Tampilkan postingan dengan label vredeburg. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label vredeburg. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Juni 2014

Wisata Edukasi di Taman Pintar Yogyakarta

Jogja memang layak dijuluki sebagai Kota Pelajar. Berbagai destinasi wisata yang tersebar di berbagai sudut Jogja membuat para pengunjung bisa belajar secara langsung mengenai sejarah di masa lampau, seperti Museum Benteng Vredeburg, Taman Budaya, Keraton Yogyakarta, dan sebagainya. Namun selain wisata sejarah, Jogja juga memiliki tempat wisata edukasi di mana para pengunjung bisa belajar sekaligus berekreasi. Sebut saja, Taman Pintar Yogyakarta, wahana wisata yang terletak di kawasan Benteng Vredeburg, di Jalan Panembahan Senopati No. 1-3. Wahana wisata yang memadukan edukasi dan rekreasi ini menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi masyarakat, terutama siswa sekolah dasar.

Menurut sejarah, pembangunan Taman Pintar Yogyakarta berawal dari kepedulian Pemerintah Kota Yogyakarta terhadap dunia pendidikan. Pemerintah berharap, dengan adanya Taman Pintar, para siswa dapat diperkenalkan dengan sains sejak usia dini, begitu juga dengan kreativitas anak yang diharapkan dapat lebih terasah, sehingga Indonesia tidak hanya menerima teknologi luar saja, tapi juga bisa menciptakan teknologi sendiri. Bangunan Taman Pintar sengaja dibuat berdekatan dengan Benteng Vredeburg dan Taman Budaya, dengan harapan tetap ada keterkaitan erat antar lokasi wisata tersebut. Grand opening Taman Pintar diresmikan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, pada tanggal 16 Desember 2008.


Lokasi Vredeburg, Taman Budaya, dan Taman Pintar yang Berdekatan
(Dokumentasi Pribadi)

Ada lima zona di dalam Taman Pintar Yogyakarta, yaitu zona playground, zona PAUD, zona oval-kotak, zona memorabilia, dan zona planetarium. Zona playground merupakan ruang publik bagi pengunjung Taman Pintar, di mana tersedia berbagai arena rekreasi yang menyenangkan, yang bisa diakses secara gratis. Di zona playground ini, para pengunjung juga dapat menemukan berbagai tugu, seperti tugu keenam Presiden RI, tugu Bhinneka Tunggal Ika dan gong perdamaian nusantara yang diresmikan oleh Hamengku Buwono X.


Gong Perdamaian Nusantara
(Dokumentasi Pribadi)

Di zona PAUD yang diperuntukkan secara khusus bagi anak usia pra TK dan TK, disediakan berbagai permainan edukasi bagi anak-anak dengan menggunakan teknologi, diharapkan permainan ini dapat mengasah ketertarikan anak-anak pada teknologi. Di zona oval pengunjung bisa menikmati berbagai wahana seperti demo sains, cuaca, iklim, harmoni alam, terowongan ilusi, aquarium air tawar, kehidupan purba, dan zona agro. Di zona kotak, pengunjung bisa melihat secara langsung peraga hukum archimedes, sistem pengolahan air, pengolahan minyak bumi, pengolahan susu, dan perpustakaan. Sementara itu, di zona memorabilia, para pengunjung dapat menambah pengetahuan mengenai Sejarah Indonesia melalui peralatan peraga, seperti sejarah Kesultanan Yogyakarta, Tokoh Kepresidenan RI, dan Tokoh Pendidikan. Zona yang terakhir yaitu planetarium berisi peralatan peraga yang menampilkan pengetahuan mengenai dunia antariksa.

Adapun setiap zona bisa diakses dengan membeli tiket masuk, kecuali zona playground. Setiap zona mengenakan tarif tiket yang berbeda-beda, di mana harga tiket masuk zona PAUD sebesar Rp 3000, zona oval dan kotak dikenakan tarif Rp 10.000, untuk anak-anak dan Rp 18.000, untuk anak-anak, sementara zona planetarium mengenakan tarif Rp 15.000. Selain kelima zona di atas, pengunjung masih bisa menikmati wahana lain seperti desaku permai, rumah gerabah, rumah batik, dan wahana bahari yang tentunya tidak kalah mengasyikkan.

Taman Pintar hadir untuk mencerdaskan anak bangsa dalam kemasan yang menyenangkan namun tetap berisi. Segera ajak adik, teman, dan anak anda ke Taman Pintar Yogyakarta.


Gedung Kotak (Dokumentasi Pribadi)


Desaku Permai (http://www.tamanpintar.com)

Oleh: Rahel Simbolon

Rabu, 12 Maret 2014

Tentang Jogja - 1

Yogyakarta atau Jogjakarta. Siapa sih yang nggak tahu atau nggak kenal dengan kota yang satu ini?

Jogja terkenal dengan sebutan kota pelajar, karena di kota itu terdapat begitu banyak perguruan tinggi yang memiliki prestasi/predikat baik. Universitas Gajah Mada misalnya, Perguruan Tinggi yang satu ini menjadi incaran bukan hanya orang asli Jogja, tapi juga orang dari seluruh Indonesia. Ada juga Universitas Negeri Yogyakarta, untuk swasta ada Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang merupakan PTS terbaik di Indonesia. Selain itu masih banyak Perguruan Tinggi lain yang ada di Jogja.

Selain terkenal sebagai kota pelajar, Jogja juga terkenal dengan kota budaya. Jogja memiliki lima kabupaten yang masing-masing kabupaten memiliki kebudayaan yang berbeda, dan merupakan ciri khas dari kabupaten atau daerah tersebut. Yogyakarta juga memiliki berbagai tempat wisata, yang sayang bila sampai terlewatkan. Tempat wisata itu diantaranya:

  1. Tugu Jogja

    Tugu Jogja merupakan simbol dari kota Yogyakarta, dan merupakan salah satu objek wisata di Jogja. Tugu Jogja dianggap memiliki nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan, keraton Jogja dan Gunung Merapi.


    Siang hari


    Malam hari

  2. Jalan Malioboro

    Jalan Malioboro terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjual berbagai kerajinan khas Jogja seperti tas batik, baju batik, wayang kulit, kerajinan bambu, blangkon, miniatur kendaraan tradisional, dan segala macam aksesoris. Pada malam harinya akan banyak warung-warung lesehan yang menjual makanan khas Jogja yakni Gudeg. Sembari menikmati makan di lesehan kita dapat menikmati berbagai suguhan menarik dari para seniman Jogja, seperti musik, pantomim, lukisan, dll.


    Siang hari


    Malam hari

  3. Pasar Beringharjo

    Pasar ini masih berada di kawasan Malioboro yakni di Jalan A. Yani. Di Pasar Beringharjo kita bisa memperoleh oleh-oleh apa saja Khas Jogja, dari makanan, pakaian batik, kain batik sampai kerajinan. Bila pandai menawar kita juga bisa memperoleh barang dengan harga sangat murah. Pasar Beringharjo ini tak pernah sepi pengunjung, jadi harus sabar berdesak-desakkan dengan pengunjung lain.

  4. Benteng Vredeburg

    Benteng ini berada di sebelah Pasar Beringharjo. Di Benteng Vredeburg kita bisa memasuki diorama perjuangan bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Pada bulan Juni-Juli, Benteng Vredeburg menjadi lokasi pelaksanaan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY).


  5. Nol Kilometer

    Titik nol kilometer adalah sebuah titik yang menjadi patokan penentuan jarak antar daerah di Yogyakarta atau kota-kota lain di luar Yogyakarta. Kawasan di sekitar titik nol kilometer ini adalah kawasan wisata sejarah berupa bangunan-bangunan kuno yang sering disebut loji (bangunan-bangunan tua yang besar peninggalan Belanda). Kawasan nol kilometer juga menjadi sentra perekonomian bagi masyarakat Yogyakarta karena letaknya memang strategis. Suasana Nol kilometer pada malam hari akan lebih menarik dengan tambahan kerlap-kerlip lampu.


  6. Keraton Yogyakarta

    Keraton Yogyakarta adalah istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga kini. Bangunan keraton adalah salah satu arsitektur istana Jawa yang baik, karena memiliki balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas, selain itu di kompleks keraton juga terdapat museum untuk menyimpan berbagai koleksi kesultanan. Keraton Yogyakarta ini adalah salah satu obyek wisata yang sayang sekali bila terlewatkan.


  7. Tamansari

    Tamansari adalah obyek wisata yang masih memiliki hubungan/keterkaitan dengan keraton Yogyakarta, letaknya di Jalan KH. Wahid Hasyim. Dulu Tamansari dimanfaatkan keluarga keraton untuk berkumpul dan bersantai dengan keluarganya, ada pula kolam untuk bermain anak-anak dan istri raja, di tamansari juga terdapat lorong bawah tanah yang digunakan sebagai jalan rahasia. Namun saat ini Tamansari hanya di manfaatkan sebagai tempat wisata.

Bersambung ke Bagian 2

Oleh: Novita Prahastiwi
Sumber: - http://id.wikipedia.org/wiki/Tugu_Yogyakarta
- http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Prambanan
- http://id.wikipedia.org/wiki/Situs_Ratu_Baka
Sumber Gambar:
- http://yogyatrip.com/tugu-yogya-simbol-persatuan-kawula-gusti/
- http://kampusjogja.com/koleksi-foto-tugu-jogja/
- http://id.wikipedia.org/wiki/Jalan_Malioboro
- http://ranarast.wordpress.com/2013/03/08/never-lost-in-yogkayarta-3/
- http://www.yukpegi.com/indonesia/menikmati-wisata-peninggalan-belanda-di-benteng-vredeburg/
- http://yogyakarta.panduanwisata.com/hiburan/nol-kilometer-yogyakarta-tempat-favorit-berkumpulnya-wisatawan-dengan-keindahan-bangunan-tua-bersejarah/
- http://review-vacation-mahasiswa.blogspot.com/p/sebelum-saya-cerita-panjang-lebar.html
- http://www.indonesia-tourism.com/forum/showthread.php?383-Kraton-Ngayogyakarta-Hadiningrat-Yogyakarta-Indonesia
- http://raisaaryasheba.blogspot.com/2011/11/water-castle-taman-sari.html
- http://kangjava.wordpress.com/2011/08/08/alun-alun-kidul/
- http://wedotku.blogspot.com/2013/09/tempat-paling-gaul-yang-wajib-anda.html#pages/2

Rabu, 26 Februari 2014

Menelusuri Jejak Sejarah di Benteng Vredeburg

Jogja, salah satu kota besar di Pulau Jawa yang terkenal akan kebudayaannya. Bagi anda yang belum pernah ke Jogja, mari datang dan lihat betapa indahnya kota ini. Jogjakarta memiliki banyak objek wisata yang dapat dikunjungi. Ada Candi Prambanan, Pantai Parangtritis, Kebun Binatang Gembira Loka, Keraton, Alun-alun Kidul, dan lain sebagainya. Itulah sebagian objek wisata yang umumnya dikunjungi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara dan kali ini saya akan memperkenalkan objek wisata yang cukup berbeda yaitu Museum Benteng Vredeburg, sebuah museum yang baru saja saya kunjungi di Bulan Januari yang lalu.

Museum Benteng Vredeburg adalah sebuah benteng sekaligus museum peninggalan Belanda, terletak di Jl. Jend. A. Yani No. 6 Jogjakarta, tidak jauh dari Malioboro pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Jogja. Untuk masuk ke dalam Museum ini, pengunjung cukup membayar Rp 2000,00 bagi pengunjung dewasa dan setengahnya bagi pengunjung anak-anak. Ada dua jalan yang dibuka untuk masuk ke dalamnya. Jalan pertama yaitu melalui pintu gerbang depan yang disusul jembatan kecil yang mencuatkan air mancur di sisi kanan dan kiri, sementara jalan kedua melalui Taman Budaya yang letaknya persis di belakang Museum Benteng Vredeburg.



Saat itu kami baru saja mengunjungi Taman Budaya dan melanjutkan perjalanan kami ke Benteng Vredeburg melalui pintu belakang. Karena masuk melalui pintu belakang, maka hal pertama yang kami lihat adalah petunjuk arah untuk menelusuri benteng tersebut.



Petunjuk adanya diorama membelokkan arah kami menuju diorama yang dimaksud. Sungguh menakjubkan apa yang kami lihat saat memasuki gedung tersebut. Hal-hal bersejarah yang biasanya hanya dapat kita ketahui melalui buku-buku sejarah tergambar jelas pada minirama-minirama di dalam diorama tersebut.

Terdapat 4 diorama yang dapat dikunjungi, tetapi karena kami masuk melalui pintu belakang, diorama yang pertama kami kunjungi ialah diorama 3 yang berisikan perjalanan sejarah yang dimulai dari tercetusnya perjanjian Renville hingga pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat.



Melanjutkan perjalanan menuju diorama 4, kami memasuki sebuah ruangan yang tampak tak terawat. Jangan kaget bila saat membuka pintu, ada kotak kaca berisikan replika pakaian pejuang semasa G-30 S/PKI yang akan menyambut di ujung lorong. Ruangan itu tampak sedikit menyeramkan, membuat kita seakan mampu merasakan aura kekejaman PKI di masa dulu.



Tidak terlalu banyak yang harus disusuri di dalam diorama 4. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju diorama 1.



Diorama 1 berisikan peristiwa-peristiwa penting mengenai zaman Diponegoro hingga kependudukan Jepang di Jogja. Melanjutkan perjalanan ke Diorama 2, kami melewati banyak minirama yang menggambarkan peristiwa Proklamasi hingga terjadinya Agresi Militer.

Saat keluar dari pintu diorama 2, dua buah meriam dan dua buah patung Jend. Soedirman menyambut pandangan mata kami. Sungguh patung yang megah. Banyaknya pengunjung yang datang membuat kami harus antre untuk berfoto dengan patung Jend. Soedirman.



Penelusuran kami berhenti tepat di Gedung Pertemuan dan Gedung Audio Visual yang sangat disayangkan tertutup saat itu. Sungguh penelusuran sejarah yang menyenangkan. Banyak hal yang kami dapatkan dari penelusuran di Benteng ini. Hari sudah sore saat kami menyelesaikan penelusuran, kami pun memutuskan untuk pulang dan meninggalkan Benteng yang indah ini. Kami berjanji, di waktu mendatang, kami akan kembali lagi ke Benteng ini, informan bisu yang telah menceritakan banyak sejarah mengenai tanah air.

Oleh : Rahel Simbolon