitannya dengan kisah percintaan antara Ki Santang, seorang Putra Prabu dan Dewi Rengganis, Putri Titisan Dewi. Sekian lama mereka harus berpisah, namun karena besarnya cinta di antara keduanya, mereka pun berusaha saling mencari, hingga akhirnya kembali bertemu di tempat, yang saat ini disebut “Batu Cinta”. Setelah bertemu, Dewi Rengganis pun meminta Ki Santang untuk membuatkan danau berikut perahu yang akan digunakan untuk berlayar. Konon, perahu yang dibuat oleh Ki Santang kini telah menjadi pulau yang berbentuk hati, yang dinamakan Pulau Asmara. Masih menurut cerita, pasangan mana pun yang mengelilingi Pulau Asmara kelak kisah cintanya akan abadi seperti kisah cinta Ki Santang dan Dewi Rengganis.


(Sumber: http://promobdg.com/isi/uploads/2013/02/cerita-batu-cinta.jpg)

Letak Situ Patenggang yang tidak jauh dari Kawah Putih membuat kebanyakan wisatawan yang menggunakan jasa angkutan umum, mengambil double trip, yaitu Kawah Putih dan Situ Patenggang. Bagi anda yang menggunakan angkutan umum, anda bisa melakukannya dengan mengikuti rute Terminal Leuwi Panjang-Terminal Ciwidey-Kawah Putih-Situ Patenggang, dengan mengeluarkan kocek Rp 70.000 (sudah termasuk tiket Kawah Putih-Situ Patenggang). Jika anda tidak mengambil double trip, dari Kawah Putih, anda bisa menggunakan jasa ojek menuju Situ Patenggang. Untuk masuk ke dalam lokasi, setiap pengunjung dikenakan tarif sebesar Rp 15.000,-, tarif minibus Rp 11.000,-, dan tarif bus Rp 22.000,-.

Wisata alam Situ Patenggang memang nyaman sekali. Sejuknya udara bahkan di siang hari sekalipun membuat kita merasa damai. Sepanjang perjalanan, kita bisa melihat hamparan hijau perkebunan teh dan danau alam yang benar-benar indah. Suasana alami yang disuguhkan Situ Patenggang sungguh menyejukkan. Untuk menyusuri danau, anda bisa menggunakan jasa sewa perahu dengan kisaran harga Rp 150.000-Rp 250.000 per perahu atau bisa juga dengan menggunakan Angsa-Angsa yang berkisar Rp 25.000-Rp 50.000.


(Sumber: http://media.viva.co.id/thumbs2/2012/08/10/167144_situ-patengan_663_382.jpg)

Setelah puas berjalan-jalan di sekitaran danau, sempatkan diri anda untuk berwisata belanja ataupun kuliner. Ada banyak penjual makanan dan oleh-oleh. Sore itu, kami pun menyempatkan diri untuk melihat oleh-oleh yang kebanyakan dodol dan strawberry. Jangan kaget bila saat sore harga jual oleh-oleh yang dijajakan dengan berjalan bisa turun drastis dibanding pagi dan siang hari. Itu semua dilakukan agar dagangan mereka habis terjual. Selain makanan, ada banyak penjual T-shirt yang menyediakan aneka T-shirt dengan gambar yang menarik tentang Jawa Barat dengan kisaran harga Rp 15.000-Rp 50.000, tergantung dari kualitas dan ukuran T-shirt.

Bagi wisatawan yang lebih suka wisata murah, mungkin wisata Situ Patenggang terkesan mahal dengan tiket masuknya, namun bila dilihat kembali pemandangan indah dan kesejukan yang bisa didapatkan, tentunya anda akan berpikir ulang untuk mengurungkan niat mengunjungi Situ Patenggang. Terlepas dari benar atau tidaknya mitos cinta Situ Patenggang, objek wisata alam satu ini selalu ramai dikunjungi wisatawan.

Oleh : Rahel Simbolon

Kamis, 29 Mei 2014

Sisi Lain Kota Ramah

Indonesia, Negara dengan kekayaan melimpah ini membuat turis manca Negara terpana, sehingga banyak yang memutuskan untuk berlibur di Negara seribu pulau ini. Jika para turis telah terpana, maka bisa dipastikan penduduk dalam negeri juga akan suka dengan alam Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke akan terdapat lebih dari puluhan tempat yang bisa dikunjungi oleh wisatawan. Selain pemandangan yang indah, Indonesia juga terkenal dengan kekayaan budaya-nya. Budaya, inilah salah satu faktor negara Merah Putih menjadi Negara yang banyak dikunjungi oleh turis dari berbagai negeri.

Salah satu pulau yang terkenal dengan kunjungan manca Negara untuk berlibur adalah pulau Dewata. Selain itu, kota yang nmempunyai selogan “Ramah” juga memnpunyai tempat di hati wisatawan dalam maupun luar negeri. Kota yang berjulukan “ramah” ini adalah kota Ngawi. Kota Ngawi terletak di Jawa Timur. Jika kita datang di kota ini kita akann merasakan aura penduduknya yang ramah, jika kita tidak tahu arah atau ingin bertanya sesuatu, maka bertanyalah, karena penduduk di kota ini tidak akan berfikir untuk menyesatkan. Namun, di balik ramahnya kota Ngawi ada hal mistis yang menjadi sejarah dari kota ini.

Ditinjau dari sejarah namanya, Ngawi berasal dari kata “awi” yang berarti bambu. Ketika kita melewati kota ini atau berkeliling di kota Ramah, kita akan menjumpai banyak hutan. Ada dua tempat yang sering dikunjungi oleh wisatawan ketika di kota ini. Yang pertama adalah “Monumen Suryo”. Tempat ini merupakan tempat bersejarah. Di dalam monumen tersebut berdiri dengan gagah patung dari seorang pahlawan bernama “Suryo”. Konon pak Suryo meninggal di tempat ini dalam perjalananya ke Surabaya guna melawan penjajah. Oleh karenanya patung almarhum pak Suryo menunjukkan jari telunjuk beliau tanda di situlah beliau dimakamkan. Selain sebuah patung, di dalam monumen ini juga terdapat beberapa hewan yang dilestarikan. Selain itu, monumen ini juga sangat terkenal dengan ukiran kayunya, inilah yang paling diincar wisatawan ketika berkunjung di tempat ini.



Yang kedua adalah ”Alas Ketonggo” atau juga ada yang menyebut dengan “Alas Srigati”. Kata “alas” berarti “hutan”, hutan ini dinyakini oleh masyarakat sebagai hutan “Ghoib” atau hutan “lelembut”. dimana banyak mahluk halus yang bersemayam didalamnya. Meskipun begitu, kemistisan tempat ini justru menjadi daya tarik bagi pengunjung. Terbukti dengan banyaknya pengunjung dari dalam maupun luar negeri. Penngunjung biasanya tidak hanya ingin belajar sejarah namun ada juga yang ingin bertanpa, mencari ketenangan ataupun berdo’a atas hajatnya, walaupun mereka tidak tahu apakah akan terkanbul ataukah tidak.

Sekilas tentang sejarah Ketonggo, inilah tempat di mana Raden Brawijaya melepaskan petilasannya (Sorban, Jubah, pakaian kebesaran) ketika beliau hendak ke Gunung Lawu. Namun, petilasan tersebut raib dan berubah menjadi sebuah gundukan yang konon semakin hari gundukan tersebut tumbuh. Inilah yang yakini tanda bumi bagi juru kunci Alas tersebut. Konon, jika ada sesuatu hal yang buruk yang akan terjadi, gundukan tersebut berhenti tumbuh. Di sinilah para pengunjung biasanya bertapa dan berdoa. selain itu ada juga sebuah sungai yang merupakan temuan dua sungai. Sungai tersebut dinamakan Sungai Tempur Sedalem. Sungai ini diyakini oleh masyarakat sebagai sungai yang mustajab, karena tempat ini diyakini oleh masyarakat sebagai tempat yang bisa menunjukkan jalan sebuah cita-cita. Khususnya di bulan Muharam dan bulan Syura, tempat ini dibanjiri oleh pengunjung yang ingin berziarah. “Bahkan menjelang Pemilu 2014 banyak dari para Calon Legislatif bertapa di tempat ini, entah untuk mencari kemenangan, ketenangan. atau hajat pribadi” kata seorang informan dari daerah tersebut.

Inilah setitik kisah dari kota Ngawi kota yang mempunyai penduduk yang ramah namun juga menyimpan kemistisan yang bersejarah. Jika Anda pecinta sejarah dan bernyali dengan hal yang mistis, maka inilah tempat yang tepat untuk Anda. Selain itu, Sebagai manusia yang hidup diciptakan Tuhan, kita pantas yakin bahwa sejarah tercipta agar manusia berfikir. Dari masa lalu kita mengerti sebuah perjuangan, dan perjuangan para pendahulu pantas dilanjutkan generasi muda dengan hal yang positif, bukan hanya bertapa namun beraksi secara riil begitu Bung Karno mencontohkan. Bukan meminta pada orang mati ataupun lelembut namun meminta pada tuhan, karena kuasa Tuhanlah yang mematikan seseorang dan lelembut merupakan salah satu makhluk Tuhan yang tidak bisa dilihat oleh mata walaupun atas izin-Nya ia dapat berhubungan dengan manusia.

Oleh : Ezza Rafaz

Jumat, 16 Mei 2014

Eksotisme Candi Ijo Tak Kalah dengan Candi Prambanan.







Masih ingatkah film-film kolosal di Indonesia seperti Angling Darmo, Saur Sepuh, diantaranya yang demikian itu. Hal itu tidak semata-mata tayangan pada film-film belaka, namun adakalanya kita bisa menyaksikan kehebatan yang ditularkan melalui film tersebut. Banyak di sana sini bangunan-bangunan yang megah terlihat dalam layar kaca menggambarkan betapa dahsyatnya pembuatan skenario film tersebut dengan menonjolkan bangunan-bangunan megah agar mendukung daya khayal penonton mengenai sejarah masa lampau begitu megah bangunannya walaupun mungkin dibuat dengan tiruan atau replika semisal istana-istana dan candi-candi.

Tidak sampai di situ saja, berbicara mengenai candi-candi di Negara Indonesia tersebar beribu candi di nusantara. Terlebih-lebih candi di pulau Jawa yang mana di bawah kekuasaan Mataram terutama Mataram kuno yang bercorak Hindu. Banyak sekali peninggalan-peninggalan masa kini yang masih tersisa seperti yang kita kenal dan masyarakat seantero negeri ini mengenal yaitu candi Prambanan yang tercatat UNESCO sebagai warisan budaya dunia di mana terletak di Sleman Yogyakarta. Banyak pengunjung baik turis domestik maupun manca negara. Begitu sangat terkenalnya candi Prambanan ini dikenal candi Hindu yang tertinggi di Indonesia. Namun jangan salah ada yang lebih menarik lagi ketika di Yogyakarta rasa-rasanya belum puas jika hanya berkunjung di candi Prambanan. Padahal di sekitar candi Prambanan sangat banyak candi-candi kecil yang eksotis, menarik, dan unik. Yaitu candi Ijo yang masih belum terkenal di kalangan umum memang letaknya agak tinggi dari candi Prambanan dan agak ke pelosok menyusuri jalan pedesaan. Candi Ijo adalah sebuah kompleks percandian bercorak Hindu, berada 4 kilometer arah tenggara dari Candi Ratu Boko atau kita-kira 18 kilometer di sebelah timur kota Yogyakarta.

Candi Ijo terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Candi ini berada lereng barat sebuah bukit yang masih merupakan bagian perbukitan Batur Agung, kira-kira sekitar 4 kilometer arah tenggara Candi Ratu Boko. Posisinya berada pada lereng bukit dengan ketinggian rata-rata 375 meter di atas permukaan laut Candi ini dinamakan ‘Ijo’ karena berada di atas bukit yang disebut Gumuk (Wikipedia).

Sayang pemerintah setempat belum mengelola candi Ijo ini secara maksimal terutama jalan transportasi menuju candi Ijo ini. Padahal sangat menarik yang memang turunan candi Hindu di Prambanan. Keindahannnya sungguh luar biasa berada pada ketinggian gunung dan sewaktu-waktu berkabut menambah aura yang eksotis dengan udara yang dingin. Jika musim panas tiba memang lokasi wisata ini cenderung panas dan tidak ada jajanan di sekitar candi. Maka jika akan berkunjung di lokasi candi ini harus mempersiapkan dari rumah.


Candi Ijo saat berkabut

Seiring berjalannya waktu, candi Ijo kini mulai dikenal oleh wisatawan, mereka tertarik melihat pesona alam di sekitar candi dan candi yang berderet rapi dengan dialasi rerumputan hijau yang alami. Bukan khayalan lagi seperti di film-film kolosal tetapi inilah bukti bahwa Indonesia masih menyimpan kekayaan yang luar biasa.

Menguliti sedikit agar perjalanan di candi Ijo ini tidak menjadi perjalanan angsia-sia, namun menjadikan perjalanan yang penuh pembelajaran. Candi Ijo ini dibangun antara kurun abad ke-10 sampai dengan ke-11 Masehi pada saat zaman Kerajaan Medang periode Mataram. Ijo berarti hijau yang pertama kalinya ada dalam prasasti Poh yang berasal dari tahun 906 Masehi dalam prasasti tersebut bahwa ada seseorang yang berasal dari desa ijo yang menghadiri upacara keagamaan. Bhunmyinya ahila sebagai berikut: “Anak wanua i Luang hijo i “. Di dalam candi-candi tersebut sering ditempatkan arca-arca dewa yang bernilai seni tinggi.  Kitab-kita India kuno menyebutkan pemilihan lokasi untuk mendirikan statu bangunan kuil/dewa dilihat Amat berharga, bahkan lebih utama dibandingkan  bangunan kuil/candi. Di dalam kitabb kuno menyebutkan bahwa lahan atau tanah merupakan Vastu atau atau tempat tinggal yang paling utama bagi dewa atau  manusia. Lahan seperti ini  biasanya lahan yang subur dan tidak jauh dari mata air. Lahan seperti ini  biasanya hádala lahan yang subur dan tidak jauh dari mata air.

Itulah mengapa candi Ijo ini menjadi referensi penting selain candi prambanan yang mempunyai daya pikat luar biasa, penuh eksotis dan menjadikan wisata sejarah yang menyenangkan.

Oleh:
Desi Ariani
Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Ijo
http://wisatasejarah.wordpress.com/2010/07/14/sejarah-candi-ijo/
Gambar : Dok.Pribadi

Rabu, 26 Februari 2014

Pulau Dewata Ikon Bisnis Travelling Indonesian - 1

Indonesia memiliki kekayaan dan keanekaragaman wisata yang indah nan elok bagai untaian zamrud khatulistiwa. Dari Sabang sampai Merauke menyajikan beribu-ribu pemandangan alam yang elok dan rupawan. Sejauh mata memandang kita akan dimanjakan oleh pemandangan yang indah. Bagaimana tidak, Indonesia yang terdiri atas berderetan pulau-pulau terkenal dengan objek-objek wisata yang unik dan khas sesuai daerah masing-masing yang layak dan patut untuk kita kunjungi. Bagi kita yang suka atau hobi travelling maka pilihan objek wisata di berbagai daerah dapat diakses dengan mudah.

Banyak pilihan objek wisata yang bisa dikunjungi salah satunya di provinsi Bali yang terkenal sebagai Pulau Dewata menyajikan berbagai objek yang menarik dan mempunyai ciri khas tersendiri. Objek wisata di Bali sebagai salah satu ikon wisata di Indonesia selalu ramai dikunjungi wisatawan domestik bahkan gaungnya hingga menembus wisatawan asing. Bagaimana tidak, Bali kaya akan objek wisata yang populer dan tidak asing di telinga kita seperti Tanah Lot, Pantai Sanur, Pantai Kuta dan sebagainya.

Wisata Tanah Lot menjadi salah satu tujuan wisata yang favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Di sekitar Tanah Lot ini terdapat dua pura yang letaknya di atas sebuah batu besar yang menyerupai batu karang besar. Satu diantaranya berada di atas bongkahan batu, sedangkan satunya lagi terdapat di atas tebing. Tanah Lot ini dijadikan sebagai pura tempat peribadatan untuk memuja para dewa-dewa penjaga laut.


Gambar 1. Tanah Lot Bali

Adapun pantai Sanur merupakan salah satu tujuan pantai favorit yang sangat populer dan paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan. Pantai Sanur berjarak 6 km dari pusat kota Denpasar dan dapat dicapai dengan kendaraan pribadi. Pantai ini menjadi sederetan tempat wisata yang paling banyak diminati karena keelokan panorama terbitnya mentari pagi (sunrise). Keunikan yang lain adalah topografi yang melengkung dengan hamparan pasir putih yang membentang luas membentuk gugusan pantai yang elok nan rupawan.


Gambar 2. Pantai Sanur

Wisata pantai yang tak kalah menarik dari pantai Sanur dan menjadi salah satu ikon wisata Pulau Dewata adalah Pantai Kuta. Pantai Kuta ini terletak di Kabupaten Badung, tepatnya selatan Denpasar. Pantai ini sebagai objek wisata pantai yang wajib dikunjungi oleh para wisatawan dan menjadi pilihan favorit dan tujuan utama karena menyuguhkan pesona panorama khas dan tak terlupakan yang dijuluki “Pantai matahari terbenam (sunset) ” karena akan menyajikan pesona luar biasa ketika sore dan malam hari.


Gambar 3 Pantai Kuta

Di samping, wisata pantai yang sudah populer dan menjadi objek favorit. Ternyata, Pulau Dewata juga memiliki wisata pantai yang tersembunyi dan masih terasa asing bagi sebagian besar wisatawan. Meskipun demikian, wisata pantai tetap menawarkan dan menyuguhkan berbagai panorama alam yang tak kalah menarik, yakni pantai Bingin dan Pantai Teluk Jimbaran.

Bersambung ke Bagian 2.

Oleh : Wantie Espe

Ragam Pariwisata Ragam Budaya Indonesia

Menilai kehidupan tak ubahnya seperti menilai buah-buahan yang berjejer di kios buah. Beberapa di antaranya menimbulkan hasrat jijik jika dilihat dari luar, namun setelah dicoba menimbulkan keinginan untuk terus mencoba lagi dan lagi. Lihat saja buah durian dan buah kiwi yang kulitnya tak enak untuk dilihat. Durian yang kulitnya memiliki duri-duri yang tajam rupanya memiliki daging yang begitu enak. Kiwi yang kulitnya bersisik rupanya setelah dicoba memiliki rasa yang manis. Sama halnya saat seseorang menilai kehidupan orang lain. Saat ia hanya melihat sisi luar orang tersebut tanpa masuk ke dalamnya, ia akan menilai seseorang tersebut dengan hal-hal yang negatif yang sebenarnya tak ada dalam diri orang tersebut.

Sebutlah Indonesia. Negeri yang indah, kaya akan keindahan alam, kaya akan budaya dan keragaman yang begitu membanggakan. Selama ini Indonesia hanya dikenal sebagai negara yang isinya hanyalah orang-orang miskin, orang-orang tak berpengetahuan, orang-orang yang tak peduli dengan alam dan sekitar, dan orang-orang yang kerjanya hanya mengambil hak orang lain, kriminal, korupsi, dan lain sebagainya. Mereka yang menilai Indonesia seperti ini adalah mereka yang tak pernah berusaha untuk masuk bahkan mengenal Indonesia secara dalam. Rasanya miris sekali saat mendengar ada begitu banyak hardikan dan caci maki yang ditujukan kepada negeri ini. Terkadang kita yang mendengar mungkin bisa sedikit memakluminya jika yang mencaci maki adalah mereka yang tidak berasal dari Indonesia, dalam artian mereka benar-benar tidak mengenal Indonesia. Tapi alangkah mirisnya jika mendengar cacian itu berasal dari mulut orang-orang Indonesia asli. Bagaimana mungkin umpatan dan caci maki itu ditujukan kepada tanah air yang melahirkannya. Memang selama ini Indonesia dikenal dengan nilai yang buruk, tapi apa salahnya mencoba untuk menyelami Indonesia. Mencari nilai-nilai positif dan berusaha untuk bersyukur dengan apa adanya Indonesia.

Coba lihat pariwisata dan kebudayaan yang terbentang dari kota Sabang hingga Merauke. Di tahun 2009 yang lalu pariwisata menempati urutan ketiga dalam hal penerimaan devisa setelah komoditi minyak dan gas bumi serta minyak kelapa sawit. Ada begitu banyak wisatawan mancanegera yang datang berkunjung untuk menikmati pariwisata dan kebudayaan negeri ini. Di sisi lain, kedatangan para wisatawan mendatangkan keuntungan bagi Indonesia karena dapat meningkatkan devisa. Memang kepercayaan dunia internasional terhadap pariwisata Indonesia sempat menurun akibat berbagai insiden pengeboman yang terjadi di Bali pada tahun 2002, bom JW Marriott pada tahun 2003, bom Kedutaan Besar Australia pada tahun 2005, dan Bom Jakarta pada tahun 2009. Untuk itu, sebagai upaya dalam mengembalikan kepercayaan dan meningkatkan jumlah wisatawan ke Indonesia, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia melanjutkan program “Tahun Kunjungan Indonesia” pada tahun 2009 dengan target 6,4 juta wisatawan dan perolehan devisa sebesar 6,4 miliar dolar AS. Program ini difokuskan pada pertemuan, insentif, konvensi, serta pertunjukan wisata laut dan terus dijalankan hingga tahun 2011 pemerintah Indonesia menetapkan Wonderful Indonesia sebagai manajemen merek baru pariwisata Indonesia.

Indonesia sendiri memiliki kawasan terumbu karang terkaya di dunia dengan lebih dari 18% terumbu karang dunia, serta lebih dari 3000 spesies ikan, 590 jenis karang batu, 2500 jenis moluska dan 1500 jenis udang-udangan. Raja Ampat di Provinsi Papua Barat adalah taman laut terbesar di Indonesia yang memiliki beraneka ragam biota laut. Taman laut Bunaken yang terletak di Sulawesi Utara memiliki hampir 70% spesies ikan di Pasifik Barat. Terumbu karang yang tersebar di taman nasional ini disebut tujuh kali lebih bervariasi dibandingkan dengan Hawaii. Enam di antara lima puluh taman nasional di Indonesia termasuk dalam Situs Warisan Dunia. Taman Nasional Lorentz Papua yang memiliki sekitar 42 spesies mamalia yang sebagian besarnya adalah hewan langka, memiliki lebih dari 1000 spesies ikan, diantaranya adalah ikan koloso. Taman Nasional Ujung Kulon yang dikenal karena hewan Badak Jawa Bercula Satu. Taman Nasional Komodo yang dikenal dengan satwa endemiknya, komodo, rusa, babi, dan burung serta Taman Nasional Kelimutu yang berada di Flores yang memiliki danau kawah dengan tiga warna yang berbeda.

Tidak hanya itu. Indonesia juga memiliki lebih dari 400 gunung berapi dan 130 di antaranya termasuk gunung berapi aktif. Gunung Bromo di Provinsi Jawa Timur yang dikenal sebagai lokasi wisata pegunungan untuk melihat matahari terbit maupun penunggangan kuda. Gunung Tangkuban Perahu yang terletak di Subang yang dapat menghasilkan mata air panas, yang mana sering dimanfaatkan untuk spa serta terapi pengobatan.

Bagaimana menurut sahabat? Indonesia begitu membanggakan bukan? Terlepas dari setiap sisi negatifnya, Indonesia terlihat begitu indah dengan pariwisatanya. Tidak hanya pariwisata. Kebudayaan Indonesia yang beragam juga menjadi salah satu nilai positif yang dapat diacungkan jempol. Berdasarkan data sensus 2010, Indonesia terdiri dari 1128 suku bangsa. Keberagaman suku bangsa tersebut mengakibatkan keberagaman hasil budaya seperti jenis tarian, alat musik, dan adat-istiadat di Indonesia. Beberapa pagelaran tari yang terkenal di dunia Internasional misalnya Sendratari Ramayana yang dipentaskan di kompleks Candi Prambanan, Tari Barongan, Tari Kecak, dan Tari Legong yang dipentaskan di Desa Wisata Batubulan Sukawati, Gianyar.

Beberapa tahun belakangan ini juga beberapa kota di Pulau Jawa mulai mengembangkan konsep Karnaval Fashion. Jember Fashion Carnaval di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Jogja Java Carnaval di kota Yogyakarta dan Jak Karnaval di Kota Jakarta.

Bagaimana sahabat? Terbukti bukan, Indonesia adalah negeri yang indah? Jadi, kenapa harus malu dengan negeri sendiri? Beragam pariwisata dan budaya yang tersebar mulai dari Sabang hingga Merauke adalah bukti nyata keindahan Indonesia. Mari kita coba untuk mencintai Indonesia. Lihat apa yang ada di dalamnya, bukan apa yang ada di luarnya. Syukurilah apa yang ada di dalamnya. Karena dengan cara ini, niscaya Indonesia akan semakin diperlengkapi dengan keindahan yang lebih menakjubkan.

Oleh : Rahel Simbolon
Referensi : Pariwisata di Indonesia.Wikipedia Indonesia. Diakses pada 2 Juli 2012.