Tampilkan postingan dengan label museum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label museum. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Oktober 2014

Indahnya Gua Putri Baturaja di Sumatera Selatan


1. Papan Sambutan Kepada Pengunjung

Jika anda tengah mengunjungi Sumatera Selatan, sempatkanlah diri anda untuk melangkahkan kaki ke salah satu kabupatennya yang bernama Ogan Komering Ulu. Di sana anda bisa menemukan sebuah gua yang dipenuhi stalaktit dan stalagmit. Menurut legenda masyarakat sekitar, keberadaan Gua Putri ini erat kaitannya dengan legenda Si Pahit Lidah. Dahulu kala, ada seorang putri cantik bernama Dayang Merindu yang merupakan selir Prabu Amir Rasyid. Pada suatu pagi, Dayang Merindu mandi di Sungai Semuhun. Saat ia mandi, seorang pengembara yang dikenal sebagai Si Pahit Lidah muncul dan lewat di hadapannya. Si Pahit Lidah ingin menyapa Dayang Merindu, namun kehadirannya tidak digubris sama sekali. Mendapat perlakuan seperti itu, Si Pahit Lidah pun berkata bahwa sikap diamnya Dayang Merindu seperti batu. Seketika, Dayang Merindu pun berubah menjadi batu. Si Pahit Lidah kemudian melanjutkan perjalanan menuju desa di mana Keluarga Dayang Merindu berdiam. Namun apa yang dilihatnya tidak seperti desa karena sepi sekali. Si Pahit Lidah pun berujar bahwa desa sepi itu seperti gua. Dalam sekejap, desa itu pun berubah menjadi gua.

Gua Putri merupakan salah satu objek wisata arkeologi yang patut dikunjungi. Aneka stalaktit yang menggantung di langit gua dan stalagmit yang melekat di lantai gua, serta cahaya redup yang muncul dari beberapa lampu di dalam gua membuat gua ini terlihat ajaib. Untuk dapat menyusuri gua, anda tidak perlu menunduk bahkan sampai merangkak karena Gua Putri memiliki lebar sekitar 20 m dan tinggi sekitar 20 m. Memasuki gua, anda akan menemukan kumpulan stalakmit yang menyerupai panggung kecil, sementara di sampingnya anda akan menemukan aliran air Sungai Semuhun yang menyerupai kolam. Tidak jauh dari kolam, anda akan menemukan stalakmit yang menyerupai tungku memasak. Selain itu, anda juga akan menemukan hamparan karst yang seperti panggung, di mana pada sisi belakang terdapat untaian stalaktit berukuran kecil dan besar. Di sisi hamparan karst tersebut, terdapat aliran Sungai Semuhun yang dulunya diyakini sebagai tempat permandian para putri. Konon, tempat mandi ini diyakini dapat mewujudkan keinginan siapa saja yang mandi di sana.


2. Gua Putri Baturaja

Melihat aneka stalaktit-stalakmit di dalam gua dapat menyegarkan mata, terutama bagi mereka yang sehari-harinya bergelut di keramaian kota. Ditambah suara gemercik air di dalam gua, dapat membuat pikiran kita lebih rileks. Selain menyuguhkan keindahan gua, pihak pengelola juga menyiapkan kedai makanan-suvenir, museum Si Pahit Lidah, dan juga ruang pertunjukan. Di dalam museum tersebut, tersimpan aneka kerangka manusia purba. Untuk mencapai Gua Putri, pengunjung bisa menggunakan moda transportasi apa saja yang sampai ke Desa Padang Bindu, Semidang Aji, OKU. Jika anda berangkat dari Kota Palembang, jarak yang ditempuh sekitar 230 km dengan waktu tempuh sekitar 7 jam. Bila tidak menggunakan kendaraan pribadi, anda bisa menggunakan jasa travel yang berangkat dari Palembang. Biasanya travel-travel ini mudah ditemukan di areal parkir Pasar 16 Ilir, Pangkal Jembatan Ampera, dan Pamor (Depan RM Pagi Sore Kertapati). Untuk dapat memasuki kawasan Gua Putri, setiap pengunjung dipungut retribusi sebesar Rp 5000,00 untuk pengunjung dewasa, Rp 3000,00 untuk pelajar, dan Rp 2500,00 untuk pengunjung anak-anak.

Gua Putri adalah salah satu tujuan wisata yang cukup populer di Sumatera Selatan. Di luar legendanya, Gua Putri adalah salah satu bukti keagungan Ilahi yang menciptakan sebuah gua besar dengan sedemikian indahnya. Tunggu apa lagi? Ayo menyusuri Gua Putri. Ayo ke Sumatera Selatan!

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://milanistibaturaja.files.wordpress.com/2013/04/images-1.jpg
2. http://news.liputan6.com/read/2078686/menikmati-stalaktit-dan-stalagmit-di-gua-putri-baturaja

Senin, 29 September 2014

Menikmati Keindahan Nisan Bergaya Kolonial di Museum Taman Prasasti


1. Museum Taman Prasasti

Jika selama ini anda mengunjungi museum untuk mengamati koleksi dan benda peninggalan yang terpajang, mungkin anda boleh mencoba penelusuran museum dengan pengalaman yang berbeda. Di mana itu? Tentu saja di Museum Taman Prasasti yang berada di Tanah Abang Jakarta. Mengapa museum ini bisa memberikan pengalaman yang berbeda? Karena di museum ini, anda tidak akan melihat koleksi yang terpajang di atas meja ataupun di dalam lemari kaca. Di dalam Museum Taman Prasasti, anda akan menemukan berbagai kuburan tua yang merupakan tempat peristirahatan terakhir para tokoh penting berkebangsaan Eropa pada masa kolonial. Museum Taman Prasasti berdiri di atas tanah dengan luas 1,2 Ha, di mana di dalamnya terdapat berbagai koleksi nisan, prasasti, dan patung yang memiliki nilai seni dan sejarah yang tinggi.

Dahulu TPU ini bernama Kerkhof Laan dan menjadi pemakaman Eropa paling besar di Asia. Ketika dibangun pada tahun 1795, TPU ini bertujuan untuk mengantisipasi lonjakan penduduk Batavia yang semakin meningkat pesat. Pada tahun 1808, TPU ini menerima banyak nisan yang dipindahkan dari kuburan lain, seperti dari Gereja Belanda yang ada di Kota, yang kini telah menjadi Museum Wayang dan dari Gereja Sion. Pemindahan nisan ini dilakukan atas perintah Daendels yang melakukan pelarangan terhadap tradisi menguburkan jenazah di gereja atau di tanah pribadi. Diperkirakan, batu nisan di Kerkhof Laan yang dulunya berjumlah 4600, kini hanya tersisa 1242 buah. Sebelumnya pemakaman ini juga dikenal sebagai pemakaman Kebon Jahe Kober dan dimanfaatkan sejak tahun 1795. Pada tahun 1795, tepatnya pada saat kepemimpinan Ali Sadikin, pemakaman ini ditutup. Sebagian kerangka dibawa pulang oleh kerabat ke Belanda, sementara sisanya masih dipertahankan, kemudian ditata ulang dan dijadikan Museum Taman Prasasti. Pada tahun 1977, pemakaman ini diresmikan sebagai Museum Taman Prasasti oleh Ali Sadikin selaku Gubernur DKI Jakarta.

Pada saat masuk ke kompleks pemakaman, pengunjung akan menemukan sebuah lonceng terbuat dari perunggu yang terdapat pada pintu gerbang. Dahulu lonceng digunakan untuk memberikan isyarat atau tanda bagi petugas pemakaman, dentang pertama menandakan berita kematian, sedangkan dentang yang terus-menerus menandakan kedatangan jenazah, lonceng akan berhenti berdentang apabila jenazah telah sampai di gerbang pemakaman. Di dalam sebuah ruangan terdapat satu peti jenazah berukir yang kabarnya dulu digunakan sebagai pembaringan jasad Presiden Soekarno dan satu peti jenazah polos yang disiapkan untuk Mohammad Hatta, namun tidak jadi digunakan.


2. Suasana Museum Taman Prasasti

Di dalam Museum Taman Prasasti ini pengunjung bisa mengamati berbagai nisan para tokoh yang berpengaruh di zaman Hindia Belanda dahulu. Tokoh-tokoh penting yang pernah dimakamkan di museum ini antara lain Dr. H. F. Roll selaku pendiri STOVIA, J.H.R. Kohler selaku tokoh militer di masa Perang Aceh, Miss Riboet selaku tokoh opera era 1930-an, Olivia Raffles yang merupakan istri dari Thomas Stamford Raffles, dan juga Soe Hok Gie aktivis mahasiswa di era 60-an yang wafat di Gunung Semeru sehari sebelum hari ulang tahunnya.


3. Nisan Soe Hok Gie

Museum Taman Prasasti kerap dijadikan sebagai latar fotografi, baik untuk koleksi pribadi, pre wedding, ataupun video klip. Bila anda pernah memperhatikan video klip Ungu-Demi Waktu, anda akan melihat Museum Taman Prasasti sebagai latarnya. Keindahan patung dan nisan bergaya kolonial serta nuansa duka yang tidak menyeramkan membuat tempat ini menjadi menarik untuk dikunjungi. Museum Taman Prasasti ini berada tepat di samping Kantor Walikota Jakarta Pusat. Untuk mencapainya, pengunjung yang menggunakan kendaraan umum bisa menaiki bus Transjakarta rute Blok M-Kota dan Mikrolet 08 rute Tanah Abang-Kota.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://travelmatekamu.com/wp-content/uploads/2014/04/kotawisataindonesia.jpg
2. http://nusapedia.com/uploads/timthumb.php?src=makam.jpg&h=292&w=658
3. http://assets.kompasiana.com/statics/files/2014/03/13952189971335921247.jpg

Senin, 25 Agustus 2014

Mempelajari Perjuangan Palembang Pada Masa Penjajahan di Monumen Perjuangan Rakyat


1. Monpera Tampak Depan

Pada zaman penjajahan dahulu, Belanda tidak hanya menguasai Jawa dan daerah timur Indonesia, Belanda juga melebarkan sayapnya ke sebelah barat Indonesia yakni Pulau Sumatera. Salah satu wilayah Sumatera yang ikut dikuasai oleh Belanda adalah Kota Palembang. Peristiwa peperangan yang paling amat dikenal adalah pertempuran lima hari lima malam. Bagaimanakah suasana peperangan saat itu? Masyarakat yang kurang bisa membayangkan bagaimana peristiwa pertempuran itu bisa mengunjungi Monumen Perjuangan Rakyat Palembang dan melihatnya pada relief yang terpampang di dinding Monpera.

Monumen Perjuangan Rakyat atau biasa disebut Monpera berdiri pada tanggal 23 Februari 1988 dan difungsikan untuk menyimpan benda bersejarah seperti senjata, patung pejuang, baju dinas para pejuang, dan juga relief, terkhusus benda peninggalan pertempuran lima hari lima malam. Bangunan Monpera ini berdiri megah di Jalan Merdeka persis berseberangan dengan Masjid Agung Palembang. Letaknya yang berada di pusat kota sangat memudahkan siapa saja untuk mengunjunginya. Ada yang unik dari monumen ini yakni bentuknya yang seperti enam segitiga terbalik yang saling bertautan. Pada bagian depan museum terdapat replika burung Garuda berwarna hitam.

Memasuki lantai pertama museum anda akan disambut oleh banyak bingkai foto berisikan gambar perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda. Dinding yang bercatkan warna oranye membuat ruangan museum tidak begitu seram. Selain bingkai foto, di lantai satu ini, pengunjung juga bisa melihat miniatur Monpera dan dua etalase. Etalase pertama berisikan dokumen sejarah dan pariwisata Sumatera Selatan, sedangkan etalase kedua berisikan aneka suvenir khas Sumatera Selatan. Melanjutkan langkah ke lantai dua, pengunjung bisa melihat aneka senjata hasil rampasan saat perang berjumlah 14 pucuk. Senjata-senjata ini sengaja dibuat dalam dinding kaca sehingga pengunjung hanya bisa mengamati dari luar. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi tangan-tangan jahil yang bisa merusak peninggalan sejarah tersebut.


2. Aneka Senjata

Di lantai tiga museum, pengunjung bisa melihat berbagai replika wajah pejuang Sumatera Selatan dan pakaian dinas yang dikenakan pejuang-pejuang tersebut. Masing-masing pejuang tersebut bernama dr. A. K. Gani, Haji Abdul Rozak, Brigjen TNI H. Hasan Kasim, Mayjen TNI H. Bambang Utoyo, Kol. H. Burlian, dan drg M. Isa. Sementara lantai empat dan lantai lima berisikan foto-foto pada masa pertempuran. Selanjutnya di lantai enam yang merupakan lantai puncak terdapat sebuah lubang untuk bisa naik ke atap Monpera. Dari atap Monpera ini, pengunjung bisa melihat pemandangan Kota Palembang bak melihat sudut-sudut Kota Jakarta dari lantai atas Monas. Setiap peringatan Hari Kemerdekaan RI, bendera-bendera merah putih dipasang di puncak Monpera untuk menambah semaraknya Hari Kemerdekaan Indonesia.


3. Lubang untuk Mencapai Atap Monpera

Saat keluar dari ruangan museum, pengunjung bisa mengelilingi badan Monpera dan menemukan dua relief besar berisikan tulisan. Relief pertama bertuliskan “Panglima Besar Soedirman: Korban Sudah Cukup Banyak. Sekali Merdeka Tetap Merdeka”, sedangkan relief kedua bertuliskan “Lebih Baik Hancur Bersama Debu Kemerdekaan Daripada Dijajah. Patah Tumbuh Hilang Berganti”. Beralih dari tempat ini, pengunjung bisa bersantai di gazebo dan taman yang ada di pintu masuk. Bisa dikatakan kawasan Monpera ini terbilang asri karena tak terlihat satu pun pedagang kaki lima yang masuk di wilayah Monpera apalagi di halamannya.

Bagi anda yang ingin mengunjungi Monpera, anda bisa mengarahkan kendaraan pribadi anda menuju Jalan Merdeka, tepatnya di samping Kantor Pos Pusat dan di depan Masjid Agung Palembang. Jika anda menggunakan angkutan umum, anda bisa menggunakan Bus Jurusan Plaju atau Kertapati, lalu turun di simpang Jembatan Ampera lalu menyeberang menuju Monpera. Akan lebih enak jika anda menggunakan Bus Jurusan Bukit ataupun oplet jurusan Ampera, karena angkutan-angkutan umum tersebut melintas tepat di depan Monpera. Bagi pengunjung tidak diperbolehkan untuk membawa makanan dan minuman ke dalam museum. Jika anda merasa lapar, anda bisa berjalan menyusuri lorong di samping Monpera yang dipenuhi banyak pedagang makanan. Monumen Perjuangan Rakyat ini buka setiap hari Selasa sampai Minggu pukul 08.00-15.30 WIB, kecuali hari libur nasional. Dengan tiket masuk seharga Rp 2000,00, pengunjung bisa mengetahui perjuangan Palembang lewat foto dan benda peninggalan lainnya dalam monumen berlantai enam ini.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://littlegreenangel.blogspot.com/2014/07/monpera-monumen-perjuangan-rakyat.html
2. http://pastipanji.wordpress.com/2010/09/22/jalan-jalan-di-bumi-sriwijaya-palembang-bagian-2/
3. http://littlegreenangel.blogspot.com/2014/07/monpera-monumen-perjuangan-rakyat.html

Kamis, 17 Juli 2014

Menikmati Nuansa Tempo Dulu di Kota Tua Jakarta

Rasa-rasanya kita pasti tak akan pernah lupa bahwa dahulunya Indonesia pernah dikuasai Belanda selama 350 tahun. Memang kita yang hidup di era sekarang tidak merasakannya secara langsung, tetapi buku sejarah, berita, dan peninggalan-peninggalannya-lah yang membuat kita tahu. Bukti-bukti itu bisa kita lihat secara langsung lewat bangunan-bangunan buatan Belanda yang hingga kini masih berdiri megah di beberapa tempat di Indonesia. Jakarta, yang dulunya disebut Batavia merupakan tempat di mana bangunan berarsitektur kolonial banyak berdiri. Sebut saja Kota Tua, yang kini dijadikan kawasan Cagar Budaya.


(Dokumentasi Pribadi)

Arsitektur bangunan yang bercorak tempo dulu membuat Kota Tua menjadi tempat bertemunya orang-orang pecinta sejarah, begitu juga dengan para seniman fotografi yang gemar memotret gedung-gedung megah di kawasan itu. Ada enam lokasi bersejarah di Kota Tua yaitu Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Wayang, Museum Mandiri, Stasiun KA Kota, dan Pelabuhan Sunda Kelapa. Museum Fatahillah adalah tempat yang paling pas bagi anda yang berhasrat menelusuri jejak sejarah Kota Jakarta. Untuk memasuki museum-museum, anda akan dikenakan tarif murah.

Selain mengunjungi museum, anda juga bisa bersepeda layaknya meneer dan mevrouw. Tentu saja sepeda yang disediakan adalah sepeda onthel zaman dahulu, bukan sepeda modern di zaman sekarang. Dengan sepeda onthel, anda bisa berkeliling kawasan Kota Tua, hingga ke Pelabuhan Sunda Kelapa yang letaknya agak jauh dari pusat Kota Tua.

Kota Tua selalu ramai, baik itu diramaikan pengunjung ataupun para pedagang. Ada hal yang menarik di Kota Tua sejak tahun 2013 lalu, yaitu kehadiran manusia batu. Manusia batu adalah orang-orang yang mengubah penampilannya menjadi seperti orang-orang di zaman penjajahan Belanda. Manusia batu yang pria berperan selayaknya prajurit sedangkan yang wanita berperan selayaknya None Belanda. Para pengunjung yang ingin berfoto dikenakan tarif sukarela, masing-masing mereka telah menyediakan kotak sukarela. Kehadiran manusia batu telah menambah atmosfer tempo dulu, di mana dahulunya hanya ada meriam Si Jagur di halaman Museum Sejarah Jakarta yang berwujud barang.

Setelah merasa puas mengelilingi Kota Tua, umumnya para pengunjung akan lapar. Namun jangan khawatir, karena di setiap sudut Kota Tua anda akan menemukan berbagai pedagang makanan kaki lima, bahkan café. Kerak telor, gado-gado, nasi goreng, dan makanan murah lainnya ada di sana. Jika anda ingin merasakan makanan luar, anda bisa mencicipi sajian makanan di Café Batavia. Di sana anda bisa menikmati makanan dan minuman Barat, Cina, dan juga Indonesia, dengan kisaran harga Rp 32.000 – Rp 200.000. Berdasarkan ulasan dari beberapa pengunjung Café Batavia, makanan dan minuman di café itu kurang mengena di lidah orang lokal, tapi jika anda ingin mencoba secara langsung, silakan kunjungi Café Batavia di Taman Fatahillah, Kota Tua. Mengenai makanan lokal, anda bisa menemukan kuliner khas Jakarta di halaman dalam Museum Sejarah Jakarta, seperti Kerak Telor, Tauge Goreng, dan Es Selendang Mayang.


(Dokumentasi Pribadi)

Untuk sampai ke Kota Tua, anda bisa menggunakan kereta, busway, dan mikrolet. Tunggu apalagi? Ayo ke Kota Tua, jaga kelestarian, kebersihan, dan keindahannya.

Oleh : Rahel Simbolon

Senin, 07 Juli 2014

Yuk Berwisata ke Candi Buddha Terbesar di Dunia

Candi Borobudur merupakan salah satu candi bercorak Buddha yang berada di Magelang, Jawa Tengah. Seperti yang telah kita ketahui, Candi Borobudur merupakan salah satu peninggalan kerajaan Buddha yang didirikan oleh wangsa Syailendra, dengan jumlah relief sebanyak 1460 dan stupa sebanyak 504. Maha karya Buddha satu ini menjadi candi sekaligus monumen Buddha yang terbesar di seantero dunia. Mungkin jika dilihat sekilas, setiap tingkatan, setiap stupa, dan setiap relief pada Candi Borobudur sama saja, tapi ternyata setiap tingkatan memiliki cerita yang berbeda.


(Dokumentasi Pribadi)

Candi Borobudur memiliki empat tingkatan, di mana setiap tingkatan merupakan lambang dari tahapan hidup manusia. Tingkatan pertama atau dasar adalah tingkatan Kamadhatu, di mana melambangkan kehidupan manusia yang terikat kepada hawa nafsu. Tingkatan kedua adalah Rupadhatu, di mana melambangkan manusia yang telah bebas dari hawa nafsu namun masih terikat. Tingkatan ketiga adalah Arupadhatu, di mana melambangkan kehidupan manusia yang telah bebas dari hawa nafsu. Tingkatan keempat atau paling atas bernama Arupa, yang melambangkan nirwana, di mana tempat Sang Buddha berdiam. Selain keempat tingkatan ini, masih ada relief-relief yang terlihat indah, yang bercerita tentang Kisah Ramayana, keadaan pertanian dan pelayaran masyarakat di zaman itu.


(Dokumentasi Pribadi)


(Dokumentasi Pribadi)

Selain candi, objek wisata Candi Borobudur juga menyediakan fasilitas pokok lainnya yaitu museum Borobudur dan museum Kapal Raksasa. Di dalam museum Borobudur, para pengunjung bisa melihat berbagai potret relief yang tidak terlihat pada candi, potret pemugaran Candi Borobudur yang kedua kalinya, patung Buddha yang belum selesai, arca Candi Hindu dan miniatur Borobudur. Pengunjung tidak dikenakan biaya untuk memasuki museum ini. Sementara museum Kapal Raksasa merupakan tempat diletakkannya Kapal Samudera Raksasa yang dulu digunakan nenek moyang Indonesia untuk mengarungi samudera hingga ke Afrika. Sama halnya dengan museum Borobudur, museum Kapal Raksasa juga tidak mengenakan biaya bagi para pengunjung.

Bagi anda yang ingin membawa pulang suvenir khas Borobudur, anda bisa mengunjungi deretan kios di luar area candi. Di sana banyak dijajakan berbagai suvenir seperti miniatur Borobudur, gantungan kunci, asbak, pakaian, dan sebagainya. Namun, jika anda tidak sempat mengunjungi perkiosan tersebut, anda bisa memanfaatkan pedagang-pedagang suvenir yang berdagang di sekitar candi. Biasanya pedagang-pedagang ini menggunakan nampan bulat besar sebagai tempat suvenir berupa gantungan kunci yang bervariasi dengan harga Rp 1000,00. Ada yang menjual pakaian dengan membawa kantung besar dan ada juga yang menjual miniatur Borobudur.

Keberadaan Candi Borobudur dapat dicapai dengan menggunakan kendaraan umum dan pribadi. Jika anda hendak menggunakan angkutan umum, anda bisa memilih berbagai bus dengan trayek Jogja-Borobudur dari Terminal Jombor ataupun Giwangan. Sementara jika anda hendak menggunakan kendaraan yang lebih nyaman, anda bisa menyewa mobil di berbagai penyewaan mobil yang tersebar di Jogja. Candi Borobudur buka setiap hari mulai pukul 06.00-17.00 WIB, dengan tarif masuk sebesar Rp 30.000,- bagi wisatawan domestik, Rp 12.500,- bagi wisatawan domestik anak-anak, U$D 15 bagi wisatawan mancanegara, dan U$D 8 bagi wisatawan mancanegara yang menggunakan kartu pelajar.

Oleh : Rahel Simbolon

Selasa, 17 Juni 2014

Menggali Pesona Kudus

Jika kita mendengar nama Kota Kudus maka tak ayal yang terbentang di isi kepala adalah tentang industri rokoknya. Tidak salah memang, perusahaan rokok sudah dirintis dan berkembang pesat di Kudus sejak abad ke 19, sejak itu pula muncul perusahaan-perusahaan lain yang merajai pasar dan masih eksis hingga saat ini.

Meskipun begitu, kabupaten yang terletak di Jawa Tengah ini juga menyimpan keunikannya sendiri. Seperti gadis kecil, kecantikan Kudus masih terlihat malu-malu dan kalah gemerlap dengan nama besar industri rokoknya.

Padahal jika kita mau menggali ada beberapa tempat menarik yang dapat dikunjungi di kota ini, diantaranya adalah:

  1. Menara Kudus

    Bangunan kuno ini diperkirakan dibangun pada abad ke 16 oleh Ja’far Sodiq atau Sunan Kudus, salah seorang ulama besar waktu itu. Menara ini sesungguhnya berdiri di dalam kompleks masjid, sekaligus makam Sunan Kudus sendiri.

    Yang membuat bangunan ini unik yaitu bentuknya yang juga menyerupai candi, bahkan di area depan terdapat gapura yang juga asli dengan arsitektur hindu yang kental. Hal-hal ini disebut-sebut sebagai bukti bahwa Islam di Kudus waktu itu diajarkan dengan jalan akulturasi budaya sehingga berjalan dengan sukses.


    Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

    Di sekitar menara ini terdapat kompleks pedagang karena sampai sekarang kompleks Menara Kudus masih ramai dikunjungi peziarah, terutama pada malam Jum’at. Karena keeksotisannya dan kekentalannya terhadap Islam, kompleks Menara Kudus ini pernah digunakan tempat pengambilan gambar dalam sebuah film lokal.

  2. Wisata Colo

    Kudus bagian utara merupakan daerah pegunungan yang terkenal dengan nama Gunung Muria. Di kaki Gunung Muria inilah desa Colo berada. Dengan kenampakan alam khas pegunungan dan cuaca yang lembut membuat banyak wisatawan yang datang kemari untuk berlibur melepas lelah. Jika saat sore tiba kadang-kadang kita bisa melihat atlet-atlet bulu tangkis klub Djarum sedang berlatih di sini.

    Daerah Colo juga terdapat makam seorang ulama yang terkenal dengan nama Sunan Muria. Beliau merupakan salah seorang ulama besar yang menyebarkan agama Islam di sekitar gunung Muria. Pada hari-hari tertentu daerah ini juga ramai oleh peziarah yang ingin melakukan wisata rohani.


    Sumber Gambar: https://rumahedelweiss.files.wordpress.com/2011/07/colo.jpg

    Wisatawan juga dapat bermain di air terjun di daerah ini, meskipun tidak terlalu besar tapi air yang sejuk cukup bermanfaat untuk melepas stres.Untuk memfasilitasi pengunjung, pemerintah telah membangun sebuah hotel yang cukup baik di daerah ini.

  3. Mata Air Tiga Rasa

    Jika kita meneruskan perjalanan dari air terjun Montel yang terletak di kawasan Colo, maka kita dapat mencapai sebuah tempat yang tenang dan teduh karena dikelilingi pepohonan besar. Tempat ini sesungguhnya juga merupakan sebuah makam seorang ulama, namun yang terkenal di sini yaitu 3 buah mata air yang memiliki rasa berbeda. Inilah yang dinamakan Mata Air Tiga Rasa.


    Sumber Gambar: http://www.tempatwisatamu.com/wp-content/uploads/2013/11/kudus-3-rasa.jpg

    Untuk mencapai daerah ini pengunjung dapat berjalan kaki atau menyewa jasa ojek dari kawasan Colo. Perkebunan kopi muria akan terlihat di kanan kiri jalan menuju tempat ini. Mata Air Tiga Rasa relatif masih sepi karena tidak semua kalangan mengetahui kawasan wisata ini.

  4. Museum Kretek

    Museum ini merupakan museum yang berisi dokumentasi tentang segala hal yang berhubungan dengan produksi rokok di Kudus. Di sini pengunjung dapat mengamati alur sejarah industri rokok, termasuk bungkus-bungkus rokok asli bahkan dari zaman sebelum Indonesia merdeka.


    Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

    Pengunjung juga akan mengetahui cara-cara membuat rokok tradisional dari diorama yang dipertontonkan di museum ini. Alat-alat pembuat rokok asli juga dipajang di sini. Di halaman museum terdapat rumah asli khas Kudus dengan perabotan yang juga semakin menggambarkan kondisi sebenarnya.

    Baru-baru ini juga dibangun arena bermain air sehingga anak-anak juga bisa belajar sekaligus berlibur di museum ini.

Oleh: Arena Bayu

Rabu, 26 Februari 2014

Menelusuri Jejak Sejarah di Benteng Vredeburg

Jogja, salah satu kota besar di Pulau Jawa yang terkenal akan kebudayaannya. Bagi anda yang belum pernah ke Jogja, mari datang dan lihat betapa indahnya kota ini. Jogjakarta memiliki banyak objek wisata yang dapat dikunjungi. Ada Candi Prambanan, Pantai Parangtritis, Kebun Binatang Gembira Loka, Keraton, Alun-alun Kidul, dan lain sebagainya. Itulah sebagian objek wisata yang umumnya dikunjungi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara dan kali ini saya akan memperkenalkan objek wisata yang cukup berbeda yaitu Museum Benteng Vredeburg, sebuah museum yang baru saja saya kunjungi di Bulan Januari yang lalu.

Museum Benteng Vredeburg adalah sebuah benteng sekaligus museum peninggalan Belanda, terletak di Jl. Jend. A. Yani No. 6 Jogjakarta, tidak jauh dari Malioboro pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Jogja. Untuk masuk ke dalam Museum ini, pengunjung cukup membayar Rp 2000,00 bagi pengunjung dewasa dan setengahnya bagi pengunjung anak-anak. Ada dua jalan yang dibuka untuk masuk ke dalamnya. Jalan pertama yaitu melalui pintu gerbang depan yang disusul jembatan kecil yang mencuatkan air mancur di sisi kanan dan kiri, sementara jalan kedua melalui Taman Budaya yang letaknya persis di belakang Museum Benteng Vredeburg.



Saat itu kami baru saja mengunjungi Taman Budaya dan melanjutkan perjalanan kami ke Benteng Vredeburg melalui pintu belakang. Karena masuk melalui pintu belakang, maka hal pertama yang kami lihat adalah petunjuk arah untuk menelusuri benteng tersebut.



Petunjuk adanya diorama membelokkan arah kami menuju diorama yang dimaksud. Sungguh menakjubkan apa yang kami lihat saat memasuki gedung tersebut. Hal-hal bersejarah yang biasanya hanya dapat kita ketahui melalui buku-buku sejarah tergambar jelas pada minirama-minirama di dalam diorama tersebut.

Terdapat 4 diorama yang dapat dikunjungi, tetapi karena kami masuk melalui pintu belakang, diorama yang pertama kami kunjungi ialah diorama 3 yang berisikan perjalanan sejarah yang dimulai dari tercetusnya perjanjian Renville hingga pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat.



Melanjutkan perjalanan menuju diorama 4, kami memasuki sebuah ruangan yang tampak tak terawat. Jangan kaget bila saat membuka pintu, ada kotak kaca berisikan replika pakaian pejuang semasa G-30 S/PKI yang akan menyambut di ujung lorong. Ruangan itu tampak sedikit menyeramkan, membuat kita seakan mampu merasakan aura kekejaman PKI di masa dulu.



Tidak terlalu banyak yang harus disusuri di dalam diorama 4. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju diorama 1.



Diorama 1 berisikan peristiwa-peristiwa penting mengenai zaman Diponegoro hingga kependudukan Jepang di Jogja. Melanjutkan perjalanan ke Diorama 2, kami melewati banyak minirama yang menggambarkan peristiwa Proklamasi hingga terjadinya Agresi Militer.

Saat keluar dari pintu diorama 2, dua buah meriam dan dua buah patung Jend. Soedirman menyambut pandangan mata kami. Sungguh patung yang megah. Banyaknya pengunjung yang datang membuat kami harus antre untuk berfoto dengan patung Jend. Soedirman.



Penelusuran kami berhenti tepat di Gedung Pertemuan dan Gedung Audio Visual yang sangat disayangkan tertutup saat itu. Sungguh penelusuran sejarah yang menyenangkan. Banyak hal yang kami dapatkan dari penelusuran di Benteng ini. Hari sudah sore saat kami menyelesaikan penelusuran, kami pun memutuskan untuk pulang dan meninggalkan Benteng yang indah ini. Kami berjanji, di waktu mendatang, kami akan kembali lagi ke Benteng ini, informan bisu yang telah menceritakan banyak sejarah mengenai tanah air.

Oleh : Rahel Simbolon