Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Oktober 2014

Merasakan Suasana Kelam di Pulau-pulau Kepulauan Seribu

Tempat wisata yang seram hampir selalu menarik minat mereka yang punya jiwa pemberani dan selalu tertantang, tanpa terkecuali orang-orang Indonesia. Di Indonesia sendiri, ada banyak tempat yang dianggap angker dan selalu dijadikan tempat uji nyali. Jika selama ini, kita hanya mengenal keangkeran pada rumah dan kuburan, cobalah untuk merasakan keangkeran sebuah pulau. Rasakanlah bagaimana atmosfer sebuah pulau yang tak berpenghuni. Jangan kira pulau-pulau seperti itu hanya ada di luar negeri saja. Tidak! Indonesia juga memiliki pulau-pulau tak berpenghuni dan dianggap angker. Di manakah itu? Cobalah langkahkan kaki anda menuju satu kepulauan di sekitar Jakarta, yakni Kepulauan Seribu. Selama ini Kepulauan Seribu dikenal sebagai kepulauan yang dihuni oleh pulau-pulau cantik seperti Pulau Pramuka, Pulau Tidung, dan Pulau Pari. Namun siapa sangka, beberapa pulau di kepulauan tersebut sangat sunyi dan diisi dengan bangunan-bangunan kuno bekas zaman kolonial. Di satu sisi, pulau-pulau ini memang bisa dijadikan sebagai tujuan wisata sejarah. Namun bila malam tiba, pulau-pulau ini menjadi seram. Banyak juga pengunjung yang merasa takut dengan kesunyian pulau-pulau tersebut. Jika anda merasa tertantang, cobalah untuk datang ke pulau ini :

  • Pulau Onrust

    Pulau ini merupakan salah satu yang terdekat dari Pelabuhan Muara Angke. Di sini terdapat pusat Taman Arkeologi Onrust, reruntuhan bangunan Belanda, makam Kartosoewirjo (tokoh DI/TII pada masa pemerintahan Soekarno), kuburan Belanda, museum, sumur, penjara, dan benteng. Salah satu pengunjung yang pernah bermalam di Pulau Onrust berujar bahwa di Onrust tidak ada listrik bila malam tiba. Dan yang lebih seramnya lagi, beberapa pengunjung pernah mengaku melihat penampakan seorang noni Belanda yang membawa lentera putih. Memang Onrust memiliki panorama sunset yang begitu menawan, namun ketika hari semakin gelap, bangunan-bangunan tua Onrust terlihat seram, suasana pun menjadi semakin horor. Meskipun begitu Pulau Onrust cukup sering didatangi oleh pengunjung yang ingin berkemah. Di sana juga terdapat penjaga yang menjual makanan dan minuman.


    1. Makam Keramat

  • Pulau Karya

    Pulau ini berada di tengah di antara pulau-pulau lainnya di Kepulauan Seribu dan bertetangga dengan Pulau Panggang. Saat ini Pulau Karya dijadikan sebagai kantor pemerintahan Kepulauan Seribu dan Tempat Pemakaman Umum. Meskipun begitu Pulau Karya memiliki sejarah kelam. Sebelumnya pulau ini diberi nama Pulau Kuburan Cina. Fakta sejarah menyebutkan bahwa dulunya Pulau Karya dijadikan sebagai tempat pelarian etnis Tionghoa dari kerja paksa Ratu Elizabeth. Oleh karena tidak memiliki obat, mereka pun meninggal satu per satu dan dikuburkan di Pulau Karya.

  • Pulau Kelor

    Pulau ini berukuran lebih kecil dan berhadapan dengan Pulau Onrust. Saking kecilnya, pengunjung bisa mengelilinginya hanya dengan berjalan kaki dengan waktu 10 menit. Tidak ada satu pun bangunan rumah, warung, apalagi penginapan di pulau ini. Hanya ada sebuah benteng berwarna merah bata bernama Benteng Martello. Benteng ini dibangun pada abad ke-17 oleh Belanda untuk dijadikan sebagai menara pengawas dan pertahanan dari Inggris. Suasana malam pulau ini sangatlah gelap, tanpa cahaya sedikit pun. Angin yang berembus pun kencang sekali. Pengunjung yang tengah kemping dan merasa kedinginan bisa berlindung di Benteng Martello.


    2. Benteng Martello

  • Pulau Cipir

    Pulau satu ini bertetangga dengan Pulau Onrust dan Pulau Kelor. Sama seperti Pulau Onrust, Pulau Cipir juga memiliki reruntuhan bangunan Belanda yakni reruntuhan rumah sakit yang langsung menghadap ke laut. Menurut sejarah, pada masa penjajahan Belanda dahulu, rumah sakit ini pernah menjadi rumah sakit karantina bagi mereka yang memiliki penyakit menular dan juga sebagai tempat karantina para jamaah haji. Pulau ini terlihat semakin angker manakala melihat tembok-tembok bangunan berwarna gelap itu. Ditambah lagi tanaman-tanaman liar yang tumbuh di beberapa sudut. Ada satu lagi rumah singgah di zaman Belanda yang masih berdiri kokoh hingga sekarang. Jika merasa punya nyali yang kuat, silakan masuk dan rasakan atmosfer di dalamnya.


    3. Reruntuhan Rumah Sakit

Bagaimana? Keempat pulau ini memiliki kisah kelam masing-masing dan yang pasti bisa menjadi tujuan wisata yang seru. Meskipun terkesan seram, bangunan-bangunan sejarah ini sudah menjadi cagar budaya dan sudah seharusnya kita sebagai warga yang baik harus melestarikan pulau-pulau ini dengan tidak mengotorinya. Ayo segera langkahkan kakimu menuju Kepulauan Seribu!

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://winnyradc.wordpress.com/2013/09/16/mengenal-wisata-jakarta-pulau-onrust-cipir-dan-kelor/
2. http://travel.detik.com/read/2013/05/16/192126/2248206/1383/onrust--3-pulau-horor-lain-di-kepulauan-seribu
3. http://mylittlejourney85.files.wordpress.com/2012/11/pulau-cipir.jpg

Kamis, 17 Juli 2014

Menikmati Nuansa Tempo Dulu di Kota Tua Jakarta

Rasa-rasanya kita pasti tak akan pernah lupa bahwa dahulunya Indonesia pernah dikuasai Belanda selama 350 tahun. Memang kita yang hidup di era sekarang tidak merasakannya secara langsung, tetapi buku sejarah, berita, dan peninggalan-peninggalannya-lah yang membuat kita tahu. Bukti-bukti itu bisa kita lihat secara langsung lewat bangunan-bangunan buatan Belanda yang hingga kini masih berdiri megah di beberapa tempat di Indonesia. Jakarta, yang dulunya disebut Batavia merupakan tempat di mana bangunan berarsitektur kolonial banyak berdiri. Sebut saja Kota Tua, yang kini dijadikan kawasan Cagar Budaya.


(Dokumentasi Pribadi)

Arsitektur bangunan yang bercorak tempo dulu membuat Kota Tua menjadi tempat bertemunya orang-orang pecinta sejarah, begitu juga dengan para seniman fotografi yang gemar memotret gedung-gedung megah di kawasan itu. Ada enam lokasi bersejarah di Kota Tua yaitu Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Wayang, Museum Mandiri, Stasiun KA Kota, dan Pelabuhan Sunda Kelapa. Museum Fatahillah adalah tempat yang paling pas bagi anda yang berhasrat menelusuri jejak sejarah Kota Jakarta. Untuk memasuki museum-museum, anda akan dikenakan tarif murah.

Selain mengunjungi museum, anda juga bisa bersepeda layaknya meneer dan mevrouw. Tentu saja sepeda yang disediakan adalah sepeda onthel zaman dahulu, bukan sepeda modern di zaman sekarang. Dengan sepeda onthel, anda bisa berkeliling kawasan Kota Tua, hingga ke Pelabuhan Sunda Kelapa yang letaknya agak jauh dari pusat Kota Tua.

Kota Tua selalu ramai, baik itu diramaikan pengunjung ataupun para pedagang. Ada hal yang menarik di Kota Tua sejak tahun 2013 lalu, yaitu kehadiran manusia batu. Manusia batu adalah orang-orang yang mengubah penampilannya menjadi seperti orang-orang di zaman penjajahan Belanda. Manusia batu yang pria berperan selayaknya prajurit sedangkan yang wanita berperan selayaknya None Belanda. Para pengunjung yang ingin berfoto dikenakan tarif sukarela, masing-masing mereka telah menyediakan kotak sukarela. Kehadiran manusia batu telah menambah atmosfer tempo dulu, di mana dahulunya hanya ada meriam Si Jagur di halaman Museum Sejarah Jakarta yang berwujud barang.

Setelah merasa puas mengelilingi Kota Tua, umumnya para pengunjung akan lapar. Namun jangan khawatir, karena di setiap sudut Kota Tua anda akan menemukan berbagai pedagang makanan kaki lima, bahkan café. Kerak telor, gado-gado, nasi goreng, dan makanan murah lainnya ada di sana. Jika anda ingin merasakan makanan luar, anda bisa mencicipi sajian makanan di Café Batavia. Di sana anda bisa menikmati makanan dan minuman Barat, Cina, dan juga Indonesia, dengan kisaran harga Rp 32.000 – Rp 200.000. Berdasarkan ulasan dari beberapa pengunjung Café Batavia, makanan dan minuman di café itu kurang mengena di lidah orang lokal, tapi jika anda ingin mencoba secara langsung, silakan kunjungi Café Batavia di Taman Fatahillah, Kota Tua. Mengenai makanan lokal, anda bisa menemukan kuliner khas Jakarta di halaman dalam Museum Sejarah Jakarta, seperti Kerak Telor, Tauge Goreng, dan Es Selendang Mayang.


(Dokumentasi Pribadi)

Untuk sampai ke Kota Tua, anda bisa menggunakan kereta, busway, dan mikrolet. Tunggu apalagi? Ayo ke Kota Tua, jaga kelestarian, kebersihan, dan keindahannya.

Oleh : Rahel Simbolon

Selasa, 24 Juni 2014

Sehari Menjelajah Keunikan Pecinan Glodok - 1

Pecinan. Apa yang terlintas dalam benak Anda saat mendengar istilah tersebut? Sebuah wilayah kota yang mayoritas penghuninya adalah warga negara Indonesia keturunan Tionghoa? Sepenggal saksi sejarah keberagaman yang masih tersisa? Atau sederetan gang-gang kecil yang dipenuhi penjaja kuliner dengan kenikmatan yang khas?

Ketiganya tidak salah. Kawasan Pecinan memang dikenal sebagai satu “kampung” kecil, yang menyimpan segudang sejarah keunikan masyarakat Tionghoa yang bermukim di daerah tertentu. Hampir seluruh kota besar di Indonesia memiliki “pecinan”nya masing-masing, hanya saja dengan sebutan yang berbeda-beda. Sebagai salah satu kota besar yang multikultur, Jakarta ternyata juga memiliki kawasan pecinannya sendiri, yang dipusatkan di Glodok, Jakarta Barat.

Berbicara mengenai Pecinan, salah satunya berbicara mengenai identitas sejarah yang dewasa ini semakin terkikis oleh pengaruh modernisasi dan kapitalisme. Miris rasanya, saat mendapati fakta nasionalisme karbitan, yang seketika menyeruak tepat pada saat masyarakat menyadari bahwa mereka telah kehilangan apa yang selama ini “lupa” mereka jaga. Pecinan merupakan salah satu simbol sejarah yang masih tersisa. Keberadaan mereka menunjukkan, betapa Indonesia sejatinya sangat kaya akan kultur, yang tentunya menarik untuk dijelajahi secara lebih mendalam.

Tertarik untuk menjadi salah satu saksi pesona arsitektur dan kuliner khas Tionghoa yang masih tersisa, pada hari itu saya memutuskan untuk melakukan eksplorasi sederhana di kawasan Pecinan Glodok. Berbekal kaki yang siap melangkah, dan semangat untuk menikmati ragam suguhan wisata khas kota lama, saya berhasil menemukan tiga tempat unik yang patut Anda jelajahi di kala senggang.

Kawasan Petak Sembilan

Pedagang kaki lima yang ramai menjajakan dagangannya, lalu lintas yang padat, serta toko-toko elektronik yang berjajar di sepanjang jalan, meyakinkan saya bahwa saya telah sampai di tempat tujuan. Kawasan Petak Sembilan, begitu masyarakat sekitar biasa menyebut salah satu pasar tradisional di daerah Glodok, Jakarta Barat ini. Berbeda dengan pasar tradisional lainnya, kawasan ini lebih tampak seperti sebuah gang panjang yang menawarkan ragam eksotisme khas Tionghoa, baik dari segi arsitektur bangunan, maupun kulinernya. Sepanjang perjalanan, tidak jarang saya berpapasan dengan beberapa turis asing yang berkeliling, sambil sesekali menikmati kuliner unik yang dijual di tempat ini. Melangkahkan kaki menyusuri Petak Sembilan, sama artinya dengan harus siap menahan berbagai godaan. Sambil menyusuri gang-gang kecil, beragam camilan seolah berebut memanggil-manggil. Hidung tidak akan berhenti terpuaskan, apalagi ketika dihadapkan dengan harum aroma cempedak goreng dan kuo tie. Selain itu, Rujak Shanghai serta es selendang mayang yang sudah sangat jarang ada di Jakarta pun, tampak masih dijual di sepanjang kawasan ini.

Nuansa oriental khas Petak Sembilan, sebenarnya akan lebih terasa jika saya bertandang tepat di kala Imlek. Pada masa ini, biasanya lampion merah sebagai salah satu ornamen khas Imlek, akan digantungkan di sepanjang jalan. Warga keturunan Tionghoa pun akan ramai berdatangan dari seluruh penjuru Jakarta, sekedar untuk membeli perlengkapan khas (termasuk makanan), untuk menyambut datangnya Tahun Baru Cina tersebut.

Tidak jauh dari kawasan tersebut, saya menemukan trotoar panjang yang dipenuhi pelukis jalanan, dengan hasil lukisan yang tampak sangat hidup. Mayoritas karya dibuat berdasarkan foto asli seseorang, atau tokoh masyarakat yang saat ini sedang ramai diperbincangkan. Terlihat pula unsur humor, yang seringkali diselipkan di dalamnya. Saya cukup terkesan dengan seniman jalanan di tempat ini. Tangan mereka tidak pernah berhenti bergerak, bahkan ketika sedang sepi pelanggan sekalipun. Sambil sesekali bertanya kepada masyarakat sekitar yang mayoritas merupakan warga negara keturunan Tionghoa, saya berjalan menuju tujuan saya selanjutnya, Vihara Dharma Bhakti.

Bersambung Bagian 2

Oleh : Maria Miracellia Bo

Wisata Edukasi di Taman Pintar Yogyakarta

Jogja memang layak dijuluki sebagai Kota Pelajar. Berbagai destinasi wisata yang tersebar di berbagai sudut Jogja membuat para pengunjung bisa belajar secara langsung mengenai sejarah di masa lampau, seperti Museum Benteng Vredeburg, Taman Budaya, Keraton Yogyakarta, dan sebagainya. Namun selain wisata sejarah, Jogja juga memiliki tempat wisata edukasi di mana para pengunjung bisa belajar sekaligus berekreasi. Sebut saja, Taman Pintar Yogyakarta, wahana wisata yang terletak di kawasan Benteng Vredeburg, di Jalan Panembahan Senopati No. 1-3. Wahana wisata yang memadukan edukasi dan rekreasi ini menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi masyarakat, terutama siswa sekolah dasar.

Menurut sejarah, pembangunan Taman Pintar Yogyakarta berawal dari kepedulian Pemerintah Kota Yogyakarta terhadap dunia pendidikan. Pemerintah berharap, dengan adanya Taman Pintar, para siswa dapat diperkenalkan dengan sains sejak usia dini, begitu juga dengan kreativitas anak yang diharapkan dapat lebih terasah, sehingga Indonesia tidak hanya menerima teknologi luar saja, tapi juga bisa menciptakan teknologi sendiri. Bangunan Taman Pintar sengaja dibuat berdekatan dengan Benteng Vredeburg dan Taman Budaya, dengan harapan tetap ada keterkaitan erat antar lokasi wisata tersebut. Grand opening Taman Pintar diresmikan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, pada tanggal 16 Desember 2008.


Lokasi Vredeburg, Taman Budaya, dan Taman Pintar yang Berdekatan
(Dokumentasi Pribadi)

Ada lima zona di dalam Taman Pintar Yogyakarta, yaitu zona playground, zona PAUD, zona oval-kotak, zona memorabilia, dan zona planetarium. Zona playground merupakan ruang publik bagi pengunjung Taman Pintar, di mana tersedia berbagai arena rekreasi yang menyenangkan, yang bisa diakses secara gratis. Di zona playground ini, para pengunjung juga dapat menemukan berbagai tugu, seperti tugu keenam Presiden RI, tugu Bhinneka Tunggal Ika dan gong perdamaian nusantara yang diresmikan oleh Hamengku Buwono X.


Gong Perdamaian Nusantara
(Dokumentasi Pribadi)

Di zona PAUD yang diperuntukkan secara khusus bagi anak usia pra TK dan TK, disediakan berbagai permainan edukasi bagi anak-anak dengan menggunakan teknologi, diharapkan permainan ini dapat mengasah ketertarikan anak-anak pada teknologi. Di zona oval pengunjung bisa menikmati berbagai wahana seperti demo sains, cuaca, iklim, harmoni alam, terowongan ilusi, aquarium air tawar, kehidupan purba, dan zona agro. Di zona kotak, pengunjung bisa melihat secara langsung peraga hukum archimedes, sistem pengolahan air, pengolahan minyak bumi, pengolahan susu, dan perpustakaan. Sementara itu, di zona memorabilia, para pengunjung dapat menambah pengetahuan mengenai Sejarah Indonesia melalui peralatan peraga, seperti sejarah Kesultanan Yogyakarta, Tokoh Kepresidenan RI, dan Tokoh Pendidikan. Zona yang terakhir yaitu planetarium berisi peralatan peraga yang menampilkan pengetahuan mengenai dunia antariksa.

Adapun setiap zona bisa diakses dengan membeli tiket masuk, kecuali zona playground. Setiap zona mengenakan tarif tiket yang berbeda-beda, di mana harga tiket masuk zona PAUD sebesar Rp 3000, zona oval dan kotak dikenakan tarif Rp 10.000, untuk anak-anak dan Rp 18.000, untuk anak-anak, sementara zona planetarium mengenakan tarif Rp 15.000. Selain kelima zona di atas, pengunjung masih bisa menikmati wahana lain seperti desaku permai, rumah gerabah, rumah batik, dan wahana bahari yang tentunya tidak kalah mengasyikkan.

Taman Pintar hadir untuk mencerdaskan anak bangsa dalam kemasan yang menyenangkan namun tetap berisi. Segera ajak adik, teman, dan anak anda ke Taman Pintar Yogyakarta.


Gedung Kotak (Dokumentasi Pribadi)


Desaku Permai (http://www.tamanpintar.com)

Oleh: Rahel Simbolon

Kamis, 29 Mei 2014

Sisi Lain Kota Ramah

Indonesia, Negara dengan kekayaan melimpah ini membuat turis manca Negara terpana, sehingga banyak yang memutuskan untuk berlibur di Negara seribu pulau ini. Jika para turis telah terpana, maka bisa dipastikan penduduk dalam negeri juga akan suka dengan alam Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke akan terdapat lebih dari puluhan tempat yang bisa dikunjungi oleh wisatawan. Selain pemandangan yang indah, Indonesia juga terkenal dengan kekayaan budaya-nya. Budaya, inilah salah satu faktor negara Merah Putih menjadi Negara yang banyak dikunjungi oleh turis dari berbagai negeri.

Salah satu pulau yang terkenal dengan kunjungan manca Negara untuk berlibur adalah pulau Dewata. Selain itu, kota yang nmempunyai selogan “Ramah” juga memnpunyai tempat di hati wisatawan dalam maupun luar negeri. Kota yang berjulukan “ramah” ini adalah kota Ngawi. Kota Ngawi terletak di Jawa Timur. Jika kita datang di kota ini kita akann merasakan aura penduduknya yang ramah, jika kita tidak tahu arah atau ingin bertanya sesuatu, maka bertanyalah, karena penduduk di kota ini tidak akan berfikir untuk menyesatkan. Namun, di balik ramahnya kota Ngawi ada hal mistis yang menjadi sejarah dari kota ini.

Ditinjau dari sejarah namanya, Ngawi berasal dari kata “awi” yang berarti bambu. Ketika kita melewati kota ini atau berkeliling di kota Ramah, kita akan menjumpai banyak hutan. Ada dua tempat yang sering dikunjungi oleh wisatawan ketika di kota ini. Yang pertama adalah “Monumen Suryo”. Tempat ini merupakan tempat bersejarah. Di dalam monumen tersebut berdiri dengan gagah patung dari seorang pahlawan bernama “Suryo”. Konon pak Suryo meninggal di tempat ini dalam perjalananya ke Surabaya guna melawan penjajah. Oleh karenanya patung almarhum pak Suryo menunjukkan jari telunjuk beliau tanda di situlah beliau dimakamkan. Selain sebuah patung, di dalam monumen ini juga terdapat beberapa hewan yang dilestarikan. Selain itu, monumen ini juga sangat terkenal dengan ukiran kayunya, inilah yang paling diincar wisatawan ketika berkunjung di tempat ini.



Yang kedua adalah ”Alas Ketonggo” atau juga ada yang menyebut dengan “Alas Srigati”. Kata “alas” berarti “hutan”, hutan ini dinyakini oleh masyarakat sebagai hutan “Ghoib” atau hutan “lelembut”. dimana banyak mahluk halus yang bersemayam didalamnya. Meskipun begitu, kemistisan tempat ini justru menjadi daya tarik bagi pengunjung. Terbukti dengan banyaknya pengunjung dari dalam maupun luar negeri. Penngunjung biasanya tidak hanya ingin belajar sejarah namun ada juga yang ingin bertanpa, mencari ketenangan ataupun berdo’a atas hajatnya, walaupun mereka tidak tahu apakah akan terkanbul ataukah tidak.

Sekilas tentang sejarah Ketonggo, inilah tempat di mana Raden Brawijaya melepaskan petilasannya (Sorban, Jubah, pakaian kebesaran) ketika beliau hendak ke Gunung Lawu. Namun, petilasan tersebut raib dan berubah menjadi sebuah gundukan yang konon semakin hari gundukan tersebut tumbuh. Inilah yang yakini tanda bumi bagi juru kunci Alas tersebut. Konon, jika ada sesuatu hal yang buruk yang akan terjadi, gundukan tersebut berhenti tumbuh. Di sinilah para pengunjung biasanya bertapa dan berdoa. selain itu ada juga sebuah sungai yang merupakan temuan dua sungai. Sungai tersebut dinamakan Sungai Tempur Sedalem. Sungai ini diyakini oleh masyarakat sebagai sungai yang mustajab, karena tempat ini diyakini oleh masyarakat sebagai tempat yang bisa menunjukkan jalan sebuah cita-cita. Khususnya di bulan Muharam dan bulan Syura, tempat ini dibanjiri oleh pengunjung yang ingin berziarah. “Bahkan menjelang Pemilu 2014 banyak dari para Calon Legislatif bertapa di tempat ini, entah untuk mencari kemenangan, ketenangan. atau hajat pribadi” kata seorang informan dari daerah tersebut.

Inilah setitik kisah dari kota Ngawi kota yang mempunyai penduduk yang ramah namun juga menyimpan kemistisan yang bersejarah. Jika Anda pecinta sejarah dan bernyali dengan hal yang mistis, maka inilah tempat yang tepat untuk Anda. Selain itu, Sebagai manusia yang hidup diciptakan Tuhan, kita pantas yakin bahwa sejarah tercipta agar manusia berfikir. Dari masa lalu kita mengerti sebuah perjuangan, dan perjuangan para pendahulu pantas dilanjutkan generasi muda dengan hal yang positif, bukan hanya bertapa namun beraksi secara riil begitu Bung Karno mencontohkan. Bukan meminta pada orang mati ataupun lelembut namun meminta pada tuhan, karena kuasa Tuhanlah yang mematikan seseorang dan lelembut merupakan salah satu makhluk Tuhan yang tidak bisa dilihat oleh mata walaupun atas izin-Nya ia dapat berhubungan dengan manusia.

Oleh : Ezza Rafaz

Kamis, 27 Maret 2014

Menelisik Sejarah dan Makna Terpendam Di Danau Bedugul

Mungkin tidak asing lagi danau yang satu ini sangat sudah terkenal di seantero negeri, tetapi tak dapat dipungkiri ada yang tidak tahu juga keberadaan dan nama danau ini. Ketika di pulau dewata Bali pastinya ada paket perjalanan menuju danau Bedugul. Tetapi tak lebih dari itu biasanya pengunjung hanya sekedar menikmati pesona alam yang memikat di danau Bedugul tanpa mengerti makna terdalam dari atau sejarah dari danau Bedugul yang syarat dengan nilai-nilai masa lampau yang patut diketahui sehingga lebih mengendap dalam pikiran dan sanubari setiap perjalanan yang tidak sia-sia.


Sumber: Dok. Pribadi, dilihat dari belakang danau (2011)

Sebelum membicarakan tentang bagaimana sejarah danau Bedugul ada baiknya penulis mendeskripsikan secara singkat mengenai danau Bedugul ini. Danau Bedugul ini terletak di desa Candi Kuning, Kecamatan Baturiti kabupaten Tabanan kurang lebih jaraknya 45 km dari pusat kota kabupaten dan jaraknya dari kota Denpasar sekitar 50 km ke arah utara mengikuti jalan raya Pura tersebut berada di tepi danau Beratan, nama pura Ulun Danu diambil dari kata danau.

Mari menyimak secara singkat keberadaan danau Bedugul ini. Tidak ada yang tahu bahkan sedikit yang mengetahui asal mula dari danau Bedugul ini. Kalau melihat dari istilah Bedugul berasal dari dua alat musik, yaitu bedug dan gong. Gabungan bunyi yang dihasilkan bedug dan gong tersebut menjadi asal-usul nama Bedugul. Hal ini memang sangat menggelitik jika dikaitkan dengan asal mulanya danau Bedugul ini tetapi lebih menarik yang selalu melekat pada ingatan pengunjung adanya pura yang terdapat di sebelah danau tersebut.


http://susususussusu.blogspot.com/2012/05/bedugul.html

Sejarah dari pura Ulun Danu Beratan diketahui dari arkeologi dan data sejarah yang terdapat dalam lontar babad Mengwi. Dalam babad Mengwi menjelaskan bahwa seorang pendiri kerajaan Mengwi yaitu I Gusti Agung Putu mendirikan Pura di pinggir Danau Beratan, sebelum beliau mendirikan pura taman ayun. Dalam lontar tersebut juga dijelaskan bahwa pendirian pura taman ayun yang upacaranya berlangsung pada hari Anggara Kliwon Medangsia tahun Saka Sad Bhuta Yaksa Dewa yaitu tahun caka 1556 atau 1634 M dan diketahui bahwa Pura Ulun Danu. Beratan didirikan sebelum tahun saka 1556, oleh I Gusti Agung Putu. Pura Ulun Danu. Beratan terdiri dari 4 komplek pura yaitu: Pura Lingga Petak, Pura Penataran Pucak Mangu, Pura Terate Bang, dan Pura Dalem Purwa untuk memuja keagungan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Tri Murti.

Di sebelah kiri halaman depan pura Ulun Danu Beratan terdapat sebuah sarkopagus dan sebuah papan batu, yang berasal dari masa tradisi megalitik, sekitar 500 SM. Pada masa itu dan sejak saat ini bangunan tersebut masih ada dan terjaga sebagai tempat melaksanakan kegiatan ritual.

Pura ulun ini yang membuat unik dari pada danau-danau lainnya di Indonesia maupun di dunia. Keunikan danau Bedugul ini tidak sembarangan sebagai obyek wisata yang ada di pulau bali. Pura ulun danu di percaya sebagai tempat bersemayamnya dewi sri atau dewi kesuburan. Hal ini tentu saja hanyalah kepercayaan yang boleh percaya atau tidak tentu kehidupan di sana bermuara pada corak kehidupan Hindu yang kental. Tentunya pantas saja jika umat Hindu mempercayainya. Bagi masyarakat umum sisi lain dari nilai-nilai yang dapat di ambil danau Bedugul ini semestinya dapat ikut melestarikan keberadaan danau nan indah ini agar tetap terjaga kebersihannya dan menjaga seluruh fasilitas-fasilitas yang ada di danau Bedugul ini, dan akan membangkitkan rasa kesadaran memiliki bangsa sendiri sebagai keajaiban dunia yang di miliki bangsa Indonesia dan tentunya membangkitkan rasa kebersamaan, keberagaman baik agama maupun sosial, budaya yang terkandung di dalamnya.

Oleh: Desi Ariani
Sumber:
http://e-kuta.com/blog/tag/asal-usul-bedugul
http://www.gobalitour.com/bedugul.html

Rabu, 26 Februari 2014

Menelusuri Jejak Sejarah di Benteng Vredeburg

Jogja, salah satu kota besar di Pulau Jawa yang terkenal akan kebudayaannya. Bagi anda yang belum pernah ke Jogja, mari datang dan lihat betapa indahnya kota ini. Jogjakarta memiliki banyak objek wisata yang dapat dikunjungi. Ada Candi Prambanan, Pantai Parangtritis, Kebun Binatang Gembira Loka, Keraton, Alun-alun Kidul, dan lain sebagainya. Itulah sebagian objek wisata yang umumnya dikunjungi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara dan kali ini saya akan memperkenalkan objek wisata yang cukup berbeda yaitu Museum Benteng Vredeburg, sebuah museum yang baru saja saya kunjungi di Bulan Januari yang lalu.

Museum Benteng Vredeburg adalah sebuah benteng sekaligus museum peninggalan Belanda, terletak di Jl. Jend. A. Yani No. 6 Jogjakarta, tidak jauh dari Malioboro pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Jogja. Untuk masuk ke dalam Museum ini, pengunjung cukup membayar Rp 2000,00 bagi pengunjung dewasa dan setengahnya bagi pengunjung anak-anak. Ada dua jalan yang dibuka untuk masuk ke dalamnya. Jalan pertama yaitu melalui pintu gerbang depan yang disusul jembatan kecil yang mencuatkan air mancur di sisi kanan dan kiri, sementara jalan kedua melalui Taman Budaya yang letaknya persis di belakang Museum Benteng Vredeburg.



Saat itu kami baru saja mengunjungi Taman Budaya dan melanjutkan perjalanan kami ke Benteng Vredeburg melalui pintu belakang. Karena masuk melalui pintu belakang, maka hal pertama yang kami lihat adalah petunjuk arah untuk menelusuri benteng tersebut.



Petunjuk adanya diorama membelokkan arah kami menuju diorama yang dimaksud. Sungguh menakjubkan apa yang kami lihat saat memasuki gedung tersebut. Hal-hal bersejarah yang biasanya hanya dapat kita ketahui melalui buku-buku sejarah tergambar jelas pada minirama-minirama di dalam diorama tersebut.

Terdapat 4 diorama yang dapat dikunjungi, tetapi karena kami masuk melalui pintu belakang, diorama yang pertama kami kunjungi ialah diorama 3 yang berisikan perjalanan sejarah yang dimulai dari tercetusnya perjanjian Renville hingga pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat.



Melanjutkan perjalanan menuju diorama 4, kami memasuki sebuah ruangan yang tampak tak terawat. Jangan kaget bila saat membuka pintu, ada kotak kaca berisikan replika pakaian pejuang semasa G-30 S/PKI yang akan menyambut di ujung lorong. Ruangan itu tampak sedikit menyeramkan, membuat kita seakan mampu merasakan aura kekejaman PKI di masa dulu.



Tidak terlalu banyak yang harus disusuri di dalam diorama 4. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju diorama 1.



Diorama 1 berisikan peristiwa-peristiwa penting mengenai zaman Diponegoro hingga kependudukan Jepang di Jogja. Melanjutkan perjalanan ke Diorama 2, kami melewati banyak minirama yang menggambarkan peristiwa Proklamasi hingga terjadinya Agresi Militer.

Saat keluar dari pintu diorama 2, dua buah meriam dan dua buah patung Jend. Soedirman menyambut pandangan mata kami. Sungguh patung yang megah. Banyaknya pengunjung yang datang membuat kami harus antre untuk berfoto dengan patung Jend. Soedirman.



Penelusuran kami berhenti tepat di Gedung Pertemuan dan Gedung Audio Visual yang sangat disayangkan tertutup saat itu. Sungguh penelusuran sejarah yang menyenangkan. Banyak hal yang kami dapatkan dari penelusuran di Benteng ini. Hari sudah sore saat kami menyelesaikan penelusuran, kami pun memutuskan untuk pulang dan meninggalkan Benteng yang indah ini. Kami berjanji, di waktu mendatang, kami akan kembali lagi ke Benteng ini, informan bisu yang telah menceritakan banyak sejarah mengenai tanah air.

Oleh : Rahel Simbolon

Sabtu, 11 Februari 2012

Candi Mendut

Candi Mendut merupakan candi bercorak Buddha yang terletak di Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tepatnya di Jalan Mayor Kusen. Candi ini memiliki keunikan dalam reliefnya.

 Pada relief Candi Mendut terdapat beberapa cerita binatang (fabel) dan juga kisah manusia. Keunikan dari cerita tersebut adalah pesan moril yang terkandung di dalamnya. Ini menunjukkan bahwa leluhur kita telah memiliki kecerdasan emosional yang baik dan berkarakter luhur.

Candi Mendut terbentuk dari batu bata kuno. Bangunannya terletak di atas pondasi yang tinggi, sehingga nampak kokoh dan kuat. Terdapat tangga naik dan pintu masuk ke dalam bagian utama bangunan. Atapnya berhias stupa kecil berjumlah 48.