Tampilkan postingan dengan label khas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label khas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Oktober 2014

Medan: Kota Multi Kultural - 2 (Habis)

Medan merupakan Kota terbesar di Indonesia di luar pulau Jawa. Kota seluas 265,1 Km2 ini dihuni oleh beragam etnis baik etnis pribumi seperti suku Melayu dan Batak. Maupun etnis pendatang, baik pendatang yang masih termasuk suku asli Indonesia seperti suku Jawa, Padang, Aceh, Nias dan lainnya. Serta etnis yang berasal dari luar Indonesia yang telah menetap dan menjadi bagian dari kota medan berpuluh-puluh bahkan beratus tahun silam, seperti etnis Tionghoa, India dan Pakistan. Keanekaragaman ini membaur menjadi satu dan membentuk sebuah akulturasi budaya yang unik yang kemudian menjadi ciri khas kota Medan.

3. Tjong A Fie’s Mansion


3. Tjong Fie mansion: rumah warisan orang paling kaya di Medan

Tjong A Fie merupakan nama dari saudagar keturunan Tionghoa di Medan. Pada masanya ia merupakan orang yang sangat berpengaruh dan dermawan sehingga rumah atau mansionnya kini dijadikan tujuan wisata. Lokasinya terletak di Jalan Ahmad Yani tak jauh dari lapangan Merdeka kota Medan atau dikenal juga dengan sebutan daerah Kesawan.

Di kediaman Tjong A Fie yang luas, pengunjung akan dibawa kembali ke masa lampau dengan menyusuri tiap-tiap ruangan. Tiap ruangan memiliki cerita yang berbeda dan berisikan perabot-perabot tua khas Melayu, China dan Eropa juga foto Tjong A Fie beserta keluarganya. Mansion ini terbuka untuk umum hingga pukul 4 sore. Biaya masuk juga sangat murah sehingga baik pelajar maupun umum dapat menikmati wisata budaya di tempat ini.

4. Marian Shrine of Annai Velangkanni


4. Annai Velangkanni

Jangan kira ini adalah nama dari sebuah kuil Hindu, karena tebakan itu salah besar. Marian Shrine of Annai Velangkanni merupakan gereja Katolik yang terletak di jalan Sakura 3 Tanjung Selamat, sekitar 10 hingga 15 kilometer dari pusat kota Medan. Sesuai dengan namanya, gereja ini memang bernapaskan India. Desain arsitekturnya berciri Indo Mongol dengan tiga menara dan kubah. Bangunan utamanya sendiri terdiri dari atas dua lantai dengan balkon. Karena ini adalah tempat ibadah maka tidak dikenakan biaya masuk. Bagi umat Katolik yang ingin beribadah disediakan tempat parkir yang luas dan air yang muncul dari patung Bunda Maria dan tempat berdoa yang damai. Tersedia pula guide yang siap mengantar berkeliling dan menjelaskan arti dari tiap bagian gereja.

5. Maha Vihara Maitreya


5. Maha Viahara Maitreya

Sekitar empat puluh menit dari pusat kota Medan terdapat sebuah vihara megah yang terletak di dalam Kompleks Cemara Asri, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Lokasi merupakan lokasi yang dibangun dengan perencanaan yang baik dan layak dikunjungi. Karena vihara ini merupakan salah satu vihara terbesar Indonesia dan masih digunakan hingga saat ini sehingga tidak dikenakan biaya masuk. Ditempat ini pengunjung dapat berfoto dan menikmati keindahan eksterior dan interior khas kuil Buddha. Selain kelima situs heritage di atas, masih banyak lagi wisata budaya dan religi yang ada di seputaran kota Medan. Mengitari kota dengan kendaraan khas sambil menikmati pemandangan kota yang cantik dan modern dapat menjadi pilihan. Selain itu kota ini juga menyajikan berbagai macam kuliner yang tidak didapat di tempat lain. Menikmati keelokan warisan budaya kota Medan dapat menjadi pilihan ketika ingin menghabiskan liburan di Sumatera Utara selain objek wisatanya yang sudah sangat dikenal seperti danau Toba dan cagar alam Bukit Lawang.

Oleh : Tika Dwi
Gambar:
3. http://www.yukpegi.com/indonesia/tjong-fie-mansion-rumah-warisan-orang-paling-kaya-di-medan/
4. http://velangkanni.blogspot.com/2012_08_01_archive.html
5. https://www.flickr.com/photos/adhyprazz/9821260005/

Selasa, 01 Juli 2014

Sehari Menjelajah Keunikan Pecinan Glodok - 3 (Habis)

Pecinan. Apa yang terlintas dalam benak Anda saat mendengar istilah tersebut? Sebuah wilayah kota yang mayoritas penghuninya adalah warga negara Indonesia keturunan Tionghoa? Sepenggal saksi sejarah keberagaman yang masih tersisa? Atau sederetan gang-gang kecil yang dipenuhi penjaja kuliner dengan kenikmatan yang khas?

Tertarik untuk menjadi salah satu saksi pesona arsitektur dan kuliner khas Tionghoa yang masih tersisa, pada hari itu saya memutuskan untuk melakukan eksplorasi sederhana di kawasan Pecinan Glodok. Berbekal kaki yang siap melangkah, dan semangat untuk menikmati ragam suguhan wisata khas kota lama, saya berhasil menemukan tiga tempat unik yang patut Anda jelajahi di kala senggang.

Gereja Santa Maria de Fatima



Bangunan di hadapan saya ini, memiliki konsep arsitektur yang tidak jauh berbeda dengan bangunan-bangunan serupa di kawasan Pecinan. Dengan dominasi warna merah, ukiran-ukiran khas yang menghias jendela, pintu besar khas bangunan Tionghoa, serta dua buah patung singa berukuran besar yang diletakkan di kedua sisi depan bangunan utama, sekilas tidak terlihat bahwa bangunan ini adalah sebuah gereja. Satu-satunya tanda yang menjelaskan adalah tulisan Gereja Santa Maria de Fatima yang dipasang di atas pintu utama. Berbeda dengan gereja-gereja Katolik lain yang kebanyakan mengusung gaya arsitektur Eropa, Gereja Santa Maria de Fatima justru memilih untuk mengusung nuansa oriental dalam hal arsitektur dan tata cara peribadatannya.

Berhubung hari itu bukan akhir Minggu, maka tidak tampak aktivitas peribadatan di sana. Setiap minggunya, gereja ini memberikan misa (sebutan peribadatan untuk orang Katolik) dalam dua bahasa, yaitu Indonesia dan Mandarin. Misa berbahasa Mandarin, biasanya diadakan pada hari Minggu sore, pukul setengah 5. Kondisi gereja yang sepi, membuat saya ragu untuk masuk ke dalam dan mengamati lebih jauh. Beruntung, seorang pembantu gereja bernama Idris, dengan penuh keramahan menyambut saya, lalu menawarkan untuk membuka pintu gereja agar saya dapat masuk dan melihat-lihat.

Atmosfer khas Tionghoa terasa semakin kental ketika saya berada di dalam bangunan gereja. Altar yang tidak terlalu luas, ternyata mampu memancarkan pesona yang luar biasa. Warna merah tampak mendominasi tabernakel yang diletakkan di tengah altar. Ukiran khas Tionghoa juga tampak menonjol pada dua buah mimbar yang tegak menjulang di sisi kiri dan kanan altar. Tidak ketinggalan, sebagai pemanis dan penguat nuansa, dua buah lampion berwarna merah digantungkan pada atap altar. Nuansa seperti ini mungkin akan sulit Anda temukan di gereja-gereja lain.

Menurut Idris, bangunan ini dulunya bukan berupa gereja, melainkan rumah seorang Tionghoa yang tergolong kaya dan disegani di daerah tersebut. Pada tahun 1950, seorang pastor memutuskan untuk membeli bangunan tersebut dan menjadikannya gereja. Uniknya, sedari 62 tahun silam semenjak awal didirikannya, bangunan ini tidak pernah mengalami perombakan atau renovasi. Satu-satunya renovasi yang dilakukan, adalah penghilangan sekat-sekat yang dahulunya digunakan sebagai pemisah ruangan-ruangan rumah. Sisanya, bentuk rumah dan lantai yang digunakan, masih sama persis dengan keadaan awalnya. Pintu utama, konstruksi bangunan, serta dua buah singa yang melambangkan penjaga gerbang, juga masih dipertahankan hingga detik ini. Hal ini terjadi bukan tanpa alasan. Gereja Santa Maria De Fatima ternyata dilindungi oleh undang-undang, sebagai salah satu cagar budaya pada tahun 1972, karena arsitekturnya yang masih mempertahankan gaya bangunan khas Fukien atau Tiongkok Selatan.

Melangkahkan kaki keluar dari Gereja Santa Maria de Fatima, sekaligus mengakhiri jelajah kawasan Pecinan Glodok saya hari itu. Tidak banyak kata yang bisa terucap, selain rasa penuh akibat terpuaskan oleh pengalaman yang tidak biasa. Menjelajahi kawasan Pecinan membuat saya menyadari satu hal. Nilai historikal sebuah kawasan, bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah digerus oleh zaman. Bangunan-bangunan megah boleh berdiri di pusat kota. Puluhan mal boleh terus menerus didirikan untuk mengisi kekosongan lahan. Namun jangan pernah lupa, bahwa di sekitar kita ada pesona alami, yang justru akan tetap hidup karena adanya apresiasi terhadap sejarah. Selamat mengapresiasi!

Oleh : Maria Miracellia Bo

Senin, 30 Juni 2014

Sehari Menjelajah Keunikan Pecinan Glodok - 2

Pecinan. Apa yang terlintas dalam benak Anda saat mendengar istilah tersebut? Sebuah wilayah kota yang mayoritas penghuninya adalah warga negara Indonesia keturunan Tionghoa? Sepenggal saksi sejarah keberagaman yang masih tersisa? Atau sederetan gang-gang kecil yang dipenuhi penjaja kuliner dengan kenikmatan yang khas?

Tertarik untuk menjadi salah satu saksi pesona arsitektur dan kuliner khas Tionghoa yang masih tersisa, pada hari itu saya memutuskan untuk melakukan eksplorasi sederhana di kawasan Pecinan Glodok. Berbekal kaki yang siap melangkah, dan semangat untuk menikmati ragam suguhan wisata khas kota lama, saya berhasil menemukan tiga tempat unik yang patut Anda jelajahi di kala senggang.

Vihara Dharma Bhakti (Jin De Yuan)

Vihara Dharma Bhakti Tampak Dalam (Koleksi pribadi)


Vihara Dharma Bhakti Tampak Depan (Koleksi pribadi)


Vihara Dharma Bhakti Tampak Samping (Koleksi pribadi)

Dengan persiapan seadanya, saya memasuki halaman vihara yang didominasi arsitektur berwarna merah. Sekilas, tidak ada yang nampak istimewa dari vihara ini. Namun, sebuah pemandangan asing seketika menarik perhatian saya. Puluhan masyarakat dari berbagai kalangan usia, tampak memadati halaman lain vihara. Sesekali saya hampir bertubrukan dengan beberapa anak kecil yang berlarian menuju keramaian tersebut tanpa alas kaki, seakan sedang dikejar waktu.

“Biasa Mbak, itu lagi bagi-bagi duit,” ucap seorang ibu berbadan sedikit tambun, yang terlihat baru saja keluar dari keramaian. Pakaiannya sedikit lusuh, namun raut wajahnya tampak berseri-seri.

Ternyata, pemandangan tersebut bukan hal baru lagi di Vihara Dharma Bhakti. Berhubung hari saya berkunjung masih belum begitu jauh dari perayaan Imlek, maka nuansa Tahun Baru Cina juga masih tersisa di sana. Salah satunya, adalah kebiasaan berbagi rejeki kepada kaum yang membutuhkan di kala Imlek. Hal ini menjelaskan keberadaan puluhan pengemis yang memenuhi pelataran vihara. Beberapa dari mereka bahkan membawa tikar sebagai alas tidur, menunjukkan bahwa mereka bermukim di sana untuk jangka waktu yang tidak sebentar.

Memasuki vihara, saya langsung disambut dengan asap hio yang mengepul memenuhi ruangan. Puluhan umat menyalakan hio sambil memanjatkan doa di hadapan 24 altar sembahyang yang disusun mengelilingi vihara. Beberapa penjaga vihara tampak sibuk berlalu-lalang membersihkan vihara dari abu bekas hio, sambil sesekali mempersiapkan beberapa hio tambahan untuk pengunjung.

Ditemani oleh Agus, warga sekitar yang sehari-hari bekerja membersihkan dan menjaga keamanan vihara, saya pun diantar berkeliling untuk melihat kondisi vihara secara keseluruhan. Pada pelataran utama, saya melihat patung Dewi Kwan Im berdiri megah di tengah pelataran. Ukurannya sedikit lebih besar daripada patung-patung lain yang mengitari vihara. Ternyata, menurut Agus, Dewi Kwan Im diibaratkan sebagai “tuan rumah” Vihara Dharma Bhakti. Oleh karenanya, banyak orang datang ke vihara ini, secara khusus untuk bersembahyang kepada Dewi Kwan Im.

Vihara yang dibangun pada tahun 1650 ini, memang merupakan salah satu vihara tertua di Jakarta. Nilai historis yang melekat, membuat vihara ini tidak pernah sepi pengunjung, terutama masyarakat Tionghoa yang ingin bersembahyang. Para peziarah dan wisatawan juga kerap datang sembari melihat ritual pengunjung. Pesona khas yang terpancar, membuat vihara ini seringkali dijadikan obyek fotografi, dan juga lokasi syuting video klip.

Oleh : Maria Miracellia Bo

Selasa, 24 Juni 2014

Sehari Menjelajah Keunikan Pecinan Glodok - 1

Pecinan. Apa yang terlintas dalam benak Anda saat mendengar istilah tersebut? Sebuah wilayah kota yang mayoritas penghuninya adalah warga negara Indonesia keturunan Tionghoa? Sepenggal saksi sejarah keberagaman yang masih tersisa? Atau sederetan gang-gang kecil yang dipenuhi penjaja kuliner dengan kenikmatan yang khas?

Ketiganya tidak salah. Kawasan Pecinan memang dikenal sebagai satu “kampung” kecil, yang menyimpan segudang sejarah keunikan masyarakat Tionghoa yang bermukim di daerah tertentu. Hampir seluruh kota besar di Indonesia memiliki “pecinan”nya masing-masing, hanya saja dengan sebutan yang berbeda-beda. Sebagai salah satu kota besar yang multikultur, Jakarta ternyata juga memiliki kawasan pecinannya sendiri, yang dipusatkan di Glodok, Jakarta Barat.

Berbicara mengenai Pecinan, salah satunya berbicara mengenai identitas sejarah yang dewasa ini semakin terkikis oleh pengaruh modernisasi dan kapitalisme. Miris rasanya, saat mendapati fakta nasionalisme karbitan, yang seketika menyeruak tepat pada saat masyarakat menyadari bahwa mereka telah kehilangan apa yang selama ini “lupa” mereka jaga. Pecinan merupakan salah satu simbol sejarah yang masih tersisa. Keberadaan mereka menunjukkan, betapa Indonesia sejatinya sangat kaya akan kultur, yang tentunya menarik untuk dijelajahi secara lebih mendalam.

Tertarik untuk menjadi salah satu saksi pesona arsitektur dan kuliner khas Tionghoa yang masih tersisa, pada hari itu saya memutuskan untuk melakukan eksplorasi sederhana di kawasan Pecinan Glodok. Berbekal kaki yang siap melangkah, dan semangat untuk menikmati ragam suguhan wisata khas kota lama, saya berhasil menemukan tiga tempat unik yang patut Anda jelajahi di kala senggang.

Kawasan Petak Sembilan

Pedagang kaki lima yang ramai menjajakan dagangannya, lalu lintas yang padat, serta toko-toko elektronik yang berjajar di sepanjang jalan, meyakinkan saya bahwa saya telah sampai di tempat tujuan. Kawasan Petak Sembilan, begitu masyarakat sekitar biasa menyebut salah satu pasar tradisional di daerah Glodok, Jakarta Barat ini. Berbeda dengan pasar tradisional lainnya, kawasan ini lebih tampak seperti sebuah gang panjang yang menawarkan ragam eksotisme khas Tionghoa, baik dari segi arsitektur bangunan, maupun kulinernya. Sepanjang perjalanan, tidak jarang saya berpapasan dengan beberapa turis asing yang berkeliling, sambil sesekali menikmati kuliner unik yang dijual di tempat ini. Melangkahkan kaki menyusuri Petak Sembilan, sama artinya dengan harus siap menahan berbagai godaan. Sambil menyusuri gang-gang kecil, beragam camilan seolah berebut memanggil-manggil. Hidung tidak akan berhenti terpuaskan, apalagi ketika dihadapkan dengan harum aroma cempedak goreng dan kuo tie. Selain itu, Rujak Shanghai serta es selendang mayang yang sudah sangat jarang ada di Jakarta pun, tampak masih dijual di sepanjang kawasan ini.

Nuansa oriental khas Petak Sembilan, sebenarnya akan lebih terasa jika saya bertandang tepat di kala Imlek. Pada masa ini, biasanya lampion merah sebagai salah satu ornamen khas Imlek, akan digantungkan di sepanjang jalan. Warga keturunan Tionghoa pun akan ramai berdatangan dari seluruh penjuru Jakarta, sekedar untuk membeli perlengkapan khas (termasuk makanan), untuk menyambut datangnya Tahun Baru Cina tersebut.

Tidak jauh dari kawasan tersebut, saya menemukan trotoar panjang yang dipenuhi pelukis jalanan, dengan hasil lukisan yang tampak sangat hidup. Mayoritas karya dibuat berdasarkan foto asli seseorang, atau tokoh masyarakat yang saat ini sedang ramai diperbincangkan. Terlihat pula unsur humor, yang seringkali diselipkan di dalamnya. Saya cukup terkesan dengan seniman jalanan di tempat ini. Tangan mereka tidak pernah berhenti bergerak, bahkan ketika sedang sepi pelanggan sekalipun. Sambil sesekali bertanya kepada masyarakat sekitar yang mayoritas merupakan warga negara keturunan Tionghoa, saya berjalan menuju tujuan saya selanjutnya, Vihara Dharma Bhakti.

Bersambung Bagian 2

Oleh : Maria Miracellia Bo

Rabu, 12 Maret 2014

Tentang Jogja - 1

Yogyakarta atau Jogjakarta. Siapa sih yang nggak tahu atau nggak kenal dengan kota yang satu ini?

Jogja terkenal dengan sebutan kota pelajar, karena di kota itu terdapat begitu banyak perguruan tinggi yang memiliki prestasi/predikat baik. Universitas Gajah Mada misalnya, Perguruan Tinggi yang satu ini menjadi incaran bukan hanya orang asli Jogja, tapi juga orang dari seluruh Indonesia. Ada juga Universitas Negeri Yogyakarta, untuk swasta ada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang merupakan PTS terbaik di Indonesia. Selain itu masih banyak Perguruan Tinggi lain yang ada di Jogja.

Selain terkenal sebagai kota pelajar, Jogja juga terkenal dengan kota budaya. Jogja memiliki lima kabupaten yang masing-masing kabupaten memiliki kebudayaan yang berbeda, dan merupakan ciri khas dari kabupaten atau daerah tersebut. Yogyakarta juga memiliki berbagai tempat wisata, yang sayang bila sampai terlewatkan. Tempat wisata itu diantaranya:

  1. Tugu Jogja

    Tugu Jogja merupakan simbol dari kota Yogyakarta, dan merupakan salah satu objek wisata di Jogja. Tugu Jogja dianggap memiliki nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan, keraton Jogja dan Gunung Merapi.


    Siang hari


    Malam hari

  2. Jalan Malioboro

    Jalan Malioboro terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjual berbagai kerajinan khas Jogja seperti tas batik, baju batik, wayang kulit, kerajinan bambu, blangkon, miniatur kendaraan tradisional, dan segala macam aksesoris. Pada malam harinya akan banyak warung-warung lesehan yang menjual makanan khas Jogja yakni Gudeg. Sembari menikmati makan di lesehan kita dapat menikmati berbagai suguhan menarik dari para seniman Jogja, seperti musik, pantomim, lukisan, dll.


    Siang hari


    Malam hari

  3. Pasar Beringharjo

    Pasar ini masih berada di kawasan Malioboro yakni di Jalan A. Yani. Di Pasar Beringharjo kita bisa memperoleh oleh-oleh apa saja Khas Jogja, dari makanan, pakaian batik, kain batik sampai kerajinan. Bila pandai menawar kita juga bisa memperoleh barang dengan harga sangat murah. Pasar Beringharjo ini tak pernah sepi pengunjung, jadi harus sabar berdesak-desakkan dengan pengunjung lain.

  4. Benteng Vredeburg

    Benteng ini berada di sebelah Pasar Beringharjo. Di Benteng Vredeburg kita bisa memasuki diorama perjuangan bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Pada bulan Juni-Juli, Benteng Vredeburg menjadi lokasi pelaksanaan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY).


  5. Nol Kilometer

    Titik nol kilometer adalah sebuah titik yang menjadi patokan penentuan jarak antar daerah di Yogyakarta atau kota-kota lain di luar Yogyakarta. Kawasan di sekitar titik nol kilometer ini adalah kawasan wisata sejarah berupa bangunan-bangunan kuno yang sering disebut loji (bangunan-bangunan tua yang besar peninggalan Belanda). Kawasan nol kilometer juga menjadi sentra perekonomian bagi masyarakat Yogyakarta karena letaknya memang strategis. Suasana Nol kilometer pada malam hari akan lebih menarik dengan tambahan kerlap-kerlip lampu.


  6. Keraton Yogyakarta

    Keraton Yogyakarta adalah istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga kini. Bangunan keraton adalah salah satu arsitektur istana Jawa yang baik, karena memiliki balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas, selain itu di kompleks keraton juga terdapat museum untuk menyimpan berbagai koleksi kesultanan. Keraton Yogyakarta ini adalah salah satu obyek wisata yang sayang sekali bila terlewatkan.


  7. Tamansari

    Tamansari adalah obyek wisata yang masih memiliki hubungan/keterkaitan dengan keraton Yogyakarta, letaknya di Jalan KH. Wahid Hasyim. Dulu Tamansari dimanfaatkan keluarga keraton untuk berkumpul dan bersantai dengan keluarganya, ada pula kolam untuk bermain anak-anak dan istri raja, di tamansari juga terdapat lorong bawah tanah yang digunakan sebagai jalan rahasia. Namun saat ini Tamansari hanya di manfaatkan sebagai tempat wisata.

Bersambung ke Bagian 2

Oleh: Novita Prahastiwi
Sumber: - http://id.wikipedia.org/wiki/Tugu_Yogyakarta
- http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Prambanan
- http://id.wikipedia.org/wiki/Situs_Ratu_Baka
Sumber Gambar:
- http://yogyatrip.com/tugu-yogya-simbol-persatuan-kawula-gusti/
- http://kampusjogja.com/koleksi-foto-tugu-jogja/
- http://id.wikipedia.org/wiki/Jalan_Malioboro
- http://ranarast.wordpress.com/2013/03/08/never-lost-in-yogkayarta-3/
- http://www.yukpegi.com/indonesia/menikmati-wisata-peninggalan-belanda-di-benteng-vredeburg/
- http://yogyakarta.panduanwisata.com/hiburan/nol-kilometer-yogyakarta-tempat-favorit-berkumpulnya-wisatawan-dengan-keindahan-bangunan-tua-bersejarah/
- http://review-vacation-mahasiswa.blogspot.com/p/sebelum-saya-cerita-panjang-lebar.html
- http://www.indonesia-tourism.com/forum/showthread.php?383-Kraton-Ngayogyakarta-Hadiningrat-Yogyakarta-Indonesia
- http://raisaaryasheba.blogspot.com/2011/11/water-castle-taman-sari.html
- http://kangjava.wordpress.com/2011/08/08/alun-alun-kidul/
- http://wedotku.blogspot.com/2013/09/tempat-paling-gaul-yang-wajib-anda.html#pages/2