Tampilkan postingan dengan label simbol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label simbol. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Oktober 2014

Merasakan Perdamaian di Bukit Kasih Manado

Indonesia adalah bangsa yang majemuk, di mana di dalamnya terdapat banyak keragaman, mulai dari agama, suku, adat-istiadat, bahkan bahasa yang berbeda di setiap daerahnya. Keragaman inilah yang pada akhirnya membuat para founding fathers kita menetapkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya “Berbeda-beda tetap satu jua”. Di beberapa tempat di Indonesia, keragaman itu bisa berjalan dengan harmonis. Masyarakat yang berbeda agama dan suku tetap bisa hidup berdampingan satu sama lain. Di Pulau Sulawesi, masyarakat Minahasa mempraktikkan semboyan “Torang Samua Ba’saudara” dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dalam Bahasa Indonesia, semboyan itu berarti “Kita semua bersaudara”. Tidak hanya bisa dilihat dan didengar dari keseharian masyarakat Minahasa saja, semboyan ini juga bisa kita lihat pada sebuah objek wisata bernama Bukit Kasih. Bukit ini merupakan tempat wisata yang letaknya di kaki Gunung Soputan. Penamaan Bukit Kasih diberikan karena melihat orang-orang dengan berbagai agama bisa dengan damainya berkumpul di bukit ini. Dengan semboyan “Torang Samua Ba’saudara”nya, rakyat Minahasa menjadikan bukit ini sebagai simbol perdamaian sekaligus media agar kita selalu kita ingat akan kerukunan yang harus kita jalin antar umat beragama.

Areal wisata ini berada di lokasi sumber belerang, maka ketika anda menyusuri areal ini, pengunjung akan menemukan beberapa kawah belerang di kanan dan kiri jalan. Selain kawah, pengunjung juga bisa melihat bukit-bukit hijau yang hijau. Suasana kompleks wisata ini sangat asri. Memasuki kompleks wisata, pengunjung akan menemukan tugu toleransi yang berdekatan dengan pintu masuk. Penamaan Tugu Toleransi diberikan karena di setiap sisi tugu yang berbentuk segi lima ini terdapat gambar, simbol, dan kutipan ayat dari Kitab Suci kelima agama tersebut. Beranjak dari Tugu Toleransi, pengunjung harus menjejakkan langkahnya menuju puncak Bukit Kasih. Untuk mencapainya, pengunjung harus menaiki anak-anak tangga yang panjang. Perjalanan ini cukup melelahkan. Oleh karena itu, pengunjung disarankan untuk mengenakan sepatu yang aman dan nyaman. Jangan lupa untuk menyiapkan stamina semaksimal mungkin, mengingat perjalanan cukup curam. Tetapi, perjuangan melelahkan tersebut akan terbayarkan saat anda melihat pemandangan yang indah.


1. Tugu Toleransi

Dari jarak pandang yang jauh, pengunjung bisa melihat perbukitan yang rimbun dan kelima tempat ibadah di atas puncak Bukit Kasih. Jangan takut bila anda menemukan wajah berbentuk besar di dinding tebing. Wajah besar itu merupakan pahatan wajah nenek moyang penduduk Minahasa, Lumimuut, dan Toar. Pembuatan pahatan wajah ini dimaksudkan agar masyarakat tidak melupakan nenek moyangnya.

Di atas puncak Bukit Kasih, kita bisa menemukan kelima tempat ibadah, yaitu Masjid, Gereja Katolik dan Protestan, Vihara, dan Pura. Kelima tempat ibadah ini dihubungkan oleh anak tangga. Kelima tempat ibadah yang terhubung dan Tugu Toleransi merupakan simbol perdamaian bahwa setiap penganut agama yang berbeda tetap bisa hidup secara berdampingan. Selain kelima tempat ibadah tersebut, terdapat juga beberapa kolam berukuran kecil berisikan air panas yang bisa digunakan pengunjung untuk merendam kaki setelah lelah berjalan jauh. Dari atas puncak ini juga pengunjung bisa melihat birunya Danau Tondano.


2. Kelima Tempat Ibadah

Objek wisata Bukit Kasih berada di Desa Kanonangan, Kabupaten Minahasa, sekitar 55 kilometer dari sisi selatan Manado. Dari pusat Kota Manado, pengunjung bisa mencapai Bukit Kasih dengan menggunakan kendaraan pribadi ataupun angkutan umum dengan jarak tempuh 1 jam. Objek wisata ini juga memiliki beberapa fasilitas, seperti warung yang menjual makanan ringan, kolam air panas alami, dan hotel yang berada tidak jauh dari lokasi Bukit Kasih.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://visitsindonesia.com/wp-content/uploads/2013/12/BKM.jpg
2. http://www.gocelebes.com/wp-content/uploads/2013/03/tempat-ibadah-bukit-kasih.jpg

Jumat, 22 Agustus 2014

Merasakan Eksistensi Muslim Tionghoa Lewat Masjid Cheng Hoo Palembang


1. Masjid Cheng Hoo Tampak Depan

Palembang adalah salah satu kota di Indonesia yang sangat sarat dengan budaya Tionghoa. Keberadaan Kerajaan Buddha Sriwijaya di masa dulu membuat sisa-sisa Tionghoa masih ada sampai sekarang ini, bahkan berkembang pesat. Selain Kampung Kapitan, jejak budaya Tionghoa dapat dilihat pada Masjid Cheng Ho, sebuah masjid yang bernuansa Melayu Tionghoa. Nama Cheng Ho sendiri diambil dari nama seorang kasim Cina bernama Laksamana Cheng Ho. Cheng Ho adalah seorang admiral Cina beragama Islam yang melakukan misi silaturahim terhadap Kerajaan Majapahit. Dalam pelayarannya, Cheng Ho mengunjungi Palembang sebanyak tiga kali. Di sinilah peran Cheng Ho terlihat, ia bersama pedagang Tionghoa lainnya ikut menyebarkan agama Islam di Palembang. Pada waktu itu, Cheng Ho memimpin 62 kapal dengan 27.800 tentara untuk berlabuh di Palembang.

Pada tahun 1407, Kota Palembang diganggu oleh sekelompok perampok Hokkian. Di bawah naungan Kerajaan Sriwijaya, Kota Palembang pun meminta bantuan kepada armada Tiongkok Asia Tenggara agar mau membantu mereka menumpas kejahatan para perampok Hokkian tersebut. Bantuan pun datang dan kepala perampok yang bernama Chen Tsu Ji berhasil ditangkap. Chen Tsu Ji dan anak buahnya menguasai perairan Sungai Musi, Sungsang, dan juga Selat Bangka dan merompak seluruh kapal yang melintas di ketiga perairan tersebut. Semenjak itu, Cheng Ho membentuk organisasi masyarakat Tionghoa beragama Islam di Palembang.

Masjid Cheng Ho Palembang berdiri megah di kawasan Jakabaring, tepatnya di Perumahan Amin Mulia. Pendirian masjid ini diprakarsai oleh masyarakat Tionghoa Palembang, para sesepuh, dan juga anggota Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. Pembinaan masjid dilakukan pada September 2005 tepat pada saat peletakan batu pertama. Masjid mulai digunakan pertama kali pada tahun 2008. Dengan tampilan arsitektur yang merupakan perpaduan antara budaya lokal Palembang, Tionghoa, dan Arab, masjid ini menjadi masjid favorit peziarah selain Masjid Agung Palembang di Jalan Merdeka. Banyak peziarah dari Cina, Taiwan, Malaysia, Singapura, dan Rusia yang sering datang ke Masjid Cheng Hoo. Selain berperan sebagai tempat ibadah, Masjid Cheng Hoo juga kerap digunakan untuk kegiatan kemasyarakatan, mengingat misi Cheng Hoo yang ingin menciptakan perdamaian bagi dunia.

Bagi anda yang ingin berkunjung ke Masjid Cheng Hoo Palembang, anda bisa langsung datang ke Perumahan Amin Mulia Jakabaring. Jika anda menggunakan jasa angkutan umum, seperti bus tujuan Plaju ataupun Kertapati, anda bisa berhenti di Simpang Jakabaring lalu naik angkutan pinggiran tujuan Pasar Induk Jakabaring. Tanyakan saja pada Pak Supir, mereka pasti tahu keberadaan masjid yang didominasi oleh warna merah ini. Selain di Palembang, masih ada dua Masjid Cheng Hoo di wilayah lain di Indonesia, yakni di Pasuruan dan Surabaya.

Masjid Cheng Hoo adalah simbol Muslim berdarah Tionghoa di Palembang. Gaya arsitektur yang menonjolkan sisi Tionghoa, pilar-pilar tinggi berwarna merah, dan warna hijau giok pada masjid ini menambah keindahan pesonanya yang seperti istana kerajaan. Keberadaan Masjid Cheng Hoo di Palembang menunjukkan eksistensi para muslim Tionghoa di Palembang sekaligus simbol akulturasi antara Melayu (Islam) dan Tionghoa.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://travelmatekamu.com/wp-content/uploads/2014/07/masjid_cheng_ho_palembang_2.jpg

Rabu, 26 Februari 2014

MASJID ISTIQLAL, KEBANGGAAN BANGSA INDONESIA



Sebagai rakyat Indonesia kita merasa bangga atas keberadaan Masjid Istiqlal. Alasannya, masjid ini tercatat sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid Istiqlal dibangun di atas lahan seluas 9,5 hektar. Di sana juga terdapat halaman parkir, taman yang luas, kolam air mancur, dan sungai yang mengelilinginya.

Coba bayangkan, pembangunan Masjid Istiqlal menghabiskan dana sebesar 7 miliar rupiah dan US$12 juta. Ditambah dengan sumbangan dari rakyat Indonesia berupa semen, kayu, maupun batu bata. Pembangunan ini pun dilakukan pada tahun 1960-an. Wow, menakjubkan! Tahun 1960 untuk mendapatkan uang sebanyak itu sangatlah tidak mungkin jika dipikir dengan logika kita. Karena pada zaman tersebut kondisi perekonomian Indonesia belumlah stabil.

Pembangunan Masjid Istiqlal sendiri memerlukan waktu selama 17 tahun. Dibangun mulai tahun 1961 di era Presiden Soekarno dan diresmikan pada 22 Februari 1978 oleh Presiden Soeharto.

Sebenarnya, lokasi Masjid Istiqlal dahulu merupakan Benteng Belanda. Pada saat itu, Presiden Republik Indonesia ke-1 yaitu Ir. Soekarno menyetujui untuk menghancurkan benteng tersebut dan membangun Masjid Istiqlal. Menurut Presiden Soekarno, penghancuran Benteng Belanda itu sebagai simbol perpindahan zaman yaitu zaman penjajahan menuju kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, Masjid Istiqlal sebagai simbol kemerdekaan Bangsa Indonesia. Pembangunan masjid ini sebagai wujud rasa syukur Bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaannya. Nama Istiqlal itu sendiri berasal dari Bahasa Arab yang berarti kemerdekaan.

Perlu diketahui bahwa apabila dilihat dari jumlah jemaahnya, Masjid Istiqlal merupakan masjid terpadat ketiga di dunia setelah Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Kapasitas masjid ini mampu menampung 200.000 orang. Hal ini akan terlihat semakin padat pada saat Idul Fitri maupun Idul Adha hingga para jemaah menempati jalan raya. Untuk shalat jumat saja, jumlah jemaah mencapai 30 hingga 50 ribu orang.

Di Masjid Istiqlal ini tidak hanya untuk dikunjungi oleh orang-orang muslim saja tetapi non muslim pun dapat berkunjung ke masjid ini. Karena di tempat ini juga diadakan acara dialog agama. Masjid Istiqlal buka mulai pukul empat pagi hingga pukul sepuluh malam. Hanya di bulan Ramadhan saja masjid buka 24 jam.

Masjid Istiqlal memiliki empat bagian gedung, diantaranya: pertama, Gedung Induk merupakan tempat shalat utama berkapasitas 16 ribu orang dan memiliki 12 pilar. 12 pilar ini melambangkan tanggal kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Pada bagian gedung induk terdiri atas lima lantai yang merupakan lambang Rukun Islam dan Pancasila.

Kedua, Gedung Penghubung. Letaknya di lantai atas.dapat menampung 8 ribu orang. Di atasnya terdapat sebuah kubah berdiameter 8 meter. Hal ini melambangkan bulan kemerdekaan Indonesia yaitu Agustus.

Ketiga, teras raksasa berukuran 19.800 meter persegi dan dapat menampung 50 ribu jemaah. Biasanya di tempat ini digunakan berbagai kegiatan seperti manasik haji, kegiatan keagamaan hingga syuting film.

Keempat, menara dan beduk. Menara Istiqlal mencapai 66,66 meter. Hal ini melambangkan jumlah ayat Al-qur’an 6.666 ayat. Puncak menara terbuat dari baja tahan karat seberat 28 ton dan tinggi 30 meter. Diameter beduknya mencapai 1,7 meter.

Oleh: Wahyu Inayah