Tampilkan postingan dengan label patung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label patung. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 September 2014

Menikmati Pesona Indah Danau Toba dan Sekitarnya


1. Pemandangan Danau Toba

Danau Toba adalah salah satu keagungan Tuhan yang tercipta di nusantara kita. Airnya yang jernih, udara yang sejuk dan segar, dan pemandangan yang begitu mempesona dengan aneka pegunungan hijau menjadikan Danau Toba menjadi tujuan wisata yang begitu mengagumkan. Danau Toba merupakan hasil letusan gunung berapi sekitar 70 ribu tahun yang lalu. Menurut perkiraan, efek letusan tersebut, terjadi kepunahan dan kematian massal. Letusan ini sangat memengaruhi keadaan dunia karena mengakibatkan perubahan iklim. Danau Toba memiliki luas 1145 km2 sehingga lebih layak disebut lautan dibanding danau. Di kawasan Asia Tenggara, Danau Toba merupakan danau terluas.

Danau Toba juga memiliki sebuah pulau di bagian tengahnya bernama Samosir. Pulau Samosir berada pada ketinggian 1000 m dpl. Dan ternyata di dalam Danau Toba, masih ada dua danau kecil, yaitu Danau Aek Natonang dan Danau Sidihoni yang berada tepat di tengah Samosir. Bila kita mengarahkan pandangan ke pinggir Danau Toba, kita bisa melihat air terjun yang mempesona dan Tanjung Unta, sebuah tanjung yang hampir serupa punggung unta.

Danau Toba atau dalam bahasa Batak sering disebut Tao Toba merupakan tempat yang sangat cocok bagi siapapun yang ingin bersantai, menghilangkan penat, merasakan ketenangan, dan juga keindahan gunung yang berderet. Letak Danau Toba yang berada 900 m dpl membuat udara di sekelilingnya terasa sejuk, segar, dan jauh dari polusi. Selain menikmati kesejukan udaranya dan keindahan panoramanya, pengunjung juga bisa berperahu dan berenang untuk semakin melihat keindahan tersebut dalam jarak yang dekat.

Jika anda ingin mengenal bagaimana masyarakat Batak di sekitar Danau Toba, anda bisa tinggal di Pulau Samosir untuk beberapa lama. Di sekitar Danau Toba, ada banyak penginapan yang bisa anda tempati selama anda menjelajahi Danau Toba, Pulau Samosir, dan sekitarnya. Di Pulau Samosir, anda bisa melihat aneka kuburan batu yang masih tradisional, rumah adat Batak Toba yang disebut Rumah Bolon, Makam Raja Sidabutar yang berusia 500 tahun, dan juga Patung Sigale-Gale, sebuah patung yang bisa menari. Selain itu, anda juga bisa mengunjungi Desa Janggah, tempat penghasil ulos dan juga Rumah Pengasingan Presiden Pertama RI, Soekarno yang berada di tepi Danau Toba. Umumnya para wisatawan meramaikan Danau Toba saat sedang liburan sekolah dan saat sedang ada festival tahunan seperti Festival Danau Toba. Di saat-saat seperti itu,  pengunjung bisa melihat bagaimana cara masyarakat Batak menghormati arwah nenek moyang mereka, melihat tarian dan juga nyanyian Batak yang sangat khas dengan iringan serulingnya.


2. Patung Sigale-gale

Danau Toba terletak di Kota Parapat. Jarak antara Parapat dan Medan sekitar 176 km dan dapat ditempuh dalam waktu 6 jam dengan menggunakan bus. Tersedia rute Medan-Parapat untuk bisa sampai ke tempat ini dengan tarif Rp 40.000,00. Untuk memudahkan pencarian bus, anda disarankan untuk sampai di Medan pada pagi hari, karena biasanya bus akan membawa pengunjung langsung ke Kawasan Danau Toba. Setibanya di Parapat, anda bisa menggunakan kapal feri menuju Pulau Samosir, yang beroperasi mulai pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore dengan tarif Rp 10.000. Sembari menunggu kapal berangkat, anda bisa mengarahkan kamera anda ke berbagai objek indah di sekitar danau.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://lifeistravelling.files.wordpress.com/2012/02/toba-lake.jpg
2. http://tobalitour.com/news/4077935-si_gale_gale_puppet_pulau_samosir-829870457.jpg

Kamis, 29 Mei 2014

Sisi Lain Kota Ramah

Indonesia, Negara dengan kekayaan melimpah ini membuat turis manca Negara terpana, sehingga banyak yang memutuskan untuk berlibur di Negara seribu pulau ini. Jika para turis telah terpana, maka bisa dipastikan penduduk dalam negeri juga akan suka dengan alam Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke akan terdapat lebih dari puluhan tempat yang bisa dikunjungi oleh wisatawan. Selain pemandangan yang indah, Indonesia juga terkenal dengan kekayaan budaya-nya. Budaya, inilah salah satu faktor negara Merah Putih menjadi Negara yang banyak dikunjungi oleh turis dari berbagai negeri.

Salah satu pulau yang terkenal dengan kunjungan manca Negara untuk berlibur adalah pulau Dewata. Selain itu, kota yang nmempunyai selogan “Ramah” juga memnpunyai tempat di hati wisatawan dalam maupun luar negeri. Kota yang berjulukan “ramah” ini adalah kota Ngawi. Kota Ngawi terletak di Jawa Timur. Jika kita datang di kota ini kita akann merasakan aura penduduknya yang ramah, jika kita tidak tahu arah atau ingin bertanya sesuatu, maka bertanyalah, karena penduduk di kota ini tidak akan berfikir untuk menyesatkan. Namun, di balik ramahnya kota Ngawi ada hal mistis yang menjadi sejarah dari kota ini.

Ditinjau dari sejarah namanya, Ngawi berasal dari kata “awi” yang berarti bambu. Ketika kita melewati kota ini atau berkeliling di kota Ramah, kita akan menjumpai banyak hutan. Ada dua tempat yang sering dikunjungi oleh wisatawan ketika di kota ini. Yang pertama adalah “Monumen Suryo”. Tempat ini merupakan tempat bersejarah. Di dalam monumen tersebut berdiri dengan gagah patung dari seorang pahlawan bernama “Suryo”. Konon pak Suryo meninggal di tempat ini dalam perjalananya ke Surabaya guna melawan penjajah. Oleh karenanya patung almarhum pak Suryo menunjukkan jari telunjuk beliau tanda di situlah beliau dimakamkan. Selain sebuah patung, di dalam monumen ini juga terdapat beberapa hewan yang dilestarikan. Selain itu, monumen ini juga sangat terkenal dengan ukiran kayunya, inilah yang paling diincar wisatawan ketika berkunjung di tempat ini.



Yang kedua adalah ”Alas Ketonggo” atau juga ada yang menyebut dengan “Alas Srigati”. Kata “alas” berarti “hutan”, hutan ini dinyakini oleh masyarakat sebagai hutan “Ghoib” atau hutan “lelembut”. dimana banyak mahluk halus yang bersemayam didalamnya. Meskipun begitu, kemistisan tempat ini justru menjadi daya tarik bagi pengunjung. Terbukti dengan banyaknya pengunjung dari dalam maupun luar negeri. Penngunjung biasanya tidak hanya ingin belajar sejarah namun ada juga yang ingin bertanpa, mencari ketenangan ataupun berdo’a atas hajatnya, walaupun mereka tidak tahu apakah akan terkanbul ataukah tidak.

Sekilas tentang sejarah Ketonggo, inilah tempat di mana Raden Brawijaya melepaskan petilasannya (Sorban, Jubah, pakaian kebesaran) ketika beliau hendak ke Gunung Lawu. Namun, petilasan tersebut raib dan berubah menjadi sebuah gundukan yang konon semakin hari gundukan tersebut tumbuh. Inilah yang yakini tanda bumi bagi juru kunci Alas tersebut. Konon, jika ada sesuatu hal yang buruk yang akan terjadi, gundukan tersebut berhenti tumbuh. Di sinilah para pengunjung biasanya bertapa dan berdoa. selain itu ada juga sebuah sungai yang merupakan temuan dua sungai. Sungai tersebut dinamakan Sungai Tempur Sedalem. Sungai ini diyakini oleh masyarakat sebagai sungai yang mustajab, karena tempat ini diyakini oleh masyarakat sebagai tempat yang bisa menunjukkan jalan sebuah cita-cita. Khususnya di bulan Muharam dan bulan Syura, tempat ini dibanjiri oleh pengunjung yang ingin berziarah. “Bahkan menjelang Pemilu 2014 banyak dari para Calon Legislatif bertapa di tempat ini, entah untuk mencari kemenangan, ketenangan. atau hajat pribadi” kata seorang informan dari daerah tersebut.

Inilah setitik kisah dari kota Ngawi kota yang mempunyai penduduk yang ramah namun juga menyimpan kemistisan yang bersejarah. Jika Anda pecinta sejarah dan bernyali dengan hal yang mistis, maka inilah tempat yang tepat untuk Anda. Selain itu, Sebagai manusia yang hidup diciptakan Tuhan, kita pantas yakin bahwa sejarah tercipta agar manusia berfikir. Dari masa lalu kita mengerti sebuah perjuangan, dan perjuangan para pendahulu pantas dilanjutkan generasi muda dengan hal yang positif, bukan hanya bertapa namun beraksi secara riil begitu Bung Karno mencontohkan. Bukan meminta pada orang mati ataupun lelembut namun meminta pada tuhan, karena kuasa Tuhanlah yang mematikan seseorang dan lelembut merupakan salah satu makhluk Tuhan yang tidak bisa dilihat oleh mata walaupun atas izin-Nya ia dapat berhubungan dengan manusia.

Oleh : Ezza Rafaz

Rabu, 26 Februari 2014

Menelusuri Jejak Sejarah di Benteng Vredeburg

Jogja, salah satu kota besar di Pulau Jawa yang terkenal akan kebudayaannya. Bagi anda yang belum pernah ke Jogja, mari datang dan lihat betapa indahnya kota ini. Jogjakarta memiliki banyak objek wisata yang dapat dikunjungi. Ada Candi Prambanan, Pantai Parangtritis, Kebun Binatang Gembira Loka, Keraton, Alun-alun Kidul, dan lain sebagainya. Itulah sebagian objek wisata yang umumnya dikunjungi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara dan kali ini saya akan memperkenalkan objek wisata yang cukup berbeda yaitu Museum Benteng Vredeburg, sebuah museum yang baru saja saya kunjungi di Bulan Januari yang lalu.

Museum Benteng Vredeburg adalah sebuah benteng sekaligus museum peninggalan Belanda, terletak di Jl. Jend. A. Yani No. 6 Jogjakarta, tidak jauh dari Malioboro pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Jogja. Untuk masuk ke dalam Museum ini, pengunjung cukup membayar Rp 2000,00 bagi pengunjung dewasa dan setengahnya bagi pengunjung anak-anak. Ada dua jalan yang dibuka untuk masuk ke dalamnya. Jalan pertama yaitu melalui pintu gerbang depan yang disusul jembatan kecil yang mencuatkan air mancur di sisi kanan dan kiri, sementara jalan kedua melalui Taman Budaya yang letaknya persis di belakang Museum Benteng Vredeburg.



Saat itu kami baru saja mengunjungi Taman Budaya dan melanjutkan perjalanan kami ke Benteng Vredeburg melalui pintu belakang. Karena masuk melalui pintu belakang, maka hal pertama yang kami lihat adalah petunjuk arah untuk menelusuri benteng tersebut.



Petunjuk adanya diorama membelokkan arah kami menuju diorama yang dimaksud. Sungguh menakjubkan apa yang kami lihat saat memasuki gedung tersebut. Hal-hal bersejarah yang biasanya hanya dapat kita ketahui melalui buku-buku sejarah tergambar jelas pada minirama-minirama di dalam diorama tersebut.

Terdapat 4 diorama yang dapat dikunjungi, tetapi karena kami masuk melalui pintu belakang, diorama yang pertama kami kunjungi ialah diorama 3 yang berisikan perjalanan sejarah yang dimulai dari tercetusnya perjanjian Renville hingga pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat.



Melanjutkan perjalanan menuju diorama 4, kami memasuki sebuah ruangan yang tampak tak terawat. Jangan kaget bila saat membuka pintu, ada kotak kaca berisikan replika pakaian pejuang semasa G-30 S/PKI yang akan menyambut di ujung lorong. Ruangan itu tampak sedikit menyeramkan, membuat kita seakan mampu merasakan aura kekejaman PKI di masa dulu.



Tidak terlalu banyak yang harus disusuri di dalam diorama 4. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju diorama 1.



Diorama 1 berisikan peristiwa-peristiwa penting mengenai zaman Diponegoro hingga kependudukan Jepang di Jogja. Melanjutkan perjalanan ke Diorama 2, kami melewati banyak minirama yang menggambarkan peristiwa Proklamasi hingga terjadinya Agresi Militer.

Saat keluar dari pintu diorama 2, dua buah meriam dan dua buah patung Jend. Soedirman menyambut pandangan mata kami. Sungguh patung yang megah. Banyaknya pengunjung yang datang membuat kami harus antre untuk berfoto dengan patung Jend. Soedirman.



Penelusuran kami berhenti tepat di Gedung Pertemuan dan Gedung Audio Visual yang sangat disayangkan tertutup saat itu. Sungguh penelusuran sejarah yang menyenangkan. Banyak hal yang kami dapatkan dari penelusuran di Benteng ini. Hari sudah sore saat kami menyelesaikan penelusuran, kami pun memutuskan untuk pulang dan meninggalkan Benteng yang indah ini. Kami berjanji, di waktu mendatang, kami akan kembali lagi ke Benteng ini, informan bisu yang telah menceritakan banyak sejarah mengenai tanah air.

Oleh : Rahel Simbolon