Tampilkan postingan dengan label kota. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kota. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Oktober 2014

Medan: Kota Multi Kultural - 2 (Habis)

Medan merupakan Kota terbesar di Indonesia di luar pulau Jawa. Kota seluas 265,1 Km2 ini dihuni oleh beragam etnis baik etnis pribumi seperti suku Melayu dan Batak. Maupun etnis pendatang, baik pendatang yang masih termasuk suku asli Indonesia seperti suku Jawa, Padang, Aceh, Nias dan lainnya. Serta etnis yang berasal dari luar Indonesia yang telah menetap dan menjadi bagian dari kota medan berpuluh-puluh bahkan beratus tahun silam, seperti etnis Tionghoa, India dan Pakistan. Keanekaragaman ini membaur menjadi satu dan membentuk sebuah akulturasi budaya yang unik yang kemudian menjadi ciri khas kota Medan.

3. Tjong A Fie’s Mansion


3. Tjong Fie mansion: rumah warisan orang paling kaya di Medan

Tjong A Fie merupakan nama dari saudagar keturunan Tionghoa di Medan. Pada masanya ia merupakan orang yang sangat berpengaruh dan dermawan sehingga rumah atau mansionnya kini dijadikan tujuan wisata. Lokasinya terletak di Jalan Ahmad Yani tak jauh dari lapangan Merdeka kota Medan atau dikenal juga dengan sebutan daerah Kesawan.

Di kediaman Tjong A Fie yang luas, pengunjung akan dibawa kembali ke masa lampau dengan menyusuri tiap-tiap ruangan. Tiap ruangan memiliki cerita yang berbeda dan berisikan perabot-perabot tua khas Melayu, China dan Eropa juga foto Tjong A Fie beserta keluarganya. Mansion ini terbuka untuk umum hingga pukul 4 sore. Biaya masuk juga sangat murah sehingga baik pelajar maupun umum dapat menikmati wisata budaya di tempat ini.

4. Marian Shrine of Annai Velangkanni


4. Annai Velangkanni

Jangan kira ini adalah nama dari sebuah kuil Hindu, karena tebakan itu salah besar. Marian Shrine of Annai Velangkanni merupakan gereja Katolik yang terletak di jalan Sakura 3 Tanjung Selamat, sekitar 10 hingga 15 kilometer dari pusat kota Medan. Sesuai dengan namanya, gereja ini memang bernapaskan India. Desain arsitekturnya berciri Indo Mongol dengan tiga menara dan kubah. Bangunan utamanya sendiri terdiri dari atas dua lantai dengan balkon. Karena ini adalah tempat ibadah maka tidak dikenakan biaya masuk. Bagi umat Katolik yang ingin beribadah disediakan tempat parkir yang luas dan air yang muncul dari patung Bunda Maria dan tempat berdoa yang damai. Tersedia pula guide yang siap mengantar berkeliling dan menjelaskan arti dari tiap bagian gereja.

5. Maha Vihara Maitreya


5. Maha Viahara Maitreya

Sekitar empat puluh menit dari pusat kota Medan terdapat sebuah vihara megah yang terletak di dalam Kompleks Cemara Asri, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang. Lokasi merupakan lokasi yang dibangun dengan perencanaan yang baik dan layak dikunjungi. Karena vihara ini merupakan salah satu vihara terbesar Indonesia dan masih digunakan hingga saat ini sehingga tidak dikenakan biaya masuk. Ditempat ini pengunjung dapat berfoto dan menikmati keindahan eksterior dan interior khas kuil Buddha. Selain kelima situs heritage di atas, masih banyak lagi wisata budaya dan religi yang ada di seputaran kota Medan. Mengitari kota dengan kendaraan khas sambil menikmati pemandangan kota yang cantik dan modern dapat menjadi pilihan. Selain itu kota ini juga menyajikan berbagai macam kuliner yang tidak didapat di tempat lain. Menikmati keelokan warisan budaya kota Medan dapat menjadi pilihan ketika ingin menghabiskan liburan di Sumatera Utara selain objek wisatanya yang sudah sangat dikenal seperti danau Toba dan cagar alam Bukit Lawang.

Oleh : Tika Dwi
Gambar:
3. http://www.yukpegi.com/indonesia/tjong-fie-mansion-rumah-warisan-orang-paling-kaya-di-medan/
4. http://velangkanni.blogspot.com/2012_08_01_archive.html
5. https://www.flickr.com/photos/adhyprazz/9821260005/

Rabu, 08 Oktober 2014

Medan: Kota Multi Kultural - 1

Medan merupakan Kota terbesar di Indonesia di luar pulau Jawa. Kota seluas 265,1 Km2 ini dihuni oleh beragam etnis baik etnis pribumi seperti suku Melayu dan Batak. Maupun etnis pendatang, baik pendatang yang masih termasuk suku asli Indonesia seperti suku Jawa, Padang, Aceh, Nias dan lainnya. Serta etnis yang berasal dari luar Indonesia yang telah menetap dan menjadi bagian dari kota medan berpuluh-puluh bahkan beratus tahun silam, seperti etnis Tionghoa, India dan Pakistan. Keanekaragaman ini membaur menjadi satu dan membentuk sebuah akulturasi budaya yang unik yang kemudian menjadi ciri khas kota Medan.

Pengaruh yang dibawa oleh etnis dan suku tersebut tidak hanya sebatas adat dan budaya, tetapi juga agama dan sistem kepercayaan. Kota Medan merupakan salah satu contoh toleransi antar umat beragama yang terjalin secara indah. Toleransi tersebut telah terjalin bertahun-tahun bahkan sebelum Indonesia merdeka. Oleh karena itu hingga kini masih terdapat beberapa bangunan dan rumah ibadah sebagai bukti keharmonisan akulturasi budaya dan perbedaan beragama di kota Medan. Bangunan tersebut masih berdiri kokoh dan menjadi warisan budaya terhadap generasi penerusnya. Kita dapat mengunjungi tempat tersebut ketika sedang berada di kota Medan.

1. Istana Maimoon


1. Istana Maimoon

Merupakan Istana Kesultanan Deli yang masih berdiri megah hingga saat ini. Istana ini sangat erat kaitannya dengan legenda Putri Hijau dan Meriam Puntung. Berdasarkan legenda tersebut, kekuasaan Kesultanan Deli berhasil ditumbangkan oleh serbuan pasukan Sultan Iskandar Muda dari Aceh.

Istana Maimoon terletak di pusat kota medan sehingga tidak sulit mencapai objek wisata ini. Hingga kini banyak orang yang mengunjungi Istana Maimoon dan merupakan objek wisata yang paling direkomendasikan di kota Medan. Biaya untuk masuk ke objek wisata ini kurang dari Rp. 10.000,- per orang. Di dalamnya ada pemandu yang merupakan keturunan bangsawan dan kerajaan Deli yang akan menjelaskan tentang kehidupan Kesultanan Deli dan Keluarga kerajaan di masa lampau. Selain itu pengunjung juga bisa berfoto dengan mengenakan baju adat Deli secara gratis.

2. Masjid Raya Al Mashun


2. Masjid Raya Al Mashun

Tak jauh dari Istana Maimoon kita berdiri sebuah Masjid besar berarsitektur Melayu, Spanyol, India dan Timur Tengah. Masjid tersebut adalah Raya Al Mashun. Masjid yang masih aktif digunakan hingga saat ini juga merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Deli di Medan.

Selain beribadah bagi umat Muslim, menikmati keindahan interior dan eksterior masjid merupakan hal yang tak boleh dilewatkan. Selain itu, menyusuri beranda masjid yang luas dan berbentuk lorong membuat pengunjung seakan diajak kembali ke masa-masa keemasan Kesultanan Deli. Di bagian belakang masjid juga terdapat kompleks pemakaman keluarga kerajaan dan bangsawan Kesultanan Deli yang masih digunakan hingga sekarang.

Olehg : Tika Dwi
Gambar:
1.http://travelmatekamu.com/2014/04/21/uniknya-istana-maimun/
2. http://simbi.kemenag.go.id/simas/index.php/profil/masjid/12751/?tipologi_id=2

Kamis, 28 Agustus 2014

Mengenali Keberadaan Kesultanan Deli Melalui Istana Maimun Medan


1. Istana Maimun Tampak Depan

Kota Medan adalah salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki banyak tujuan wisata. Selain Danau Toba yang ada di Pulau Samosir, masih ada tujuan wisata lainnya, baik itu wisata alam, kuliner, maupun sejarah. Salah satu tujuan wisata yang wajib dikunjungi bila tengah berkunjung ke Medan adalah Istana Maimun. Istana Maimun merupakan istana peninggalan Kesultanan Deli yang berada di Jl. Brigjen Katamso, Sukaraja, Medan. Menurut sejarah, Istana Maimun didirikan pada tahun 1888 oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa dan diresmikan pada tahun 1891.

Ada satu yang unik dan membuat istana ini tampak beda dari istana-istana lainnya di Indonesia, yakni gaya arsitekturnya yang merupakan kombinasi unsur Melayu, Italia, Spanyol, dan India. Pengaruh Eropa itu dapat dilihat pada ornamen pintu dorong, lampu, lemari, meja, dan kursi istana. Selain pintu yang bergaya Spanyol, anda juga bisa melihat gaya arsitektur Belanda pada bentuk jendela dan pintu yang tinggi dan lebar. Oh ya, di depan tangga, anda bisa melihat prasasti dari batuan marmer yang ditulis dalam Bahasa Belanda, dengan menggunakan huruf Latin. Pengaruh Islam dapat dilihat pada bagian atap yang berbentuk lengkung yang menyerupai bentuk perahu yang terbalik. Biasanya bentuk seperti ini hanya dapat ditemukan pada bangunan di Timur Tengah.


2. Bagian Dalam Istana Maimun

Pada bagian ruang tamu, anda akan menemukan tahta yang warnanya didominasi oleh warna kuning. Ruang tamu dengan luas 412 m2 ini digunakan untuk menobatkan Sultan Deli dan untuk melakukan agenda tradisional yang lain. Selain itu, ruangan ini juga digunakan Sultan Deli untuk menerima kunjungan dari keluarga pada saat hari raya Islam. Adapun kemegahan Istana Maimun ini bisa terwujud karena semasa Deli masih di bawah naungan Kesultanan Deli, mereka bisa mengelola hasil perkebunan dengan baik, seperti minyak dan aneka rempah-rempah. Hasil bumi yang melimpah ini memberikan penghasilan yang sangat besar bagi Kesultanan Deli.

Kemegahan Istana Maimun tidak akan membuat anda bosan menikmatinya. Di dalam istana dengan warna khas Melayu ini, anda bisa melihat puluhan kamar di lantai dua, melihat berbagai koleksi istana yang antik, dan juga bisa menikmati hawa sejuk yang tentu akan membuat anda nyaman berada di dalamnya.. Adapun bangunan istana ini terdiri dari satu bangunan induk dan dua sayap kiri-kanan. Seratus meter dari Istana Maimun berdiri sebuah masjid bernama Masjid Raya Medan.

Istana Maimun dibuka bagi umum setiap harinya mulai pukul 08.00 sampai pukul 17.00 WIB. Untuk bisa masuk ke dalam istana, pengunjung dikenakan tarif masuk sebesar Rp 5000,- bagi pengunjung dewasa dan Rp 3000,- bagi pengunjung anak-anak. Istana Maimun berlokasi di Kelurahan Aur, tepatnya di pusat Kota Medan. Untuk bisa sampai ke istana ini, pengunjung bisa menggunakan berbagai moda transportasi seperti angkutan umum, becak, ataupun becak motor. Letak Istana Maimun yang berada di tengah-tengah kota sangat memudahkan bagi siapapun yang datang berkunjung.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://winnyalna.com/wp-content/uploads/2013/09/istana-maimun.jpg
2. http://www.wego.co.id/berita/wp-content/uploads/2013/07/Maimun.jpg

Rabu, 27 Agustus 2014

WISATA ISLAM DI MASJID SERIBU PINTU, TANGERANG


1. Masjid Pintu Seribu

Jika di Semarang ada Lawang Sewu sebagai wisata horornya, di Tangerang pun ada wisata religinya yakni di Masjid Pintu Seribu yang terkesan unik bagi siapapun saat berkunjung ke sana. Tentu saja tempat wisata ini dapat dikunjungi oleh berbagai kalangan usia. Masjid Seribu Pintu yang penuh dengan kenangan sejarah, jejak islam, serta menambah wawasan ini, dibangun di tanah seluas 1 hektar pada tahun 1978. Uniknya sebelum masjid ini dibangun, masjid ini tidak memakai rancangan gambar yang biasa dilakukan sebelum membangunnya. Sehingga masjid ini memiliki perpaduan arsitek yang bercampur-campur, yang dapat membuat pengunjung tertegun akannya.

Pendiri Masjid ini adalah warga keturunan Arab, di mana warga sekitar memanggilnya dengan sebutan Al-Faqir. Beliau merupakan santri dari Syekh Hami Abas Rawa Bokor, Ia juga membangun Masjid tersebut dengan biayanya sendiri. Masjid yang katanya memiliki seribu pintu ini, terletak di RT 01 RW 03, Kampung Bayur, Priuk Jaya, Jatiuwung, Kabupaten Tangerang, Banten. Untuk mencapai lokasi tak perlu sulit atau kerepotan, hanya dibutuhkan waktu yang tak lama dari pusat kota Tangerang. Ruangan dalam masjid ini nampak layaknya mushola dikarenakan ruangannya memiliki sekat-sekat. Adapun nama dari setiap mushola diantaranya mushola Fathulqorib, Tanbihul-Alqofilin, Durojatun Annasikin, Safinatu-Jannah, Fatimah hingga mushola Ratu Ayu, dengan masing-masing mushola memiliki luas area sekitar 4 meter.

Ada sebuah ruangan khusus yang digunakan untuk yang ingin beristiqomah sepanjang malam, yaitu ruang tasbih. Untuk menuju lorong tasbih sangat gelap juga lembab dan memiliki banyak sekali pintu yang berkelok-kelok. Namun, tak perlu khawatir, karena setiap ruangan ada penunjuk jalannya. Di dalam ruang tasbih terdapat tasbih berukuran besar yang terbuat dari kayu dan terpajang di salah satu sudut ruang berteralis besi, memiliki 99 butir, berdiameter 10 cm dan tertulis Asma’ul Husna. Konon, tasbih tersebut merupakan tasbih terbesar di Indonesia.


2. Ruang Tasbih

Terdapat ornamen angka 999 yang menghiasi beberapa pintu di masjid ini. Di mana, angka 999 tersebut merupakan penggabungan antara 99 Asma’ul Husna dan 9 Wali Songo. Di antara pintu-pintu masjid dapat kita temui banyak lorong yang sempit dan gelap layaknya labirin.


3. Ornamen 999


4. Lorong Masjid Pintu Seribu

Masjid Seribu Pintu merupakan salah satu aset berharga bagi warga Tangerang yang pantas menjadi tempat wisata yang layak dan berbobot. Namun karena ruang lahan di kota Tangerang yang tak begitu luas, membuat pemerintah kota mencoba untuk memfokuskan fasilitas-fasilitas yang hendak diusung serta diresmikan secepatnya. Bahkan ada usulan jika setiap hari sabtu dan minggu diadakan wisata rohani ke Masjid Al-Adzom juga Masjid Seribu Pintu. Hal ini ditujukan agar Kota Tangerang tiap minggunya dipadati oleh pengunjung. Serta mengenal tempat wisata lainnya di kota Tangerang. Dan semoga artikel ini, dapat menjadikan Masjid Seribu Pintu dikenal oleh masyarakat luas.

Oleh : Ardan Esand
Gambar:
1. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgR1TRRYkr-AC1TOwQVBI47BZ918449S9n3xKEqUhlqX8OPuQUqbg-tXIv0k1tTLZMS1G6oP2GkYShZvBErarLvxzUF88pKjppGmwFNRQyPkAkZMKQg69Z8sHK4tNYXab4Uxj6psFWeeTI/s1600/Masjid+Pintu+Seribu.jpg
2. http://store.tempo.co/cover/medium/foto/2012/03/16/s_11C29807.jpg
3. http://bantenculturetourism.com/wp-content/uploads/2011/05/12_1.jpg
4. http://neomisteri.com/wp-content/uploads/2012/10/Masjid-Pintu-Seribu-2.jpg

Kamis, 17 Juli 2014

Menikmati Nuansa Tempo Dulu di Kota Tua Jakarta

Rasa-rasanya kita pasti tak akan pernah lupa bahwa dahulunya Indonesia pernah dikuasai Belanda selama 350 tahun. Memang kita yang hidup di era sekarang tidak merasakannya secara langsung, tetapi buku sejarah, berita, dan peninggalan-peninggalannya-lah yang membuat kita tahu. Bukti-bukti itu bisa kita lihat secara langsung lewat bangunan-bangunan buatan Belanda yang hingga kini masih berdiri megah di beberapa tempat di Indonesia. Jakarta, yang dulunya disebut Batavia merupakan tempat di mana bangunan berarsitektur kolonial banyak berdiri. Sebut saja Kota Tua, yang kini dijadikan kawasan Cagar Budaya.


(Dokumentasi Pribadi)

Arsitektur bangunan yang bercorak tempo dulu membuat Kota Tua menjadi tempat bertemunya orang-orang pecinta sejarah, begitu juga dengan para seniman fotografi yang gemar memotret gedung-gedung megah di kawasan itu. Ada enam lokasi bersejarah di Kota Tua yaitu Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Wayang, Museum Mandiri, Stasiun KA Kota, dan Pelabuhan Sunda Kelapa. Museum Fatahillah adalah tempat yang paling pas bagi anda yang berhasrat menelusuri jejak sejarah Kota Jakarta. Untuk memasuki museum-museum, anda akan dikenakan tarif murah.

Selain mengunjungi museum, anda juga bisa bersepeda layaknya meneer dan mevrouw. Tentu saja sepeda yang disediakan adalah sepeda onthel zaman dahulu, bukan sepeda modern di zaman sekarang. Dengan sepeda onthel, anda bisa berkeliling kawasan Kota Tua, hingga ke Pelabuhan Sunda Kelapa yang letaknya agak jauh dari pusat Kota Tua.

Kota Tua selalu ramai, baik itu diramaikan pengunjung ataupun para pedagang. Ada hal yang menarik di Kota Tua sejak tahun 2013 lalu, yaitu kehadiran manusia batu. Manusia batu adalah orang-orang yang mengubah penampilannya menjadi seperti orang-orang di zaman penjajahan Belanda. Manusia batu yang pria berperan selayaknya prajurit sedangkan yang wanita berperan selayaknya None Belanda. Para pengunjung yang ingin berfoto dikenakan tarif sukarela, masing-masing mereka telah menyediakan kotak sukarela. Kehadiran manusia batu telah menambah atmosfer tempo dulu, di mana dahulunya hanya ada meriam Si Jagur di halaman Museum Sejarah Jakarta yang berwujud barang.

Setelah merasa puas mengelilingi Kota Tua, umumnya para pengunjung akan lapar. Namun jangan khawatir, karena di setiap sudut Kota Tua anda akan menemukan berbagai pedagang makanan kaki lima, bahkan café. Kerak telor, gado-gado, nasi goreng, dan makanan murah lainnya ada di sana. Jika anda ingin merasakan makanan luar, anda bisa mencicipi sajian makanan di Café Batavia. Di sana anda bisa menikmati makanan dan minuman Barat, Cina, dan juga Indonesia, dengan kisaran harga Rp 32.000 – Rp 200.000. Berdasarkan ulasan dari beberapa pengunjung Café Batavia, makanan dan minuman di café itu kurang mengena di lidah orang lokal, tapi jika anda ingin mencoba secara langsung, silakan kunjungi Café Batavia di Taman Fatahillah, Kota Tua. Mengenai makanan lokal, anda bisa menemukan kuliner khas Jakarta di halaman dalam Museum Sejarah Jakarta, seperti Kerak Telor, Tauge Goreng, dan Es Selendang Mayang.


(Dokumentasi Pribadi)

Untuk sampai ke Kota Tua, anda bisa menggunakan kereta, busway, dan mikrolet. Tunggu apalagi? Ayo ke Kota Tua, jaga kelestarian, kebersihan, dan keindahannya.

Oleh : Rahel Simbolon

Senin, 14 Juli 2014

Menikmati Pesona Indah Pantai Mutun

Lampung adalah salah satu wilayah di selatan Pulau Sumatera, yang berada di tengah selat dan samudera. Posisi Lampung yang berada di selatan, membuat provinsi ini kaya akan pantai. Ada banyak pantai Lampung yang indah dan masih alami. Jarak Lampung dan Jakarta yang tidak begitu jauh membuat banyak orang, terlebih para pekerja kantoran sering menghabiskan weekend mereka dengan berwisata alam ke pantai-pantai di Lampung. Sebut saja Pantai Mutun, yang terletak di Kecamatan Padang Cermin, berada sekitar 30 km dari Kota Bandar Lampung.

Saat ini, keindahan Pantai Mutun menjadi magnet wisata bagi masyarakat Lampung. Pantai Mutun selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan dalam kota maupun luar kota. Selain pasir putihnya yang bersih dan airnya yang bening, ombak Pantai Mutun juga relatif tenang, sehingga cocok untuk dijadikan tujuan wisata keluarga, apalagi jika anda ingin sekali menceburkan diri ke dalam air. Jika anda ingin bersantai, di tepi pantai tersedia deretan gubuk yang bisa digunakan untuk sekedar duduk ataupun tidur-tiduran menikmati angin pantai yang bertiup sepoi-sepoi.

Pergi bersama anak-anak pastinya akan terasa seru bila benar-benar merasakan bagaimana air pantai. Oleh karena itu, pengelola Pantai Mutun telah menyediakan banyak wahana permainan, seperti kano, jet sky, waterboom, ban apung, dan perahu. Untuk menyewa perahu kano dengan kapasitas sendiri, pengunjung dikenakan tarif Rp 15.000-Rp 20.000 per orang, sementara jika ingin menyewa perahu kano kapasitas berdua, dikenakan tarif Rp 30.000 rupiah. Untuk banana boat, pengunjung dikenakan tarif Rp 25.000 per orang dan untuk masuk ke area waterboom, pengunjung dikenakan tarif Rp 10.000 per orang. Selain permainan-permainan ini, anda dan keluarga juga bisa memancing bersama. Untuk aktivitas ini, pihak Mutun sudah menyediakan peralatan memancing yang dapat anda sewa.


(http://anintyanovitasari.files.wordpress.com/2011/11/img_4833.jpg?w=300&h=225)

Jika anda melihat ke seberang pantai, akan terlihat sebuah pulau yang masih alami, asri, dan hijau, yang bernama Pulau Tangkil. Untuk mencapai pulau Tangkil, anda bisa menggunakan perahu dengan tarif Rp 10.000 per orang. Air laut di Pulau Tangkil masih lebih bersih sehingga anda bisa melihat secara langsung ikan-ikan yang berenang.


Pulau Tangkil
(anintyanovitasari.files.wordpress.com/2011/11/img_1700.jpg)

Setelah merasa puas beraktivitas di pantai, anda bisa beristirahat di gubuk-gubuk di tepi pantai ataupun langsung mencicipi makanan di café. Fasilitas umum yang disediakan di Pantai Mutun cukup lengkap, seperti ruang ganti dan toilet, masjid, restoran atau café, dan lokasi parkir yang luas. Di luar areal pantai, anda juga bisa menemukan berbagai kios yang menjual suvenir khas Lampung, seperti gantungan kunci, T-shirt, pajangan, hingga, gorden bukan kain melainkan kumpulan kerang yang telah dicuci bersih kemudian dirangkai selayaknya gorden.

Untuk bisa sampai ke Pantai ini, para pengunjung bisa memulai perjalanan dari Kota Bandar Lampung dengan jarak tempuh sekitar 25 km. Selama perjalanan, anda bisa menikmati suasana hijau di kiri dan kanan jalan. Ada begitu banyak pepohonan hijau, pemandangan pegunungan dan laut biru yang membuat mata dan hati ikut sejuk memandangnya.


(Dokumentasi Pribadi)

Oleh : Rahel Simbolon

Jumat, 11 Juli 2014

Indahnya Taman Segitiga Emas Kayu Agung


(Dokumentasi Pribadi)

Kayu Agung, yang merupakan Ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan patut berbangga, pasalnya beberapa hari lalu kota kecil ini menerima piala adipura untuk yang ke tujuh kalinya. Di Sumatera Selatan sendiri, kota Kayu Agung merupakan salah satu kota yang terkenal akan kebersihan dan tatanan kota yang rapi. Walaupun hanya kota kecil, Kayu Agung juga tidak kalah dengan Jakarta yang memiliki banyak taman kota. Sebut saja Taman Segi Tiga Emas, sebuah taman kota yang dibangun pada zaman pemerintahan Bupati Ishak Mekki. Sebenarnya taman itu bernama Taman Prof Amri Yahya, namun karena letak taman yang berada di dalam kawasan segitiga emas, maka jadilah taman itu disebut Taman Segitiga Emas. Sebelum taman ini berdiri, masyarakat Kayu Agung sering melakukan aktivitas olahraga di Lapangan Hatta yang berkapasitas terbatas.


(Dokumentasi Pribadi)

Secara tidak langsung , keberadaan Taman Segitiga Emas ini seakan menjadi icon Kayu Agung. Kebanyakan anak muda luar Kayu Agung lebih sering menyebut Taman Segitiga Emas, jika ditanya perihal kota tersebut. Letaknya yang strategis, yaitu di tengah jalan menuju Lampung dari Palembang, serta tatanan taman yang rapi, hijau, dan asri, membuat taman ini terlihat indah dari sudut mana pun. Setiap hari lokasi ini selalu dikunjungi oleh masyarakat, baik itu dari Kayu Agung, maupun dari luar Kayu Agung, seperti Palembang dan Indralaya, yang notabene adalah mahasiswa. Selain dikunjungi anak muda, taman Segitiga Emas juga sering dikunjungi oleh para keluarga. Di dalam taman, disediakan beberapa arena bermain anak-anak, seperti ayunan, jungkat-jungkit, dan papan luncur, yang bisa digunakan secara cuma-cuma.


(Dokumentasi Pribadi)

Selain itu, kamu juga bisa menemukan alat olahraga sederhana di areal taman bermain, yang tentunya akan lebih asyik jika dimainkan saat sore hari, mengingat cuaca Kayu Agung yang sangat terik dan panas pada siang hari. Ditambah lagi, kamu bisa jogging mengelilingi taman pada saat sore hari. Hampir setiap malam pergantian tahun, taman segitiga emas dijadikan sebagai pusat berkumpulnya keluarga dan muda-mudi yang ingin merayakan malam pergantian tahun. Keberadaan arena bermain anak-anak membuat para orangtua tidak segan untuk mengajak anak-anak mereka, karena tentu anak-anak mereka tidak akan bosan.


(Dokumentasi Pribadi)

Jika berjalan ke tengah-tengah taman, kita akan menemukan sebuah monumen berbentuk perahu yang tengah berlayar, yang disebut perahu kajang. Menurut sejarah, pada zamannya, perahu kajang sangat berperan bagi perekonomian penduduk pinggiran sungai yang memperdagangkan tembikar ke pasar 16 ilir, Palembang. Namun, di era 1980-an, perahu kajang mulai menghilang seiring dengan masuknya berbagai produk buatan Cina yang murah.

Saat ini perahu kajang sudah tidak ada lagi, namun masyarakat tetap bisa melihat betapa perkasanya perahu kajang di masa dulu melalui replika perahu kajang di tengah-tengah Taman Segitiga Emas. Selain di taman, perahu kajang juga bisa terlihat saat kita memandang gedung olahraga di sebelah barat Taman Segitiga Emas, di mana gedung olahraga tersebut dibuat menyerupai perahu.

Perahu Kajang tinggal kenangan, namun kehadiran Taman Segitiga Emas telah membuat Perahu Kajang tetap bertahan.


(Dokumentasi Pribadi)

Oleh : Rahel Simbolon
Catatan:
Untuk sampai ke taman ini, kamu bisa menaiki travel tujuan Kayu Agung dari Palembang, dengan lama perjalanan 2 jam.

Selasa, 24 Juni 2014

Sehari Menjelajah Keunikan Pecinan Glodok - 1

Pecinan. Apa yang terlintas dalam benak Anda saat mendengar istilah tersebut? Sebuah wilayah kota yang mayoritas penghuninya adalah warga negara Indonesia keturunan Tionghoa? Sepenggal saksi sejarah keberagaman yang masih tersisa? Atau sederetan gang-gang kecil yang dipenuhi penjaja kuliner dengan kenikmatan yang khas?

Ketiganya tidak salah. Kawasan Pecinan memang dikenal sebagai satu “kampung” kecil, yang menyimpan segudang sejarah keunikan masyarakat Tionghoa yang bermukim di daerah tertentu. Hampir seluruh kota besar di Indonesia memiliki “pecinan”nya masing-masing, hanya saja dengan sebutan yang berbeda-beda. Sebagai salah satu kota besar yang multikultur, Jakarta ternyata juga memiliki kawasan pecinannya sendiri, yang dipusatkan di Glodok, Jakarta Barat.

Berbicara mengenai Pecinan, salah satunya berbicara mengenai identitas sejarah yang dewasa ini semakin terkikis oleh pengaruh modernisasi dan kapitalisme. Miris rasanya, saat mendapati fakta nasionalisme karbitan, yang seketika menyeruak tepat pada saat masyarakat menyadari bahwa mereka telah kehilangan apa yang selama ini “lupa” mereka jaga. Pecinan merupakan salah satu simbol sejarah yang masih tersisa. Keberadaan mereka menunjukkan, betapa Indonesia sejatinya sangat kaya akan kultur, yang tentunya menarik untuk dijelajahi secara lebih mendalam.

Tertarik untuk menjadi salah satu saksi pesona arsitektur dan kuliner khas Tionghoa yang masih tersisa, pada hari itu saya memutuskan untuk melakukan eksplorasi sederhana di kawasan Pecinan Glodok. Berbekal kaki yang siap melangkah, dan semangat untuk menikmati ragam suguhan wisata khas kota lama, saya berhasil menemukan tiga tempat unik yang patut Anda jelajahi di kala senggang.

Kawasan Petak Sembilan

Pedagang kaki lima yang ramai menjajakan dagangannya, lalu lintas yang padat, serta toko-toko elektronik yang berjajar di sepanjang jalan, meyakinkan saya bahwa saya telah sampai di tempat tujuan. Kawasan Petak Sembilan, begitu masyarakat sekitar biasa menyebut salah satu pasar tradisional di daerah Glodok, Jakarta Barat ini. Berbeda dengan pasar tradisional lainnya, kawasan ini lebih tampak seperti sebuah gang panjang yang menawarkan ragam eksotisme khas Tionghoa, baik dari segi arsitektur bangunan, maupun kulinernya. Sepanjang perjalanan, tidak jarang saya berpapasan dengan beberapa turis asing yang berkeliling, sambil sesekali menikmati kuliner unik yang dijual di tempat ini. Melangkahkan kaki menyusuri Petak Sembilan, sama artinya dengan harus siap menahan berbagai godaan. Sambil menyusuri gang-gang kecil, beragam camilan seolah berebut memanggil-manggil. Hidung tidak akan berhenti terpuaskan, apalagi ketika dihadapkan dengan harum aroma cempedak goreng dan kuo tie. Selain itu, Rujak Shanghai serta es selendang mayang yang sudah sangat jarang ada di Jakarta pun, tampak masih dijual di sepanjang kawasan ini.

Nuansa oriental khas Petak Sembilan, sebenarnya akan lebih terasa jika saya bertandang tepat di kala Imlek. Pada masa ini, biasanya lampion merah sebagai salah satu ornamen khas Imlek, akan digantungkan di sepanjang jalan. Warga keturunan Tionghoa pun akan ramai berdatangan dari seluruh penjuru Jakarta, sekedar untuk membeli perlengkapan khas (termasuk makanan), untuk menyambut datangnya Tahun Baru Cina tersebut.

Tidak jauh dari kawasan tersebut, saya menemukan trotoar panjang yang dipenuhi pelukis jalanan, dengan hasil lukisan yang tampak sangat hidup. Mayoritas karya dibuat berdasarkan foto asli seseorang, atau tokoh masyarakat yang saat ini sedang ramai diperbincangkan. Terlihat pula unsur humor, yang seringkali diselipkan di dalamnya. Saya cukup terkesan dengan seniman jalanan di tempat ini. Tangan mereka tidak pernah berhenti bergerak, bahkan ketika sedang sepi pelanggan sekalipun. Sambil sesekali bertanya kepada masyarakat sekitar yang mayoritas merupakan warga negara keturunan Tionghoa, saya berjalan menuju tujuan saya selanjutnya, Vihara Dharma Bhakti.

Bersambung Bagian 2

Oleh : Maria Miracellia Bo

Kamis, 29 Mei 2014

Sisi Lain Kota Ramah

Indonesia, Negara dengan kekayaan melimpah ini membuat turis manca Negara terpana, sehingga banyak yang memutuskan untuk berlibur di Negara seribu pulau ini. Jika para turis telah terpana, maka bisa dipastikan penduduk dalam negeri juga akan suka dengan alam Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke akan terdapat lebih dari puluhan tempat yang bisa dikunjungi oleh wisatawan. Selain pemandangan yang indah, Indonesia juga terkenal dengan kekayaan budaya-nya. Budaya, inilah salah satu faktor negara Merah Putih menjadi Negara yang banyak dikunjungi oleh turis dari berbagai negeri.

Salah satu pulau yang terkenal dengan kunjungan manca Negara untuk berlibur adalah pulau Dewata. Selain itu, kota yang nmempunyai selogan “Ramah” juga memnpunyai tempat di hati wisatawan dalam maupun luar negeri. Kota yang berjulukan “ramah” ini adalah kota Ngawi. Kota Ngawi terletak di Jawa Timur. Jika kita datang di kota ini kita akann merasakan aura penduduknya yang ramah, jika kita tidak tahu arah atau ingin bertanya sesuatu, maka bertanyalah, karena penduduk di kota ini tidak akan berfikir untuk menyesatkan. Namun, di balik ramahnya kota Ngawi ada hal mistis yang menjadi sejarah dari kota ini.

Ditinjau dari sejarah namanya, Ngawi berasal dari kata “awi” yang berarti bambu. Ketika kita melewati kota ini atau berkeliling di kota Ramah, kita akan menjumpai banyak hutan. Ada dua tempat yang sering dikunjungi oleh wisatawan ketika di kota ini. Yang pertama adalah “Monumen Suryo”. Tempat ini merupakan tempat bersejarah. Di dalam monumen tersebut berdiri dengan gagah patung dari seorang pahlawan bernama “Suryo”. Konon pak Suryo meninggal di tempat ini dalam perjalananya ke Surabaya guna melawan penjajah. Oleh karenanya patung almarhum pak Suryo menunjukkan jari telunjuk beliau tanda di situlah beliau dimakamkan. Selain sebuah patung, di dalam monumen ini juga terdapat beberapa hewan yang dilestarikan. Selain itu, monumen ini juga sangat terkenal dengan ukiran kayunya, inilah yang paling diincar wisatawan ketika berkunjung di tempat ini.



Yang kedua adalah ”Alas Ketonggo” atau juga ada yang menyebut dengan “Alas Srigati”. Kata “alas” berarti “hutan”, hutan ini dinyakini oleh masyarakat sebagai hutan “Ghoib” atau hutan “lelembut”. dimana banyak mahluk halus yang bersemayam didalamnya. Meskipun begitu, kemistisan tempat ini justru menjadi daya tarik bagi pengunjung. Terbukti dengan banyaknya pengunjung dari dalam maupun luar negeri. Penngunjung biasanya tidak hanya ingin belajar sejarah namun ada juga yang ingin bertanpa, mencari ketenangan ataupun berdo’a atas hajatnya, walaupun mereka tidak tahu apakah akan terkanbul ataukah tidak.

Sekilas tentang sejarah Ketonggo, inilah tempat di mana Raden Brawijaya melepaskan petilasannya (Sorban, Jubah, pakaian kebesaran) ketika beliau hendak ke Gunung Lawu. Namun, petilasan tersebut raib dan berubah menjadi sebuah gundukan yang konon semakin hari gundukan tersebut tumbuh. Inilah yang yakini tanda bumi bagi juru kunci Alas tersebut. Konon, jika ada sesuatu hal yang buruk yang akan terjadi, gundukan tersebut berhenti tumbuh. Di sinilah para pengunjung biasanya bertapa dan berdoa. selain itu ada juga sebuah sungai yang merupakan temuan dua sungai. Sungai tersebut dinamakan Sungai Tempur Sedalem. Sungai ini diyakini oleh masyarakat sebagai sungai yang mustajab, karena tempat ini diyakini oleh masyarakat sebagai tempat yang bisa menunjukkan jalan sebuah cita-cita. Khususnya di bulan Muharam dan bulan Syura, tempat ini dibanjiri oleh pengunjung yang ingin berziarah. “Bahkan menjelang Pemilu 2014 banyak dari para Calon Legislatif bertapa di tempat ini, entah untuk mencari kemenangan, ketenangan. atau hajat pribadi” kata seorang informan dari daerah tersebut.

Inilah setitik kisah dari kota Ngawi kota yang mempunyai penduduk yang ramah namun juga menyimpan kemistisan yang bersejarah. Jika Anda pecinta sejarah dan bernyali dengan hal yang mistis, maka inilah tempat yang tepat untuk Anda. Selain itu, Sebagai manusia yang hidup diciptakan Tuhan, kita pantas yakin bahwa sejarah tercipta agar manusia berfikir. Dari masa lalu kita mengerti sebuah perjuangan, dan perjuangan para pendahulu pantas dilanjutkan generasi muda dengan hal yang positif, bukan hanya bertapa namun beraksi secara riil begitu Bung Karno mencontohkan. Bukan meminta pada orang mati ataupun lelembut namun meminta pada tuhan, karena kuasa Tuhanlah yang mematikan seseorang dan lelembut merupakan salah satu makhluk Tuhan yang tidak bisa dilihat oleh mata walaupun atas izin-Nya ia dapat berhubungan dengan manusia.

Oleh : Ezza Rafaz

Selasa, 20 Mei 2014

Air Terjun Menawan, Wajib Dikunjungi di Indonesia

Liburan adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh semua orang. Menikmati kebersamaan bersama keluarga tercinta adalah impian setiap orang di hari weekend. Obyek wisata di Indonesia sangat beragam dari persawahan, pegunungan hingga air terjun. Sudah semestinya rakyat Indonesia bersyukur dengan ciptaanNya, karena negeri tercinta, Indonesia sangat berlimpah ruah pemandangan yang indah, menawan hingga menakjubkan dua bola mata indah manusia. Air terjun, salah satu obyek wisata yang sangat menarik untuk dilihat, aliran deras airnya mampu membuat mata manusia terpana melihat keindahannya. Berikut ini beberapa air terjun menawan yang ada di Indonesia :

1. Air Terjun Tiu Kelep

Air terjun Tiu Kelep terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat, desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Untuk mencapai di air terjun Tiu Kelep, Anda dapat menempuh waktu antara dua-tiga jam dengan kendaraan roda empat dan berjarak kurang lebih 60 km dari Ibu Kota Mataram. Jika Anda berasal dari luar Pulau Lombok, maka sebaiknya menggunakan jasa tour guide agar tidak tersasar menuju ke sana. Keindahan air terjun Tiu Kelep sangatlah menawan, di mana tepat berada di kaki Gunung Rinjani, salah satu gunung yang masih aktif di Indonesia. Untuk ketinggian air terjun Tiu Kelep bisa mencapai antara 30-45 meter. Dan tepat di bawah air terjun Tiu Kelep kita bisa menikmati bermain di sungai, pengunjung dapat membasahi tubuhnya dengan derasnya air terjun Tiu Kelep ataupun hanya menikmati pemandangan di sekitar air terjun Tiu Kelep dengan memejamkan mata dan memanjatkan syukur atas ciptaan Tuhan yang maha indah. Debit air di air terjun Tiu Kelep ini cukup besar, ditambah udara yang segar dan sangat cocok bagi Anda yang ingin melepaskan kepenatan untuk berlibur di air terjun Tiu Kelep.


Sumber foto : http://lombok.panduanwisata.com/wisata-alam/pesona-9-air-terjun-di-lombok/

2. Air Terjun Maramo

Air Terjun Maramo berada di Provinsi Sulawesi Tenggara, di Desa Sumber Sari, Kecamatan Moramo , Kabupaten Konawe Selatan yang terletak di kawasan Hutan Suaka Alam Tanjung Peropa. Keindahan air terjun Maramo terlihat secara alami di mana disebut dengan air terjun bertingkat yang ketinggiannya mencapai sekitar 100 meter. Air terjun Maramo mempunyai 7 tingkatan utama ditambah dengan 60 tingkatan kecil yang berfungsi sebagai kolam air. Daya pikat air terjun ini sangat identik dengan bebatuan yang bertingkat. Sangat cocok bagi kalian yang suka petualang di mana bisa menikmati bebatuan bertingkat sambil berjalan melewati batuan lainnya hingga mendaki sampai puncak.


Sumber foto : http://id.wikipedia.org/wiki/Air_Terjun_Moramo

3. Air Terjun Dua Warna

Air terjun dua warna berada di kota Medan, Sumatera Utara. Letaknya di Desa Durin Sirugun, Sibolangit, Sumatera Utara dan menempuh waktu selama 1-2 jam dari kota Medan dengan jarak kurang lebih 75 km. Medan dikenal dengan jalanan yang berliku dan jurang, jadi berhati-hatilah ketika menuju ke air terjun dua warna. Air terjun dua warna memiliki ketinggian 100 meter. Kenapa disebut dengan air terjun dua warna? Karena pada air terjun tersebut ada dua warna yakni biru jernih pada danau kecil dan putih keabu-abuan, sehingga terciptalah dua warna. Air terjun dua warna ini memiliki keindahan panorama alam yang indah ditambah dengan pepohonan yang rindang dan udaranya pun masih segar. Air terjun dua warna tepat berada di bawah kaki Gunung Sibayak.


Sumber foto : http://jalan2.com/city/medan/air-terjun-dua-warna/

Selamat liburan dan buanglah sampah pada tempatnya!

Oleh : Titis Ayuningsih

Minggu, 23 Maret 2014

Berwisata ke Benteng Kuto Besak

Begitu beruntungnya Indonesia yang memiliki beragam destinasi wisata yang tersebar di 5 pulau besar, sehingga Indonesia tidak hanya dikenal dengan Bali ataupun Jawa saja. Bagi anda yang ingin merasakan sensasi berwisata yang cukup berbeda, cobalah datang ke Palembang, salah satu kota besar di selatan Pulau Sumatera. Kota yang dijuluki Kota Pempek ini memiliki beragam destinasi wisata yang bisa dikunjungi.

Salah satunya adalah Benteng Kuto Besak, sebuah benteng yang dibangun di abad ke-17 Masehi oleh Sultan Mahmud Bahauddin. Benteng ini terletak tidak jauh dari tempat berdirinya Jembatan Ampera. Bisa dikatakan, Jembatan Ampera berada di atas dan Benteng Kuto Besak berada di bawah. Dari Benteng Kuto Besak, pengunjung akan dimanjakan dengan panorama Jembatan Ampera yang berdiri kokoh di atas Sungai Musi dan indahnya matahari terbenam. Tidak hanya itu saja, anda juga bisa melihat anak-anak yang bermukim di sekitar sungai Musi yang asyik bermain bola dan berenang di Sungai Musi.


(Sumber : http://budaya-indonesia.org/Benteng-Kuto-Besak/)

BKB tidak pernah sepi pengunjung. Walaupun sedang tidak ada perayaan, objek wisata satu ini selalu terlihat ramai. Jika hari sudah sore, pengunjung yang datang semakin banyak. Kebanyakan mereka ingin menikmati sunset, memancing, dan berfoto bersama. Banyaknya pengunjung yang datang tentu tidak di sia-siakan oleh para pedagang. Pengunjung tidak perlu takut kelaparan karena di sana-sini banyak ditemukan pedagang makanan, seperti mie tek-tek, pempek, kerupuk-kemplang, dan minuman dingin. Ada juga beberapa warung kecil yang menjual makanan berat, seperti nasi goreng, gado-gado, tekwan, dan model. Jika anda ingin menikmati makanan di restoran sekaligus jembatan ampera, anda bisa datang ke River Side, sebuah restoran mewah yang ada di atas kapal. Tentunya anda harus merogoh kocek yang lebih dalam untuk menikmati makanan di tempat ini.


(Sumber : http://panduanwisata.com/2013/04/18/river-side-restoran-mewah-di-samping-jembatan-ampera/)

Untuk sampai ke tempat ini, anda tidak perlu pusing memikirkan caranya karena letak Benteng Kuto Besak dan Jembatan Ampera berada di tengah-tengah Kota Palembang. Hampir seluruh angkot, menjadikan Ampera sebagai tujuan terakhirnya. Dari mana pun anda datang, baik itu Pakjo, Perumnas Sako, Sekip, Lemabang, KM 5, sampai Plaju, anda cukup menaiki angkot dengan tujuan Ampera dan merogoh kocek Rp 3.500, maka sopir angkot akan menurunkan anda tepat di bawah Jembatan Ampera. Letak Benteng Kuto Besak berada sebelum Jembatan Ampera, jadi jika anda telah menemukan sebuah bangunan benteng bertuliskan Benteng Kuto Besak dengan huruf besar, anda bisa langsung turun tepat di depan bangunan tersebut.

Nah, bagi anda yang datang dari KM 12 sekitarnya dan Perumnas sekitarnya, anda tinggal menaiki Bus Jurusan Kertapati atau Plaju. Kedua bus ini pasti melewati Jembatan Ampera. Jika sudah sampai di sekitar Masjid Agung, sebaiknya anda turun. Selanjutnya, anda tinggal berjalan kaki menuju Benteng Kuto Besak, melewati Monpera. Akan sedikit menguntungkan jika anda datang dari Lokasi Bukit, karena anda bisa langsung turun di depan Monpera. Anda tinggal berjalan lurus mengikuti jalan tersebut dan akan sampai di lokasi Benteng Kuto Besak. Jika anda menaiki Bus Bukit, anda tidak perlu menyeberang menuju Masjid Agung dan Monpera.

Lalu bagaimana dengan pengunjung dari luar kota? Nah, bagi anda yang datang dari luar kota, anda bisa menyesuaikannya dengan tempat anda berhenti. Jika anda menggunakan kereta api, otomatis anda akan berhenti di Stasiun Kertapati. Anda tinggal menaiki Bus jurusan KM 12, Perumnas, ataupun Pusri, lalu mintalah kernet bus untuk menurunkan anda di Monpera, lalu berjalanlah sedikit menuju BKB. Jika anda datang dari Bandara SMB II, anda harus keluar dari lokasi tersebut hingga menemukan Bus jurusan Kertapati ataupun Plaju. Mintalah supir taksi ataupun tukang ojek untuk mengantarkan anda menemukan bus-bus tersebut. Seperti di atas, anda tinggal menaiki bus tersebut lalu berhenti di sekitar Masjid Agung.

Tidak ada satu pun warga Palembang yang tidak mengetahui keberadaan benteng satu ini. Jika anda merasa tersesat, anda cukup menanyakannya kepada warga sekitar. Tingkat kriminal kota ini terbilang tinggi, karena itu harap berhati-hatilah. Jangan pernah menunjukkan barang berharga bila sedang di dalam angkutan umum. Ada baiknya jika anda berkunjung saat sore ataupun malam hari, karena saat siang, cuaca sangat panas. Di sore hari, anda bisa menikmati sunset dan di malam hari, anda bisa menikmati indahnya Jembatan Ampera yang berhiaskan lampu-lampu cantik.

Oleh : Rahel Simbolon

Jumat, 07 Maret 2014

Menikmati Sunset di Teluk Menado

Menado barangkali biasa dikenal sebagai kota pantai. Bahkan beberapa turis yang mengagumi keindahan kota ini kerap menyejajarkan kota Menado dengan kota-kota pantai dunia yang biasa dikunjungi wisatawan asing dari berbagai negara, seperti Miami (Florida) dan Los Angeles (California). Dan nampaknya bukan sesuatu yang berlebihan jika rasa kekaguman itu melahirkan berbagai bentuk pujian tadi. Malahan keindahannya tidak kalah dengan Sanur dan Kuta di Bali.

Yang lebih mengesankan, di sana ada sebuah kawasan wisata alternatif di Jl. Wolter Monginsidi sebagai kawasan modern pinggir pantai yang menghadap ke teluk Menado. Lokasinya berada di tepian pantai teluk Menado, sebelah selatan jantung kota Menado. Dan jika pengunjung tidak sedang menggunakan kendaraan pribadi, maka tidak perlu khawatir karena akses jalan menuju lokasi tersebut cukup mudah dan jaraknya cukup dekat, kurang lebih 10 menit dari pusat kota. Alternatif kendaraan umum seperti taksi dan mikrolet tersedia sebagai pilihan.

Di kawasan Jl. Wolter Monginsidi ini menyajikan bangunan-bangunan modern sebagai pusat perbelanjaan. Terdapat pula lapak pedagang kaki lima, kawasan kuliner, dan beberapa hotel. Tentunya tanpa mengurangi keindahan dan kebersihannya. Di tempat tersebut juga terdapat pusat informasi, ATM, Hotspot area, toilet, telepon umum, dan juga pangkalan taksi agar memudahkan pengunjung melakukan transaksi, mencari informasi, dan bepergian. Hal ini dikarenakan wawasan Jl. Walter Monginsidi tersebut memang bertujuan sebagai kawasan wisata dalam kota. Ia juga merupakan kawasan wisata belanja dan walking culture untuk memperkaya objek wisata yang telah ada sebelumnya, seperti; wisata alam, kesenian, dan budaya.

Dan di Jl. Wolter Monginsidi ini para pengunjung akan dimanjakan matanya dengan berbagai produk-produk yang ditawarkan. Berbagai produk tersebut antara lain, pakaian, aksesoris, perabotan rumah tangga, sepeda, mobil, alat-alat elektronik (telepon selular, televisi, kulkas, dan sebagainya). Selain itu di kawasan tersebut juga terdapat food court yang menjajakan berbagai jenis masakan. Mulai dari restoran cepat saji, restoran seafood, sampai dengan warung lesehan khas Yogyakarta juga bisa ditemui di sini. Tentunya di samping menu masakannya yang lezat dan nikmat, wisatawan akan merasa benar-benar dimanjakan ketika melihat panorama pantai dan langit yang indah di teluk Menado.

Lebih dari itu, setelah puas berbelanja dan menghilangkan kepenatan, stres, rasa lelah dengan berkeliling di kawasan tersebut, pengunjung juga bisa menikmati keindahan sunset dengan segala keajaibannya. Tentunya hal itu tidak bisa setiap hari disaksikan oleh mata kita, apalagi jika kita tidak berasal dari tempat-tempat daerah pantai. Barangkali keindahan sunset inilah yang paling ditunggu di saat-saat sore menjelang matahari pudar di ufuknya dengan pendaran warnanya yang menyaput seluruh permukaan langit dan air laut. Dan sepertinya anda pun perlu mencoba untuk mengunjunginya!

Oleh : Mayshiza Widya