Tampilkan postingan dengan label palembang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label palembang. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Oktober 2014

Indahnya Gua Putri Baturaja di Sumatera Selatan


1. Papan Sambutan Kepada Pengunjung

Jika anda tengah mengunjungi Sumatera Selatan, sempatkanlah diri anda untuk melangkahkan kaki ke salah satu kabupatennya yang bernama Ogan Komering Ulu. Di sana anda bisa menemukan sebuah gua yang dipenuhi stalaktit dan stalagmit. Menurut legenda masyarakat sekitar, keberadaan Gua Putri ini erat kaitannya dengan legenda Si Pahit Lidah. Dahulu kala, ada seorang putri cantik bernama Dayang Merindu yang merupakan selir Prabu Amir Rasyid. Pada suatu pagi, Dayang Merindu mandi di Sungai Semuhun. Saat ia mandi, seorang pengembara yang dikenal sebagai Si Pahit Lidah muncul dan lewat di hadapannya. Si Pahit Lidah ingin menyapa Dayang Merindu, namun kehadirannya tidak digubris sama sekali. Mendapat perlakuan seperti itu, Si Pahit Lidah pun berkata bahwa sikap diamnya Dayang Merindu seperti batu. Seketika, Dayang Merindu pun berubah menjadi batu. Si Pahit Lidah kemudian melanjutkan perjalanan menuju desa di mana Keluarga Dayang Merindu berdiam. Namun apa yang dilihatnya tidak seperti desa karena sepi sekali. Si Pahit Lidah pun berujar bahwa desa sepi itu seperti gua. Dalam sekejap, desa itu pun berubah menjadi gua.

Gua Putri merupakan salah satu objek wisata arkeologi yang patut dikunjungi. Aneka stalaktit yang menggantung di langit gua dan stalagmit yang melekat di lantai gua, serta cahaya redup yang muncul dari beberapa lampu di dalam gua membuat gua ini terlihat ajaib. Untuk dapat menyusuri gua, anda tidak perlu menunduk bahkan sampai merangkak karena Gua Putri memiliki lebar sekitar 20 m dan tinggi sekitar 20 m. Memasuki gua, anda akan menemukan kumpulan stalakmit yang menyerupai panggung kecil, sementara di sampingnya anda akan menemukan aliran air Sungai Semuhun yang menyerupai kolam. Tidak jauh dari kolam, anda akan menemukan stalakmit yang menyerupai tungku memasak. Selain itu, anda juga akan menemukan hamparan karst yang seperti panggung, di mana pada sisi belakang terdapat untaian stalaktit berukuran kecil dan besar. Di sisi hamparan karst tersebut, terdapat aliran Sungai Semuhun yang dulunya diyakini sebagai tempat permandian para putri. Konon, tempat mandi ini diyakini dapat mewujudkan keinginan siapa saja yang mandi di sana.


2. Gua Putri Baturaja

Melihat aneka stalaktit-stalakmit di dalam gua dapat menyegarkan mata, terutama bagi mereka yang sehari-harinya bergelut di keramaian kota. Ditambah suara gemercik air di dalam gua, dapat membuat pikiran kita lebih rileks. Selain menyuguhkan keindahan gua, pihak pengelola juga menyiapkan kedai makanan-suvenir, museum Si Pahit Lidah, dan juga ruang pertunjukan. Di dalam museum tersebut, tersimpan aneka kerangka manusia purba. Untuk mencapai Gua Putri, pengunjung bisa menggunakan moda transportasi apa saja yang sampai ke Desa Padang Bindu, Semidang Aji, OKU. Jika anda berangkat dari Kota Palembang, jarak yang ditempuh sekitar 230 km dengan waktu tempuh sekitar 7 jam. Bila tidak menggunakan kendaraan pribadi, anda bisa menggunakan jasa travel yang berangkat dari Palembang. Biasanya travel-travel ini mudah ditemukan di areal parkir Pasar 16 Ilir, Pangkal Jembatan Ampera, dan Pamor (Depan RM Pagi Sore Kertapati). Untuk dapat memasuki kawasan Gua Putri, setiap pengunjung dipungut retribusi sebesar Rp 5000,00 untuk pengunjung dewasa, Rp 3000,00 untuk pelajar, dan Rp 2500,00 untuk pengunjung anak-anak.

Gua Putri adalah salah satu tujuan wisata yang cukup populer di Sumatera Selatan. Di luar legendanya, Gua Putri adalah salah satu bukti keagungan Ilahi yang menciptakan sebuah gua besar dengan sedemikian indahnya. Tunggu apa lagi? Ayo menyusuri Gua Putri. Ayo ke Sumatera Selatan!

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://milanistibaturaja.files.wordpress.com/2013/04/images-1.jpg
2. http://news.liputan6.com/read/2078686/menikmati-stalaktit-dan-stalagmit-di-gua-putri-baturaja

Selasa, 26 Agustus 2014

Selain Sungai Musi, Sumatera Selatan Juga Memiliki Objek-Objek Wisata Ini

Bagi anda yang ingin merasakan sesuatu yang baru selain berlibur di tempat yang itu-itu saja, mungkin anda bisa menyeberang sebentar ke Pulau Sumatera. Sumatera Selatan adalah salah satu provinsi di Sumatera yang dikenal sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya di masa dahulu. Selain itu, provinsi yang dikelilingi oleh air ini sangat populer dengan megahnya Jembatan Ampera dan luasnya Sungai Musi. Namun, tahukah kamu bahwa Sumatera Selatan tidak sebatas Sungai Musi dan Jembatan Ampera saja? Masih banyak objek wisata lainnya yang bisa anda telusuri di provinsi yang sangat terkenal dengan pempek ini. Seperti apa sajakah objek wisata tersebut? Mari kita simak bersama.

  1. Masjid Agung, Palembang

    Masjid ini terletak di jantung kota Palembang tepatnya di Jalan Merdeka. Gaya arsitekturnya yang merupakan kombinasi antara gaya Eropa dan China membuat masjid ini terbilang unik. Dengan tembok-temboknya yang berukuran besar, masjid ini tampak sangat megah. Halamannya pun begitu luas dan asri. Setiap hari Jumat, tepatnya pada saat Sholat Jumat, halaman luar Masjid Agung selalu diramaikan oleh pedagang-pedagang yang menjual aneka barang Islami seperti sajadah, sarung, peci, buku, dan sebagainya.


    1. Masjid Agung Palembang

  2. Bukit Sulap, Lubuklinggau

    Lubuklinggau adalah ibu kota dari Kabupaten Musi Rawas. Belakangan ini Lubuklinggau sangat terkenal dengan objek wisatanya yang bernama Bukit Sulap. Objek wisata ini termasuk baru di mana tanggal 19 Oktober 2013 lalu, Bukit Sulap baru diresmikan oleh Gubernur Alex Noerdin sebagai kawasan wisata. Ada satu keunikan Bukit Sulap yaitu bisa terlihat hilang pada saat pagi hari akibat ditutupi kabut. Selain itu, dari atas bukitnya, pengunjung bisa melihat pemandangan kota ini dan panorama Bukit Barisan. Oh ya, di sana juga ada fasilitas WiFi lho!


    2. Pemandangan Bukit Sulap Tampak Jauh

  3. Pagaralam

    Bisa dibilang wilayah ini adalah “Puncak”nya Palembang, karena udaranya yang sejuk dan bersih. Letaknya yang dikelilingi oleh Gunung Dempo dan Pegunungan Bukit Barisan membuat wilayah ini seakan-akan dipagari oleh pemandangan hijau yang benar-benar alami. Di Pagaralam, anda bisa mengunjungi wisata Gunung Dempo dan menikmati rimbunan daun teh. Untuk bisa sampai ke Pagaralam, anda harus menyiapkan mental yang kuat karena wilayah ini berada di tempat yang paling tinggi, jalan yang harus dilalui pun menanjak dan berkelak-kelok. Namun semua itu akan terbayar lunas saat anda tiba di Pagaralam dan menikmati hijau serta sejuknya kota ini.


    3. Gunung Dempo

  4. Taman Nasional Sembilang

    Taman nasional ini merupakan hutan konservasi aneka satwa yang dilindungi. Di dalam taman nasional ini, para pengunjung aneka burung, ikan, dan reptil buas. Selain melihat aneka satwa, pengunjung juga bisa menikmati deretan pohon bakau yang membentang indah. Sesekali anda akan bisa menemukan ular yang bergantung bebas di cabang-cabang pohon bakau tersebut. Untuk bisa masuk ke dalam Taman Nasional Sembilang, para pengunjung diwajibkan untuk mengajukan izin kepada Departemen Kehutanan di Palembang.


    4. Burung-burung di Taman Nasional Sembilang
Selain keempat objek wisata di atas, anda masih bisa menjelajahi objek wisata lain seperti Gua Putri Baturaja yang merupakan kutukan Si Pahit Lidah, Air Terjun Bedegung di Muara Enim yang bisa dimasuki secara gratis, Kabupaten Lahat yang dipenuhi situs megalitikum, dan juga indahnya Danau Ranau yang berada di perbatasan antara Kabupaten OKU Selatan dan Provinsi Lampung. Tunggu apa lagi? Ayo ke Sumatera Selatan!

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://simbi.kemenag.go.id/simas/index.php/profil/masjid/30/?tipologi_id=6
2. http://travel.detik.com/read/2013/11/29/081901/2427012/1519/bukit-sulap-objek-wisata-paling-baru-di-sumatera-selatan
3. http://www.gosumatra.com/gunung-dempo-sumatera-selatan/
4. http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/10/1349187486453492600.jpg

Senin, 25 Agustus 2014

Mempelajari Perjuangan Palembang Pada Masa Penjajahan di Monumen Perjuangan Rakyat


1. Monpera Tampak Depan

Pada zaman penjajahan dahulu, Belanda tidak hanya menguasai Jawa dan daerah timur Indonesia, Belanda juga melebarkan sayapnya ke sebelah barat Indonesia yakni Pulau Sumatera. Salah satu wilayah Sumatera yang ikut dikuasai oleh Belanda adalah Kota Palembang. Peristiwa peperangan yang paling amat dikenal adalah pertempuran lima hari lima malam. Bagaimanakah suasana peperangan saat itu? Masyarakat yang kurang bisa membayangkan bagaimana peristiwa pertempuran itu bisa mengunjungi Monumen Perjuangan Rakyat Palembang dan melihatnya pada relief yang terpampang di dinding Monpera.

Monumen Perjuangan Rakyat atau biasa disebut Monpera berdiri pada tanggal 23 Februari 1988 dan difungsikan untuk menyimpan benda bersejarah seperti senjata, patung pejuang, baju dinas para pejuang, dan juga relief, terkhusus benda peninggalan pertempuran lima hari lima malam. Bangunan Monpera ini berdiri megah di Jalan Merdeka persis berseberangan dengan Masjid Agung Palembang. Letaknya yang berada di pusat kota sangat memudahkan siapa saja untuk mengunjunginya. Ada yang unik dari monumen ini yakni bentuknya yang seperti enam segitiga terbalik yang saling bertautan. Pada bagian depan museum terdapat replika burung Garuda berwarna hitam.

Memasuki lantai pertama museum anda akan disambut oleh banyak bingkai foto berisikan gambar perjuangan rakyat melawan penjajah Belanda. Dinding yang bercatkan warna oranye membuat ruangan museum tidak begitu seram. Selain bingkai foto, di lantai satu ini, pengunjung juga bisa melihat miniatur Monpera dan dua etalase. Etalase pertama berisikan dokumen sejarah dan pariwisata Sumatera Selatan, sedangkan etalase kedua berisikan aneka suvenir khas Sumatera Selatan. Melanjutkan langkah ke lantai dua, pengunjung bisa melihat aneka senjata hasil rampasan saat perang berjumlah 14 pucuk. Senjata-senjata ini sengaja dibuat dalam dinding kaca sehingga pengunjung hanya bisa mengamati dari luar. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi tangan-tangan jahil yang bisa merusak peninggalan sejarah tersebut.


2. Aneka Senjata

Di lantai tiga museum, pengunjung bisa melihat berbagai replika wajah pejuang Sumatera Selatan dan pakaian dinas yang dikenakan pejuang-pejuang tersebut. Masing-masing pejuang tersebut bernama dr. A. K. Gani, Haji Abdul Rozak, Brigjen TNI H. Hasan Kasim, Mayjen TNI H. Bambang Utoyo, Kol. H. Burlian, dan drg M. Isa. Sementara lantai empat dan lantai lima berisikan foto-foto pada masa pertempuran. Selanjutnya di lantai enam yang merupakan lantai puncak terdapat sebuah lubang untuk bisa naik ke atap Monpera. Dari atap Monpera ini, pengunjung bisa melihat pemandangan Kota Palembang bak melihat sudut-sudut Kota Jakarta dari lantai atas Monas. Setiap peringatan Hari Kemerdekaan RI, bendera-bendera merah putih dipasang di puncak Monpera untuk menambah semaraknya Hari Kemerdekaan Indonesia.


3. Lubang untuk Mencapai Atap Monpera

Saat keluar dari ruangan museum, pengunjung bisa mengelilingi badan Monpera dan menemukan dua relief besar berisikan tulisan. Relief pertama bertuliskan “Panglima Besar Soedirman: Korban Sudah Cukup Banyak. Sekali Merdeka Tetap Merdeka”, sedangkan relief kedua bertuliskan “Lebih Baik Hancur Bersama Debu Kemerdekaan Daripada Dijajah. Patah Tumbuh Hilang Berganti”. Beralih dari tempat ini, pengunjung bisa bersantai di gazebo dan taman yang ada di pintu masuk. Bisa dikatakan kawasan Monpera ini terbilang asri karena tak terlihat satu pun pedagang kaki lima yang masuk di wilayah Monpera apalagi di halamannya.

Bagi anda yang ingin mengunjungi Monpera, anda bisa mengarahkan kendaraan pribadi anda menuju Jalan Merdeka, tepatnya di samping Kantor Pos Pusat dan di depan Masjid Agung Palembang. Jika anda menggunakan angkutan umum, anda bisa menggunakan Bus Jurusan Plaju atau Kertapati, lalu turun di simpang Jembatan Ampera lalu menyeberang menuju Monpera. Akan lebih enak jika anda menggunakan Bus Jurusan Bukit ataupun oplet jurusan Ampera, karena angkutan-angkutan umum tersebut melintas tepat di depan Monpera. Bagi pengunjung tidak diperbolehkan untuk membawa makanan dan minuman ke dalam museum. Jika anda merasa lapar, anda bisa berjalan menyusuri lorong di samping Monpera yang dipenuhi banyak pedagang makanan. Monumen Perjuangan Rakyat ini buka setiap hari Selasa sampai Minggu pukul 08.00-15.30 WIB, kecuali hari libur nasional. Dengan tiket masuk seharga Rp 2000,00, pengunjung bisa mengetahui perjuangan Palembang lewat foto dan benda peninggalan lainnya dalam monumen berlantai enam ini.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://littlegreenangel.blogspot.com/2014/07/monpera-monumen-perjuangan-rakyat.html
2. http://pastipanji.wordpress.com/2010/09/22/jalan-jalan-di-bumi-sriwijaya-palembang-bagian-2/
3. http://littlegreenangel.blogspot.com/2014/07/monpera-monumen-perjuangan-rakyat.html

Jumat, 22 Agustus 2014

Merasakan Eksistensi Muslim Tionghoa Lewat Masjid Cheng Hoo Palembang


1. Masjid Cheng Hoo Tampak Depan

Palembang adalah salah satu kota di Indonesia yang sangat sarat dengan budaya Tionghoa. Keberadaan Kerajaan Buddha Sriwijaya di masa dulu membuat sisa-sisa Tionghoa masih ada sampai sekarang ini, bahkan berkembang pesat. Selain Kampung Kapitan, jejak budaya Tionghoa dapat dilihat pada Masjid Cheng Ho, sebuah masjid yang bernuansa Melayu Tionghoa. Nama Cheng Ho sendiri diambil dari nama seorang kasim Cina bernama Laksamana Cheng Ho. Cheng Ho adalah seorang admiral Cina beragama Islam yang melakukan misi silaturahim terhadap Kerajaan Majapahit. Dalam pelayarannya, Cheng Ho mengunjungi Palembang sebanyak tiga kali. Di sinilah peran Cheng Ho terlihat, ia bersama pedagang Tionghoa lainnya ikut menyebarkan agama Islam di Palembang. Pada waktu itu, Cheng Ho memimpin 62 kapal dengan 27.800 tentara untuk berlabuh di Palembang.

Pada tahun 1407, Kota Palembang diganggu oleh sekelompok perampok Hokkian. Di bawah naungan Kerajaan Sriwijaya, Kota Palembang pun meminta bantuan kepada armada Tiongkok Asia Tenggara agar mau membantu mereka menumpas kejahatan para perampok Hokkian tersebut. Bantuan pun datang dan kepala perampok yang bernama Chen Tsu Ji berhasil ditangkap. Chen Tsu Ji dan anak buahnya menguasai perairan Sungai Musi, Sungsang, dan juga Selat Bangka dan merompak seluruh kapal yang melintas di ketiga perairan tersebut. Semenjak itu, Cheng Ho membentuk organisasi masyarakat Tionghoa beragama Islam di Palembang.

Masjid Cheng Ho Palembang berdiri megah di kawasan Jakabaring, tepatnya di Perumahan Amin Mulia. Pendirian masjid ini diprakarsai oleh masyarakat Tionghoa Palembang, para sesepuh, dan juga anggota Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. Pembinaan masjid dilakukan pada September 2005 tepat pada saat peletakan batu pertama. Masjid mulai digunakan pertama kali pada tahun 2008. Dengan tampilan arsitektur yang merupakan perpaduan antara budaya lokal Palembang, Tionghoa, dan Arab, masjid ini menjadi masjid favorit peziarah selain Masjid Agung Palembang di Jalan Merdeka. Banyak peziarah dari Cina, Taiwan, Malaysia, Singapura, dan Rusia yang sering datang ke Masjid Cheng Hoo. Selain berperan sebagai tempat ibadah, Masjid Cheng Hoo juga kerap digunakan untuk kegiatan kemasyarakatan, mengingat misi Cheng Hoo yang ingin menciptakan perdamaian bagi dunia.

Bagi anda yang ingin berkunjung ke Masjid Cheng Hoo Palembang, anda bisa langsung datang ke Perumahan Amin Mulia Jakabaring. Jika anda menggunakan jasa angkutan umum, seperti bus tujuan Plaju ataupun Kertapati, anda bisa berhenti di Simpang Jakabaring lalu naik angkutan pinggiran tujuan Pasar Induk Jakabaring. Tanyakan saja pada Pak Supir, mereka pasti tahu keberadaan masjid yang didominasi oleh warna merah ini. Selain di Palembang, masih ada dua Masjid Cheng Hoo di wilayah lain di Indonesia, yakni di Pasuruan dan Surabaya.

Masjid Cheng Hoo adalah simbol Muslim berdarah Tionghoa di Palembang. Gaya arsitektur yang menonjolkan sisi Tionghoa, pilar-pilar tinggi berwarna merah, dan warna hijau giok pada masjid ini menambah keindahan pesonanya yang seperti istana kerajaan. Keberadaan Masjid Cheng Hoo di Palembang menunjukkan eksistensi para muslim Tionghoa di Palembang sekaligus simbol akulturasi antara Melayu (Islam) dan Tionghoa.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://travelmatekamu.com/wp-content/uploads/2014/07/masjid_cheng_ho_palembang_2.jpg

Jumat, 11 Juli 2014

Indahnya Taman Segitiga Emas Kayu Agung


(Dokumentasi Pribadi)

Kayu Agung, yang merupakan Ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan patut berbangga, pasalnya beberapa hari lalu kota kecil ini menerima piala adipura untuk yang ke tujuh kalinya. Di Sumatera Selatan sendiri, kota Kayu Agung merupakan salah satu kota yang terkenal akan kebersihan dan tatanan kota yang rapi. Walaupun hanya kota kecil, Kayu Agung juga tidak kalah dengan Jakarta yang memiliki banyak taman kota. Sebut saja Taman Segi Tiga Emas, sebuah taman kota yang dibangun pada zaman pemerintahan Bupati Ishak Mekki. Sebenarnya taman itu bernama Taman Prof Amri Yahya, namun karena letak taman yang berada di dalam kawasan segitiga emas, maka jadilah taman itu disebut Taman Segitiga Emas. Sebelum taman ini berdiri, masyarakat Kayu Agung sering melakukan aktivitas olahraga di Lapangan Hatta yang berkapasitas terbatas.


(Dokumentasi Pribadi)

Secara tidak langsung , keberadaan Taman Segitiga Emas ini seakan menjadi icon Kayu Agung. Kebanyakan anak muda luar Kayu Agung lebih sering menyebut Taman Segitiga Emas, jika ditanya perihal kota tersebut. Letaknya yang strategis, yaitu di tengah jalan menuju Lampung dari Palembang, serta tatanan taman yang rapi, hijau, dan asri, membuat taman ini terlihat indah dari sudut mana pun. Setiap hari lokasi ini selalu dikunjungi oleh masyarakat, baik itu dari Kayu Agung, maupun dari luar Kayu Agung, seperti Palembang dan Indralaya, yang notabene adalah mahasiswa. Selain dikunjungi anak muda, taman Segitiga Emas juga sering dikunjungi oleh para keluarga. Di dalam taman, disediakan beberapa arena bermain anak-anak, seperti ayunan, jungkat-jungkit, dan papan luncur, yang bisa digunakan secara cuma-cuma.


(Dokumentasi Pribadi)

Selain itu, kamu juga bisa menemukan alat olahraga sederhana di areal taman bermain, yang tentunya akan lebih asyik jika dimainkan saat sore hari, mengingat cuaca Kayu Agung yang sangat terik dan panas pada siang hari. Ditambah lagi, kamu bisa jogging mengelilingi taman pada saat sore hari. Hampir setiap malam pergantian tahun, taman segitiga emas dijadikan sebagai pusat berkumpulnya keluarga dan muda-mudi yang ingin merayakan malam pergantian tahun. Keberadaan arena bermain anak-anak membuat para orangtua tidak segan untuk mengajak anak-anak mereka, karena tentu anak-anak mereka tidak akan bosan.


(Dokumentasi Pribadi)

Jika berjalan ke tengah-tengah taman, kita akan menemukan sebuah monumen berbentuk perahu yang tengah berlayar, yang disebut perahu kajang. Menurut sejarah, pada zamannya, perahu kajang sangat berperan bagi perekonomian penduduk pinggiran sungai yang memperdagangkan tembikar ke pasar 16 ilir, Palembang. Namun, di era 1980-an, perahu kajang mulai menghilang seiring dengan masuknya berbagai produk buatan Cina yang murah.

Saat ini perahu kajang sudah tidak ada lagi, namun masyarakat tetap bisa melihat betapa perkasanya perahu kajang di masa dulu melalui replika perahu kajang di tengah-tengah Taman Segitiga Emas. Selain di taman, perahu kajang juga bisa terlihat saat kita memandang gedung olahraga di sebelah barat Taman Segitiga Emas, di mana gedung olahraga tersebut dibuat menyerupai perahu.

Perahu Kajang tinggal kenangan, namun kehadiran Taman Segitiga Emas telah membuat Perahu Kajang tetap bertahan.


(Dokumentasi Pribadi)

Oleh : Rahel Simbolon
Catatan:
Untuk sampai ke taman ini, kamu bisa menaiki travel tujuan Kayu Agung dari Palembang, dengan lama perjalanan 2 jam.

Minggu, 23 Maret 2014

Berwisata ke Benteng Kuto Besak

Begitu beruntungnya Indonesia yang memiliki beragam destinasi wisata yang tersebar di 5 pulau besar, sehingga Indonesia tidak hanya dikenal dengan Bali ataupun Jawa saja. Bagi anda yang ingin merasakan sensasi berwisata yang cukup berbeda, cobalah datang ke Palembang, salah satu kota besar di selatan Pulau Sumatera. Kota yang dijuluki Kota Pempek ini memiliki beragam destinasi wisata yang bisa dikunjungi.

Salah satunya adalah Benteng Kuto Besak, sebuah benteng yang dibangun di abad ke-17 Masehi oleh Sultan Mahmud Bahauddin. Benteng ini terletak tidak jauh dari tempat berdirinya Jembatan Ampera. Bisa dikatakan, Jembatan Ampera berada di atas dan Benteng Kuto Besak berada di bawah. Dari Benteng Kuto Besak, pengunjung akan dimanjakan dengan panorama Jembatan Ampera yang berdiri kokoh di atas Sungai Musi dan indahnya matahari terbenam. Tidak hanya itu saja, anda juga bisa melihat anak-anak yang bermukim di sekitar sungai Musi yang asyik bermain bola dan berenang di Sungai Musi.


(Sumber : http://budaya-indonesia.org/Benteng-Kuto-Besak/)

BKB tidak pernah sepi pengunjung. Walaupun sedang tidak ada perayaan, objek wisata satu ini selalu terlihat ramai. Jika hari sudah sore, pengunjung yang datang semakin banyak. Kebanyakan mereka ingin menikmati sunset, memancing, dan berfoto bersama. Banyaknya pengunjung yang datang tentu tidak di sia-siakan oleh para pedagang. Pengunjung tidak perlu takut kelaparan karena di sana-sini banyak ditemukan pedagang makanan, seperti mie tek-tek, pempek, kerupuk-kemplang, dan minuman dingin. Ada juga beberapa warung kecil yang menjual makanan berat, seperti nasi goreng, gado-gado, tekwan, dan model. Jika anda ingin menikmati makanan di restoran sekaligus jembatan ampera, anda bisa datang ke River Side, sebuah restoran mewah yang ada di atas kapal. Tentunya anda harus merogoh kocek yang lebih dalam untuk menikmati makanan di tempat ini.


(Sumber : http://panduanwisata.com/2013/04/18/river-side-restoran-mewah-di-samping-jembatan-ampera/)

Untuk sampai ke tempat ini, anda tidak perlu pusing memikirkan caranya karena letak Benteng Kuto Besak dan Jembatan Ampera berada di tengah-tengah Kota Palembang. Hampir seluruh angkot, menjadikan Ampera sebagai tujuan terakhirnya. Dari mana pun anda datang, baik itu Pakjo, Perumnas Sako, Sekip, Lemabang, KM 5, sampai Plaju, anda cukup menaiki angkot dengan tujuan Ampera dan merogoh kocek Rp 3.500, maka sopir angkot akan menurunkan anda tepat di bawah Jembatan Ampera. Letak Benteng Kuto Besak berada sebelum Jembatan Ampera, jadi jika anda telah menemukan sebuah bangunan benteng bertuliskan Benteng Kuto Besak dengan huruf besar, anda bisa langsung turun tepat di depan bangunan tersebut.

Nah, bagi anda yang datang dari KM 12 sekitarnya dan Perumnas sekitarnya, anda tinggal menaiki Bus Jurusan Kertapati atau Plaju. Kedua bus ini pasti melewati Jembatan Ampera. Jika sudah sampai di sekitar Masjid Agung, sebaiknya anda turun. Selanjutnya, anda tinggal berjalan kaki menuju Benteng Kuto Besak, melewati Monpera. Akan sedikit menguntungkan jika anda datang dari Lokasi Bukit, karena anda bisa langsung turun di depan Monpera. Anda tinggal berjalan lurus mengikuti jalan tersebut dan akan sampai di lokasi Benteng Kuto Besak. Jika anda menaiki Bus Bukit, anda tidak perlu menyeberang menuju Masjid Agung dan Monpera.

Lalu bagaimana dengan pengunjung dari luar kota? Nah, bagi anda yang datang dari luar kota, anda bisa menyesuaikannya dengan tempat anda berhenti. Jika anda menggunakan kereta api, otomatis anda akan berhenti di Stasiun Kertapati. Anda tinggal menaiki Bus jurusan KM 12, Perumnas, ataupun Pusri, lalu mintalah kernet bus untuk menurunkan anda di Monpera, lalu berjalanlah sedikit menuju BKB. Jika anda datang dari Bandara SMB II, anda harus keluar dari lokasi tersebut hingga menemukan Bus jurusan Kertapati ataupun Plaju. Mintalah supir taksi ataupun tukang ojek untuk mengantarkan anda menemukan bus-bus tersebut. Seperti di atas, anda tinggal menaiki bus tersebut lalu berhenti di sekitar Masjid Agung.

Tidak ada satu pun warga Palembang yang tidak mengetahui keberadaan benteng satu ini. Jika anda merasa tersesat, anda cukup menanyakannya kepada warga sekitar. Tingkat kriminal kota ini terbilang tinggi, karena itu harap berhati-hatilah. Jangan pernah menunjukkan barang berharga bila sedang di dalam angkutan umum. Ada baiknya jika anda berkunjung saat sore ataupun malam hari, karena saat siang, cuaca sangat panas. Di sore hari, anda bisa menikmati sunset dan di malam hari, anda bisa menikmati indahnya Jembatan Ampera yang berhiaskan lampu-lampu cantik.

Oleh : Rahel Simbolon