Tampilkan postingan dengan label belanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belanda. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Oktober 2014

Merasakan Suasana Kelam di Pulau-pulau Kepulauan Seribu

Tempat wisata yang seram hampir selalu menarik minat mereka yang punya jiwa pemberani dan selalu tertantang, tanpa terkecuali orang-orang Indonesia. Di Indonesia sendiri, ada banyak tempat yang dianggap angker dan selalu dijadikan tempat uji nyali. Jika selama ini, kita hanya mengenal keangkeran pada rumah dan kuburan, cobalah untuk merasakan keangkeran sebuah pulau. Rasakanlah bagaimana atmosfer sebuah pulau yang tak berpenghuni. Jangan kira pulau-pulau seperti itu hanya ada di luar negeri saja. Tidak! Indonesia juga memiliki pulau-pulau tak berpenghuni dan dianggap angker. Di manakah itu? Cobalah langkahkan kaki anda menuju satu kepulauan di sekitar Jakarta, yakni Kepulauan Seribu. Selama ini Kepulauan Seribu dikenal sebagai kepulauan yang dihuni oleh pulau-pulau cantik seperti Pulau Pramuka, Pulau Tidung, dan Pulau Pari. Namun siapa sangka, beberapa pulau di kepulauan tersebut sangat sunyi dan diisi dengan bangunan-bangunan kuno bekas zaman kolonial. Di satu sisi, pulau-pulau ini memang bisa dijadikan sebagai tujuan wisata sejarah. Namun bila malam tiba, pulau-pulau ini menjadi seram. Banyak juga pengunjung yang merasa takut dengan kesunyian pulau-pulau tersebut. Jika anda merasa tertantang, cobalah untuk datang ke pulau ini :

  • Pulau Onrust

    Pulau ini merupakan salah satu yang terdekat dari Pelabuhan Muara Angke. Di sini terdapat pusat Taman Arkeologi Onrust, reruntuhan bangunan Belanda, makam Kartosoewirjo (tokoh DI/TII pada masa pemerintahan Soekarno), kuburan Belanda, museum, sumur, penjara, dan benteng. Salah satu pengunjung yang pernah bermalam di Pulau Onrust berujar bahwa di Onrust tidak ada listrik bila malam tiba. Dan yang lebih seramnya lagi, beberapa pengunjung pernah mengaku melihat penampakan seorang noni Belanda yang membawa lentera putih. Memang Onrust memiliki panorama sunset yang begitu menawan, namun ketika hari semakin gelap, bangunan-bangunan tua Onrust terlihat seram, suasana pun menjadi semakin horor. Meskipun begitu Pulau Onrust cukup sering didatangi oleh pengunjung yang ingin berkemah. Di sana juga terdapat penjaga yang menjual makanan dan minuman.


    1. Makam Keramat

  • Pulau Karya

    Pulau ini berada di tengah di antara pulau-pulau lainnya di Kepulauan Seribu dan bertetangga dengan Pulau Panggang. Saat ini Pulau Karya dijadikan sebagai kantor pemerintahan Kepulauan Seribu dan Tempat Pemakaman Umum. Meskipun begitu Pulau Karya memiliki sejarah kelam. Sebelumnya pulau ini diberi nama Pulau Kuburan Cina. Fakta sejarah menyebutkan bahwa dulunya Pulau Karya dijadikan sebagai tempat pelarian etnis Tionghoa dari kerja paksa Ratu Elizabeth. Oleh karena tidak memiliki obat, mereka pun meninggal satu per satu dan dikuburkan di Pulau Karya.

  • Pulau Kelor

    Pulau ini berukuran lebih kecil dan berhadapan dengan Pulau Onrust. Saking kecilnya, pengunjung bisa mengelilinginya hanya dengan berjalan kaki dengan waktu 10 menit. Tidak ada satu pun bangunan rumah, warung, apalagi penginapan di pulau ini. Hanya ada sebuah benteng berwarna merah bata bernama Benteng Martello. Benteng ini dibangun pada abad ke-17 oleh Belanda untuk dijadikan sebagai menara pengawas dan pertahanan dari Inggris. Suasana malam pulau ini sangatlah gelap, tanpa cahaya sedikit pun. Angin yang berembus pun kencang sekali. Pengunjung yang tengah kemping dan merasa kedinginan bisa berlindung di Benteng Martello.


    2. Benteng Martello

  • Pulau Cipir

    Pulau satu ini bertetangga dengan Pulau Onrust dan Pulau Kelor. Sama seperti Pulau Onrust, Pulau Cipir juga memiliki reruntuhan bangunan Belanda yakni reruntuhan rumah sakit yang langsung menghadap ke laut. Menurut sejarah, pada masa penjajahan Belanda dahulu, rumah sakit ini pernah menjadi rumah sakit karantina bagi mereka yang memiliki penyakit menular dan juga sebagai tempat karantina para jamaah haji. Pulau ini terlihat semakin angker manakala melihat tembok-tembok bangunan berwarna gelap itu. Ditambah lagi tanaman-tanaman liar yang tumbuh di beberapa sudut. Ada satu lagi rumah singgah di zaman Belanda yang masih berdiri kokoh hingga sekarang. Jika merasa punya nyali yang kuat, silakan masuk dan rasakan atmosfer di dalamnya.


    3. Reruntuhan Rumah Sakit

Bagaimana? Keempat pulau ini memiliki kisah kelam masing-masing dan yang pasti bisa menjadi tujuan wisata yang seru. Meskipun terkesan seram, bangunan-bangunan sejarah ini sudah menjadi cagar budaya dan sudah seharusnya kita sebagai warga yang baik harus melestarikan pulau-pulau ini dengan tidak mengotorinya. Ayo segera langkahkan kakimu menuju Kepulauan Seribu!

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://winnyradc.wordpress.com/2013/09/16/mengenal-wisata-jakarta-pulau-onrust-cipir-dan-kelor/
2. http://travel.detik.com/read/2013/05/16/192126/2248206/1383/onrust--3-pulau-horor-lain-di-kepulauan-seribu
3. http://mylittlejourney85.files.wordpress.com/2012/11/pulau-cipir.jpg

Senin, 25 Agustus 2014

Mempelajari Perjuangan Palembang Pada Masa Penjajahan di Monumen Perjuangan Rakyat


1. Monpera Tampak Depan

Pada zaman penjajahan dahulu, Belanda tidak hanya menguasai Jawa dan daerah timur Indonesia, Belanda juga melebarkan sayapnya ke sebelah barat Indonesia yakni Pulau Sumatera. Salah satu wilayah Sumatera yang ikut dikuasai oleh Belanda adalah Kota Palembang. Peristiwa peperangan yang paling amat dikenal adalah pertempuran lima hari lima malam. Bagaimanakah suasana peperangan saat itu? Masyarakat yang kurang bisa membayangkan bagaimana peristiwa pertempuran itu bisa mengunjungi Monumen Perjuangan Rakyat Palembang dan melihatnya pada relief yang terpampang di dinding Monpera.

Monumen Perjuangan Rakyat atau biasa disebut Monpera berdiri pada tanggal 23 Februari 1988 dan difungsikan untuk menyimpan benda bersejarah seperti senjata, patung pejuang, baju dinas para pejuang, dan juga relief, terkhusus benda peninggalan pertempuran lima hari lima malam. Bangunan Monpera ini berdiri megah di Jalan Merdeka persis berseberangan dengan Masjid Agung Palembang. Letaknya yang berada di pusat kota sangat memudahkan siapa saja untuk mengunjunginya. Ada yang unik dari monumen ini yakni bentuknya yang seperti enam segitiga terbalik yang saling bertautan. Pada bagian depan museum terdapat replika burung Garuda berwarna hitam.

Memasuki lantai pertama museum anda akan disambut oleh banyak bingkai foto berisikan gambar perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda. Dinding yang bercatkan warna oranye membuat ruangan museum tidak begitu seram. Selain bingkai foto, di lantai satu ini, pengunjung juga bisa melihat miniatur Monpera dan dua etalase. Etalase pertama berisikan dokumen sejarah dan pariwisata Sumatera Selatan, sedangkan etalase kedua berisikan aneka suvenir khas Sumatera Selatan. Melanjutkan langkah ke lantai dua, pengunjung bisa melihat aneka senjata hasil rampasan saat perang berjumlah 14 pucuk. Senjata-senjata ini sengaja dibuat dalam dinding kaca sehingga pengunjung hanya bisa mengamati dari luar. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi tangan-tangan jahil yang bisa merusak peninggalan sejarah tersebut.


2. Aneka Senjata

Di lantai tiga museum, pengunjung bisa melihat berbagai replika wajah pejuang Sumatera Selatan dan pakaian dinas yang dikenakan pejuang-pejuang tersebut. Masing-masing pejuang tersebut bernama dr. A. K. Gani, Haji Abdul Rozak, Brigjen TNI H. Hasan Kasim, Mayjen TNI H. Bambang Utoyo, Kol. H. Burlian, dan drg M. Isa. Sementara lantai empat dan lantai lima berisikan foto-foto pada masa pertempuran. Selanjutnya di lantai enam yang merupakan lantai puncak terdapat sebuah lubang untuk bisa naik ke atap Monpera. Dari atap Monpera ini, pengunjung bisa melihat pemandangan Kota Palembang bak melihat sudut-sudut Kota Jakarta dari lantai atas Monas. Setiap peringatan Hari Kemerdekaan RI, bendera-bendera merah putih dipasang di puncak Monpera untuk menambah semaraknya Hari Kemerdekaan Indonesia.


3. Lubang untuk Mencapai Atap Monpera

Saat keluar dari ruangan museum, pengunjung bisa mengelilingi badan Monpera dan menemukan dua relief besar berisikan tulisan. Relief pertama bertuliskan “Panglima Besar Soedirman: Korban Sudah Cukup Banyak. Sekali Merdeka Tetap Merdeka”, sedangkan relief kedua bertuliskan “Lebih Baik Hancur Bersama Debu Kemerdekaan Daripada Dijajah. Patah Tumbuh Hilang Berganti”. Beralih dari tempat ini, pengunjung bisa bersantai di gazebo dan taman yang ada di pintu masuk. Bisa dikatakan kawasan Monpera ini terbilang asri karena tak terlihat satu pun pedagang kaki lima yang masuk di wilayah Monpera apalagi di halamannya.

Bagi anda yang ingin mengunjungi Monpera, anda bisa mengarahkan kendaraan pribadi anda menuju Jalan Merdeka, tepatnya di samping Kantor Pos Pusat dan di depan Masjid Agung Palembang. Jika anda menggunakan angkutan umum, anda bisa menggunakan Bus Jurusan Plaju atau Kertapati, lalu turun di simpang Jembatan Ampera lalu menyeberang menuju Monpera. Akan lebih enak jika anda menggunakan Bus Jurusan Bukit ataupun oplet jurusan Ampera, karena angkutan-angkutan umum tersebut melintas tepat di depan Monpera. Bagi pengunjung tidak diperbolehkan untuk membawa makanan dan minuman ke dalam museum. Jika anda merasa lapar, anda bisa berjalan menyusuri lorong di samping Monpera yang dipenuhi banyak pedagang makanan. Monumen Perjuangan Rakyat ini buka setiap hari Selasa sampai Minggu pukul 08.00-15.30 WIB, kecuali hari libur nasional. Dengan tiket masuk seharga Rp 2000,00, pengunjung bisa mengetahui perjuangan Palembang lewat foto dan benda peninggalan lainnya dalam monumen berlantai enam ini.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://littlegreenangel.blogspot.com/2014/07/monpera-monumen-perjuangan-rakyat.html
2. http://pastipanji.wordpress.com/2010/09/22/jalan-jalan-di-bumi-sriwijaya-palembang-bagian-2/
3. http://littlegreenangel.blogspot.com/2014/07/monpera-monumen-perjuangan-rakyat.html

Kamis, 17 Juli 2014

Menikmati Nuansa Tempo Dulu di Kota Tua Jakarta

Rasa-rasanya kita pasti tak akan pernah lupa bahwa dahulunya Indonesia pernah dikuasai Belanda selama 350 tahun. Memang kita yang hidup di era sekarang tidak merasakannya secara langsung, tetapi buku sejarah, berita, dan peninggalan-peninggalannya-lah yang membuat kita tahu. Bukti-bukti itu bisa kita lihat secara langsung lewat bangunan-bangunan buatan Belanda yang hingga kini masih berdiri megah di beberapa tempat di Indonesia. Jakarta, yang dulunya disebut Batavia merupakan tempat di mana bangunan berarsitektur kolonial banyak berdiri. Sebut saja Kota Tua, yang kini dijadikan kawasan Cagar Budaya.


(Dokumentasi Pribadi)

Arsitektur bangunan yang bercorak tempo dulu membuat Kota Tua menjadi tempat bertemunya orang-orang pecinta sejarah, begitu juga dengan para seniman fotografi yang gemar memotret gedung-gedung megah di kawasan itu. Ada enam lokasi bersejarah di Kota Tua yaitu Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Wayang, Museum Mandiri, Stasiun KA Kota, dan Pelabuhan Sunda Kelapa. Museum Fatahillah adalah tempat yang paling pas bagi anda yang berhasrat menelusuri jejak sejarah Kota Jakarta. Untuk memasuki museum-museum, anda akan dikenakan tarif murah.

Selain mengunjungi museum, anda juga bisa bersepeda layaknya meneer dan mevrouw. Tentu saja sepeda yang disediakan adalah sepeda onthel zaman dahulu, bukan sepeda modern di zaman sekarang. Dengan sepeda onthel, anda bisa berkeliling kawasan Kota Tua, hingga ke Pelabuhan Sunda Kelapa yang letaknya agak jauh dari pusat Kota Tua.

Kota Tua selalu ramai, baik itu diramaikan pengunjung ataupun para pedagang. Ada hal yang menarik di Kota Tua sejak tahun 2013 lalu, yaitu kehadiran manusia batu. Manusia batu adalah orang-orang yang mengubah penampilannya menjadi seperti orang-orang di zaman penjajahan Belanda. Manusia batu yang pria berperan selayaknya prajurit sedangkan yang wanita berperan selayaknya None Belanda. Para pengunjung yang ingin berfoto dikenakan tarif sukarela, masing-masing mereka telah menyediakan kotak sukarela. Kehadiran manusia batu telah menambah atmosfer tempo dulu, di mana dahulunya hanya ada meriam Si Jagur di halaman Museum Sejarah Jakarta yang berwujud barang.

Setelah merasa puas mengelilingi Kota Tua, umumnya para pengunjung akan lapar. Namun jangan khawatir, karena di setiap sudut Kota Tua anda akan menemukan berbagai pedagang makanan kaki lima, bahkan café. Kerak telor, gado-gado, nasi goreng, dan makanan murah lainnya ada di sana. Jika anda ingin merasakan makanan luar, anda bisa mencicipi sajian makanan di Café Batavia. Di sana anda bisa menikmati makanan dan minuman Barat, Cina, dan juga Indonesia, dengan kisaran harga Rp 32.000 – Rp 200.000. Berdasarkan ulasan dari beberapa pengunjung Café Batavia, makanan dan minuman di café itu kurang mengena di lidah orang lokal, tapi jika anda ingin mencoba secara langsung, silakan kunjungi Café Batavia di Taman Fatahillah, Kota Tua. Mengenai makanan lokal, anda bisa menemukan kuliner khas Jakarta di halaman dalam Museum Sejarah Jakarta, seperti Kerak Telor, Tauge Goreng, dan Es Selendang Mayang.


(Dokumentasi Pribadi)

Untuk sampai ke Kota Tua, anda bisa menggunakan kereta, busway, dan mikrolet. Tunggu apalagi? Ayo ke Kota Tua, jaga kelestarian, kebersihan, dan keindahannya.

Oleh : Rahel Simbolon

Rabu, 26 Februari 2014

Yuk, Liburan Ke Pulau Seribu - 1

Saat ini sudah hampir memasuki musim liburan panjang anak-anak. Yang paling menyenangkan di saat liburan adalah melakukan wisata. Kebanyakan orang melakukan wisata ke tempat yang belum pernah dikunjunginya. Haruskah wisata ke luar negeri? Rasanya tak perlu. Di Negeri ini cukup banyak tempat wisata yang sangat menakjubkan. Salah satunya adalah Pulau Seribu.

Pulau Seribu yang terdapat di Jakarta adalah salah satu tempat wisata yang jadi rujukan banyak orang. Bukan lantaran namanya yang menunjukkan bahwa pulaunya ada seribu. Penamaan pulau seribu lebih didasari karena jumlahnya cukup banyak. Bayangkan, ada 342 pulau. Selain itu, dinobatkan sebagai pulau seribu, karena gugusan pulau tepat berhadapan dengan Teluk Jakarta.

Ada Apa Saja di Pulau Seribu?

Wah, pastinya Anda dan keluarga ingin tahu apa saja yang ada di Pulau Seribu, bukan? Di Pulau Seribu, bukan saja tempat wisata saja yang ada. Tempat sejarah juga ada, termasuk di dalamnya makam habib. Bagi yang suka berziarah, ke Pulau Seribu bisa memiliki dua tujuan. Yaitu, wisata dan ziarah.

Lima lokasi sejarah yang ada di Pulau Seribu adalah:

  1. Ada makam Habib Ali yang terletak di Pulau Panggang. Habib Ali wafat pada tahun 1895.
  2. Ada juga bekas kantor Asisten Duizen Eilanden yang dibangun pada tahun 1980-an. Posisi kantor tersebut terdapat di Pulau Panggang.
  3. Ada juga makam legenda Darah Putih yang terdapat juga di Pulang Panggang.
  4. Ada makam Syarif Maulana Syarifuddin.
  5. Ada makam Sultan Mahmud Zakaria.

Sedangkan tempat wisata yang bisa Anda kunjungi di Pulau Seribu adalah.

  1. Jika Anda memiliki hobi wisata bahari dan senang mengamati jenis-jenis satwa seperti penyu, maka penulis menyarankan Anda untuk mengunjungi Pulau Pramuka, Pulau Semak Daun, Pulau Kepala dan Pulau Panggang.
  2. Jika Anda memiliki hobi suka melakukan Diving di laut, plus ingin melihat bekas-bekas kapal karam, penulis menyarankan Anda untuk mengunjungi Pulau Opak dan Pulau Karang Congkak.
  3. Jika Anda memiliki hobi wisata bahari alami, artinya tidak terdapat di dalamnya pengelolaan yang dilakukan pemerintah ataupun pihak swasta, maka penulis menyarankan untuk mengunjungi Pulau Panjang, Pulau Putri, Pulau Pelangi dan Pulau Perak.
  4. Jika Anda tergolong orang yang suka snorkeling, penulis menyarankan untuk mengunjungi Pulau Semut, Pulau Karang Kroja, Pulau Kotok Besar, dan Pulau Gosong Laga.
  5. Bila Anda pencinta burung dan sangat menyukai aneka jenis suara burung, maka penulis menganjurkan untuk mengunjungi pulau kerajaan.
  6. Jika Anda ingin melihat para penderita kusta atau ingin tahu sebuah rumah sakit yang disiapkan secara khusus untuk penderita penyakit kusta, maka kunjungilah Pulau Bidadari.
  7. Jika Anda tergolong orang yang suka melihat peninggalan-peninggalan Belanda saat menjajah negeri ini, plus benteng yang memiliki air tawar yang jernih dan bersih, maka kunjungilah Pulau Kahyangan.
  8. Nah, bagi Anda yang memiliki hobi memancing, maka kunjungilah pulau Damar. Di pulau ini juga terdapat mercusuar yang sudah cukup lama usianya. Mercusuar tersebut dibangun masa pemerintahan Hindia Belanda, tepatnya di tahun 1879.

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution

MASJID ISTIQLAL, KEBANGGAAN BANGSA INDONESIA



Sebagai rakyat Indonesia kita merasa bangga atas keberadaan Masjid Istiqlal. Alasannya, masjid ini tercatat sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara. Masjid Istiqlal dibangun di atas lahan seluas 9,5 hektar. Di sana juga terdapat halaman parkir, taman yang luas, kolam air mancur, dan sungai yang mengelilinginya.

Coba bayangkan, pembangunan Masjid Istiqlal menghabiskan dana sebesar 7 miliar rupiah dan US$12 juta. Ditambah dengan sumbangan dari rakyat Indonesia berupa semen, kayu, maupun batu bata. Pembangunan ini pun dilakukan pada tahun 1960-an. Wow, menakjubkan! Tahun 1960 untuk mendapatkan uang sebanyak itu sangatlah tidak mungkin jika dipikir dengan logika kita. Karena pada zaman tersebut kondisi perekonomian Indonesia belumlah stabil.

Pembangunan Masjid Istiqlal sendiri memerlukan waktu selama 17 tahun. Dibangun mulai tahun 1961 di era Presiden Soekarno dan diresmikan pada 22 Februari 1978 oleh Presiden Soeharto.

Sebenarnya, lokasi Masjid Istiqlal dahulu merupakan Benteng Belanda. Pada saat itu, Presiden Republik Indonesia ke-1 yaitu Ir. Soekarno menyetujui untuk menghancurkan benteng tersebut dan membangun Masjid Istiqlal. Menurut Presiden Soekarno, penghancuran Benteng Belanda itu sebagai simbol perpindahan zaman yaitu zaman penjajahan menuju kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, Masjid Istiqlal sebagai simbol kemerdekaan Bangsa Indonesia. Pembangunan masjid ini sebagai wujud rasa syukur Bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaannya. Nama Istiqlal itu sendiri berasal dari Bahasa Arab yang berarti kemerdekaan.

Perlu diketahui bahwa apabila dilihat dari jumlah jemaahnya, Masjid Istiqlal merupakan masjid terpadat ketiga di dunia setelah Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Kapasitas masjid ini mampu menampung 200.000 orang. Hal ini akan terlihat semakin padat pada saat Idul Fitri maupun Idul Adha hingga para jemaah menempati jalan raya. Untuk shalat jumat saja, jumlah jemaah mencapai 30 hingga 50 ribu orang.

Di Masjid Istiqlal ini tidak hanya untuk dikunjungi oleh orang-orang muslim saja tetapi non muslim pun dapat berkunjung ke masjid ini. Karena di tempat ini juga diadakan acara dialog agama. Masjid Istiqlal buka mulai pukul empat pagi hingga pukul sepuluh malam. Hanya di bulan Ramadhan saja masjid buka 24 jam.

Masjid Istiqlal memiliki empat bagian gedung, diantaranya: pertama, Gedung Induk merupakan tempat shalat utama berkapasitas 16 ribu orang dan memiliki 12 pilar. 12 pilar ini melambangkan tanggal kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Pada bagian gedung induk terdiri atas lima lantai yang merupakan lambang Rukun Islam dan Pancasila.

Kedua, Gedung Penghubung. Letaknya di lantai atas.dapat menampung 8 ribu orang. Di atasnya terdapat sebuah kubah berdiameter 8 meter. Hal ini melambangkan bulan kemerdekaan Indonesia yaitu Agustus.

Ketiga, teras raksasa berukuran 19.800 meter persegi dan dapat menampung 50 ribu jemaah. Biasanya di tempat ini digunakan berbagai kegiatan seperti manasik haji, kegiatan keagamaan hingga syuting film.

Keempat, menara dan beduk. Menara Istiqlal mencapai 66,66 meter. Hal ini melambangkan jumlah ayat Al-qur’an 6.666 ayat. Puncak menara terbuat dari baja tahan karat seberat 28 ton dan tinggi 30 meter. Diameter beduknya mencapai 1,7 meter.

Oleh: Wahyu Inayah