Tampilkan postingan dengan label rahel simbolon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rahel simbolon. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Oktober 2014

Makan Hemat di Angkringan Jogja Istimewa

Siapa yang tidak suka makanan murah nan lezat. Semua orang pasti suka. Sayangnya, di era seperti sekarang ini, makanan murah nan lezat itu sulit ditemukan. Sekalipun ada makanan murah, sering rasanya tidak sesuai keinginan kita. Namun jika anda ke Jogja, anda akan menemukan makanan-makanan murah nan lezat itu. Di mana? Tentu saja di angkringan. Jogja sangat terkenal dengan angkringannya, bukan hanya harga murah yang ditawarkan dari tiap makanannya, tapi juga kelezatan makanan dan suasana hangat yang terasa. Di angkringan-lah,perbedaan kasta tidak akan terlihat. Di sana semua orang sama, makan dengan menggunakan tangan ataupun duduk lesehan, yang penting makan kenyang, hati senang. Berikut 5 angkringan yang bisa anda temukan di Jogja:

  1. Angkringan Lek Man

    Nama angkringan satu ini sudah sangat terkenal seantero Jogja. Kopi Jos, itulah minuman unggulannya. Kopi Jos disajikan dalam keadaan panas dengan arang yang merah menyala. Arang pada kopi ini dipercaya mampu menetralisir kafein sehingga kafein pada Kopi Jos lebih rendah dibanding kopi-kopi umumnya. Satu gelas Kopi Jos dihargai Rp 3000. Sementara menu makanan pada angkringan ini tidak jauh beda dari angkringan lainnya, yaitu nasi kucing, sate telur puyuh, aneka gorengan, sate usus, dan sebagainya. Letak Angkringan Lek Man yang berdekatan dengan Stasiun Tugu membuat angkringan ini banyak dikunjungi wisatawan dari luar Jogja.


    1. Kopi Jos Disajikan dengan Arang

  2. Angkringan KR

    Angkringan ini merupakan salah satu yang teramai di Kota Jogja, terlebih bila weekend tiba. Dibanding angkringan lainnya, menu makanan angkringan ini jauh lebih banyak. Nasi kucingnya memiliki beberapa macam, ada nasi sambal teri, nasi rica ayam, nasi oseng tempe, nasi uduk spesial, nasi telor, nasi bebek, nasi goreng lombok ijo, nasi bumbu bali, dan nasi kornet ayam. Masing-masing harga makanan ini berkisar Rp 3000-Rp 3500 saja. Selain gorengan, ada juga sate keong, sate usus, dan sate telur puyuh. Sebagai makanan penutup, bisa juga mencicipi es susu tape ijo. Dengan menempati teras sebuah kantor , angkringan ini memiliki areal yang luas, pengunjung pun bisa memilih untuk makan di kursi gerobak, kursi taman, ataupun lesehan di teras.


    2. Angkringan KR

  3. Angkringan Lek Adi

    Dari segi tempat, angkringan ini tidak seperti angkringan lainnya yang menggunakan gerobak. Angkringan ini lebih menyerupai warung makan. Hanya saja, menu makanannya memang khas angkringan. Di sini pengunjung bisa menemukan nasi kucing, nasi bakar, gorengan, aneka sate, tongseng keong dan wedang. Angkringan yang berlokasi di Kotagede ini sering dijadikan tempat berburu lauk saat malam hari. Bagi beberapa pengunjung, menu spesial dari angkringan ini adalah nasi bakar dan wedang asemnya yang terasa kecut namun segar.


    3. Angkringan Lek Adi

  4. Angkringan Wilijan

    Angkringan yang berlokasi di Jalan Wilijan ini menyediakan menu makanan yang beragam. Selain menu khas angkringan seperti nasi kucing, aneka gorengan dan sate, angkringan Wilijan juga menyediakan tempura, nugget, telur dadar dan ceplok, ayam goreng, pecel, oseng usus, dan terong balado. Rasa sate usus angkringan ini berbeda dari sate usus angkringan lainnya yang manis. Sate usus angkringan Wilijan terasa gurih dan cenderung pedas. Keunikan lain dari angkringan ini ialah penyajian teh gula batu. Pengunjung akan mendapatkan satu penyaring teh, satu gelas berisikan gula batu, dan satu gelas berisikan rendaman daun teh dalam air panas.


    4. Teh Gula Batu


Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://www.yukpegi.com/indonesia/jawa-tengah/yogyakarta/menikmati-malam-di-angkringan-lik-man-yogyakarta/
2. http://www.satyawinnie.com/2014/07/nangkring-di-angkringan-kr-yogyakarta.html
3. http://perjalanangibraltar.blogspot.com/2013/04/angkringan-nganggo-suwe.html
4. http://heiupit.wordpress.com/2014/09/22/jalan-jajan-di-jogja/

Selasa, 14 Oktober 2014

Merasakan Suasana Kelam di Pulau-pulau Kepulauan Seribu

Tempat wisata yang seram hampir selalu menarik minat mereka yang punya jiwa pemberani dan selalu tertantang, tanpa terkecuali orang-orang Indonesia. Di Indonesia sendiri, ada banyak tempat yang dianggap angker dan selalu dijadikan tempat uji nyali. Jika selama ini, kita hanya mengenal keangkeran pada rumah dan kuburan, cobalah untuk merasakan keangkeran sebuah pulau. Rasakanlah bagaimana atmosfer sebuah pulau yang tak berpenghuni. Jangan kira pulau-pulau seperti itu hanya ada di luar negeri saja. Tidak! Indonesia juga memiliki pulau-pulau tak berpenghuni dan dianggap angker. Di manakah itu? Cobalah langkahkan kaki anda menuju satu kepulauan di sekitar Jakarta, yakni Kepulauan Seribu. Selama ini Kepulauan Seribu dikenal sebagai kepulauan yang dihuni oleh pulau-pulau cantik seperti Pulau Pramuka, Pulau Tidung, dan Pulau Pari. Namun siapa sangka, beberapa pulau di kepulauan tersebut sangat sunyi dan diisi dengan bangunan-bangunan kuno bekas zaman kolonial. Di satu sisi, pulau-pulau ini memang bisa dijadikan sebagai tujuan wisata sejarah. Namun bila malam tiba, pulau-pulau ini menjadi seram. Banyak juga pengunjung yang merasa takut dengan kesunyian pulau-pulau tersebut. Jika anda merasa tertantang, cobalah untuk datang ke pulau ini :

  • Pulau Onrust

    Pulau ini merupakan salah satu yang terdekat dari Pelabuhan Muara Angke. Di sini terdapat pusat Taman Arkeologi Onrust, reruntuhan bangunan Belanda, makam Kartosoewirjo (tokoh DI/TII pada masa pemerintahan Soekarno), kuburan Belanda, museum, sumur, penjara, dan benteng. Salah satu pengunjung yang pernah bermalam di Pulau Onrust berujar bahwa di Onrust tidak ada listrik bila malam tiba. Dan yang lebih seramnya lagi, beberapa pengunjung pernah mengaku melihat penampakan seorang noni Belanda yang membawa lentera putih. Memang Onrust memiliki panorama sunset yang begitu menawan, namun ketika hari semakin gelap, bangunan-bangunan tua Onrust terlihat seram, suasana pun menjadi semakin horor. Meskipun begitu Pulau Onrust cukup sering didatangi oleh pengunjung yang ingin berkemah. Di sana juga terdapat penjaga yang menjual makanan dan minuman.


    1. Makam Keramat

  • Pulau Karya

    Pulau ini berada di tengah di antara pulau-pulau lainnya di Kepulauan Seribu dan bertetangga dengan Pulau Panggang. Saat ini Pulau Karya dijadikan sebagai kantor pemerintahan Kepulauan Seribu dan Tempat Pemakaman Umum. Meskipun begitu Pulau Karya memiliki sejarah kelam. Sebelumnya pulau ini diberi nama Pulau Kuburan Cina. Fakta sejarah menyebutkan bahwa dulunya Pulau Karya dijadikan sebagai tempat pelarian etnis Tionghoa dari kerja paksa Ratu Elizabeth. Oleh karena tidak memiliki obat, mereka pun meninggal satu per satu dan dikuburkan di Pulau Karya.

  • Pulau Kelor

    Pulau ini berukuran lebih kecil dan berhadapan dengan Pulau Onrust. Saking kecilnya, pengunjung bisa mengelilinginya hanya dengan berjalan kaki dengan waktu 10 menit. Tidak ada satu pun bangunan rumah, warung, apalagi penginapan di pulau ini. Hanya ada sebuah benteng berwarna merah bata bernama Benteng Martello. Benteng ini dibangun pada abad ke-17 oleh Belanda untuk dijadikan sebagai menara pengawas dan pertahanan dari Inggris. Suasana malam pulau ini sangatlah gelap, tanpa cahaya sedikit pun. Angin yang berembus pun kencang sekali. Pengunjung yang tengah kemping dan merasa kedinginan bisa berlindung di Benteng Martello.


    2. Benteng Martello

  • Pulau Cipir

    Pulau satu ini bertetangga dengan Pulau Onrust dan Pulau Kelor. Sama seperti Pulau Onrust, Pulau Cipir juga memiliki reruntuhan bangunan Belanda yakni reruntuhan rumah sakit yang langsung menghadap ke laut. Menurut sejarah, pada masa penjajahan Belanda dahulu, rumah sakit ini pernah menjadi rumah sakit karantina bagi mereka yang memiliki penyakit menular dan juga sebagai tempat karantina para jamaah haji. Pulau ini terlihat semakin angker manakala melihat tembok-tembok bangunan berwarna gelap itu. Ditambah lagi tanaman-tanaman liar yang tumbuh di beberapa sudut. Ada satu lagi rumah singgah di zaman Belanda yang masih berdiri kokoh hingga sekarang. Jika merasa punya nyali yang kuat, silakan masuk dan rasakan atmosfer di dalamnya.


    3. Reruntuhan Rumah Sakit

Bagaimana? Keempat pulau ini memiliki kisah kelam masing-masing dan yang pasti bisa menjadi tujuan wisata yang seru. Meskipun terkesan seram, bangunan-bangunan sejarah ini sudah menjadi cagar budaya dan sudah seharusnya kita sebagai warga yang baik harus melestarikan pulau-pulau ini dengan tidak mengotorinya. Ayo segera langkahkan kakimu menuju Kepulauan Seribu!

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://winnyradc.wordpress.com/2013/09/16/mengenal-wisata-jakarta-pulau-onrust-cipir-dan-kelor/
2. http://travel.detik.com/read/2013/05/16/192126/2248206/1383/onrust--3-pulau-horor-lain-di-kepulauan-seribu
3. http://mylittlejourney85.files.wordpress.com/2012/11/pulau-cipir.jpg

Jumat, 10 Oktober 2014

Merasakan Perdamaian di Bukit Kasih Manado

Indonesia adalah bangsa yang majemuk, di mana di dalamnya terdapat banyak keragaman, mulai dari agama, suku, adat-istiadat, bahkan bahasa yang berbeda di setiap daerahnya. Keragaman inilah yang pada akhirnya membuat para founding fathers kita menetapkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya “Berbeda-beda tetap satu jua”. Di beberapa tempat di Indonesia, keragaman itu bisa berjalan dengan harmonis. Masyarakat yang berbeda agama dan suku tetap bisa hidup berdampingan satu sama lain. Di Pulau Sulawesi, masyarakat Minahasa mempraktikkan semboyan “Torang Samua Ba’saudara” dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dalam Bahasa Indonesia, semboyan itu berarti “Kita semua bersaudara”. Tidak hanya bisa dilihat dan didengar dari keseharian masyarakat Minahasa saja, semboyan ini juga bisa kita lihat pada sebuah objek wisata bernama Bukit Kasih. Bukit ini merupakan tempat wisata yang letaknya di kaki Gunung Soputan. Penamaan Bukit Kasih diberikan karena melihat orang-orang dengan berbagai agama bisa dengan damainya berkumpul di bukit ini. Dengan semboyan “Torang Samua Ba’saudara”nya, rakyat Minahasa menjadikan bukit ini sebagai simbol perdamaian sekaligus media agar kita selalu kita ingat akan kerukunan yang harus kita jalin antar umat beragama.

Areal wisata ini berada di lokasi sumber belerang, maka ketika anda menyusuri areal ini, pengunjung akan menemukan beberapa kawah belerang di kanan dan kiri jalan. Selain kawah, pengunjung juga bisa melihat bukit-bukit hijau yang hijau. Suasana kompleks wisata ini sangat asri. Memasuki kompleks wisata, pengunjung akan menemukan tugu toleransi yang berdekatan dengan pintu masuk. Penamaan Tugu Toleransi diberikan karena di setiap sisi tugu yang berbentuk segi lima ini terdapat gambar, simbol, dan kutipan ayat dari Kitab Suci kelima agama tersebut. Beranjak dari Tugu Toleransi, pengunjung harus menjejakkan langkahnya menuju puncak Bukit Kasih. Untuk mencapainya, pengunjung harus menaiki anak-anak tangga yang panjang. Perjalanan ini cukup melelahkan. Oleh karena itu, pengunjung disarankan untuk mengenakan sepatu yang aman dan nyaman. Jangan lupa untuk menyiapkan stamina semaksimal mungkin, mengingat perjalanan cukup curam. Tetapi, perjuangan melelahkan tersebut akan terbayarkan saat anda melihat pemandangan yang indah.


1. Tugu Toleransi

Dari jarak pandang yang jauh, pengunjung bisa melihat perbukitan yang rimbun dan kelima tempat ibadah di atas puncak Bukit Kasih. Jangan takut bila anda menemukan wajah berbentuk besar di dinding tebing. Wajah besar itu merupakan pahatan wajah nenek moyang penduduk Minahasa, Lumimuut, dan Toar. Pembuatan pahatan wajah ini dimaksudkan agar masyarakat tidak melupakan nenek moyangnya.

Di atas puncak Bukit Kasih, kita bisa menemukan kelima tempat ibadah, yaitu Masjid, Gereja Katolik dan Protestan, Vihara, dan Pura. Kelima tempat ibadah ini dihubungkan oleh anak tangga. Kelima tempat ibadah yang terhubung dan Tugu Toleransi merupakan simbol perdamaian bahwa setiap penganut agama yang berbeda tetap bisa hidup secara berdampingan. Selain kelima tempat ibadah tersebut, terdapat juga beberapa kolam berukuran kecil berisikan air panas yang bisa digunakan pengunjung untuk merendam kaki setelah lelah berjalan jauh. Dari atas puncak ini juga pengunjung bisa melihat birunya Danau Tondano.


2. Kelima Tempat Ibadah

Objek wisata Bukit Kasih berada di Desa Kanonangan, Kabupaten Minahasa, sekitar 55 kilometer dari sisi selatan Manado. Dari pusat Kota Manado, pengunjung bisa mencapai Bukit Kasih dengan menggunakan kendaraan pribadi ataupun angkutan umum dengan jarak tempuh 1 jam. Objek wisata ini juga memiliki beberapa fasilitas, seperti warung yang menjual makanan ringan, kolam air panas alami, dan hotel yang berada tidak jauh dari lokasi Bukit Kasih.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://visitsindonesia.com/wp-content/uploads/2013/12/BKM.jpg
2. http://www.gocelebes.com/wp-content/uploads/2013/03/tempat-ibadah-bukit-kasih.jpg

Senin, 06 Oktober 2014

Indahnya Gua Putri Baturaja di Sumatera Selatan


1. Papan Sambutan Kepada Pengunjung

Jika anda tengah mengunjungi Sumatera Selatan, sempatkanlah diri anda untuk melangkahkan kaki ke salah satu kabupatennya yang bernama Ogan Komering Ulu. Di sana anda bisa menemukan sebuah gua yang dipenuhi stalaktit dan stalagmit. Menurut legenda masyarakat sekitar, keberadaan Gua Putri ini erat kaitannya dengan legenda Si Pahit Lidah. Dahulu kala, ada seorang putri cantik bernama Dayang Merindu yang merupakan selir Prabu Amir Rasyid. Pada suatu pagi, Dayang Merindu mandi di Sungai Semuhun. Saat ia mandi, seorang pengembara yang dikenal sebagai Si Pahit Lidah muncul dan lewat di hadapannya. Si Pahit Lidah ingin menyapa Dayang Merindu, namun kehadirannya tidak digubris sama sekali. Mendapat perlakuan seperti itu, Si Pahit Lidah pun berkata bahwa sikap diamnya Dayang Merindu seperti batu. Seketika, Dayang Merindu pun berubah menjadi batu. Si Pahit Lidah kemudian melanjutkan perjalanan menuju desa di mana Keluarga Dayang Merindu berdiam. Namun apa yang dilihatnya tidak seperti desa karena sepi sekali. Si Pahit Lidah pun berujar bahwa desa sepi itu seperti gua. Dalam sekejap, desa itu pun berubah menjadi gua.

Gua Putri merupakan salah satu objek wisata arkeologi yang patut dikunjungi. Aneka stalaktit yang menggantung di langit gua dan stalagmit yang melekat di lantai gua, serta cahaya redup yang muncul dari beberapa lampu di dalam gua membuat gua ini terlihat ajaib. Untuk dapat menyusuri gua, anda tidak perlu menunduk bahkan sampai merangkak karena Gua Putri memiliki lebar sekitar 20 m dan tinggi sekitar 20 m. Memasuki gua, anda akan menemukan kumpulan stalakmit yang menyerupai panggung kecil, sementara di sampingnya anda akan menemukan aliran air Sungai Semuhun yang menyerupai kolam. Tidak jauh dari kolam, anda akan menemukan stalakmit yang menyerupai tungku memasak. Selain itu, anda juga akan menemukan hamparan karst yang seperti panggung, di mana pada sisi belakang terdapat untaian stalaktit berukuran kecil dan besar. Di sisi hamparan karst tersebut, terdapat aliran Sungai Semuhun yang dulunya diyakini sebagai tempat permandian para putri. Konon, tempat mandi ini diyakini dapat mewujudkan keinginan siapa saja yang mandi di sana.


2. Gua Putri Baturaja

Melihat aneka stalaktit-stalakmit di dalam gua dapat menyegarkan mata, terutama bagi mereka yang sehari-harinya bergelut di keramaian kota. Ditambah suara gemercik air di dalam gua, dapat membuat pikiran kita lebih rileks. Selain menyuguhkan keindahan gua, pihak pengelola juga menyiapkan kedai makanan-suvenir, museum Si Pahit Lidah, dan juga ruang pertunjukan. Di dalam museum tersebut, tersimpan aneka kerangka manusia purba. Untuk mencapai Gua Putri, pengunjung bisa menggunakan moda transportasi apa saja yang sampai ke Desa Padang Bindu, Semidang Aji, OKU. Jika anda berangkat dari Kota Palembang, jarak yang ditempuh sekitar 230 km dengan waktu tempuh sekitar 7 jam. Bila tidak menggunakan kendaraan pribadi, anda bisa menggunakan jasa travel yang berangkat dari Palembang. Biasanya travel-travel ini mudah ditemukan di areal parkir Pasar 16 Ilir, Pangkal Jembatan Ampera, dan Pamor (Depan RM Pagi Sore Kertapati). Untuk dapat memasuki kawasan Gua Putri, setiap pengunjung dipungut retribusi sebesar Rp 5000,00 untuk pengunjung dewasa, Rp 3000,00 untuk pelajar, dan Rp 2500,00 untuk pengunjung anak-anak.

Gua Putri adalah salah satu tujuan wisata yang cukup populer di Sumatera Selatan. Di luar legendanya, Gua Putri adalah salah satu bukti keagungan Ilahi yang menciptakan sebuah gua besar dengan sedemikian indahnya. Tunggu apa lagi? Ayo menyusuri Gua Putri. Ayo ke Sumatera Selatan!

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://milanistibaturaja.files.wordpress.com/2013/04/images-1.jpg
2. http://news.liputan6.com/read/2078686/menikmati-stalaktit-dan-stalagmit-di-gua-putri-baturaja

Mengenal Pedalaman Suku Badui dan Keselarasannya dengan Alam

Sebagai negara yang kaya akan kekayaan alam dan keragaman budaya, Indonesia tidak hanya menawarkan aneka wisata alam dan sejarah saja, tetapi juga desa-desa unik yang masih menjaga kearifan lokalnya hingga saat ini. Sebut saja Suku Badui di Banten yang memiliki adat-istiadat yang unik. Suku Badui berada sekitar 120 km dari Kota Jakarta. Perjalanan yang tidak singkat ini akan menjadi momen yang menyegarkan kita dari penatnya ibu kota, karena di sepanjang jalan kita bisa melihat dan merasakan suasana alam yang begitu asri. Adapun Suku Badui membagi wilayahnya menjadi dua bagian yaitu Suku Badui Dalam dan Suku Badui Luar. Letak perbedaan kedua suku ini bisa dilihat dari adat-istiadat mereka, di mana Suku Badui Dalam masih menjaga ketat adat-istiadat. Suku Badui Luar juga tetap menjaga adat-istiadat namun sudah bisa berbaur dengan masyarakat di sekitar mereka. Meskipun Suku Badui Luar tidak terlalu menjaga ketat adat-istiadat, namun ciri kehidupan mereka tetap sama seperti Suku Badui Dalam yakni hidup sederhana, berdampingan, anti narkoba, dan berselaras dengan alam.

Menurut sejarah, kata Badui berasal dari Bedouin atau Badawi yang diberikan seorang peneliti berkebangsaan Belanda. Diakibatkan aksen penduduk setempat, kata Bedouin atau Badwi pun bergeser menjadi Badui. Perkampungan Suku Badui berjarak 40 kilometer dari Rangkasbitung dan untuk mencapainya, pengunjung disarankan untuk menaiki kereta api ataupun angkutan umum lainnya yang sampai ke Kabupaten Rangkasbitung. Setelah sampai di Rangkasbitung, pengunjung harus melanjutkan perjalanan hingga sampai di Ciboleger, pintu masuk menuju perkampungan Suku Badui. Sesampainya di Terminal Ciboleger, pengunjung akan disambut oleh anak-anak Suku Baduy. Kebanyakan mereka berdiri di emperan toko untuk berjualan souvenir. Anak-anak ini sudah bisa berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dan sedikit-sedikit sudah mulai memahami Bahasa Inggris. Oleh karena itu, anda tidak perlu ragu untuk bertanya ataupun meminta salah satu dari mereka untuk menjadi tour guide.

Memasuki perkampungan Badui, anda akan merasakan perbedaan yang begitu mencolok dengan suasana perkotaan. Di wilayah Badui Luar, anda bisa melihat orang-orang Suku Badui mengenakan pakaian khas mereka yang berwarna hitam, putih, mengenakan ikat kepala, dan tidak mengenakan alas kaki. Di wilayah ini, pengunjung masih diperbolehkan untuk mendokumentasikan hal-hal di sekitar, baik itu orang-orang Suku Badui maupun rumah-rumah jerami mereka. Sepanjang perjalanan, anda akan menyusuri sungai-sungai kecil dan lumbung padi yang biasanya diletakkan di halaman depan tiap-tiap rumah. Untuk bisa mencapai Suku Badui Dalam, anda harus melewati jembatan bambu yang merupakan pemisah sekaligus penghubung antara Suku Badui Luar dan Suku Badui Dalam. Bila dibandingkan dengan perkampungan Badui Luar, Suku Badui Dalam terasa lebih asri dengan bukit-bukit hijaunya. Suku Badui Dalam memang hidup selaras dengan alam. Suku Badui Dalam sangat percaya bahwa jika mereka bersikap baik pada alam, maka alam juga akan bersikap baik pada mereka. Oleh karena itulah, mereka tidak pernah menggunakan sabun, sampo, dan odol saat mandi. Mereka tidak ingin barang-barang seperti itu mencemari sungai dan lingkungan mereka. Selain itu, mereka juga juga tidak bersentuhan dengan tape-deck, radio, dan alat elektronik lainnya, juga tidak mengenakan alas kaki dan kendaraan saat bepergian. Suku Badui Dalam terbiasa berjalan kaki ke manapun mereka pergi.


1. Suku Badui Dalam


2. Perkampungan Badui


3. Lumbung Padi Suku Badui

Bagi anda yang ingin merasakan hidup berdampingan dengan Suku Badui Dalam, anda bisa menginap di sana. Selama menginap, anda akan merasakan hidup tanpa gadget, listrik, dan kamar mandi, dan anda harus menggantungkan diri pada alam, seperti mandi dan buang air di sungai. Semua peraturan itu harus ditaati karena jika dilanggar akan dikenakan sanksi adat. Jangan lupa untuk membawa senter, anti nyamuk, dan obat-obatan. Di dalam perkampungan Badui tidak ada puskesmas, mereka terbiasa menggunakan daun untuk mengobati penyakit yang mereka derita.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://erzariani.blogspot.com/2014/03/mengenal-kehidupan-suku-baduy.html
2. http://pesonaindahindonesia.blogspot.com/2013/03/wisata-alam-dan-budaya-suku-baduy-desa.html
3. http://www.indonesiahebat.org/uploads/default/files/lumbung-padi-suku-baduy.jpg

Selasa, 30 September 2014

Menyaksikan Pesona Keindahan Air Terjun Mursala di Pesisir Sibolga, Sumatera Utara


1. Film Mursala

Masih ingat Film Mursala? Film Indonesia produksi tahun 2013 yang mengangkat kearifan budaya Batak dan dibintangi oleh Rio Dewanto. Film Mursala ini mengangkat keindahan Pulau Mursala di Tapanuli Tengah. Pulau Mursala atau biasa juga disebut Mansalaar Island merupakan pulau berluaskan 8000 ha yang dihuni oleh berpuluh-puluh kepala keluarga. Di pulau ini kita bisa melihat keindahan air terjun ketinggian 35 m yang langsung jatuh ke permukaan laut. Mula-mula, air ini mengalir dari sebuah sungai pendek dengan panjang 700 m, kemudian sesampainya di tebing pulau, air ini mengalir di antara bebatuan granit berwarna merah. Setelah itu, air pun jatuh dari tebing pulau mengalir ke permukaan laut dengan jumlahnya yang banyak dan bunyi yang keras, terutama pada saat musim hujan. Jika keberadaannya ditelaah pada peta, pulau ini berada di antara Sibolga dan Nias.

Konon katanya, penamaan pulau ini dilakukan oleh nelayan setempat. Dahulu sekitar abad ke-7, bangsa Arab datang berbondong-bondong singgah ke Pantai Barus guna saling menukar komoditi. Sebelum sampai ke Barus, para pedagang Arab ini kerap beribadah di pulau besar. Hal ini pun berlangsung dalam waktu yang lama sehingga para nelayan pun menamakan pulau tersebut berdasarkan kebiasaan beribadah tersebut, yakni Mursala yang berasal dari kata “Mur” untuk sebutan Orang Arab dan Shalat.

Pulau Mursala dikelilingi oleh banyak pulau kecil yang umumnya tidak berpenduduk, seperti Pulau Silabu Na Godang, Pulau Silabu Na Menek, Pulau Puti, Pulau Kalimantung, dan Pulau Jambe. Kehadiran pulau-pulau kecil ini sangat mendukung keapikan Pulau Mursala sehingga sangat cocok dijadikan destinasi wisata. Selain itu, Pulau Mursala juga memiliki aneka ikan hias dan kekayaan bawah laut seperti terumbu karang. Oh ya, salah satu pulau kecil yang mengelilingi Pulau Mursala yakni Pulau Silabu Na Menek bisa menyita perhatian anda lewat keunikan tanaman bonsainya yang tumbuh subur di bebatuan curam.


2. Air Terjun Mursala

Bagi anda yang tertarik dengan aktivitas menyelam, anda bisa menemukan beberapa titik untuk melakukannya seperti di Teluk Labuah Hunik. Jika anda ingin berenang dan memancing, anda bisa beralih ke Pulau Jambe dan sekitarnya. Selain perairan yang dangkal, anda juga bisa menyaksikan keindahan bawah laut dan aneka ikan yang cantik. Bagi anda yang berjiwa petualang, anda bisa berkemah di pesisir pulau dan merasakan ketenangannya saat bermalam ditemani suara ombak. Pulau Mursala memiliki aneka tempat menarik yang patut dikunjungi, seperti Bonsai Pinang Merah yang tumbuh subur di bebatuan curam, Batu Garuda berbentuk burung yang menjorok di sebuah pantai curam di Pulau Silabu Na Menek, dan hamparan pantai berpasir putih Pulau Puti.

Pulau Mursala bisa dicapai jika telah sampai di Kota Sibolga. Jarak Kota Sibolga dan pusat Kota Medan sekitar 350 km dengan waktu tempuh 8 jam. Selain dengan kendaraan pribadi, anda juga bisa menggunakan angkutan umum jurusan Medan-Sibolga. Tarif yang dikenakan yakni Rp 100.000,00. Setelah sampai di Kota Sibolga, anda harus menyewa kapal cepat yang bisa ditemui di Pantai Bosur dan Pantai Pandan dengan waktu tempuh 2 jam. Tarif yang dikenakan sekitar 2 juta rupiah untuk perjalanan pulang pergi. Kapal cepat ini bisa mengangkut penumpang maksimal 20 orang awak kapal akan menunggu anda hingga puas menjelajahi pulau. Ada banyak pesona keindahan Pulau Mursala yang patut disaksikan, namun yang paling menarik untuk dilihat secara langsung tentu pemandangan air terjunnya yang langsung jatuh ke permukaan laut.

Oleh : Rahel Sombolon
Gambar:
1. http://www.indonesianfilmcenter.com/images/gallery/galIdFC_05042013_57157.jpg
2. http://www.yukpegi.com/wp-content/uploads/2014/03/1.Pulau-Mursala-Tempat-Syuting-Film-Holywood-di-Sumatera-Utara.2.jpg

Senin, 29 September 2014

Menikmati Keindahan Nisan Bergaya Kolonial di Museum Taman Prasasti


1. Museum Taman Prasasti

Jika selama ini anda mengunjungi museum untuk mengamati koleksi dan benda peninggalan yang terpajang, mungkin anda boleh mencoba penelusuran museum dengan pengalaman yang berbeda. Di mana itu? Tentu saja di Museum Taman Prasasti yang berada di Tanah Abang Jakarta. Mengapa museum ini bisa memberikan pengalaman yang berbeda? Karena di museum ini, anda tidak akan melihat koleksi yang terpajang di atas meja ataupun di dalam lemari kaca. Di dalam Museum Taman Prasasti, anda akan menemukan berbagai kuburan tua yang merupakan tempat peristirahatan terakhir para tokoh penting berkebangsaan Eropa pada masa kolonial. Museum Taman Prasasti berdiri di atas tanah dengan luas 1,2 Ha, di mana di dalamnya terdapat berbagai koleksi nisan, prasasti, dan patung yang memiliki nilai seni dan sejarah yang tinggi.

Dahulu TPU ini bernama Kerkhof Laan dan menjadi pemakaman Eropa paling besar di Asia. Ketika dibangun pada tahun 1795, TPU ini bertujuan untuk mengantisipasi lonjakan penduduk Batavia yang semakin meningkat pesat. Pada tahun 1808, TPU ini menerima banyak nisan yang dipindahkan dari kuburan lain, seperti dari Gereja Belanda yang ada di Kota, yang kini telah menjadi Museum Wayang dan dari Gereja Sion. Pemindahan nisan ini dilakukan atas perintah Daendels yang melakukan pelarangan terhadap tradisi menguburkan jenazah di gereja atau di tanah pribadi. Diperkirakan, batu nisan di Kerkhof Laan yang dulunya berjumlah 4600, kini hanya tersisa 1242 buah. Sebelumnya pemakaman ini juga dikenal sebagai pemakaman Kebon Jahe Kober dan dimanfaatkan sejak tahun 1795. Pada tahun 1795, tepatnya pada saat kepemimpinan Ali Sadikin, pemakaman ini ditutup. Sebagian kerangka dibawa pulang oleh kerabat ke Belanda, sementara sisanya masih dipertahankan, kemudian ditata ulang dan dijadikan Museum Taman Prasasti. Pada tahun 1977, pemakaman ini diresmikan sebagai Museum Taman Prasasti oleh Ali Sadikin selaku Gubernur DKI Jakarta.

Pada saat masuk ke kompleks pemakaman, pengunjung akan menemukan sebuah lonceng terbuat dari perunggu yang terdapat pada pintu gerbang. Dahulu lonceng digunakan untuk memberikan isyarat atau tanda bagi petugas pemakaman, dentang pertama menandakan berita kematian, sedangkan dentang yang terus-menerus menandakan kedatangan jenazah, lonceng akan berhenti berdentang apabila jenazah telah sampai di gerbang pemakaman. Di dalam sebuah ruangan terdapat satu peti jenazah berukir yang kabarnya dulu digunakan sebagai pembaringan jasad Presiden Soekarno dan satu peti jenazah polos yang disiapkan untuk Mohammad Hatta, namun tidak jadi digunakan.


2. Suasana Museum Taman Prasasti

Di dalam Museum Taman Prasasti ini pengunjung bisa mengamati berbagai nisan para tokoh yang berpengaruh di zaman Hindia Belanda dahulu. Tokoh-tokoh penting yang pernah dimakamkan di museum ini antara lain Dr. H. F. Roll selaku pendiri STOVIA, J.H.R. Kohler selaku tokoh militer di masa Perang Aceh, Miss Riboet selaku tokoh opera era 1930-an, Olivia Raffles yang merupakan istri dari Thomas Stamford Raffles, dan juga Soe Hok Gie aktivis mahasiswa di era 60-an yang wafat di Gunung Semeru sehari sebelum hari ulang tahunnya.


3. Nisan Soe Hok Gie

Museum Taman Prasasti kerap dijadikan sebagai latar fotografi, baik untuk koleksi pribadi, pre wedding, ataupun video klip. Bila anda pernah memperhatikan video klip Ungu-Demi Waktu, anda akan melihat Museum Taman Prasasti sebagai latarnya. Keindahan patung dan nisan bergaya kolonial serta nuansa duka yang tidak menyeramkan membuat tempat ini menjadi menarik untuk dikunjungi. Museum Taman Prasasti ini berada tepat di samping Kantor Walikota Jakarta Pusat. Untuk mencapainya, pengunjung yang menggunakan kendaraan umum bisa menaiki bus Transjakarta rute Blok M-Kota dan Mikrolet 08 rute Tanah Abang-Kota.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://travelmatekamu.com/wp-content/uploads/2014/04/kotawisataindonesia.jpg
2. http://nusapedia.com/uploads/timthumb.php?src=makam.jpg&h=292&w=658
3. http://assets.kompasiana.com/statics/files/2014/03/13952189971335921247.jpg

Kamis, 11 September 2014

Menikmati Pesona Indah Danau Toba dan Sekitarnya


1. Pemandangan Danau Toba

Danau Toba adalah salah satu keagungan Tuhan yang tercipta di nusantara kita. Airnya yang jernih, udara yang sejuk dan segar, dan pemandangan yang begitu mempesona dengan aneka pegunungan hijau menjadikan Danau Toba menjadi tujuan wisata yang begitu mengagumkan. Danau Toba merupakan hasil letusan gunung berapi sekitar 70 ribu tahun yang lalu. Menurut perkiraan, efek letusan tersebut, terjadi kepunahan dan kematian massal. Letusan ini sangat memengaruhi keadaan dunia karena mengakibatkan perubahan iklim. Danau Toba memiliki luas 1145 km2 sehingga lebih layak disebut lautan dibanding danau. Di kawasan Asia Tenggara, Danau Toba merupakan danau terluas.

Danau Toba juga memiliki sebuah pulau di bagian tengahnya bernama Samosir. Pulau Samosir berada pada ketinggian 1000 m dpl. Dan ternyata di dalam Danau Toba, masih ada dua danau kecil, yaitu Danau Aek Natonang dan Danau Sidihoni yang berada tepat di tengah Samosir. Bila kita mengarahkan pandangan ke pinggir Danau Toba, kita bisa melihat air terjun yang mempesona dan Tanjung Unta, sebuah tanjung yang hampir serupa punggung unta.

Danau Toba atau dalam bahasa Batak sering disebut Tao Toba merupakan tempat yang sangat cocok bagi siapapun yang ingin bersantai, menghilangkan penat, merasakan ketenangan, dan juga keindahan gunung yang berderet. Letak Danau Toba yang berada 900 m dpl membuat udara di sekelilingnya terasa sejuk, segar, dan jauh dari polusi. Selain menikmati kesejukan udaranya dan keindahan panoramanya, pengunjung juga bisa berperahu dan berenang untuk semakin melihat keindahan tersebut dalam jarak yang dekat.

Jika anda ingin mengenal bagaimana masyarakat Batak di sekitar Danau Toba, anda bisa tinggal di Pulau Samosir untuk beberapa lama. Di sekitar Danau Toba, ada banyak penginapan yang bisa anda tempati selama anda menjelajahi Danau Toba, Pulau Samosir, dan sekitarnya. Di Pulau Samosir, anda bisa melihat aneka kuburan batu yang masih tradisional, rumah adat Batak Toba yang disebut Rumah Bolon, Makam Raja Sidabutar yang berusia 500 tahun, dan juga Patung Sigale-Gale, sebuah patung yang bisa menari. Selain itu, anda juga bisa mengunjungi Desa Janggah, tempat penghasil ulos dan juga Rumah Pengasingan Presiden Pertama RI, Soekarno yang berada di tepi Danau Toba. Umumnya para wisatawan meramaikan Danau Toba saat sedang liburan sekolah dan saat sedang ada festival tahunan seperti Festival Danau Toba. Di saat-saat seperti itu,  pengunjung bisa melihat bagaimana cara masyarakat Batak menghormati arwah nenek moyang mereka, melihat tarian dan juga nyanyian Batak yang sangat khas dengan iringan serulingnya.


2. Patung Sigale-gale

Danau Toba terletak di Kota Parapat. Jarak antara Parapat dan Medan sekitar 176 km dan dapat ditempuh dalam waktu 6 jam dengan menggunakan bus. Tersedia rute Medan-Parapat untuk bisa sampai ke tempat ini dengan tarif Rp 40.000,00. Untuk memudahkan pencarian bus, anda disarankan untuk sampai di Medan pada pagi hari, karena biasanya bus akan membawa pengunjung langsung ke Kawasan Danau Toba. Setibanya di Parapat, anda bisa menggunakan kapal feri menuju Pulau Samosir, yang beroperasi mulai pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore dengan tarif Rp 10.000. Sembari menunggu kapal berangkat, anda bisa mengarahkan kamera anda ke berbagai objek indah di sekitar danau.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://lifeistravelling.files.wordpress.com/2012/02/toba-lake.jpg
2. http://tobalitour.com/news/4077935-si_gale_gale_puppet_pulau_samosir-829870457.jpg

Jumat, 29 Agustus 2014

Taman Alam Lumbini, Maha Karya Indonesia Di Brastagi


1. Taman Alam Lumbini

Selama ini dunia mungkin hanya mengenal Myanmar dan Thailand yang dipenuhi oleh pagoda-pagoda megah dan indah, namun ternyata Indonesia juga memiliki pagoda yang tidak kalah indah. Sebut saja Taman Alam Lumbini, sebuah kompleks taman yang memiliki pagoda nan megah di dalamnya. Taman Alam Lumbini berada di Desa Tongkoh Brastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Adapun taman alam ini diresmikan pada tahun 2010 yang lalu dengan melibatkan 100 bhiksu Indonesia, 400 bhiksu Thailand. 650 bhiksu Myanmar, dan selebihnya berasal dari negara lain.

Pagoda di Taman Alam Lumbini merupakan replika Pagoda Shwedagon di Burma. Untuk memasuki taman ini, pengunjung tidak dikenakan biaya sepeser pun alias gratis. Sesampainya di kawasan pagoda, pengunjung akan disambut oleh warna emas yang memenuhi seluruh bagian luar pagoda yang membuat bangunan ini tampak megah. Pada bagian kiri pagoda terdapat menara dengan puncak berbentuk bekisar, sementara pada bagian bawahnya terdapat beberapa gelang emas yang menjuntai sepanjang 1,5 meter. Sebagaimana pagoda pada umumnya, puncak pagoda ini pun dihiasi oleh banyak lonceng. Jika angin tengah bertiup dan mengenai lonceng, maka lonceng-lonceng tersebut akan berdentang. Sebelum masuk ke dalam pagoda, pengunjung diminta untuk melepaskan alas kaki dan tidak boleh membawa makanan minuman ke dalam. Memasuki pagoda, pengunjung akan menemukan empat patung Buddha yang menghadap pintu dan mengarah ke empat mata angin. Bagi pengunjung yang beragama Buddha, anda bisa bersembahyang di tempat ini. Suasananya sangat teduh, tenang, dan tenteram. Perlu diketahui, replika pagoda di Myanmar yang ada di taman ini merupakan yang tertinggi di Indonesia sehingga mendapatkan rekor MURI. Selain memiliki bangunan pagoda, taman alam ini juga memiliki hamparan taman dengan bunga-bunga yang bermekaran indah. Jika anda sudah puas mengelilingi bangunan pagoda, anda bisa bersantai di taman ini.


2. Taman Hijau di Samping Pagoda

Taman Alam Lumbini bisa dicapai dari Kota Medan dengan lama perjalanan 2-3 jam. Bagi anda yang berangkat dari Medan dan menggunakan kendaraan umum, anda bisa melakukan estafet dengan menggunakan jasa angkot Sutra dengan rute Medan-Brastagi, cukup dengan ongkos Rp 10.000 saja. Sepanjang perjalanan menuju Brastagi, anda akan disuguhkan pemandangan alam yang begitu indah diiringi dengan musik Batak yang biasa mengalun di setiap angkutan umum di Sumatera Utara. Dan satu lagi, angkot Sutra tidak akan menurunkan anda tepat di depan Taman Alam Lumbini. Anda harus berhenti di Simpang Tongkoh kemudian melanjutkan perjalanan sekitar 500 meter, barulah anda bisa sampai tepat di Taman Alam Lumbini. Untuk melanjutkannya, anda bisa menggunakan kendaraan ataupun berjalan kaki. Tapi alangkah baiknya jika anda berjalan kaki karena di pemandangan kebun stroberi di kanan dan kiri jalan bisa menyegarkan mata.

Bagaimana? Sudah siap menjelajahi salah satu maha karya Indonesia ini? Udara sejuk Brastagi akan menemani anda mengitari Taman Alam Lumbini.

Oleh: Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://static.panoramio.com/photos/large/57428527.jpg
2. http://medan.panduanwisata.com/files/2013/03/6993318383_33320fb1c1_c.jpg

Kamis, 28 Agustus 2014

Mengenali Keberadaan Kesultanan Deli Melalui Istana Maimun Medan


1. Istana Maimun Tampak Depan

Kota Medan adalah salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki banyak tujuan wisata. Selain Danau Toba yang ada di Pulau Samosir, masih ada tujuan wisata lainnya, baik itu wisata alam, kuliner, maupun sejarah. Salah satu tujuan wisata yang wajib dikunjungi bila tengah berkunjung ke Medan adalah Istana Maimun. Istana Maimun merupakan istana peninggalan Kesultanan Deli yang berada di Jl. Brigjen Katamso, Sukaraja, Medan. Menurut sejarah, Istana Maimun didirikan pada tahun 1888 oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa dan diresmikan pada tahun 1891.

Ada satu yang unik dan membuat istana ini tampak beda dari istana-istana lainnya di Indonesia, yakni gaya arsitekturnya yang merupakan kombinasi unsur Melayu, Italia, Spanyol, dan India. Pengaruh Eropa itu dapat dilihat pada ornamen pintu dorong, lampu, lemari, meja, dan kursi istana. Selain pintu yang bergaya Spanyol, anda juga bisa melihat gaya arsitektur Belanda pada bentuk jendela dan pintu yang tinggi dan lebar. Oh ya, di depan tangga, anda bisa melihat prasasti dari batuan marmer yang ditulis dalam Bahasa Belanda, dengan menggunakan huruf Latin. Pengaruh Islam dapat dilihat pada bagian atap yang berbentuk lengkung yang menyerupai bentuk perahu yang terbalik. Biasanya bentuk seperti ini hanya dapat ditemukan pada bangunan di Timur Tengah.


2. Bagian Dalam Istana Maimun

Pada bagian ruang tamu, anda akan menemukan tahta yang warnanya didominasi oleh warna kuning. Ruang tamu dengan luas 412 m2 ini digunakan untuk menobatkan Sultan Deli dan untuk melakukan agenda tradisional yang lain. Selain itu, ruangan ini juga digunakan Sultan Deli untuk menerima kunjungan dari keluarga pada saat hari raya Islam. Adapun kemegahan Istana Maimun ini bisa terwujud karena semasa Deli masih di bawah naungan Kesultanan Deli, mereka bisa mengelola hasil perkebunan dengan baik, seperti minyak dan aneka rempah-rempah. Hasil bumi yang melimpah ini memberikan penghasilan yang sangat besar bagi Kesultanan Deli.

Kemegahan Istana Maimun tidak akan membuat anda bosan menikmatinya. Di dalam istana dengan warna khas Melayu ini, anda bisa melihat puluhan kamar di lantai dua, melihat berbagai koleksi istana yang antik, dan juga bisa menikmati hawa sejuk yang tentu akan membuat anda nyaman berada di dalamnya.. Adapun bangunan istana ini terdiri dari satu bangunan induk dan dua sayap kiri-kanan. Seratus meter dari Istana Maimun berdiri sebuah masjid bernama Masjid Raya Medan.

Istana Maimun dibuka bagi umum setiap harinya mulai pukul 08.00 sampai pukul 17.00 WIB. Untuk bisa masuk ke dalam istana, pengunjung dikenakan tarif masuk sebesar Rp 5000,- bagi pengunjung dewasa dan Rp 3000,- bagi pengunjung anak-anak. Istana Maimun berlokasi di Kelurahan Aur, tepatnya di pusat Kota Medan. Untuk bisa sampai ke istana ini, pengunjung bisa menggunakan berbagai moda transportasi seperti angkutan umum, becak, ataupun becak motor. Letak Istana Maimun yang berada di tengah-tengah kota sangat memudahkan bagi siapapun yang datang berkunjung.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://winnyalna.com/wp-content/uploads/2013/09/istana-maimun.jpg
2. http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2013/07/Maimun.jpg

Selasa, 26 Agustus 2014

Selain Sungai Musi, Sumatera Selatan Juga Memiliki Objek-Objek Wisata Ini

Bagi anda yang ingin merasakan sesuatu yang baru selain berlibur di tempat yang itu-itu saja, mungkin anda bisa menyeberang sebentar ke Pulau Sumatera. Sumatera Selatan adalah salah satu provinsi di Sumatera yang dikenal sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya di masa dahulu. Selain itu, provinsi yang dikelilingi oleh air ini sangat populer dengan megahnya Jembatan Ampera dan luasnya Sungai Musi. Namun, tahukah kamu bahwa Sumatera Selatan tidak sebatas Sungai Musi dan Jembatan Ampera saja? Masih banyak objek wisata lainnya yang bisa anda telusuri di provinsi yang sangat terkenal dengan pempek ini. Seperti apa sajakah objek wisata tersebut? Mari kita simak bersama.

  1. Masjid Agung, Palembang

    Masjid ini terletak di jantung kota Palembang tepatnya di Jalan Merdeka. Gaya arsitekturnya yang merupakan kombinasi antara gaya Eropa dan China membuat masjid ini terbilang unik. Dengan tembok-temboknya yang berukuran besar, masjid ini tampak sangat megah. Halamannya pun begitu luas dan asri. Setiap hari Jumat, tepatnya pada saat Sholat Jumat, halaman luar Masjid Agung selalu diramaikan oleh pedagang-pedagang yang menjual aneka barang Islami seperti sajadah, sarung, peci, buku, dan sebagainya.


    1. Masjid Agung Palembang

  2. Bukit Sulap, Lubuklinggau

    Lubuklinggau adalah ibu kota dari Kabupaten Musi Rawas. Belakangan ini Lubuklinggau sangat terkenal dengan objek wisatanya yang bernama Bukit Sulap. Objek wisata ini termasuk baru di mana tanggal 19 Oktober 2013 lalu, Bukit Sulap baru diresmikan oleh Gubernur Alex Noerdin sebagai kawasan wisata. Ada satu keunikan Bukit Sulap yaitu bisa terlihat hilang pada saat pagi hari akibat ditutupi kabut. Selain itu, dari atas bukitnya, pengunjung bisa melihat pemandangan kota ini dan panorama Bukit Barisan. Oh ya, di sana juga ada fasilitas WiFi lho!


    2. Pemandangan Bukit Sulap Tampak Jauh

  3. Pagaralam

    Bisa dibilang wilayah ini adalah “Puncak”nya Palembang, karena udaranya yang sejuk dan bersih. Letaknya yang dikelilingi oleh Gunung Dempo dan Pegunungan Bukit Barisan membuat wilayah ini seakan-akan dipagari oleh pemandangan hijau yang benar-benar alami. Di Pagaralam, anda bisa mengunjungi wisata Gunung Dempo dan menikmati rimbunan daun teh. Untuk bisa sampai ke Pagaralam, anda harus menyiapkan mental yang kuat karena wilayah ini berada di tempat yang paling tinggi, jalan yang harus dilalui pun menanjak dan berkelak-kelok. Namun semua itu akan terbayar lunas saat anda tiba di Pagaralam dan menikmati hijau serta sejuknya kota ini.


    3. Gunung Dempo

  4. Taman Nasional Sembilang

    Taman nasional ini merupakan hutan konservasi aneka satwa yang dilindungi. Di dalam taman nasional ini, para pengunjung aneka burung, ikan, dan reptil buas. Selain melihat aneka satwa, pengunjung juga bisa menikmati deretan pohon bakau yang membentang indah. Sesekali anda akan bisa menemukan ular yang bergantung bebas di cabang-cabang pohon bakau tersebut. Untuk bisa masuk ke dalam Taman Nasional Sembilang, para pengunjung diwajibkan untuk mengajukan izin kepada Departemen Kehutanan di Palembang.


    4. Burung-burung di Taman Nasional Sembilang
Selain keempat objek wisata di atas, anda masih bisa menjelajahi objek wisata lain seperti Gua Putri Baturaja yang merupakan kutukan Si Pahit Lidah, Air Terjun Bedegung di Muara Enim yang bisa dimasuki secara gratis, Kabupaten Lahat yang dipenuhi situs megalitikum, dan juga indahnya Danau Ranau yang berada di perbatasan antara Kabupaten OKU Selatan dan Provinsi Lampung. Tunggu apa lagi? Ayo ke Sumatera Selatan!

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://simbi.kemenag.go.id/simas/index.php/profil/masjid/30/?tipologi_id=6
2. http://travel.detik.com/read/2013/11/29/081901/2427012/1519/bukit-sulap-objek-wisata-paling-baru-di-sumatera-selatan
3. http://www.gosumatra.com/gunung-dempo-sumatera-selatan/
4. http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/10/1349187486453492600.jpg

Senin, 25 Agustus 2014

Mempelajari Perjuangan Palembang Pada Masa Penjajahan di Monumen Perjuangan Rakyat


1. Monpera Tampak Depan

Pada zaman penjajahan dahulu, Belanda tidak hanya menguasai Jawa dan daerah timur Indonesia, Belanda juga melebarkan sayapnya ke sebelah barat Indonesia yakni Pulau Sumatera. Salah satu wilayah Sumatera yang ikut dikuasai oleh Belanda adalah Kota Palembang. Peristiwa peperangan yang paling amat dikenal adalah pertempuran lima hari lima malam. Bagaimanakah suasana peperangan saat itu? Masyarakat yang kurang bisa membayangkan bagaimana peristiwa pertempuran itu bisa mengunjungi Monumen Perjuangan Rakyat Palembang dan melihatnya pada relief yang terpampang di dinding Monpera.

Monumen Perjuangan Rakyat atau biasa disebut Monpera berdiri pada tanggal 23 Februari 1988 dan difungsikan untuk menyimpan benda bersejarah seperti senjata, patung pejuang, baju dinas para pejuang, dan juga relief, terkhusus benda peninggalan pertempuran lima hari lima malam. Bangunan Monpera ini berdiri megah di Jalan Merdeka persis berseberangan dengan Masjid Agung Palembang. Letaknya yang berada di pusat kota sangat memudahkan siapa saja untuk mengunjunginya. Ada yang unik dari monumen ini yakni bentuknya yang seperti enam segitiga terbalik yang saling bertautan. Pada bagian depan museum terdapat replika burung Garuda berwarna hitam.

Memasuki lantai pertama museum anda akan disambut oleh banyak bingkai foto berisikan gambar perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda. Dinding yang bercatkan warna oranye membuat ruangan museum tidak begitu seram. Selain bingkai foto, di lantai satu ini, pengunjung juga bisa melihat miniatur Monpera dan dua etalase. Etalase pertama berisikan dokumen sejarah dan pariwisata Sumatera Selatan, sedangkan etalase kedua berisikan aneka suvenir khas Sumatera Selatan. Melanjutkan langkah ke lantai dua, pengunjung bisa melihat aneka senjata hasil rampasan saat perang berjumlah 14 pucuk. Senjata-senjata ini sengaja dibuat dalam dinding kaca sehingga pengunjung hanya bisa mengamati dari luar. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi tangan-tangan jahil yang bisa merusak peninggalan sejarah tersebut.


2. Aneka Senjata

Di lantai tiga museum, pengunjung bisa melihat berbagai replika wajah pejuang Sumatera Selatan dan pakaian dinas yang dikenakan pejuang-pejuang tersebut. Masing-masing pejuang tersebut bernama dr. A. K. Gani, Haji Abdul Rozak, Brigjen TNI H. Hasan Kasim, Mayjen TNI H. Bambang Utoyo, Kol. H. Burlian, dan drg M. Isa. Sementara lantai empat dan lantai lima berisikan foto-foto pada masa pertempuran. Selanjutnya di lantai enam yang merupakan lantai puncak terdapat sebuah lubang untuk bisa naik ke atap Monpera. Dari atap Monpera ini, pengunjung bisa melihat pemandangan Kota Palembang bak melihat sudut-sudut Kota Jakarta dari lantai atas Monas. Setiap peringatan Hari Kemerdekaan RI, bendera-bendera merah putih dipasang di puncak Monpera untuk menambah semaraknya Hari Kemerdekaan Indonesia.


3. Lubang untuk Mencapai Atap Monpera

Saat keluar dari ruangan museum, pengunjung bisa mengelilingi badan Monpera dan menemukan dua relief besar berisikan tulisan. Relief pertama bertuliskan “Panglima Besar Soedirman: Korban Sudah Cukup Banyak. Sekali Merdeka Tetap Merdeka”, sedangkan relief kedua bertuliskan “Lebih Baik Hancur Bersama Debu Kemerdekaan Daripada Dijajah. Patah Tumbuh Hilang Berganti”. Beralih dari tempat ini, pengunjung bisa bersantai di gazebo dan taman yang ada di pintu masuk. Bisa dikatakan kawasan Monpera ini terbilang asri karena tak terlihat satu pun pedagang kaki lima yang masuk di wilayah Monpera apalagi di halamannya.

Bagi anda yang ingin mengunjungi Monpera, anda bisa mengarahkan kendaraan pribadi anda menuju Jalan Merdeka, tepatnya di samping Kantor Pos Pusat dan di depan Masjid Agung Palembang. Jika anda menggunakan angkutan umum, anda bisa menggunakan Bus Jurusan Plaju atau Kertapati, lalu turun di simpang Jembatan Ampera lalu menyeberang menuju Monpera. Akan lebih enak jika anda menggunakan Bus Jurusan Bukit ataupun oplet jurusan Ampera, karena angkutan-angkutan umum tersebut melintas tepat di depan Monpera. Bagi pengunjung tidak diperbolehkan untuk membawa makanan dan minuman ke dalam museum. Jika anda merasa lapar, anda bisa berjalan menyusuri lorong di samping Monpera yang dipenuhi banyak pedagang makanan. Monumen Perjuangan Rakyat ini buka setiap hari Selasa sampai Minggu pukul 08.00-15.30 WIB, kecuali hari libur nasional. Dengan tiket masuk seharga Rp 2000,00, pengunjung bisa mengetahui perjuangan Palembang lewat foto dan benda peninggalan lainnya dalam monumen berlantai enam ini.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://littlegreenangel.blogspot.com/2014/07/monpera-monumen-perjuangan-rakyat.html
2. http://pastipanji.wordpress.com/2010/09/22/jalan-jalan-di-bumi-sriwijaya-palembang-bagian-2/
3. http://littlegreenangel.blogspot.com/2014/07/monpera-monumen-perjuangan-rakyat.html

Jumat, 22 Agustus 2014

Merasakan Eksistensi Muslim Tionghoa Lewat Masjid Cheng Hoo Palembang


1. Masjid Cheng Hoo Tampak Depan

Palembang adalah salah satu kota di Indonesia yang sangat sarat dengan budaya Tionghoa. Keberadaan Kerajaan Buddha Sriwijaya di masa dulu membuat sisa-sisa Tionghoa masih ada sampai sekarang ini, bahkan berkembang pesat. Selain Kampung Kapitan, jejak budaya Tionghoa dapat dilihat pada Masjid Cheng Ho, sebuah masjid yang bernuansa Melayu Tionghoa. Nama Cheng Ho sendiri diambil dari nama seorang kasim Cina bernama Laksamana Cheng Ho. Cheng Ho adalah seorang admiral Cina beragama Islam yang melakukan misi silaturahim terhadap Kerajaan Majapahit. Dalam pelayarannya, Cheng Ho mengunjungi Palembang sebanyak tiga kali. Di sinilah peran Cheng Ho terlihat, ia bersama pedagang Tionghoa lainnya ikut menyebarkan agama Islam di Palembang. Pada waktu itu, Cheng Ho memimpin 62 kapal dengan 27.800 tentara untuk berlabuh di Palembang.

Pada tahun 1407, Kota Palembang diganggu oleh sekelompok perampok Hokkian. Di bawah naungan Kerajaan Sriwijaya, Kota Palembang pun meminta bantuan kepada armada Tiongkok Asia Tenggara agar mau membantu mereka menumpas kejahatan para perampok Hokkian tersebut. Bantuan pun datang dan kepala perampok yang bernama Chen Tsu Ji berhasil ditangkap. Chen Tsu Ji dan anak buahnya menguasai perairan Sungai Musi, Sungsang, dan juga Selat Bangka dan merompak seluruh kapal yang melintas di ketiga perairan tersebut. Semenjak itu, Cheng Ho membentuk organisasi masyarakat Tionghoa beragama Islam di Palembang.

Masjid Cheng Ho Palembang berdiri megah di kawasan Jakabaring, tepatnya di Perumahan Amin Mulia. Pendirian masjid ini diprakarsai oleh masyarakat Tionghoa Palembang, para sesepuh, dan juga anggota Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. Pembinaan masjid dilakukan pada September 2005 tepat pada saat peletakan batu pertama. Masjid mulai digunakan pertama kali pada tahun 2008. Dengan tampilan arsitektur yang merupakan perpaduan antara budaya lokal Palembang, Tionghoa, dan Arab, masjid ini menjadi masjid favorit peziarah selain Masjid Agung Palembang di Jalan Merdeka. Banyak peziarah dari Cina, Taiwan, Malaysia, Singapura, dan Rusia yang sering datang ke Masjid Cheng Hoo. Selain berperan sebagai tempat ibadah, Masjid Cheng Hoo juga kerap digunakan untuk kegiatan kemasyarakatan, mengingat misi Cheng Hoo yang ingin menciptakan perdamaian bagi dunia.

Bagi anda yang ingin berkunjung ke Masjid Cheng Hoo Palembang, anda bisa langsung datang ke Perumahan Amin Mulia Jakabaring. Jika anda menggunakan jasa angkutan umum, seperti bus tujuan Plaju ataupun Kertapati, anda bisa berhenti di Simpang Jakabaring lalu naik angkutan pinggiran tujuan Pasar Induk Jakabaring. Tanyakan saja pada Pak Supir, mereka pasti tahu keberadaan masjid yang didominasi oleh warna merah ini. Selain di Palembang, masih ada dua Masjid Cheng Hoo di wilayah lain di Indonesia, yakni di Pasuruan dan Surabaya.

Masjid Cheng Hoo adalah simbol Muslim berdarah Tionghoa di Palembang. Gaya arsitektur yang menonjolkan sisi Tionghoa, pilar-pilar tinggi berwarna merah, dan warna hijau giok pada masjid ini menambah keindahan pesonanya yang seperti istana kerajaan. Keberadaan Masjid Cheng Hoo di Palembang menunjukkan eksistensi para muslim Tionghoa di Palembang sekaligus simbol akulturasi antara Melayu (Islam) dan Tionghoa.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://travelmatekamu.com/wp-content/uploads/2014/07/masjid_cheng_ho_palembang_2.jpg

Kamis, 21 Agustus 2014

Menikmati Keindahan Indonesia di Taman Nasional Ujung Kulon


1. Pulau Peucang

Indonesia memiliki banyak taman nasional untuk melindungi flora dan faunanya yang langka. Salah satu taman nasional yang populer di Indonesia adalah Taman Nasional Ujung Kulon , tempat perlindungan badak jawa dan hewan langka lainnya seperti banteng, owa jawa, luwak, anjing hutan dan burung-burung yang hampir punah. Di atas lahan 120.000 ha ini, para pengunjung TNUK bisa bertualang di alam bebas, seperti membabat hutan dan berpetualang mencari hewan-hewan yang hampir punah. Namun bagi anda yang kurang menyukai petualangan, anda bisa menikmati suasana santai di objek-objek wisata yang disediakan Taman Nasional Ujung Kulon. Ada beberapa objek wisata yang bisa anda nikmati, seperti berikut:

  1. Pulau Peucang

    Pulau ini banyak dikunjungi oleh karena keindahan kehidupan bawah lautnya dan aneka terumbu karang, sehingga sangat cocok untuk aktivitas diving dan snorkeling. Di pulau ini juga pengunjung bisa bercengkerama langsung dengan monyet ekor panjang dan rusa yang berkeliaran. Selain itu, pengunjung juga bisa melakukan hiking ke sebuah batu besar bernama Karang Copong. Mengunjungi pulau ini sangat menyenangkan karena pengunjung bisa menikmati pemandangan matahari terbenam yang indah dengan latar belakang keindahan laut.

  2. Pulau Panaitan

    Pulau ini berada di sisi barat laut Peucang. Dengan luas 17.500 Ha, pulau ini mempunyai spot diving seperti Legon Lentah, Legon Kadam, Karang Jajar, dan Legon Samadang. Selain itu, pengunjung juga bisa melakukan surfing di lokasi bernama Teluk Kasuaris. Di sana ada sebuah titik yang dijuluki “One Palm Point”. Konon menurut para surfer, ombak pada titik ini cukup besar sehingga sangat difavoritkan.

  3. Padang Penggembalaan Cidaon

    Di padang ini pengunjung bisa melihat aneka satwa bergerak bebas, seperti burung merak, banteng, dan ayam hutan. Jika cuaca cerah, pengunjung bisa melihat banteng pada jam enam pagi hingga jam setengah delapan dan pada jam setengah lima sore hari. Para pengunjung tidak diperbolehkan untuk mendekati banteng karena bisa membuat aktivitas banteng yang tengah merumput menjadi terganggu. Pengunjung bisa melakukan pengamatan dengan menggunakan teropong.

Selain tempat-tempat di atas, masih ada objek wisata lainnya seperti Gua Sanghyangsirah yang erat dengan kehidupan Kian Santang dan selalu dikunjungi peziarah setiap bulan Maulid, Padang Penggembalaan Cibunar yang juga tempat para banteng merumput, Sumber Air Panas Cibiuk yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit kulit, Habitat Owa Jawa di Curug Cikarang, dan Pantai Selatan. Untuk bisa sampai ke Taman Nasional Ujung Kulon, pengunjung bisa melalui dua jalur yakni darat dan laut. Jika menggunakan jalur darat, pengunjung bisa menggunakan angkutan umum dari Jakarta dengan bus jurusan Jakarta-Labuan lalu dilanjutkan dengan minibus jurusan Labuan-Tamanjaya, diperkirakan waktu tempuh sekitar 7 jam. Sementara jika menggunakan jalur laut, pengunjung bisa menyewa kapal dari Labuan, Sumur, ataupun Tamanjaya untuk menuju pulau.

Taman Nasional Ujung Kulon adalah salah satu taman nasional yang cukup populer di Indonesia oleh karena keberadaan badak jawanya. Selain keanekaragaman flora dan fauna yang dilindungi, taman nasional ini juga sungguh menakjubkan dengan keindahan laut dan padang rumputnya. Jika anda merasa tertarik untuk mengetahui kehidupan satwa dan keindahan alam tempatnya bermukim, silakan datang ke Taman Nasional Ujung Kulon, surga Indonesia di ujung barat Pulau Jawa.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://www.ujungkulon.org/pulau/pulau-peucang

Rabu, 13 Agustus 2014

4 Gunung di Indonesia yang Bersahabat dengan Pendaki Wanita


1. Padang Edelweis Gunung Papandayan

Mendaki gunung sudah sejak dulu menjadi tren, terutama di kalangan para pecinta alam. Keindahan puncak gunung menjadi magnet tersendiri bagi para pecintanya, bahkan bagi mereka yang belum pernah mendaki, namun tertarik dengan cerita seru para pendaki. Selama ini pendakian gunung hanya begitu akrab bagi kaum pria. Sulitnya trek pendakian membuat kaum wanita merasa was-was dan takut ketika mendengar kata “Pendakian”. Namun, seiring berjalannya waktu, emansipasi wanita itu semakin nyata. Belakangan ini, sudah banyak kaum wanita yang berani melakukan pendakian gunung, bahkan tidak sedikit yang sudah berhasil mencapai Puncak Semeru yang merupakan puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa. Jika anda sebagai wanita ingin merasakan bagaimana pendakian, namun masih merasa takut dengan sulitnya rintangan dan jalur pendakian yang harus dilalui, sebaiknya anda mencoba 4 gunung ini terlebih dahulu.

  1. Gunung Ungaran, Jawa Tengah

    Gunung Ungaran yang terletak di Jawa Tengah berada di urutan pertama yang pas untuk didaki oleh kaum wanita, dengan ketinggiannya 2.050 m di atas permukaan laut. Jika anda telah tiba di puncak gunung, anda bisa melihat 3 puncak gunung yang berdiri sejajar, yakni Puncak Gendol, Puncak Botak, dan Puncak Ungaran. Namun ternyata ketiganya tidak memiliki ketinggian yang sama meskipun dikatakan sejajar. Puncak Ungaran adalah puncak tertinggi, sementara ketinggian Puncak Gendol dan Puncak Botak tidak jauh berbeda dari ketinggian Puncak Ungaran. Dari atas gunung, anda akan terpesona dengan hamparan luas Laut Jawa dan jajaran Gunung Merbabu, Sumbing, Merapi, Telomoyo, dan Sindoro. Selain mendaki gunungnya, anda juga bisa menikmati objek wisata lain yang terdapat di kaki Gunung Ungaran, seperti Candi Gedongsongo, Curug Semirang, dan Curug Lawe.

  2. Gunung Sibayak, Sumatera Utara.

    Jalur pendakian juga bisa anda temui di Pulau Sumatera, yakni Gunung Sibayak yang terdapat di Kota Brastagi. Dengan ketinggiannya yaitu 2.212 m di atas permukaan laut, Gunung Sibayak berbentuk seperti tapal kuda. Tidak heran bila puncak tertingginya disebut Puncak Tapal Kuda. Selain terkenal dengan panoramanya yang eksotis, Gunung Sibayak juga memiliki jalur pendakian yang tidak sulit, sehingga bisa dilalui oleh pendaki pemula dan pendaki wanita. Jalur lima adalah jalur favorit para pendaki. Untuk mencapainya, anda tidak perlu menghabiskan waktu lama, hanya butuh waktu sekitar 3-4 jam saja.

  3. Gunung Ijen, Jawa Timur

    Gunung Ijen berada di Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Dengan ketinggiannya 2.443 m di atas permukaan laut, Gunung Ijen tampil mempesona. Ada banyak pendaki yang rela mendaki sejak subuh demi bisa menikmati indahnya matahari terbit di Puncak Gunung Ijen. Tidak hanya itu saja, Gunung Ijen juga sangat terkenal dengan fenomena api birunya yang menawan. Tidak heran bila pendaki dari luar negeri saja sampai datang ke gunung ini. Konon katanya, hanya ada dua fenomena api biru di dunia, yaitu di Islandia dan Ijen, Jawa Timur. Gunung Ijen termasuk dalam deretan gunung yang mudah didaki oleh wanita. Hanya saja, anda harus lebih berhati-hati saat mendaki di jalan yang dipenuhi oleh pasir.

  4. Gunung Papandayan, Jawa Barat

    Gunung ini terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat dengan ketinggian 2.665 m di atas permukaan laut. Ada satu pesona khas dari gunung ini, yaitu padang edelweiss yang berada dekat puncak gunung. Sepanjang jalur pendakian, anda akan ditemani oleh pemandangan indah kawah. Selain bersahabat dengan wanita, Gunung Papandayan juga bersahabat dengan anak kecil. Oleh karena itu, banyak yang mengajak keluarganya untuk menghabiskan waktu akhir minggu dengan mendaki Gunung Papandayan. Selain pesona bunga edelweis, anda akan dibuat terpesona dengan adanya hutan mati bekas erupsi Gunung Papandayan.


2. Kawah Gunung Ijen

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://gispala.files.wordpress.com/2011/05/edelweis-papandayan.jpg
2. http://www.tourandtravelwisataindonesia.com/2013/05/menikmati-indahnya-pagi-di-kawah-ijen.html

Selasa, 12 Agustus 2014

Inilah Kawah Putih ala Sumatera Utara, Namanya Tinggi Raja


1. Dolok Tinggi Raja

Jika mendengar nama Sumatera Utara, mungkin yang ada di benak kita hanyalah pemandangan indah Danau Toba, perkebunan jeruk Brastagi, ataupun lucunya gerakan tarian boneka Sigale-gale. Padahal, Sumatera Utara tidak hanya terbatas pada hal-hal itu saja. Selain Kawah Putih Ciwidey, masih ada Kawah Putih lain yang tidak kalah indahnya, sebut saja Tinggi Raja. Cagar Alam Tinggi Raja terletak di Desa Tinggi Raja, Kecamatan Silau Kahen Kabupaten Simalungun Sumatera Utara. Keberadaan Cagar Alam ini yang jauh dari hiruk-pikuk masyarakat kota membuat objek wisata Tinggi Raja seakan hilang.

Konon menurut sejarah, Cagar Alam Tinggi Raja berasal dari kutukan Raja Desa Bauan terhadap anaknya yang melanggar peraturan memakan hati kerbau. Sang Anak Raja berusaha melarikan lari, namun kematian tidak dapat terelakkan. Setelah air panas menghantam dirinya, sang anak raja mati, hingga kemudian terbentuklah bukit kapur.

Pada dasarnya, Tinggi Raja sudah ditemukan sejak ratusan tahun lalu, sangat disayangkan aksesibilitasnya sangat sulit, jalan menuju Cagar Alam Tinggi Raja sangat terjal dan rusak. Menurut penuturan masyarakat setempat, objek wisata Tinggi Raja bisa kembali terkenal karena anggota TNI telah memperbaiki akses jalan, sehingga bisa diketahui oleh wisatawan. Untuk mencapai Tinggi Raja yang terletak 95 kilometer dari kota Medan, dibutuhkan waktu sekitar 4 jam dari pusat kota Medan. Terdapat dua alternatif perjalanan untuk mencapai objek wisata ini. Alternatif pertama dimulai dari Medan - Tebing Tinggi - Nagori Dolok - Tinggi Raja, sedangkan alternatif dimulai dari Medan - Deli Serdang - Bangun Purba - Nagori Dolok - Tinggi Raja. Meskipun rute pertama lebih singkat, namun kenyataannya memakan waktu lebih lama dibandingkan rute kedua. Adapun akses jalan yang harus dilalui oleh pengunjung didominasi oleh jalan aspal dan selebihnya adalah jalan terjal yang dipenuhi kerikil tajam.

Sangat disayangkan memang, akses menuju tempat seindah Tinggi Raja tidak seindah tempatnya. Dalam hal ini, pemerintah dapat dikatakan kurang memperhatikan cagar ala mini. Beruntungnya, anggota TNI membuat kawasan ini sebagai tempat pelatihan militer, dikarenakan kawasannya yang masih asri. Oleh karena itulah, anggota TNI berusaha memperbaiki akses jalan menuju Tinggi Raja. Namun, tenang saja. Meskipun jalur yang harus dilalui cukup sulit bahkan kurang menyenangkan karena begitu melelahkan, semua itu akan terbayar saat anda tiba di Tinggi Raja dan menyaksikan keindahannya secara langsung.

Sesampainya di Tinggi Raja, anda bisa menyaksikan bukit kapur yang terlihat seperti salju di bagian teratas bukit. Bukit kapur itu mengeluarkan aroma belerang. Kemudian di bawah bukit kapur tersebut, anda akan menjumpai sebuah danau berisi air panas berwarna biru. Selain itu, anda juga bisa menuruni anak tangga yang berjumlah seratus dan menapaki hutan. Jika di bukit teratas, anda menjumpai bukit kapur yang seperti bukit salju, maka tidak jauh dari seratus anak tangga, anda bisa melihat indahnya warna-warni bukit kapur yang juga menghasilkan air terjun panas. Di bawah air terjun panas tersebut terdapat sungai bersih yang dibuat untuk pemandian bagi wisatawan.


2. Dolok Tinggi Raja

Jika selama ini, anda hanya mengenal bukit belerang di Kawah Putih, Jawa Barat, maka itu, mari beranjak ke Pulau Sumatera. Ada Cagar Alam yang memiliki karakter yang sama dengan Kawah Putih Ciwidey, bernama Tinggi Raja. Semoga saja pemerintah setempat bisa lebih memperhatikan keberadaan Cagar Alam Tinggi Raja dengan memperbaiki akses jalan. Di luar sulitnya akses jalan, Tinggi Raja tetaplah indah dan mempesona. What a beautiful Indonesia. Ayo kita ke Tinggi Raja!

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://hanminlynn.com/dolok-tinggi-raja/
2. http://hanminlynn.com/dolok-tinggi-raja/

Kamis, 17 Juli 2014

Menikmati Nuansa Tempo Dulu di Kota Tua Jakarta

Rasa-rasanya kita pasti tak akan pernah lupa bahwa dahulunya Indonesia pernah dikuasai Belanda selama 350 tahun. Memang kita yang hidup di era sekarang tidak merasakannya secara langsung, tetapi buku sejarah, berita, dan peninggalan-peninggalannya-lah yang membuat kita tahu. Bukti-bukti itu bisa kita lihat secara langsung lewat bangunan-bangunan buatan Belanda yang hingga kini masih berdiri megah di beberapa tempat di Indonesia. Jakarta, yang dulunya disebut Batavia merupakan tempat di mana bangunan berarsitektur kolonial banyak berdiri. Sebut saja Kota Tua, yang kini dijadikan kawasan Cagar Budaya.


(Dokumentasi Pribadi)

Arsitektur bangunan yang bercorak tempo dulu membuat Kota Tua menjadi tempat bertemunya orang-orang pecinta sejarah, begitu juga dengan para seniman fotografi yang gemar memotret gedung-gedung megah di kawasan itu. Ada enam lokasi bersejarah di Kota Tua yaitu Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Wayang, Museum Mandiri, Stasiun KA Kota, dan Pelabuhan Sunda Kelapa. Museum Fatahillah adalah tempat yang paling pas bagi anda yang berhasrat menelusuri jejak sejarah Kota Jakarta. Untuk memasuki museum-museum, anda akan dikenakan tarif murah.

Selain mengunjungi museum, anda juga bisa bersepeda layaknya meneer dan mevrouw. Tentu saja sepeda yang disediakan adalah sepeda onthel zaman dahulu, bukan sepeda modern di zaman sekarang. Dengan sepeda onthel, anda bisa berkeliling kawasan Kota Tua, hingga ke Pelabuhan Sunda Kelapa yang letaknya agak jauh dari pusat Kota Tua.

Kota Tua selalu ramai, baik itu diramaikan pengunjung ataupun para pedagang. Ada hal yang menarik di Kota Tua sejak tahun 2013 lalu, yaitu kehadiran manusia batu. Manusia batu adalah orang-orang yang mengubah penampilannya menjadi seperti orang-orang di zaman penjajahan Belanda. Manusia batu yang pria berperan selayaknya prajurit sedangkan yang wanita berperan selayaknya None Belanda. Para pengunjung yang ingin berfoto dikenakan tarif sukarela, masing-masing mereka telah menyediakan kotak sukarela. Kehadiran manusia batu telah menambah atmosfer tempo dulu, di mana dahulunya hanya ada meriam Si Jagur di halaman Museum Sejarah Jakarta yang berwujud barang.

Setelah merasa puas mengelilingi Kota Tua, umumnya para pengunjung akan lapar. Namun jangan khawatir, karena di setiap sudut Kota Tua anda akan menemukan berbagai pedagang makanan kaki lima, bahkan café. Kerak telor, gado-gado, nasi goreng, dan makanan murah lainnya ada di sana. Jika anda ingin merasakan makanan luar, anda bisa mencicipi sajian makanan di Café Batavia. Di sana anda bisa menikmati makanan dan minuman Barat, Cina, dan juga Indonesia, dengan kisaran harga Rp 32.000 – Rp 200.000. Berdasarkan ulasan dari beberapa pengunjung Café Batavia, makanan dan minuman di café itu kurang mengena di lidah orang lokal, tapi jika anda ingin mencoba secara langsung, silakan kunjungi Café Batavia di Taman Fatahillah, Kota Tua. Mengenai makanan lokal, anda bisa menemukan kuliner khas Jakarta di halaman dalam Museum Sejarah Jakarta, seperti Kerak Telor, Tauge Goreng, dan Es Selendang Mayang.


(Dokumentasi Pribadi)

Untuk sampai ke Kota Tua, anda bisa menggunakan kereta, busway, dan mikrolet. Tunggu apalagi? Ayo ke Kota Tua, jaga kelestarian, kebersihan, dan keindahannya.

Oleh : Rahel Simbolon

Senin, 14 Juli 2014

Menikmati Pesona Indah Pantai Mutun

Lampung adalah salah satu wilayah di selatan Pulau Sumatera, yang berada di tengah selat dan samudera. Posisi Lampung yang berada di selatan, membuat provinsi ini kaya akan pantai. Ada banyak pantai Lampung yang indah dan masih alami. Jarak Lampung dan Jakarta yang tidak begitu jauh membuat banyak orang, terlebih para pekerja kantoran sering menghabiskan weekend mereka dengan berwisata alam ke pantai-pantai di Lampung. Sebut saja Pantai Mutun, yang terletak di Kecamatan Padang Cermin, berada sekitar 30 km dari Kota Bandar Lampung.

Saat ini, keindahan Pantai Mutun menjadi magnet wisata bagi masyarakat Lampung. Pantai Mutun selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan dalam kota maupun luar kota. Selain pasir putihnya yang bersih dan airnya yang bening, ombak Pantai Mutun juga relatif tenang, sehingga cocok untuk dijadikan tujuan wisata keluarga, apalagi jika anda ingin sekali menceburkan diri ke dalam air. Jika anda ingin bersantai, di tepi pantai tersedia deretan gubuk yang bisa digunakan untuk sekedar duduk ataupun tidur-tiduran menikmati angin pantai yang bertiup sepoi-sepoi.

Pergi bersama anak-anak pastinya akan terasa seru bila benar-benar merasakan bagaimana air pantai. Oleh karena itu, pengelola Pantai Mutun telah menyediakan banyak wahana permainan, seperti kano, jet sky, waterboom, ban apung, dan perahu. Untuk menyewa perahu kano dengan kapasitas sendiri, pengunjung dikenakan tarif Rp 15.000-Rp 20.000 per orang, sementara jika ingin menyewa perahu kano kapasitas berdua, dikenakan tarif Rp 30.000 rupiah. Untuk banana boat, pengunjung dikenakan tarif Rp 25.000 per orang dan untuk masuk ke area waterboom, pengunjung dikenakan tarif Rp 10.000 per orang. Selain permainan-permainan ini, anda dan keluarga juga bisa memancing bersama. Untuk aktivitas ini, pihak Mutun sudah menyediakan peralatan memancing yang dapat anda sewa.


(http://anintyanovitasari.files.wordpress.com/2011/11/img_4833.jpg?w=300&h=225)

Jika anda melihat ke seberang pantai, akan terlihat sebuah pulau yang masih alami, asri, dan hijau, yang bernama Pulau Tangkil. Untuk mencapai pulau Tangkil, anda bisa menggunakan perahu dengan tarif Rp 10.000 per orang. Air laut di Pulau Tangkil masih lebih bersih sehingga anda bisa melihat secara langsung ikan-ikan yang berenang.


Pulau Tangkil
(anintyanovitasari.files.wordpress.com/2011/11/img_1700.jpg)

Setelah merasa puas beraktivitas di pantai, anda bisa beristirahat di gubuk-gubuk di tepi pantai ataupun langsung mencicipi makanan di café. Fasilitas umum yang disediakan di Pantai Mutun cukup lengkap, seperti ruang ganti dan toilet, masjid, restoran atau café, dan lokasi parkir yang luas. Di luar areal pantai, anda juga bisa menemukan berbagai kios yang menjual suvenir khas Lampung, seperti gantungan kunci, T-shirt, pajangan, hingga, gorden bukan kain melainkan kumpulan kerang yang telah dicuci bersih kemudian dirangkai selayaknya gorden.

Untuk bisa sampai ke Pantai ini, para pengunjung bisa memulai perjalanan dari Kota Bandar Lampung dengan jarak tempuh sekitar 25 km. Selama perjalanan, anda bisa menikmati suasana hijau di kiri dan kanan jalan. Ada begitu banyak pepohonan hijau, pemandangan pegunungan dan laut biru yang membuat mata dan hati ikut sejuk memandangnya.


(Dokumentasi Pribadi)

Oleh : Rahel Simbolon

Jumat, 11 Juli 2014

Indahnya Taman Segitiga Emas Kayu Agung


(Dokumentasi Pribadi)

Kayu Agung, yang merupakan Ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan patut berbangga, pasalnya beberapa hari lalu kota kecil ini menerima piala adipura untuk yang ke tujuh kalinya. Di Sumatera Selatan sendiri, kota Kayu Agung merupakan salah satu kota yang terkenal akan kebersihan dan tatanan kota yang rapi. Walaupun hanya kota kecil, Kayu Agung juga tidak kalah dengan Jakarta yang memiliki banyak taman kota. Sebut saja Taman Segi Tiga Emas, sebuah taman kota yang dibangun pada zaman pemerintahan Bupati Ishak Mekki. Sebenarnya taman itu bernama Taman Prof Amri Yahya, namun karena letak taman yang berada di dalam kawasan segitiga emas, maka jadilah taman itu disebut Taman Segitiga Emas. Sebelum taman ini berdiri, masyarakat Kayu Agung sering melakukan aktivitas olahraga di Lapangan Hatta yang berkapasitas terbatas.


(Dokumentasi Pribadi)

Secara tidak langsung , keberadaan Taman Segitiga Emas ini seakan menjadi icon Kayu Agung. Kebanyakan anak muda luar Kayu Agung lebih sering menyebut Taman Segitiga Emas, jika ditanya perihal kota tersebut. Letaknya yang strategis, yaitu di tengah jalan menuju Lampung dari Palembang, serta tatanan taman yang rapi, hijau, dan asri, membuat taman ini terlihat indah dari sudut mana pun. Setiap hari lokasi ini selalu dikunjungi oleh masyarakat, baik itu dari Kayu Agung, maupun dari luar Kayu Agung, seperti Palembang dan Indralaya, yang notabene adalah mahasiswa. Selain dikunjungi anak muda, taman Segitiga Emas juga sering dikunjungi oleh para keluarga. Di dalam taman, disediakan beberapa arena bermain anak-anak, seperti ayunan, jungkat-jungkit, dan papan luncur, yang bisa digunakan secara cuma-cuma.


(Dokumentasi Pribadi)

Selain itu, kamu juga bisa menemukan alat olahraga sederhana di areal taman bermain, yang tentunya akan lebih asyik jika dimainkan saat sore hari, mengingat cuaca Kayu Agung yang sangat terik dan panas pada siang hari. Ditambah lagi, kamu bisa jogging mengelilingi taman pada saat sore hari. Hampir setiap malam pergantian tahun, taman segitiga emas dijadikan sebagai pusat berkumpulnya keluarga dan muda-mudi yang ingin merayakan malam pergantian tahun. Keberadaan arena bermain anak-anak membuat para orangtua tidak segan untuk mengajak anak-anak mereka, karena tentu anak-anak mereka tidak akan bosan.


(Dokumentasi Pribadi)

Jika berjalan ke tengah-tengah taman, kita akan menemukan sebuah monumen berbentuk perahu yang tengah berlayar, yang disebut perahu kajang. Menurut sejarah, pada zamannya, perahu kajang sangat berperan bagi perekonomian penduduk pinggiran sungai yang memperdagangkan tembikar ke pasar 16 ilir, Palembang. Namun, di era 1980-an, perahu kajang mulai menghilang seiring dengan masuknya berbagai produk buatan Cina yang murah.

Saat ini perahu kajang sudah tidak ada lagi, namun masyarakat tetap bisa melihat betapa perkasanya perahu kajang di masa dulu melalui replika perahu kajang di tengah-tengah Taman Segitiga Emas. Selain di taman, perahu kajang juga bisa terlihat saat kita memandang gedung olahraga di sebelah barat Taman Segitiga Emas, di mana gedung olahraga tersebut dibuat menyerupai perahu.

Perahu Kajang tinggal kenangan, namun kehadiran Taman Segitiga Emas telah membuat Perahu Kajang tetap bertahan.


(Dokumentasi Pribadi)

Oleh : Rahel Simbolon
Catatan:
Untuk sampai ke taman ini, kamu bisa menaiki travel tujuan Kayu Agung dari Palembang, dengan lama perjalanan 2 jam.

Senin, 07 Juli 2014

Yuk Berwisata ke Candi Buddha Terbesar di Dunia

Candi Borobudur merupakan salah satu candi bercorak Buddha yang berada di Magelang, Jawa Tengah. Seperti yang telah kita ketahui, Candi Borobudur merupakan salah satu peninggalan kerajaan Buddha yang didirikan oleh wangsa Syailendra, dengan jumlah relief sebanyak 1460 dan stupa sebanyak 504. Maha karya Buddha satu ini menjadi candi sekaligus monumen Buddha yang terbesar di seantero dunia. Mungkin jika dilihat sekilas, setiap tingkatan, setiap stupa, dan setiap relief pada Candi Borobudur sama saja, tapi ternyata setiap tingkatan memiliki cerita yang berbeda.


(Dokumentasi Pribadi)

Candi Borobudur memiliki empat tingkatan, di mana setiap tingkatan merupakan lambang dari tahapan hidup manusia. Tingkatan pertama atau dasar adalah tingkatan Kamadhatu, di mana melambangkan kehidupan manusia yang terikat kepada hawa nafsu. Tingkatan kedua adalah Rupadhatu, di mana melambangkan manusia yang telah bebas dari hawa nafsu namun masih terikat. Tingkatan ketiga adalah Arupadhatu, di mana melambangkan kehidupan manusia yang telah bebas dari hawa nafsu. Tingkatan keempat atau paling atas bernama Arupa, yang melambangkan nirwana, di mana tempat Sang Buddha berdiam. Selain keempat tingkatan ini, masih ada relief-relief yang terlihat indah, yang bercerita tentang Kisah Ramayana, keadaan pertanian dan pelayaran masyarakat di zaman itu.


(Dokumentasi Pribadi)


(Dokumentasi Pribadi)

Selain candi, objek wisata Candi Borobudur juga menyediakan fasilitas pokok lainnya yaitu museum Borobudur dan museum Kapal Raksasa. Di dalam museum Borobudur, para pengunjung bisa melihat berbagai potret relief yang tidak terlihat pada candi, potret pemugaran Candi Borobudur yang kedua kalinya, patung Buddha yang belum selesai, arca Candi Hindu dan miniatur Borobudur. Pengunjung tidak dikenakan biaya untuk memasuki museum ini. Sementara museum Kapal Raksasa merupakan tempat diletakkannya Kapal Samudera Raksasa yang dulu digunakan nenek moyang Indonesia untuk mengarungi samudera hingga ke Afrika. Sama halnya dengan museum Borobudur, museum Kapal Raksasa juga tidak mengenakan biaya bagi para pengunjung.

Bagi anda yang ingin membawa pulang suvenir khas Borobudur, anda bisa mengunjungi deretan kios di luar area candi. Di sana banyak dijajakan berbagai suvenir seperti miniatur Borobudur, gantungan kunci, asbak, pakaian, dan sebagainya. Namun, jika anda tidak sempat mengunjungi perkiosan tersebut, anda bisa memanfaatkan pedagang-pedagang suvenir yang berdagang di sekitar candi. Biasanya pedagang-pedagang ini menggunakan nampan bulat besar sebagai tempat suvenir berupa gantungan kunci yang bervariasi dengan harga Rp 1000,00. Ada yang menjual pakaian dengan membawa kantung besar dan ada juga yang menjual miniatur Borobudur.

Keberadaan Candi Borobudur dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan umum dan pribadi. Jika anda hendak menggunakan angkutan umum, anda bisa memilih berbagai bus dengan trayek Jogja-Borobudur dari Terminal Jombor ataupun Giwangan. Sementara jika anda hendak menggunakan kendaraan yang lebih nyaman, anda bisa menyewa mobil di berbagai penyewaan mobil yang tersebar di Jogja. Candi Borobudur buka setiap hari mulai pukul 06.00-17.00 WIB, dengan tarif masuk sebesar Rp 30.000,- bagi wisatawan domestik, Rp 12.500,- bagi wisatawan domestik anak-anak, U$D 15 bagi wisatawan mancanegara, dan U$D 8 bagi wisatawan mancanegara yang menggunakan kartu pelajar.

Oleh : Rahel Simbolon