Tampilkan postingan dengan label pemandangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemandangan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Agustus 2014

Taman Alam Lumbini, Maha Karya Indonesia Di Brastagi


1. Taman Alam Lumbini

Selama ini dunia mungkin hanya mengenal Myanmar dan Thailand yang dipenuhi oleh pagoda-pagoda megah dan indah, namun ternyata Indonesia juga memiliki pagoda yang tidak kalah indah. Sebut saja Taman Alam Lumbini, sebuah kompleks taman yang memiliki pagoda nan megah di dalamnya. Taman Alam Lumbini berada di Desa Tongkoh Brastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Adapun taman alam ini diresmikan pada tahun 2010 yang lalu dengan melibatkan 100 bhiksu Indonesia, 400 bhiksu Thailand. 650 bhiksu Myanmar, dan selebihnya berasal dari negara lain.

Pagoda di Taman Alam Lumbini merupakan replika Pagoda Shwedagon di Burma. Untuk memasuki taman ini, pengunjung tidak dikenakan biaya sepeser pun alias gratis. Sesampainya di kawasan pagoda, pengunjung akan disambut oleh warna emas yang memenuhi seluruh bagian luar pagoda yang membuat bangunan ini tampak megah. Pada bagian kiri pagoda terdapat menara dengan puncak berbentuk bekisar, sementara pada bagian bawahnya terdapat beberapa gelang emas yang menjuntai sepanjang 1,5 meter. Sebagaimana pagoda pada umumnya, puncak pagoda ini pun dihiasi oleh banyak lonceng. Jika angin tengah bertiup dan mengenai lonceng, maka lonceng-lonceng tersebut akan berdentang. Sebelum masuk ke dalam pagoda, pengunjung diminta untuk melepaskan alas kaki dan tidak boleh membawa makanan minuman ke dalam. Memasuki pagoda, pengunjung akan menemukan empat patung Buddha yang menghadap pintu dan mengarah ke empat mata angin. Bagi pengunjung yang beragama Buddha, anda bisa bersembahyang di tempat ini. Suasananya sangat teduh, tenang, dan tenteram. Perlu diketahui, replika pagoda di Myanmar yang ada di taman ini merupakan yang tertinggi di Indonesia sehingga mendapatkan rekor MURI. Selain memiliki bangunan pagoda, taman alam ini juga memiliki hamparan taman dengan bunga-bunga yang bermekaran indah. Jika anda sudah puas mengelilingi bangunan pagoda, anda bisa bersantai di taman ini.


2. Taman Hijau di Samping Pagoda

Taman Alam Lumbini bisa dicapai dari Kota Medan dengan lama perjalanan 2-3 jam. Bagi anda yang berangkat dari Medan dan menggunakan kendaraan umum, anda bisa melakukan estafet dengan menggunakan jasa angkot Sutra dengan rute Medan-Brastagi, cukup dengan ongkos Rp 10.000 saja. Sepanjang perjalanan menuju Brastagi, anda akan disuguhkan pemandangan alam yang begitu indah diiringi dengan musik Batak yang biasa mengalun di setiap angkutan umum di Sumatera Utara. Dan satu lagi, angkot Sutra tidak akan menurunkan anda tepat di depan Taman Alam Lumbini. Anda harus berhenti di Simpang Tongkoh kemudian melanjutkan perjalanan sekitar 500 meter, barulah anda bisa sampai tepat di Taman Alam Lumbini. Untuk melanjutkannya, anda bisa menggunakan kendaraan ataupun berjalan kaki. Tapi alangkah baiknya jika anda berjalan kaki karena di pemandangan kebun stroberi di kanan dan kiri jalan bisa menyegarkan mata.

Bagaimana? Sudah siap menjelajahi salah satu maha karya Indonesia ini? Udara sejuk Brastagi akan menemani anda mengitari Taman Alam Lumbini.

Oleh: Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://static.panoramio.com/photos/large/57428527.jpg
2. http://medan.panduanwisata.com/files/2013/03/6993318383_33320fb1c1_c.jpg

Selasa, 26 Agustus 2014

Selain Sungai Musi, Sumatera Selatan Juga Memiliki Objek-Objek Wisata Ini

Bagi anda yang ingin merasakan sesuatu yang baru selain berlibur di tempat yang itu-itu saja, mungkin anda bisa menyeberang sebentar ke Pulau Sumatera. Sumatera Selatan adalah salah satu provinsi di Sumatera yang dikenal sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya di masa dahulu. Selain itu, provinsi yang dikelilingi oleh air ini sangat populer dengan megahnya Jembatan Ampera dan luasnya Sungai Musi. Namun, tahukah kamu bahwa Sumatera Selatan tidak sebatas Sungai Musi dan Jembatan Ampera saja? Masih banyak objek wisata lainnya yang bisa anda telusuri di provinsi yang sangat terkenal dengan pempek ini. Seperti apa sajakah objek wisata tersebut? Mari kita simak bersama.

  1. Masjid Agung, Palembang

    Masjid ini terletak di jantung kota Palembang tepatnya di Jalan Merdeka. Gaya arsitekturnya yang merupakan kombinasi antara gaya Eropa dan China membuat masjid ini terbilang unik. Dengan tembok-temboknya yang berukuran besar, masjid ini tampak sangat megah. Halamannya pun begitu luas dan asri. Setiap hari Jumat, tepatnya pada saat Sholat Jumat, halaman luar Masjid Agung selalu diramaikan oleh pedagang-pedagang yang menjual aneka barang Islami seperti sajadah, sarung, peci, buku, dan sebagainya.


    1. Masjid Agung Palembang

  2. Bukit Sulap, Lubuklinggau

    Lubuklinggau adalah ibu kota dari Kabupaten Musi Rawas. Belakangan ini Lubuklinggau sangat terkenal dengan objek wisatanya yang bernama Bukit Sulap. Objek wisata ini termasuk baru di mana tanggal 19 Oktober 2013 lalu, Bukit Sulap baru diresmikan oleh Gubernur Alex Noerdin sebagai kawasan wisata. Ada satu keunikan Bukit Sulap yaitu bisa terlihat hilang pada saat pagi hari akibat ditutupi kabut. Selain itu, dari atas bukitnya, pengunjung bisa melihat pemandangan kota ini dan panorama Bukit Barisan. Oh ya, di sana juga ada fasilitas WiFi lho!


    2. Pemandangan Bukit Sulap Tampak Jauh

  3. Pagaralam

    Bisa dibilang wilayah ini adalah “Puncak”nya Palembang, karena udaranya yang sejuk dan bersih. Letaknya yang dikelilingi oleh Gunung Dempo dan Pegunungan Bukit Barisan membuat wilayah ini seakan-akan dipagari oleh pemandangan hijau yang benar-benar alami. Di Pagaralam, anda bisa mengunjungi wisata Gunung Dempo dan menikmati rimbunan daun teh. Untuk bisa sampai ke Pagaralam, anda harus menyiapkan mental yang kuat karena wilayah ini berada di tempat yang paling tinggi, jalan yang harus dilalui pun menanjak dan berkelak-kelok. Namun semua itu akan terbayar lunas saat anda tiba di Pagaralam dan menikmati hijau serta sejuknya kota ini.


    3. Gunung Dempo

  4. Taman Nasional Sembilang

    Taman nasional ini merupakan hutan konservasi aneka satwa yang dilindungi. Di dalam taman nasional ini, para pengunjung aneka burung, ikan, dan reptil buas. Selain melihat aneka satwa, pengunjung juga bisa menikmati deretan pohon bakau yang membentang indah. Sesekali anda akan bisa menemukan ular yang bergantung bebas di cabang-cabang pohon bakau tersebut. Untuk bisa masuk ke dalam Taman Nasional Sembilang, para pengunjung diwajibkan untuk mengajukan izin kepada Departemen Kehutanan di Palembang.


    4. Burung-burung di Taman Nasional Sembilang
Selain keempat objek wisata di atas, anda masih bisa menjelajahi objek wisata lain seperti Gua Putri Baturaja yang merupakan kutukan Si Pahit Lidah, Air Terjun Bedegung di Muara Enim yang bisa dimasuki secara gratis, Kabupaten Lahat yang dipenuhi situs megalitikum, dan juga indahnya Danau Ranau yang berada di perbatasan antara Kabupaten OKU Selatan dan Provinsi Lampung. Tunggu apa lagi? Ayo ke Sumatera Selatan!

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://simbi.kemenag.go.id/simas/index.php/profil/masjid/30/?tipologi_id=6
2. http://travel.detik.com/read/2013/11/29/081901/2427012/1519/bukit-sulap-objek-wisata-paling-baru-di-sumatera-selatan
3. http://www.gosumatra.com/gunung-dempo-sumatera-selatan/
4. http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/10/1349187486453492600.jpg

Jumat, 18 Juli 2014

MENIKMATI PESONA ALAM CURUG 7 BIDADARI SEMARANG – JAWA TENGAH

Indonesia merupakan negara yang luas yaitu  -+ 5.180.053 km2. Menakjubkan bukan? Berdasarkan pernyataan tersebut, banyak hal menarik yang dapat ditemui di Indonesia yang tersebar di berbagai belahan nusantara. Ragam pesona yang disuguhkan oleh alam Indonesia, memang tak ada habis-habisnya hingga membuat kita makin tertegun akan keelokannya. Namun, masih ada segelintir orang yang enggan untuk menikmati keindahan alam Indonesia dan lebih memilih untuk menikmati suasana alam luar Indonesia. Padahal, pesona alam negeri kita tak kalah juga dengan negara-negara lainnya. Berikut salah satu keindahan alam Indonesia yang patut untuk dikunjungi seperti “Air Terjun 7 Bidadari”.


1. Curug 7 Bidadari

Tempat wisata yang berlokasi di desa Keseneng, Sumowono-Kabupaten Semarang ini, sering disebut Curug 7 Bidadari oleh warga setempat. Curug berarti gerojogan banyu atau dalam istilah Indonesianya air terjun. Wisata lokal yang tak asing lagi bagi warga semarang ini, memiliki kisah yang unik hingga tempat ini di beri nama Curug 7 Bidadari. Konon, ada 7 bidadari yang turun dari kayangan untuk berendam di tempat ini supaya kutukan mereka lenyap. Alhasil dari cerita tersebutlah nama curug 7 bidadari didapat. Lokasi yang berjarak 9 km dari Bandungan dan 7 km dari Gedong Songo, memiliki pemandangan yang menakjubkan di sekitarnya seperti pepohonan hijau nan rimbun dan pemandangan asri lainnya. Sawah pun juga tak luput dari tempat ini sehingga banyak warga setempat yang lalu lalang guna mencari nafkah. Berkunjung ke tempat wisata ini tak perlu merogoh biaya terlalu dalam, kita dapat menikmati keindahan curug yang ketinggiannya kurang lebih 20 meter dengan 3 tingkatan air terjun di mana tingkatan pertama memiliki 1 air terjun, tingkatan selanjutnya terdiri dari 2 air terjun, dan tingkatan terakhir terdapat 4 air terjun yang bersebelahan. Banyak kepercayaan mengenai tempat ini, ada yang mengatakan jika sepasang muda mudi yang berkunjung ke sini akan menjadi sepasang kekasih yang langgeng. Selain itu, terdapat Kedung Wali mirip sebuah sumur yang berdiameter kurang lebih 70cm dengan sumber mata air yang tak ada habis-habisnya. Diyakini Kedung Wali ini memiliki berbagai khasiat seperti awet muda, mempercepat jodoh maupun rezeki, dll.


2. Kedung Wali

Terlepas dari benar atau tidak kepercayaan tersebut, tempat wisata ini selalu ramai dikunjungi. Tak jauh dari lokasi juga, terdapat makam sesepuh desa Keseneng yakni Kyai Mandung dengan luas area makam 150 meter persegi. Yang hingga sekarang makamnya dikeramatkan


3. Makam Kyai Mandung

Curug 7 Bidadari ini dialiri langsung oleh sungai dari Gunung Ungaran sebab lokasi wisata ini tak jauh dari Gunung Ungaran. Berbagai fasilitas disediakan di Curug 7 Bidadari seperti tempat berkemah (camping ground), permainan outbound, gazebo sebagai tempat pertemuan atau kumpul-kumpul, tempat ziarah, mushola, toilet, area parkir, dll. Bagi anda pecinta alam atau ingin melepas penat dari hiruk pikuk dan panasnya kota, tak ada salahnya untuk mengunjungi curug 7 bidadari untuk merefreshingkan jiwa maupun pikiran.

Oleh : Ardan Esand
Gambar:
1. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqMAe7z2QWPL-qJMNbqVMSORkeuuPZt-VebRHBQHnQFYxE5klK5LST56JQvLOpks6y7HKCZYOrVpqXFXdCjp_weDyqBn0v8K5fyiVGhfZqTT8izebU8dSe_tPHFaolFNL3H7_EyNV-b94/s800/curug%2525207%252520bidadari.jpg
2. http://teamtouring.net/wp-content/uploads/2010/08/Kedung-Wali.jpg
3. https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZuaepAX3GGfI9V6vAEz2YsWGZXml5ai0ukRVy1aJxxY4oJP55FDLwK080oONTFYpeH9a4QDFgD9C6rcygOF2InGeFFC74egUWBILZ-KQeW1i5uvjGgKqPufSNKIdTgKyZVBevEaF_dzfx/s1600/Foto-0008t.jpg

Senin, 30 Juni 2014

Sehari Menjelajah Keunikan Pecinan Glodok - 2

Pecinan. Apa yang terlintas dalam benak Anda saat mendengar istilah tersebut? Sebuah wilayah kota yang mayoritas penghuninya adalah warga negara Indonesia keturunan Tionghoa? Sepenggal saksi sejarah keberagaman yang masih tersisa? Atau sederetan gang-gang kecil yang dipenuhi penjaja kuliner dengan kenikmatan yang khas?

Tertarik untuk menjadi salah satu saksi pesona arsitektur dan kuliner khas Tionghoa yang masih tersisa, pada hari itu saya memutuskan untuk melakukan eksplorasi sederhana di kawasan Pecinan Glodok. Berbekal kaki yang siap melangkah, dan semangat untuk menikmati ragam suguhan wisata khas kota lama, saya berhasil menemukan tiga tempat unik yang patut Anda jelajahi di kala senggang.

Vihara Dharma Bhakti (Jin De Yuan)

Vihara Dharma Bhakti Tampak Dalam (Koleksi pribadi)


Vihara Dharma Bhakti Tampak Depan (Koleksi pribadi)


Vihara Dharma Bhakti Tampak Samping (Koleksi pribadi)

Dengan persiapan seadanya, saya memasuki halaman vihara yang didominasi arsitektur berwarna merah. Sekilas, tidak ada yang nampak istimewa dari vihara ini. Namun, sebuah pemandangan asing seketika menarik perhatian saya. Puluhan masyarakat dari berbagai kalangan usia, tampak memadati halaman lain vihara. Sesekali saya hampir bertubrukan dengan beberapa anak kecil yang berlarian menuju keramaian tersebut tanpa alas kaki, seakan sedang dikejar waktu.

“Biasa Mbak, itu lagi bagi-bagi duit,” ucap seorang ibu berbadan sedikit tambun, yang terlihat baru saja keluar dari keramaian. Pakaiannya sedikit lusuh, namun raut wajahnya tampak berseri-seri.

Ternyata, pemandangan tersebut bukan hal baru lagi di Vihara Dharma Bhakti. Berhubung hari saya berkunjung masih belum begitu jauh dari perayaan Imlek, maka nuansa Tahun Baru Cina juga masih tersisa di sana. Salah satunya, adalah kebiasaan berbagi rejeki kepada kaum yang membutuhkan di kala Imlek. Hal ini menjelaskan keberadaan puluhan pengemis yang memenuhi pelataran vihara. Beberapa dari mereka bahkan membawa tikar sebagai alas tidur, menunjukkan bahwa mereka bermukim di sana untuk jangka waktu yang tidak sebentar.

Memasuki vihara, saya langsung disambut dengan asap hio yang mengepul memenuhi ruangan. Puluhan umat menyalakan hio sambil memanjatkan doa di hadapan 24 altar sembahyang yang disusun mengelilingi vihara. Beberapa penjaga vihara tampak sibuk berlalu-lalang membersihkan vihara dari abu bekas hio, sambil sesekali mempersiapkan beberapa hio tambahan untuk pengunjung.

Ditemani oleh Agus, warga sekitar yang sehari-hari bekerja membersihkan dan menjaga keamanan vihara, saya pun diantar berkeliling untuk melihat kondisi vihara secara keseluruhan. Pada pelataran utama, saya melihat patung Dewi Kwan Im berdiri megah di tengah pelataran. Ukurannya sedikit lebih besar daripada patung-patung lain yang mengitari vihara. Ternyata, menurut Agus, Dewi Kwan Im diibaratkan sebagai “tuan rumah” Vihara Dharma Bhakti. Oleh karenanya, banyak orang datang ke vihara ini, secara khusus untuk bersembahyang kepada Dewi Kwan Im.

Vihara yang dibangun pada tahun 1650 ini, memang merupakan salah satu vihara tertua di Jakarta. Nilai historis yang melekat, membuat vihara ini tidak pernah sepi pengunjung, terutama masyarakat Tionghoa yang ingin bersembahyang. Para peziarah dan wisatawan juga kerap datang sembari melihat ritual pengunjung. Pesona khas yang terpancar, membuat vihara ini seringkali dijadikan obyek fotografi, dan juga lokasi syuting video klip.

Oleh : Maria Miracellia Bo

Kamis, 13 Maret 2014

Tentang Jogja - 2 (Habis)

8. Alun-alun

Yogyakarta memiliki dua alun-alun, yakni alun-alun utara (altar) dan alun-alun kidul (alkid), tentu keduanya memiliki keterkaitan dengan kerajaan Mataram/keraton Yogyakarta. Altar adalah lapangan di bagian utara keraton atau di sepan keraton, di bagian tengah lapangan ini terdapat dua beringin yang disebut dengan Waringin Sengkeran/Ringin Kurung yang artinya beringin yang dipagari. Sedangkan Alkid berada di selatan atau di belakang keraton. Alkid terkenal dengan permainan masangin (masuk dua beringin), yaitu melewati pohon beringin kembar dengan mata ditutup, konon yang bisa melewati pohon beringin itu dengan mata tertutup adalah orang yang memiliki hati bersih. Pada malam hari suasana alkid akan semakin ramai dengan banyaknya muda mudi yang datang untuk menikmati malam di Jogja, banyak pula berjajar penjaja makanan, kita juga bisa berkeliling alun-alun dengan menggunakan odong-odong penuh lampu warna yang membuat suasana malam semakin menarik.


Odong-odong di Alkid


Beringin Kembar

9. Candi Prambanan atau Candi Roro Jonggrang

Candi ini berada di kecamatan Prambanan, Sleman dan kecamatan Prambanan, Klaten. Letaknya sangat unik, karena candi ini terletak di wilayah administrasi desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman, sedangkan pintu masuk kompleks Candi Prambanan terletak di wilayah administrasi desa Tlogo, Prambanan, Klaten. Candi ini termasuk Situs Warisan Dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia, sekaligus salah satu candi terindah di Asia Tenggara. Di Candi Prambanan kita juga bisa melihat pementasan Sendratari Ramayana yang ditampilkan pada malam hari, itupun tidak setiap hari hanya ada tiap selasa, kamis, dan sabtu.

Pementasan Sendratari Ramayana



10. Situs Ratu Baka



Situs ini terletak di atas bukit di selatan Candi Prambanan, yakni di Kecamatan Sleman, Yogyakarta. Kompleks Situs Ratu Baka bukan merupakan candi atau bangunan dengan sifat religius, melainkan sebuah istana berbenteng dengan adanya kompleks profan, lengkap dengan gerbang masuk, pendopo, tempat tinggal, kolam pemandian, hingga pagar pelindung. Situs Ratu Baka ini sayang sekali terlewatkan bila kita berkunjung ke Jogja, karena selain merupakan situs bersejarah, situs Rata Baka memiliki pemandangan yang menawan karena letaknya di atas bukit, dan bila beruntung kita bisa melihat sunset yang Indah, letaknya juga tidak terlalu jauh dengan pusat kota Jogja (18km timur Jogjakarta).

11. Kaliurang

Bila ingin mencari suasana sejuk, tenang, dan melihat keindahan alam kita bisa mengunjungi Kaliurang. Kaliurang adalah dataran tinggi yang ada di wilayah utara Jogja, di sana kita bisa bersantai dan rekreasi baik dengan keluarga ataupun sahabat. Tidak jauh dari taman rekreasi Kaliurang terdapat Taman Wisata Plawangan Turgo, dan di sana kita bisa melihat Tlogo Putri yang airnya berasal dari mata air Plawangan. Selain itu, kita bisa juga melihat pemandangan Gunung Merapi, namun untuk melihat keindahan alam itu kita harus berjuang dulu untuk naik dengan tangga berundak kira-kira sejauh 900meter. Pemandangan yang jangan sampai terlewatkan saat berada di Kaliurang adalah air terjun di Tlogo Muncar. Berada di tempat sesejuk ini tentu tidak puas bila hanya seharian, untuk itu tidak perlu khawatir, karena di kawasan itu kita bisa menemukan banyak tempat penginapan dengan tarif yang terjangkau. Kaliurang ini berada di Kabupaten Sleman, yang langsung berbatasan dengan Jawa Tengah.

Tempat-tempat di atas bisa menjadi pilihan alternatif bila anda sedang berlibur di Jogja. Setelah sebelumnya kita pernah membahas wisata di Kulon Progo dan Gunungkidul, namun sebenarnya masih banyak wisata di Jogja yang bisa kita kunjungi seperti Pantai Samas, Pantai Parangtritis, Goa Selarong, Manding (Pusat Kerajinan Kulit), Taman Buah Mangunan, Makam Raja-raja (Imogiri) yang berada di Kabupaten Bantul. Jogja adalah kota yang tepat untuk berwisata, karena di kota ini kita tidak akan kehabisan tempat untuk berwisata.

Oleh: Novita Prahastiwi
Sumber: - http://id.wikipedia.org/wiki/Tugu_Yogyakarta
- http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Prambanan
- http://id.wikipedia.org/wiki/Situs_Ratu_Baka
Sumber Gambar:
- http://yogyatrip.com/tugu-yogya-simbol-persatuan-kawula-gusti/
- http://kampusjogja.com/koleksi-foto-tugu-jogja/
- http://id.wikipedia.org/wiki/Jalan_Malioboro
- http://ranarast.wordpress.com/2013/03/08/never-lost-in-yogkayarta-3/
- http://www.yukpegi.com/indonesia/menikmati-wisata-peninggalan-belanda-di-benteng-vredeburg/
- http://yogyakarta.panduanwisata.com/hiburan/nol-kilometer-yogyakarta-tempat-favorit-berkumpulnya-wisatawan-dengan-keindahan-bangunan-tua-bersejarah/
- http://review-vacation-mahasiswa.blogspot.com/p/sebelum-saya-cerita-panjang-lebar.html
- http://www.indonesia-tourism.com/forum/showthread.php?383-Kraton-Ngayogyakarta-Hadiningrat-Yogyakarta-Indonesia
- http://raisaaryasheba.blogspot.com/2011/11/water-castle-taman-sari.html
- http://kangjava.wordpress.com/2011/08/08/alun-alun-kidul/
- http://wedotku.blogspot.com/2013/09/tempat-paling-gaul-yang-wajib-anda.html#pages/2

Rabu, 26 Februari 2014

Eksotika Alam Hutan Kina Bukit Unggul



Dulu, ada sebuah cerita di mana segerombolan orang terpaksa mengungsi ke hutan. Tetapi kehidupan di sana memang berat. Satu persatu mereka sakit dan meninggal dunia. Semua gejalanya sama. Badan terasa sakit, berkeringat disertai demam yang tinggi. Tetapi ada seorang yang mampu bertahan hidup. Dalam kesendirian dan rasa sakit, ia merayap mencari sumber air. Ketika sampai di kubangan, ia pun segera meminum air itu. Anehnya, semakin lama sakitnya malah semakin baik. Setelah diselidiki, ternyata ada khasiat obat di kubangan itu. Dan pohon tumbang yang terendam air itulah penyebabnya. Ternyata, itulah pohon kina yang sampai kini terkenal menjadi obat penyakit malaria.

Dan sensasi pohon kina itu bisa kita temukan pada sebuah agrowisata bernama Bukit Unggul. Ini merupakan kawasan hutan kina yang dikelola oleh PTPN VIII. Bahkan ada pabrik pengolahannya juga. Kawasan ini terletak di desa Cipanjalu kecamatan Cilengkrang kabupaten Bandung. Letaknya unik, karena ada di tengah, berbatasan dengan kabupaten Bandung Barat (kecamatan Lembang), kabupaten Subang, kabupaten Sumedang dan kota Bandung. Lokasinya sekitar 11 km dari arah alun-alun Ujungberung, Bandung. Tapi bisa juga dicapai dari arah Cibodas Lembang sejauh 17 km.

Jalan menuju arah sana memang tidak bagus. Apalagi sejak dari desa Ciporeat, keadaannya berlubang dan berbatu-batu. Tetapi apa yang akan didapatkan sungguh merupakan suatu kepuasan. Bagaimana bebauan pepohonan menusuk hidung. Angin hutan bertiup sepoi-sepoi menyegarkan badan. Suatu keadaan yang sangat kontras dengan kota yang penuh polusi dan kebisingan.

Sepanjang kanan kiri jalan diapit jurang dan bukit yang penuh pohon kina atau Eucalyptus. Bunga-bunga liar pun seolah tak mau kehilangan pesona, tumbuh dengan suburnya. Tak puas rasanya mata memandangi eksotika gunung dan bukit di sekitarnya. Bagi aku pribadi, inilah refreshing yang sebenarnya.

Jalanan memang cukup sepi. Tak banyak orang berlalu lalang. Juga tak banyak rumah di kiri kanan jalan. Tapi sering kita berpapasan dengan grup pecinta sepeda yang ingin menaklukkan medan yang cukup berat. Bagi mereka, wisata Bukit Unggul mempunyai tantangan tersendiri. Selain jalannya yang tidak bersahabat, arealnya menanjak terus. Pastinya dibutuhkan stamina yang prima untuk menggowes sepedanya.

Masuk kawasan hutan lebih dalam, jalannya juga cukup besar. Kami lalu berhenti di sebuah warung untuk minum dan beristirahat sejenak. Ada beberapa rumah penduduk sederhana. Sambil minum kami berbincang dengan seorang bapak yang sudah lama tinggal di sana. Ia menunjukkan bukit-bukit yang mengelilingi tempat kami berada. Jaraknya terlihat cukup dekat. Ada gunung Palasari, gunung Manglayang dan bukit Tunggul yang terlihat paling dekat.

Lalu dia menceritakan sesuatu yang unik. Katanya kalau pergi ke pasar, penduduk harus menempuh perjalanan sejauh 17 km ke Lembang. Dan bukan ke Ujungberung yang jaraknya lebih dekat. Hal itu dikarenakan akses ke Lembang lebih bagus dengan tersedianya sarana transportasi berupa ojek dan jalan yang lebih bagus.

Setelah istirahat sejenak, atas petunjuk bapak itu, kami melanjutkan perjalanan. Kawasan wisatalah tujuannya. Di sana kami disuguhi berbagai pemandangan yang lebih menakjubkan lagi. Selain penangkaran rusa, kami juga bisa melihat camping ground. Ada juga sebuah pemancingan yang dikelilingi taman dengan bunga-bunganya yang menawan. Airnya tercurah menjadi semacam air terjun buatan menuju sungai. Tempat itu dinamakan situ Sangkuriang.

Melewati sungai banyak batu-batu besar yang cocok untuk mereka yang suka bernarsis ria. Latar belakangnya benar-benar hutan alami yang gelap dan cukup menyeramkan. Ada alur sungai yang airnya jernih sekali. Tapi kita harus melewati jembatan dari kayu yang kalau diinjak akan sedikit bergoyang.

Oh ya, beberapa kali kami berpapasan dengan burung perkutut yang hinggap. Rasanya ingin sekali menangkapnya karena lucu. Tetapi , tentu saja tidak kami lakukan. Kami kan harus menjaga kelestarian alam. Semoga saja burung-burung itu tidak ada yang menangkap untuk dipelihara. Keberadaan mereka yang bebas biarlah tetap jadi penyeimbang alam.

Keluar dari kawasan itu, menuju arah lain kita bisa melihat pemandangan taman dengan air terjunnya yang eksotik. curug Batu Sangkur Dekat sana ada taman bertingkat yang dipenuhi bunga-bunga aneka rupa. Belum saung-saung yang disebarkan di beberapa lokasi memudahkan pengunjung untuk mengaso dan menikmati pemandangan dari atas.

Bagi mereka yang menyukai tantangan bisa mencoba flying fox. Wow, pasti tak akan terlupakan mencoba tantangan satu itu. Bayangkan saja, meluncur dari ketinggian dengan pemandangan warna-warni taman yang indah. Sayangnya, aku tidak punya keberanian melakukan itu.

Oh ya, kalau mau berekreasi ke Bukit Unggul, sebaiknya membawa persediaan makanan dan air dari rumah. Sebab, hanya ada sedikit warung yang berjualan. Kawasan ini belum ramai seperti kawasan wisata lainnya. Tetapi bagi aku, sekali lagi, inilah refreshing yang sebenarnya.

Oleh : Dewi Iriani

Menengok Wisata Kulon Progo - 2

b. Pantai Trisik

Pantai ini berada di tenggara Kulonprogo yaitu di Banaran, Galur (30km dari Yogyakarta). Pantai Trisik ialah pantai yang tepat untuk menikmati keindahan cakrawala laut lepas, sunrise dan sunset. Pantai yang juga menjadi tempat bagi para nelayan untuk mendaratkan perahunya serta untuk jual beli ikan segar dari laut. Terdapat laguna-laguna yang dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk perikanan. Di sebelah timur kawasan Pantai Trisik yang merupakan muara sungai Progo sering dimanfaatkan sebagai tempat pengamatan burung selain itu juga sebagai lokasi penangkaran habitat penyu.

c. Pantai Congot

Pantai Congot membentang sepanjang 6,5 Km, terletak di Jangkaran, Temon di sebelah banal Pantai Galagah (15 Km dari Wates). Sungai Bogowonto yang membatasi Purworejo dan Kulon Progo bermuara di Pantai Congot menjadi tempat pendaratan perahu nelayan dan terdapat tempat penjualan ikan untuk jual beli ikan segar. Tidak jauh dari Pantai Congot terdapat tempat ritual Gunung Lanang yang dimana tiap malam 1 Suro diadakan upacara ruwatan dan dilanjutkan larung pada pagi harinya.

Wisata alam di Kulonprogo berikuntnya adalah Goa Kiskendo. Goa Kiskendo salah satu obyek wisata yang terletak di Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo di Pegunungan Menoreh, terletak 36km dari Yogyakarta dan 21km dari Wates. Goa ini sangat menarik karena kita akan menjumpai ornamen-ornamen goa berupa stalaktit dan stalaknit. Goa ini juga terkenal dengan kesakralannya dan terdapat relief cerita wayang (legenda pertempuran Mahesosuro-Lembusuro melawan Sugriwo-Subali)

Setelah anda menginjak lokasi wisata ini maka terhampar pertamanan yang akan menghubungkan dengan anak tangga menuju dalam goa. Kemudian anda diharuskan menuruni tangga bak ular yang berkelok ke arah mulut Goa Kiskendo. Jika masuk ke dalam goa, anda akan menemukan tempat-tempat sakral yang sering digunakan untuk ritual, antara lain Pertapaan Kusuma, Pertapaan Ledhek, dan Pertapaan Santri Tani.

Inilah beberapa foto dari Goa Kiskendo:



Berikutnya ada Puncak Suroloyo, Suroloyo adalah Puncak tertinggi di Pegunungan Manoreh tingginya 1071m dpl, dengan pemandangan indah di perbatasan Jogjakarta dan Jawa Tengah. Pengunjung bisa menikmati Candi Borobudur, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing di sisi utara dan Kota Yogyakarta serta Samudera Hindia di sisi selatan. Pengunjung juga dapat menikmati indahnya sunrise atau sunset.

Untuk menuju Suroloyo pengunjung harus melewati jalan berkelok tajam serta menakhlukkan tanjakan yang cukup curam, letaknya sendiri kira-kira 50km dari Yogyakarta, tepatnya di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamtan Samigaluh. Tidak hanya itu pengunjung masih harus menaiki anak tangga, untuk benar-benar sampai ke Puncak Suroloyo. Namun perjalanan panjang dan melelahkan itu tentu akan terbayarkan oleh keindahan pemandangan yang disajikan oleh Puncak Suroloyo. Selain sangat mengagumkan Suroloyo juga memiliki mitos, yaitu sebagai kiblat pancering bumi (pusat dari empat penjuru) di tanah Jawa. Masyarakat setempat percaya bahwa puncak ini adalah pertemuan dua garis yang ditarik dari utara ke selatan dan dari arah barat ke timur Pulau Jawa.

Dan seperti inilah pemandangan yang dapat kita lihat di Puncak Suroloyo:



Kulonprogo juga memiliki sebuah waduk yang juga merupakan satu-satunya waduk di DIY, yaitu Waduk Sermo. Letak waduk ini ada di Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap (5km dari wates dan 36km dari Yogyakarta), luasnya sekitar 157hektar. Selain kita dapat menikmati wisata berkeliling waduk dengan perahu kita juga dapat menikmati indahnya alam, karena Waduk Sermo berlatar belakang hutan dan juga Pegunungan Manoreh.

Wisata yang juga dapat kita kunjungi adalah Pemandian Clereng, pemandian ini terletak di Desa Sendangsari, Kecamatan Pengasih hanya sekitar 4km dari Wates. Clereng adalah tempat pemandian dengan kolam renang dari mata air alami clereng. Pemandian ini terletak di kawasan perbukitan yang di bawahnya mengalir mata air jernih yang juga di manfaatkan untuk air minum dan irigasi pertanian masyarakat setempat.



Oleh: Novita Prahastiwi
Referensi:
http://thearoengbinangproject.com/wisata/wisata-kulon-progo/
https://sites.google.com/site/wisataairterjun/daerah-istimewa-yogjakarta/grojogan-watu-jonggol---kulon-progo
http://kalibiru.blogspot.com/

Pulau Dewata Ikon Bisnis Travelling Indonesian - 1

Indonesia memiliki kekayaan dan keanekaragaman wisata yang indah nan elok bagai untaian zamrud khatulistiwa. Dari Sabang sampai Merauke menyajikan beribu-ribu pemandangan alam yang elok dan rupawan. Sejauh mata memandang kita akan dimanjakan oleh pemandangan yang indah. Bagaimana tidak, Indonesia yang terdiri atas berderetan pulau-pulau terkenal dengan objek-objek wisata yang unik dan khas sesuai daerah masing-masing yang layak dan patut untuk kita kunjungi. Bagi kita yang suka atau hobi travelling maka pilihan objek wisata di berbagai daerah dapat diakses dengan mudah.

Banyak pilihan objek wisata yang bisa dikunjungi salah satunya di provinsi Bali yang terkenal sebagai Pulau Dewata menyajikan berbagai objek yang menarik dan mempunyai ciri khas tersendiri. Objek wisata di Bali sebagai salah satu ikon wisata di Indonesia selalu ramai dikunjungi wisatawan domestik bahkan gaungnya hingga menembus wisatawan asing. Bagaimana tidak, Bali kaya akan objek wisata yang populer dan tidak asing di telinga kita seperti Tanah Lot, Pantai Sanur, Pantai Kuta dan sebagainya.

Wisata Tanah Lot menjadi salah satu tujuan wisata yang favorit bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Di sekitar Tanah Lot ini terdapat dua pura yang letaknya di atas sebuah batu besar yang menyerupai batu karang besar. Satu diantaranya berada di atas bongkahan batu, sedangkan satunya lagi terdapat di atas tebing. Tanah Lot ini dijadikan sebagai pura tempat peribadatan untuk memuja para dewa-dewa penjaga laut.


Gambar 1. Tanah Lot Bali

Adapun pantai Sanur merupakan salah satu tujuan pantai favorit yang sangat populer dan paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan. Pantai Sanur berjarak 6 km dari pusat kota Denpasar dan dapat dicapai dengan kendaraan pribadi. Pantai ini menjadi sederetan tempat wisata yang paling banyak diminati karena keelokan panorama terbitnya mentari pagi (sunrise). Keunikan yang lain adalah topografi yang melengkung dengan hamparan pasir putih yang membentang luas membentuk gugusan pantai yang elok nan rupawan.


Gambar 2. Pantai Sanur

Wisata pantai yang tak kalah menarik dari pantai Sanur dan menjadi salah satu ikon wisata Pulau Dewata adalah Pantai Kuta. Pantai Kuta ini terletak di Kabupaten Badung, tepatnya selatan Denpasar. Pantai ini sebagai objek wisata pantai yang wajib dikunjungi oleh para wisatawan dan menjadi pilihan favorit dan tujuan utama karena menyuguhkan pesona panorama khas dan tak terlupakan yang dijuluki “Pantai matahari terbenam (sunset) ” karena akan menyajikan pesona luar biasa ketika sore dan malam hari.


Gambar 3 Pantai Kuta

Di samping, wisata pantai yang sudah populer dan menjadi objek favorit. Ternyata, Pulau Dewata juga memiliki wisata pantai yang tersembunyi dan masih terasa asing bagi sebagian besar wisatawan. Meskipun demikian, wisata pantai tetap menawarkan dan menyuguhkan berbagai panorama alam yang tak kalah menarik, yakni pantai Bingin dan Pantai Teluk Jimbaran.

Bersambung ke Bagian 2.

Oleh : Wantie Espe