Tampilkan postingan dengan label medan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label medan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Oktober 2014

Medan: Kota Multi Kultural - 2 (Habis)

Medan merupakan Kota terbesar di Indonesia di luar pulau Jawa. Kota seluas 265,1 Km2 ini dihuni oleh beragam etnis baik etnis pribumi seperti suku Melayu dan Batak. Maupun etnis pendatang, baik pendatang yang masih termasuk suku asli Indonesia seperti suku Jawa, Padang, Aceh, Nias dan lainnya. Serta etnis yang berasal dari luar Indonesia yang telah menetap dan menjadi bagian dari kota medan berpuluh-puluh bahkan beratus tahun silam, seperti etnis Tionghoa, India dan Pakistan. Keanekaragaman ini membaur menjadi satu dan membentuk sebuah akulturasi budaya yang unik yang kemudian menjadi ciri khas kota Medan.

3. Tjong A Fie’s Mansion


3. Tjong Fie mansion: rumah warisan orang paling kaya di Medan

Tjong A Fie merupakan nama dari saudagar keturunan Tionghoa di Medan. Pada masanya ia merupakan orang yang sangat berpengaruh dan dermawan sehingga rumah atau mansionnya kini dijadikan tujuan wisata. Lokasinya terletak di Jalan Ahmad Yani tak jauh dari lapangan Merdeka kota Medan atau dikenal juga dengan sebutan daerah Kesawan.

Di kediaman Tjong A Fie yang luas, pengunjung akan dibawa kembali ke masa lampau dengan menyusuri tiap-tiap ruangan. Tiap ruangan memiliki cerita yang berbeda dan berisikan perabot-perabot tua khas Melayu, China dan Eropa juga foto Tjong A Fie beserta keluarganya. Mansion ini terbuka untuk umum hingga pukul 4 sore. Biaya masuk juga sangat murah sehingga baik pelajar maupun umum dapat menikmati wisata budaya di tempat ini.

4. Marian Shrine of Annai Velangkanni


4. Annai Velangkanni

Jangan kira ini adalah nama dari sebuah kuil Hindu, karena tebakan itu salah besar. Marian Shrine of Annai Velangkanni merupakan gereja Katolik yang terletak di jalan Sakura 3 Tanjung Selamat, sekitar 10 hingga 15 kilometer dari pusat kota Medan. Sesuai dengan namanya, gereja ini memang bernapaskan India. Desain arsitekturnya berciri Indo Mongol dengan tiga menara dan kubah. Bangunan utamanya sendiri terdiri dari atas dua lantai dengan balkon. Karena ini adalah tempat ibadah maka tidak dikenakan biaya masuk. Bagi umat Katolik yang ingin beribadah disediakan tempat parkir yang luas dan air yang muncul dari patung Bunda Maria dan tempat berdoa yang damai. Tersedia pula guide yang siap mengantar berkeliling dan menjelaskan arti dari tiap bagian gereja.

5. Maha Vihara Maitreya


5. Maha Viahara Maitreya

Sekitar empat puluh menit dari pusat kota Medan terdapat sebuah vihara megah yang terletak di dalam Kompleks Cemara Asri, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Lokasi merupakan lokasi yang dibangun dengan perencanaan yang baik dan layak dikunjungi. Karena vihara ini merupakan salah satu vihara terbesar Indonesia dan masih digunakan hingga saat ini sehingga tidak dikenakan biaya masuk. Ditempat ini pengunjung dapat berfoto dan menikmati keindahan eksterior dan interior khas kuil Buddha. Selain kelima situs heritage di atas, masih banyak lagi wisata budaya dan religi yang ada di seputaran kota Medan. Mengitari kota dengan kendaraan khas sambil menikmati pemandangan kota yang cantik dan modern dapat menjadi pilihan. Selain itu kota ini juga menyajikan berbagai macam kuliner yang tidak didapat di tempat lain. Menikmati keelokan warisan budaya kota Medan dapat menjadi pilihan ketika ingin menghabiskan liburan di Sumatera Utara selain objek wisatanya yang sudah sangat dikenal seperti danau Toba dan cagar alam Bukit Lawang.

Oleh : Tika Dwi
Gambar:
3. http://www.yukpegi.com/indonesia/tjong-fie-mansion-rumah-warisan-orang-paling-kaya-di-medan/
4. http://velangkanni.blogspot.com/2012_08_01_archive.html
5. https://www.flickr.com/photos/adhyprazz/9821260005/

Rabu, 08 Oktober 2014

Medan: Kota Multi Kultural - 1

Medan merupakan Kota terbesar di Indonesia di luar pulau Jawa. Kota seluas 265,1 Km2 ini dihuni oleh beragam etnis baik etnis pribumi seperti suku Melayu dan Batak. Maupun etnis pendatang, baik pendatang yang masih termasuk suku asli Indonesia seperti suku Jawa, Padang, Aceh, Nias dan lainnya. Serta etnis yang berasal dari luar Indonesia yang telah menetap dan menjadi bagian dari kota medan berpuluh-puluh bahkan beratus tahun silam, seperti etnis Tionghoa, India dan Pakistan. Keanekaragaman ini membaur menjadi satu dan membentuk sebuah akulturasi budaya yang unik yang kemudian menjadi ciri khas kota Medan.

Pengaruh yang dibawa oleh etnis dan suku tersebut tidak hanya sebatas adat dan budaya, tetapi juga agama dan sistem kepercayaan. Kota Medan merupakan salah satu contoh toleransi antar umat beragama yang terjalin secara indah. Toleransi tersebut telah terjalin bertahun-tahun bahkan sebelum Indonesia merdeka. Oleh karena itu hingga kini masih terdapat beberapa bangunan dan rumah ibadah sebagai bukti keharmonisan akulturasi budaya dan perbedaan beragama di kota Medan. Bangunan tersebut masih berdiri kokoh dan menjadi warisan budaya terhadap generasi penerusnya. Kita dapat mengunjungi tempat tersebut ketika sedang berada di kota Medan.

1. Istana Maimoon


1. Istana Maimoon

Merupakan Istana Kesultanan Deli yang masih berdiri megah hingga saat ini. Istana ini sangat erat kaitannya dengan legenda Putri Hijau dan Meriam Puntung. Berdasarkan legenda tersebut, kekuasaan Kesultanan Deli berhasil ditumbangkan oleh serbuan pasukan Sultan Iskandar Muda dari Aceh.

Istana Maimoon terletak di pusat kota medan sehingga tidak sulit mencapai objek wisata ini. Hingga kini banyak orang yang mengunjungi Istana Maimoon dan merupakan objek wisata yang paling direkomendasikan di kota Medan. Biaya untuk masuk ke objek wisata ini kurang dari Rp. 10.000,- per orang. Di dalamnya ada pemandu yang merupakan keturunan bangsawan dan kerajaan Deli yang akan menjelaskan tentang kehidupan Kesultanan Deli dan Keluarga kerajaan di masa lampau. Selain itu pengunjung juga bisa berfoto dengan mengenakan baju adat Deli secara gratis.

2. Masjid Raya Al Mashun


2. Masjid Raya Al Mashun

Tak jauh dari Istana Maimoon kita berdiri sebuah Masjid besar berarsitektur Melayu, Spanyol, India dan Timur Tengah. Masjid tersebut adalah Raya Al Mashun. Masjid yang masih aktif digunakan hingga saat ini juga merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Deli di Medan.

Selain beribadah bagi umat Muslim, menikmati keindahan interior dan eksterior masjid merupakan hal yang tak boleh dilewatkan. Selain itu, menyusuri beranda masjid yang luas dan berbentuk lorong membuat pengunjung seakan diajak kembali ke masa-masa keemasan Kesultanan Deli. Di bagian belakang masjid juga terdapat kompleks pemakaman keluarga kerajaan dan bangsawan Kesultanan Deli yang masih digunakan hingga sekarang.

Olehg : Tika Dwi
Gambar:
1.http://travelmatekamu.com/2014/04/21/uniknya-istana-maimun/
2. http://simbi.kemenag.go.id/simas/index.php/profil/masjid/12751/?tipologi_id=2

Kamis, 28 Agustus 2014

Mengenali Keberadaan Kesultanan Deli Melalui Istana Maimun Medan


1. Istana Maimun Tampak Depan

Kota Medan adalah salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki banyak tujuan wisata. Selain Danau Toba yang ada di Pulau Samosir, masih ada tujuan wisata lainnya, baik itu wisata alam, kuliner, maupun sejarah. Salah satu tujuan wisata yang wajib dikunjungi bila tengah berkunjung ke Medan adalah Istana Maimun. Istana Maimun merupakan istana peninggalan Kesultanan Deli yang berada di Jl. Brigjen Katamso, Sukaraja, Medan. Menurut sejarah, Istana Maimun didirikan pada tahun 1888 oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa dan diresmikan pada tahun 1891.

Ada satu yang unik dan membuat istana ini tampak beda dari istana-istana lainnya di Indonesia, yakni gaya arsitekturnya yang merupakan kombinasi unsur Melayu, Italia, Spanyol, dan India. Pengaruh Eropa itu dapat dilihat pada ornamen pintu dorong, lampu, lemari, meja, dan kursi istana. Selain pintu yang bergaya Spanyol, anda juga bisa melihat gaya arsitektur Belanda pada bentuk jendela dan pintu yang tinggi dan lebar. Oh ya, di depan tangga, anda bisa melihat prasasti dari batuan marmer yang ditulis dalam Bahasa Belanda, dengan menggunakan huruf Latin. Pengaruh Islam dapat dilihat pada bagian atap yang berbentuk lengkung yang menyerupai bentuk perahu yang terbalik. Biasanya bentuk seperti ini hanya dapat ditemukan pada bangunan di Timur Tengah.


2. Bagian Dalam Istana Maimun

Pada bagian ruang tamu, anda akan menemukan tahta yang warnanya didominasi oleh warna kuning. Ruang tamu dengan luas 412 m2 ini digunakan untuk menobatkan Sultan Deli dan untuk melakukan agenda tradisional yang lain. Selain itu, ruangan ini juga digunakan Sultan Deli untuk menerima kunjungan dari keluarga pada saat hari raya Islam. Adapun kemegahan Istana Maimun ini bisa terwujud karena semasa Deli masih di bawah naungan Kesultanan Deli, mereka bisa mengelola hasil perkebunan dengan baik, seperti minyak dan aneka rempah-rempah. Hasil bumi yang melimpah ini memberikan penghasilan yang sangat besar bagi Kesultanan Deli.

Kemegahan Istana Maimun tidak akan membuat anda bosan menikmatinya. Di dalam istana dengan warna khas Melayu ini, anda bisa melihat puluhan kamar di lantai dua, melihat berbagai koleksi istana yang antik, dan juga bisa menikmati hawa sejuk yang tentu akan membuat anda nyaman berada di dalamnya.. Adapun bangunan istana ini terdiri dari satu bangunan induk dan dua sayap kiri-kanan. Seratus meter dari Istana Maimun berdiri sebuah masjid bernama Masjid Raya Medan.

Istana Maimun dibuka bagi umum setiap harinya mulai pukul 08.00 sampai pukul 17.00 WIB. Untuk bisa masuk ke dalam istana, pengunjung dikenakan tarif masuk sebesar Rp 5000,- bagi pengunjung dewasa dan Rp 3000,- bagi pengunjung anak-anak. Istana Maimun berlokasi di Kelurahan Aur, tepatnya di pusat Kota Medan. Untuk bisa sampai ke istana ini, pengunjung bisa menggunakan berbagai moda transportasi seperti angkutan umum, becak, ataupun becak motor. Letak Istana Maimun yang berada di tengah-tengah kota sangat memudahkan bagi siapapun yang datang berkunjung.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://winnyalna.com/wp-content/uploads/2013/09/istana-maimun.jpg
2. http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2013/07/Maimun.jpg

Selasa, 12 Agustus 2014

Inilah Kawah Putih ala Sumatera Utara, Namanya Tinggi Raja


1. Dolok Tinggi Raja

Jika mendengar nama Sumatera Utara, mungkin yang ada di benak kita hanyalah pemandangan indah Danau Toba, perkebunan jeruk Brastagi, ataupun lucunya gerakan tarian boneka Sigale-gale. Padahal, Sumatera Utara tidak hanya terbatas pada hal-hal itu saja. Selain Kawah Putih Ciwidey, masih ada Kawah Putih lain yang tidak kalah indahnya, sebut saja Tinggi Raja. Cagar Alam Tinggi Raja terletak di Desa Tinggi Raja, Kecamatan Silau Kahen Kabupaten Simalungun Sumatera Utara. Keberadaan Cagar Alam ini yang jauh dari hiruk-pikuk masyarakat kota membuat objek wisata Tinggi Raja seakan hilang.

Konon menurut sejarah, Cagar Alam Tinggi Raja berasal dari kutukan Raja Desa Bauan terhadap anaknya yang melanggar peraturan memakan hati kerbau. Sang Anak Raja berusaha melarikan lari, namun kematian tidak dapat terelakkan. Setelah air panas menghantam dirinya, sang anak raja mati, hingga kemudian terbentuklah bukit kapur.

Pada dasarnya, Tinggi Raja sudah ditemukan sejak ratusan tahun lalu, sangat disayangkan aksesibilitasnya sangat sulit, jalan menuju Cagar Alam Tinggi Raja sangat terjal dan rusak. Menurut penuturan masyarakat setempat, objek wisata Tinggi Raja bisa kembali terkenal karena anggota TNI telah memperbaiki akses jalan, sehingga bisa diketahui oleh wisatawan. Untuk mencapai Tinggi Raja yang terletak 95 kilometer dari kota Medan, dibutuhkan waktu sekitar 4 jam dari pusat kota Medan. Terdapat dua alternatif perjalanan untuk mencapai objek wisata ini. Alternatif pertama dimulai dari Medan - Tebing Tinggi - Nagori Dolok - Tinggi Raja, sedangkan alternatif dimulai dari Medan - Deli Serdang - Bangun Purba - Nagori Dolok - Tinggi Raja. Meskipun rute pertama lebih singkat, namun kenyataannya memakan waktu lebih lama dibandingkan rute kedua. Adapun akses jalan yang harus dilalui oleh pengunjung didominasi oleh jalan aspal dan selebihnya adalah jalan terjal yang dipenuhi kerikil tajam.

Sangat disayangkan memang, akses menuju tempat seindah Tinggi Raja tidak seindah tempatnya. Dalam hal ini, pemerintah dapat dikatakan kurang memperhatikan cagar ala mini. Beruntungnya, anggota TNI membuat kawasan ini sebagai tempat pelatihan militer, dikarenakan kawasannya yang masih asri. Oleh karena itulah, anggota TNI berusaha memperbaiki akses jalan menuju Tinggi Raja. Namun, tenang saja. Meskipun jalur yang harus dilalui cukup sulit bahkan kurang menyenangkan karena begitu melelahkan, semua itu akan terbayar saat anda tiba di Tinggi Raja dan menyaksikan keindahannya secara langsung.

Sesampainya di Tinggi Raja, anda bisa menyaksikan bukit kapur yang terlihat seperti salju di bagian teratas bukit. Bukit kapur itu mengeluarkan aroma belerang. Kemudian di bawah bukit kapur tersebut, anda akan menjumpai sebuah danau berisi air panas berwarna biru. Selain itu, anda juga bisa menuruni anak tangga yang berjumlah seratus dan menapaki hutan. Jika di bukit teratas, anda menjumpai bukit kapur yang seperti bukit salju, maka tidak jauh dari seratus anak tangga, anda bisa melihat indahnya warna-warni bukit kapur yang juga menghasilkan air terjun panas. Di bawah air terjun panas tersebut terdapat sungai bersih yang dibuat untuk pemandian bagi wisatawan.


2. Dolok Tinggi Raja

Jika selama ini, anda hanya mengenal bukit belerang di Kawah Putih, Jawa Barat, maka itu, mari beranjak ke Pulau Sumatera. Ada Cagar Alam yang memiliki karakter yang sama dengan Kawah Putih Ciwidey, bernama Tinggi Raja. Semoga saja pemerintah setempat bisa lebih memperhatikan keberadaan Cagar Alam Tinggi Raja dengan memperbaiki akses jalan. Di luar sulitnya akses jalan, Tinggi Raja tetaplah indah dan mempesona. What a beautiful Indonesia. Ayo kita ke Tinggi Raja!

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://hanminlynn.com/dolok-tinggi-raja/
2. http://hanminlynn.com/dolok-tinggi-raja/

Selasa, 20 Mei 2014

Air Terjun Menawan, Wajib Dikunjungi di Indonesia

Liburan adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh semua orang. Menikmati kebersamaan bersama keluarga tercinta adalah impian setiap orang di hari weekend. Obyek wisata di Indonesia sangat beragam dari persawahan, pegunungan hingga air terjun. Sudah semestinya rakyat Indonesia bersyukur dengan ciptaanNya, karena negeri tercinta, Indonesia sangat berlimpah ruah pemandangan yang indah, menawan hingga menakjubkan dua bola mata indah manusia. Air terjun, salah satu obyek wisata yang sangat menarik untuk dilihat, aliran deras airnya mampu membuat mata manusia terpana melihat keindahannya. Berikut ini beberapa air terjun menawan yang ada di Indonesia :

1. Air Terjun Tiu Kelep

Air terjun Tiu Kelep terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat, desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Untuk mencapai di air terjun Tiu Kelep, Anda dapat menempuh waktu antara dua-tiga jam dengan kendaraan roda empat dan berjarak kurang lebih 60 km dari Ibu Kota Mataram. Jika Anda berasal dari luar Pulau Lombok, maka sebaiknya menggunakan jasa tour guide agar tidak tersasar menuju ke sana. Keindahan air terjun Tiu Kelep sangatlah menawan, di mana tepat berada di kaki Gunung Rinjani, salah satu gunung yang masih aktif di Indonesia. Untuk ketinggian air terjun Tiu Kelep bisa mencapai antara 30-45 meter. Dan tepat di bawah air terjun Tiu Kelep kita bisa menikmati bermain di sungai, pengunjung dapat membasahi tubuhnya dengan derasnya air terjun Tiu Kelep ataupun hanya menikmati pemandangan di sekitar air terjun Tiu Kelep dengan memejamkan mata dan memanjatkan syukur atas ciptaan Tuhan yang maha indah. Debit air di air terjun Tiu Kelep ini cukup besar, ditambah udara yang segar dan sangat cocok bagi Anda yang ingin melepaskan kepenatan untuk berlibur di air terjun Tiu Kelep.


Sumber foto : http://lombok.panduanwisata.com/wisata-alam/pesona-9-air-terjun-di-lombok/

2. Air Terjun Maramo

Air Terjun Maramo berada di Provinsi Sulawesi Tenggara, di Desa Sumber Sari, Kecamatan Moramo , Kabupaten Konawe Selatan yang terletak di kawasan Hutan Suaka Alam Tanjung Peropa. Keindahan air terjun Maramo terlihat secara alami di mana disebut dengan air terjun bertingkat yang ketinggiannya mencapai sekitar 100 meter. Air terjun Maramo mempunyai 7 tingkatan utama ditambah dengan 60 tingkatan kecil yang berfungsi sebagai kolam air. Daya pikat air terjun ini sangat identik dengan bebatuan yang bertingkat. Sangat cocok bagi kalian yang suka petualang di mana bisa menikmati bebatuan bertingkat sambil berjalan melewati batuan lainnya hingga mendaki sampai puncak.


Sumber foto : http://id.wikipedia.org/wiki/Air_Terjun_Moramo

3. Air Terjun Dua Warna

Air terjun dua warna berada di kota Medan, Sumatera Utara. Letaknya di Desa Durin Sirugun, Sibolangit, Sumatera Utara dan menempuh waktu selama 1-2 jam dari kota Medan dengan jarak kurang lebih 75 km. Medan dikenal dengan jalanan yang berliku dan jurang, jadi berhati-hatilah ketika menuju ke air terjun dua warna. Air terjun dua warna memiliki ketinggian 100 meter. Kenapa disebut dengan air terjun dua warna? Karena pada air terjun tersebut ada dua warna yakni biru jernih pada danau kecil dan putih keabu-abuan, sehingga terciptalah dua warna. Air terjun dua warna ini memiliki keindahan panorama alam yang indah ditambah dengan pepohonan yang rindang dan udaranya pun masih segar. Air terjun dua warna tepat berada di bawah kaki Gunung Sibayak.


Sumber foto : http://jalan2.com/city/medan/air-terjun-dua-warna/

Selamat liburan dan buanglah sampah pada tempatnya!

Oleh : Titis Ayuningsih

Rabu, 26 Februari 2014

Puncak Tertinggi Jawa Tengah



Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah. Gunung dengan tinggi 3.432 m di atas permukaan laut dengan posisi geografis 7°14,30' LS dan 109°12,30' BT yang terletak di perbatasan daerah kabupaten Pemalang dan kabupaten Banyumas. Di mana wilayah utara dari gunung ini berada dalam kawasan kabupaten Pemalang sementara wilayah selatan masuk kawasan kabupaten Banyumas. Namun gunung Slamet juga sedikit menjorok pada kawasan kabupaten Banjarnegara dan Brebes.

Gunung ini mempunyai empat kawah di puncaknya. Gunung yang berada di sebelah utara kota Purwokerto dan di sebelah barat kota Purbalingga ini juga mempunyai beberapa sumber air panas. Dari sumber air panas itulah memunculkan beberapa kawasan wisata air panas salah satunya wisata pemandian air panas Guci. Dan kaki gunung Slamet pada daerah Purwokerto ini juga dijadikan salah satu kawasan wisata bernama Baturraden.

Tahun lalu aku berkesempatan melakukan pendakian menuju puncak gunung tertinggi di Jawa Tengah itu. Jalur pendakian yang dilalui bukan merupakan jalur yang pada umumnya digunakan oleh para pendaki yang biasanya melalui daerah Banyumas atau lewat daerah Guci. Jalur yang ditempuh merupakan jalur dari desa tepat di mana aku tinggal dan dibesarkan. Jalur itu masih dekat dengan desa Gunungsari, di bagian pojok barat daya yang juga berbatasan dengan desa Jurangmangu. Di sana juga si juru kunci gunung Slamet tinggal.

Rombongan terdiri dari tiga puluh orang termasuk aku di dalamnya. Sore, setelah waktu ashar, rombongan beranjak menuju tempat si juru kunci. Begitulah kepercayaan warga sekitar yang mengharuskan menemui juru kunci gunung Slamet terlebih dahulu sebelum melanjutkan pendakian ke puncak Slamet. Perwakilan ketua pendakian menemui si juru kunci dan mengatakan jumlah pendaki dalam rombongan. Mitosnya, kata orang sekitar rombongan pendaki diharuskan berjumlah genap, tidak tahu kenapa.

Setelah diberi welingan dan dibakarkan kemenyan oleh si juru kunci rombongan memulai pendakian. Dipimpin oleh ketua rombongan kami menuju pondok awal masuk ke jalur pendakian gunung Slamet. Pos awal jalur pendakian dinamakan Plawangan, merupakan awal memulai rute pendakian untuk jalur pendakian yang kami tempuh. Di Plawangan kami sampai pada pukul 7 malam. Kami beristirahat sejenak dan berdoa untuk kembali melanjutkan pendakian menuju pos pertama di Pondok Gribig.


Pondok Gribig siang hari

Tak lama berselang, sekitar satu jam perjalanan kami berhasil mencapai di pos Pondok Gribig, 1700 meter di atas permukaan laut. Rombongan kembali beristirahat untuk menyantap bekal yang telah dipersiapkan, mulai dari lontong, ketupat, singkong rebus, dan juga keripik tempe serta ikan asin sebagai lauknya. Perjalanan dilanjutkan kembali menuju pos kedua. Medan yang kami lalui sekarang sangat berbeda dengan medan sebelumnya. Medan sekarang sulit untuk dilalui. Banyak pohon tumbang melintang di jalur perjalanan kami dan itu sangat menghambat laju perjalanan. Pos kedua ini juga memiliki jarak yang cukup jauh dari pos pertama. Sering rombongan berhenti sejenak untuk melepas lelah dan juga sembari menyantap kembali bekal makanan mereka. Akhirnya sampailah rombongan di Pondok Pakis, pos kedua di jalur pendakian tersebut. Tak tahu tepatnya pukul berapa kami sampai di sana.


Pondok pakis siang hari

Tak lama perjalanan dilanjutkan. Dingin sudah terasa sampai ke tulang. Pukul 11.52 malam kami berhasil sampai di pos ketiga Samyang Rangkam, 2665 mdpl. Setelah beristirahat dan melemaskan badan pendakian dilanjutkan kembali. Medan semakin kacau, banyak pohon tumbang bekas kebakaran hutan melintang pada rute yang kami lewati. Angin semakin kencang berhembus, kami pun juga sudah mulai kesulitan bernafas dengan kadar oksigen semakin menipis.


Pondok gua siang hari

Keesokan harinya, pukul 01.32 dini hari kami mencapai pos terakhir di Pondok Gua, tempat pemberhentian akhir untuk beristirahat sebelum mencapai puncak Slamet. Di pos itu kami mengistirahatkan mata yang belum sempat terpejam selama perjalanan. Pendakian menuju puncak dilanjutkan kembali pada pukul 04.31 pagi. Pendakian akhir melewati watu cadas, daerah penuh batu untuk mencapai puncak. Pukul 05.53 kami berhasil sampai di puncak tertinggi di Jawa Tengah, kami tidak mendapatkan sunrise, tapi terbayarkan dengan keindahan saat kami berada di puncak. Dan rasa lelah, letih, dan ngantuk selama perjalanan semua terbayarkan hanya dalam waktu yang singkat di sana. Paradiso, Indonesia itu memang indah.


Kawah Slamet


Segoro pasir

Oleh : Ario Dwi Prabowo
Referensi :
http://0ne-science.blogspot.com/2011/10/gunung-slamet.html
http://wikimapia.org/655748/Daerah-Puncak-Gunung-Slamet