Tampilkan postingan dengan label puncak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puncak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Oktober 2014

Merasakan Perdamaian di Bukit Kasih Manado

Indonesia adalah bangsa yang majemuk, di mana di dalamnya terdapat banyak keragaman, mulai dari agama, suku, adat-istiadat, bahkan bahasa yang berbeda di setiap daerahnya. Keragaman inilah yang pada akhirnya membuat para founding fathers kita menetapkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya “Berbeda-beda tetap satu jua”. Di beberapa tempat di Indonesia, keragaman itu bisa berjalan dengan harmonis. Masyarakat yang berbeda agama dan suku tetap bisa hidup berdampingan satu sama lain. Di Pulau Sulawesi, masyarakat Minahasa mempraktikkan semboyan “Torang Samua Ba’saudara” dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dalam Bahasa Indonesia, semboyan itu berarti “Kita semua bersaudara”. Tidak hanya bisa dilihat dan didengar dari keseharian masyarakat Minahasa saja, semboyan ini juga bisa kita lihat pada sebuah objek wisata bernama Bukit Kasih. Bukit ini merupakan tempat wisata yang letaknya di kaki Gunung Soputan. Penamaan Bukit Kasih diberikan karena melihat orang-orang dengan berbagai agama bisa dengan damainya berkumpul di bukit ini. Dengan semboyan “Torang Samua Ba’saudara”nya, rakyat Minahasa menjadikan bukit ini sebagai simbol perdamaian sekaligus media agar kita selalu kita ingat akan kerukunan yang harus kita jalin antar umat beragama.

Areal wisata ini berada di lokasi sumber belerang, maka ketika anda menyusuri areal ini, pengunjung akan menemukan beberapa kawah belerang di kanan dan kiri jalan. Selain kawah, pengunjung juga bisa melihat bukit-bukit hijau yang hijau. Suasana kompleks wisata ini sangat asri. Memasuki kompleks wisata, pengunjung akan menemukan tugu toleransi yang berdekatan dengan pintu masuk. Penamaan Tugu Toleransi diberikan karena di setiap sisi tugu yang berbentuk segi lima ini terdapat gambar, simbol, dan kutipan ayat dari Kitab Suci kelima agama tersebut. Beranjak dari Tugu Toleransi, pengunjung harus menjejakkan langkahnya menuju puncak Bukit Kasih. Untuk mencapainya, pengunjung harus menaiki anak-anak tangga yang panjang. Perjalanan ini cukup melelahkan. Oleh karena itu, pengunjung disarankan untuk mengenakan sepatu yang aman dan nyaman. Jangan lupa untuk menyiapkan stamina semaksimal mungkin, mengingat perjalanan cukup curam. Tetapi, perjuangan melelahkan tersebut akan terbayarkan saat anda melihat pemandangan yang indah.


1. Tugu Toleransi

Dari jarak pandang yang jauh, pengunjung bisa melihat perbukitan yang rimbun dan kelima tempat ibadah di atas puncak Bukit Kasih. Jangan takut bila anda menemukan wajah berbentuk besar di dinding tebing. Wajah besar itu merupakan pahatan wajah nenek moyang penduduk Minahasa, Lumimuut, dan Toar. Pembuatan pahatan wajah ini dimaksudkan agar masyarakat tidak melupakan nenek moyangnya.

Di atas puncak Bukit Kasih, kita bisa menemukan kelima tempat ibadah, yaitu Masjid, Gereja Katolik dan Protestan, Vihara, dan Pura. Kelima tempat ibadah ini dihubungkan oleh anak tangga. Kelima tempat ibadah yang terhubung dan Tugu Toleransi merupakan simbol perdamaian bahwa setiap penganut agama yang berbeda tetap bisa hidup secara berdampingan. Selain kelima tempat ibadah tersebut, terdapat juga beberapa kolam berukuran kecil berisikan air panas yang bisa digunakan pengunjung untuk merendam kaki setelah lelah berjalan jauh. Dari atas puncak ini juga pengunjung bisa melihat birunya Danau Tondano.


2. Kelima Tempat Ibadah

Objek wisata Bukit Kasih berada di Desa Kanonangan, Kabupaten Minahasa, sekitar 55 kilometer dari sisi selatan Manado. Dari pusat Kota Manado, pengunjung bisa mencapai Bukit Kasih dengan menggunakan kendaraan pribadi ataupun angkutan umum dengan jarak tempuh 1 jam. Objek wisata ini juga memiliki beberapa fasilitas, seperti warung yang menjual makanan ringan, kolam air panas alami, dan hotel yang berada tidak jauh dari lokasi Bukit Kasih.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://visitsindonesia.com/wp-content/uploads/2013/12/BKM.jpg
2. http://www.gocelebes.com/wp-content/uploads/2013/03/tempat-ibadah-bukit-kasih.jpg

Rabu, 13 Agustus 2014

4 Gunung di Indonesia yang Bersahabat dengan Pendaki Wanita


1. Padang Edelweis Gunung Papandayan

Mendaki gunung sudah sejak dulu menjadi tren, terutama di kalangan para pecinta alam. Keindahan puncak gunung menjadi magnet tersendiri bagi para pecintanya, bahkan bagi mereka yang belum pernah mendaki, namun tertarik dengan cerita seru para pendaki. Selama ini pendakian gunung hanya begitu akrab bagi kaum pria. Sulitnya trek pendakian membuat kaum wanita merasa was-was dan takut ketika mendengar kata “Pendakian”. Namun, seiring berjalannya waktu, emansipasi wanita itu semakin nyata. Belakangan ini, sudah banyak kaum wanita yang berani melakukan pendakian gunung, bahkan tidak sedikit yang sudah berhasil mencapai Puncak Semeru yang merupakan puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa. Jika anda sebagai wanita ingin merasakan bagaimana pendakian, namun masih merasa takut dengan sulitnya rintangan dan jalur pendakian yang harus dilalui, sebaiknya anda mencoba 4 gunung ini terlebih dahulu.

  1. Gunung Ungaran, Jawa Tengah

    Gunung Ungaran yang terletak di Jawa Tengah berada di urutan pertama yang pas untuk didaki oleh kaum wanita, dengan ketinggiannya 2.050 m di atas permukaan laut. Jika anda telah tiba di puncak gunung, anda bisa melihat 3 puncak gunung yang berdiri sejajar, yakni Puncak Gendol, Puncak Botak, dan Puncak Ungaran. Namun ternyata ketiganya tidak memiliki ketinggian yang sama meskipun dikatakan sejajar. Puncak Ungaran adalah puncak tertinggi, sementara ketinggian Puncak Gendol dan Puncak Botak tidak jauh berbeda dari ketinggian Puncak Ungaran. Dari atas gunung, anda akan terpesona dengan hamparan luas Laut Jawa dan jajaran Gunung Merbabu, Sumbing, Merapi, Telomoyo, dan Sindoro. Selain mendaki gunungnya, anda juga bisa menikmati objek wisata lain yang terdapat di kaki Gunung Ungaran, seperti Candi Gedongsongo, Curug Semirang, dan Curug Lawe.

  2. Gunung Sibayak, Sumatera Utara.

    Jalur pendakian juga bisa anda temui di Pulau Sumatera, yakni Gunung Sibayak yang terdapat di Kota Brastagi. Dengan ketinggiannya yaitu 2.212 m di atas permukaan laut, Gunung Sibayak berbentuk seperti tapal kuda. Tidak heran bila puncak tertingginya disebut Puncak Tapal Kuda. Selain terkenal dengan panoramanya yang eksotis, Gunung Sibayak juga memiliki jalur pendakian yang tidak sulit, sehingga bisa dilalui oleh pendaki pemula dan pendaki wanita. Jalur lima adalah jalur favorit para pendaki. Untuk mencapainya, anda tidak perlu menghabiskan waktu lama, hanya butuh waktu sekitar 3-4 jam saja.

  3. Gunung Ijen, Jawa Timur

    Gunung Ijen berada di Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Dengan ketinggiannya 2.443 m di atas permukaan laut, Gunung Ijen tampil mempesona. Ada banyak pendaki yang rela mendaki sejak subuh demi bisa menikmati indahnya matahari terbit di Puncak Gunung Ijen. Tidak hanya itu saja, Gunung Ijen juga sangat terkenal dengan fenomena api birunya yang menawan. Tidak heran bila pendaki dari luar negeri saja sampai datang ke gunung ini. Konon katanya, hanya ada dua fenomena api biru di dunia, yaitu di Islandia dan Ijen, Jawa Timur. Gunung Ijen termasuk dalam deretan gunung yang mudah didaki oleh wanita. Hanya saja, anda harus lebih berhati-hati saat mendaki di jalan yang dipenuhi oleh pasir.

  4. Gunung Papandayan, Jawa Barat

    Gunung ini terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat dengan ketinggian 2.665 m di atas permukaan laut. Ada satu pesona khas dari gunung ini, yaitu padang edelweiss yang berada dekat puncak gunung. Sepanjang jalur pendakian, anda akan ditemani oleh pemandangan indah kawah. Selain bersahabat dengan wanita, Gunung Papandayan juga bersahabat dengan anak kecil. Oleh karena itu, banyak yang mengajak keluarganya untuk menghabiskan waktu akhir minggu dengan mendaki Gunung Papandayan. Selain pesona bunga edelweis, anda akan dibuat terpesona dengan adanya hutan mati bekas erupsi Gunung Papandayan.


2. Kawah Gunung Ijen

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://gispala.files.wordpress.com/2011/05/edelweis-papandayan.jpg
2. http://www.tourandtravelwisataindonesia.com/2013/05/menikmati-indahnya-pagi-di-kawah-ijen.html

Jumat, 13 Juni 2014

Belum ke Jakarta Jika Tidak Berkunjung ke Monas

Siapa yang tidak mengenal Monas? Sebuah monumen di pusat kota Jakarta yang seakan menjadi simbol ibu kota. Lihat saja berbagai T-shirt tentang Jakarta, pasti didominasi oleh gambar Monas. Dengar saja celetukan orang-orang , “Kalau nggak ke Monas, berarti belum ke Jakarta”. Monas yang merupakan singkatan dari Monumen Nasional merupakan monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari pemerintah Belanda. Puncak Monas yang berbentuk seperti nyala api menggambarkan semangat bangsa Indonesia yang tidak pernah padam. Perlu diketahui, nyala api ini terbuat dari medali perunggu dan dilapisi 35 kg emas.


(Sumber : http://static.pulsk.com)

Monumen Nasional berada di Jakarta Pusat, tepatnya di tengah Lapangan Medan Merdeka dan selalu dibuka setiap hari untuk umum mulai pukul 08.00-15.00 WIB. Adapun tarif masuk yang dikenakan berbeda-beda, untuk anak-anak dikenakan tarif Rp 2000,00, pelajar dan mahasiswa dikenakan tarif Rp 3000,00 dan orang dewasa dikenakan tarif Rp 10.000,00. Di dalam monumen, kita dapat belajar banyak mengenai sejarah Indonesia melalui berbagai diorama yang ditampilkan. Diorama-diorama tersebut secara runtut menampilkan perjalanan Indonesia mulai dari masa kerajaan-kerajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit, penjajahan yang dilakukan Bangsa Eropa, zaman VOC, perlawanan bangsa Indonesia melawan penjajah, mulai dari pergerakan kedaerahan hingga nasional, kemudian pendudukan Jepang di Indonesia, perjuangan kemerdekaan RI, masa-masa revolusi, hingga masa pemerintahan Presiden Soeharto. Selain diorama, masih ada ruangan berbentuk amphitheater yang disebut Ruang Kemerdekaan. Di dalam ruangan ini, tersimpan naskah asli Proklamasi Kemerdekaan RI, peta kepulauan RI, bendera merah putih, dan sebuah dinding bertuliskan naskah Proklamasi Kemerdekaan RI. Semua itu tampak indah.

Selain hal-hal di atas, masih ada bagian pelataran puncak Monas yang wajib dikunjungi. Untuk mencapai pelataran dengan ketinggian 115 meter ini, para pengunjung akan dibawa oleh sebuah elevator. Di pelataran puncak, pengunjung dapat melihat keseluruhan Jakarta secara dekat dengan menggunakan beberapa teropong yang disewakan dengan harga Rp 2000,00. Jakarta yang tampak rumit jika dilihat secara langsung nyatanya bisa terlihat rapi jika dilihat dari atas. Dari atas puncak, pengunjung juga bisa melihat Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang berdampingan, salah satu simbol pluralisme yang diagung-agungkan oleh masyarakat Indonesia. Mengingat ada begitu banyak orang yang ingin naik ke pelataran puncak, sementara kapasitas elevator hanya bisa memuat beberapa orang saja, maka anda disarankan untuk datang lebih pagi. Jika hari sudah siang, antrian elevator sangatlah panjang . Tidak jarang beberapa pengunjung meninggalkan antrean karena tidak sabar menunggu terlalu lama. Jika anda sedang tidak beruntung alias tidak bisa menaiki puncak Monas, jangan sedih. Pelataran Monas juga tidak kalah menarik. Monas merupakan alternatif wisata murah meriah, karena selain berwisata sejarah di dalam bangunan Monas, para pengunjung juga bisa berwisata secara gratis di pelataran Monas. Ada areal lahan berumput yang biasa dijadikan tempat bermain layangan sekaligus tempat bersantai bagi keluarga, ada areal terapi refleksi kaki, lapangan untuk berolahraga, dan juga taman rusa yang konon katanya rusa-rusa ini sengaja didatangkan dari Istana Bogor. Selain itu, setiap malam sabtu dan malam minggu, pihak pengelola Monas juga menghadirkan pertunjukan air mancur menari yang bisa disaksikan secara gratis oleh pengunjung. Jangan takut kelaparan, karena di sana ada banyak pedagang makanan yang mengharapkan rejeki dari anda.

Untuk mencapai Monas tidaklah sulit, karena anda bisa menggunakan berbagai mode transportasi. Jika anda pengguna Commuter Line, anda bisa berangkat dari berbagai stasiun di Jabodetabek lalu turun di Stasiun Gambir, setelah itu anda cukup berjalan kaki menuju Monas. Jika anda menggunakan bus Trans Jakarta dari Shelter Harmoni yang merupakan pusat halte, anda bisa turun di Shelter Gambir lalu tinggal berjalan kaki menuju Monas.

“Ngakunya udah pernah ke Jakarta, tapi nggak ke Monas? Berarti kamu belum ke Jakarta”


(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Oleh : Rahel Simbolon

Rabu, 26 Februari 2014

Menengok Wisata Kulon Progo - 2

b. Pantai Trisik

Pantai ini berada di tenggara Kulonprogo yaitu di Banaran, Galur (30km dari Yogyakarta). Pantai Trisik ialah pantai yang tepat untuk menikmati keindahan cakrawala laut lepas, sunrise dan sunset. Pantai yang juga menjadi tempat bagi para nelayan untuk mendaratkan perahunya serta untuk jual beli ikan segar dari laut. Terdapat laguna-laguna yang dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk perikanan. Di sebelah timur kawasan Pantai Trisik yang merupakan muara sungai Progo sering dimanfaatkan sebagai tempat pengamatan burung selain itu juga sebagai lokasi penangkaran habitat penyu.

c. Pantai Congot

Pantai Congot membentang sepanjang 6,5 Km, terletak di Jangkaran, Temon di sebelah banal Pantai Galagah (15 Km dari Wates). Sungai Bogowonto yang membatasi Purworejo dan Kulon Progo bermuara di Pantai Congot menjadi tempat pendaratan perahu nelayan dan terdapat tempat penjualan ikan untuk jual beli ikan segar. Tidak jauh dari Pantai Congot terdapat tempat ritual Gunung Lanang yang dimana tiap malam 1 Suro diadakan upacara ruwatan dan dilanjutkan larung pada pagi harinya.

Wisata alam di Kulonprogo berikuntnya adalah Goa Kiskendo. Goa Kiskendo salah satu obyek wisata yang terletak di Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo di Pegunungan Menoreh, terletak 36km dari Yogyakarta dan 21km dari Wates. Goa ini sangat menarik karena kita akan menjumpai ornamen-ornamen goa berupa stalaktit dan stalaknit. Goa ini juga terkenal dengan kesakralannya dan terdapat relief cerita wayang (legenda pertempuran Mahesosuro-Lembusuro melawan Sugriwo-Subali)

Setelah anda menginjak lokasi wisata ini maka terhampar pertamanan yang akan menghubungkan dengan anak tangga menuju dalam goa. Kemudian anda diharuskan menuruni tangga bak ular yang berkelok ke arah mulut Goa Kiskendo. Jika masuk ke dalam goa, anda akan menemukan tempat-tempat sakral yang sering digunakan untuk ritual, antara lain Pertapaan Kusuma, Pertapaan Ledhek, dan Pertapaan Santri Tani.

Inilah beberapa foto dari Goa Kiskendo:



Berikutnya ada Puncak Suroloyo, Suroloyo adalah Puncak tertinggi di Pegunungan Manoreh tingginya 1071m dpl, dengan pemandangan indah di perbatasan Jogjakarta dan Jawa Tengah. Pengunjung bisa menikmati Candi Borobudur, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing di sisi utara dan Kota Yogyakarta serta Samudera Hindia di sisi selatan. Pengunjung juga dapat menikmati indahnya sunrise atau sunset.

Untuk menuju Suroloyo pengunjung harus melewati jalan berkelok tajam serta menakhlukkan tanjakan yang cukup curam, letaknya sendiri kira-kira 50km dari Yogyakarta, tepatnya di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamtan Samigaluh. Tidak hanya itu pengunjung masih harus menaiki anak tangga, untuk benar-benar sampai ke Puncak Suroloyo. Namun perjalanan panjang dan melelahkan itu tentu akan terbayarkan oleh keindahan pemandangan yang disajikan oleh Puncak Suroloyo. Selain sangat mengagumkan Suroloyo juga memiliki mitos, yaitu sebagai kiblat pancering bumi (pusat dari empat penjuru) di tanah Jawa. Masyarakat setempat percaya bahwa puncak ini adalah pertemuan dua garis yang ditarik dari utara ke selatan dan dari arah barat ke timur Pulau Jawa.

Dan seperti inilah pemandangan yang dapat kita lihat di Puncak Suroloyo:



Kulonprogo juga memiliki sebuah waduk yang juga merupakan satu-satunya waduk di DIY, yaitu Waduk Sermo. Letak waduk ini ada di Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap (5km dari wates dan 36km dari Yogyakarta), luasnya sekitar 157hektar. Selain kita dapat menikmati wisata berkeliling waduk dengan perahu kita juga dapat menikmati indahnya alam, karena Waduk Sermo berlatar belakang hutan dan juga Pegunungan Manoreh.

Wisata yang juga dapat kita kunjungi adalah Pemandian Clereng, pemandian ini terletak di Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih hanya sekitar 4km dari Wates. Clereng adalah tempat pemandian dengan kolam renang dari mata air alami clereng. Pemandian ini terletak di kawasan perbukitan yang di bawahnya mengalir mata air jernih yang juga di manfaatkan untuk air minum dan irigasi pertanian masyarakat setempat.



Oleh: Novita Prahastiwi
Referensi:
http://thearoengbinangproject.com/wisata/wisata-kulon-progo/
https://sites.google.com/site/wisataairterjun/daerah-istimewa-yogjakarta/grojogan-watu-jonggol---kulon-progo
http://kalibiru.blogspot.com/

Puncak Tertinggi Jawa Tengah



Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah. Gunung dengan tinggi 3.432 m di atas permukaan laut dengan posisi geografis 7°14,30' LS dan 109°12,30' BT yang terletak di perbatasan daerah kabupaten Pemalang dan kabupaten Banyumas. Di mana wilayah utara dari gunung ini berada dalam kawasan kabupaten Pemalang sementara wilayah selatan masuk kawasan kabupaten Banyumas. Namun gunung Slamet juga sedikit menjorok pada kawasan kabupaten Banjarnegara dan Brebes.

Gunung ini mempunyai empat kawah di puncaknya. Gunung yang berada di sebelah utara kota Purwokerto dan di sebelah barat kota Purbalingga ini juga mempunyai beberapa sumber air panas. Dari sumber air panas itulah memunculkan beberapa kawasan wisata air panas salah satunya wisata pemandian air panas Guci. Dan kaki gunung Slamet pada daerah Purwokerto ini juga dijadikan salah satu kawasan wisata bernama Baturraden.

Tahun lalu aku berkesempatan melakukan pendakian menuju puncak gunung tertinggi di Jawa Tengah itu. Jalur pendakian yang dilalui bukan merupakan jalur yang pada umumnya digunakan oleh para pendaki yang biasanya melalui daerah Banyumas atau lewat daerah Guci. Jalur yang ditempuh merupakan jalur dari desa tepat di mana aku tinggal dan dibesarkan. Jalur itu masih dekat dengan desa Gunungsari, di bagian pojok barat daya yang juga berbatasan dengan desa Jurangmangu. Di sana juga si juru kunci gunung Slamet tinggal.

Rombongan terdiri dari tiga puluh orang termasuk aku di dalamnya. Sore, setelah waktu ashar, rombongan beranjak menuju tempat si juru kunci. Begitulah kepercayaan warga sekitar yang mengharuskan menemui juru kunci gunung Slamet terlebih dahulu sebelum melanjutkan pendakian ke puncak Slamet. Perwakilan ketua pendakian menemui si juru kunci dan mengatakan jumlah pendaki dalam rombongan. Mitosnya, kata orang sekitar rombongan pendaki diharuskan berjumlah genap, tidak tahu kenapa.

Setelah diberi welingan dan dibakarkan kemenyan oleh si juru kunci rombongan memulai pendakian. Dipimpin oleh ketua rombongan kami menuju pondok awal masuk ke jalur pendakian gunung Slamet. Pos awal jalur pendakian dinamakan Plawangan, merupakan awal memulai rute pendakian untuk jalur pendakian yang kami tempuh. Di Plawangan kami sampai pada pukul 7 malam. Kami beristirahat sejenak dan berdoa untuk kembali melanjutkan pendakian menuju pos pertama di Pondok Gribig.


Pondok Gribig siang hari

Tak lama berselang, sekitar satu jam perjalanan kami berhasil mencapai di pos Pondok Gribig, 1700 meter di atas permukaan laut. Rombongan kembali beristirahat untuk menyantap bekal yang telah dipersiapkan, mulai dari lontong, ketupat, singkong rebus, dan juga keripik tempe serta ikan asin sebagai lauknya. Perjalanan dilanjutkan kembali menuju pos kedua. Medan yang kami lalui sekarang sangat berbeda dengan medan sebelumnya. Medan sekarang sulit untuk dilalui. Banyak pohon tumbang melintang di jalur perjalanan kami dan itu sangat menghambat laju perjalanan. Pos kedua ini juga memiliki jarak yang cukup jauh dari pos pertama. Sering rombongan berhenti sejenak untuk melepas lelah dan juga sembari menyantap kembali bekal makanan mereka. Akhirnya sampailah rombongan di Pondok Pakis, pos kedua di jalur pendakian tersebut. Tak tahu tepatnya pukul berapa kami sampai di sana.


Pondok pakis siang hari

Tak lama perjalanan dilanjutkan. Dingin sudah terasa sampai ke tulang. Pukul 11.52 malam kami berhasil sampai di pos ketiga Samyang Rangkam, 2665 mdpl. Setelah beristirahat dan melemaskan badan pendakian dilanjutkan kembali. Medan semakin kacau, banyak pohon tumbang bekas kebakaran hutan melintang pada rute yang kami lewati. Angin semakin kencang berhembus, kami pun juga sudah mulai kesulitan bernafas dengan kadar oksigen semakin menipis.


Pondok gua siang hari

Keesokan harinya, pukul 01.32 dini hari kami mencapai pos terakhir di Pondok Gua, tempat pemberhentian akhir untuk beristirahat sebelum mencapai puncak Slamet. Di pos itu kami mengistirahatkan mata yang belum sempat terpejam selama perjalanan. Pendakian menuju puncak dilanjutkan kembali pada pukul 04.31 pagi. Pendakian akhir melewati watu cadas, daerah penuh batu untuk mencapai puncak. Pukul 05.53 kami berhasil sampai di puncak tertinggi di Jawa Tengah, kami tidak mendapatkan sunrise, tapi terbayarkan dengan keindahan saat kami berada di puncak. Dan rasa lelah, letih, dan ngantuk selama perjalanan semua terbayarkan hanya dalam waktu yang singkat di sana. Paradiso, Indonesia itu memang indah.


Kawah Slamet


Segoro pasir

Oleh : Ario Dwi Prabowo
Referensi :
http://0ne-science.blogspot.com/2011/10/gunung-slamet.html
http://wikimapia.org/655748/Daerah-Puncak-Gunung-Slamet