Tampilkan postingan dengan label dewi iriani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dewi iriani. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Februari 2014

Eksotika Alam Hutan Kina Bukit Unggul



Dulu, ada sebuah cerita di mana segerombolan orang terpaksa mengungsi ke hutan. Tetapi kehidupan di sana memang berat. Satu persatu mereka sakit dan meninggal dunia. Semua gejalanya sama. Badan terasa sakit, berkeringat disertai demam yang tinggi. Tetapi ada seorang yang mampu bertahan hidup. Dalam kesendirian dan rasa sakit, ia merayap mencari sumber air. Ketika sampai di kubangan, ia pun segera meminum air itu. Anehnya, semakin lama sakitnya malah semakin baik. Setelah diselidiki, ternyata ada khasiat obat di kubangan itu. Dan pohon tumbang yang terendam air itulah penyebabnya. Ternyata, itulah pohon kina yang sampai kini terkenal menjadi obat penyakit malaria.

Dan sensasi pohon kina itu bisa kita temukan pada sebuah agrowisata bernama Bukit Unggul. Ini merupakan kawasan hutan kina yang dikelola oleh PTPN VIII. Bahkan ada pabrik pengolahannya juga. Kawasan ini terletak di desa Cipanjalu kecamatan Cilengkrang kabupaten Bandung. Letaknya unik, karena ada di tengah, berbatasan dengan kabupaten Bandung Barat (kecamatan Lembang), kabupaten Subang, kabupaten Sumedang dan kota Bandung. Lokasinya sekitar 11 km dari arah alun-alun Ujungberung, Bandung. Tapi bisa juga dicapai dari arah Cibodas Lembang sejauh 17 km.

Jalan menuju arah sana memang tidak bagus. Apalagi sejak dari desa Ciporeat, keadaannya berlubang dan berbatu-batu. Tetapi apa yang akan didapatkan sungguh merupakan suatu kepuasan. Bagaimana bebauan pepohonan menusuk hidung. Angin hutan bertiup sepoi-sepoi menyegarkan badan. Suatu keadaan yang sangat kontras dengan kota yang penuh polusi dan kebisingan.

Sepanjang kanan kiri jalan diapit jurang dan bukit yang penuh pohon kina atau Eucalyptus. Bunga-bunga liar pun seolah tak mau kehilangan pesona, tumbuh dengan suburnya. Tak puas rasanya mata memandangi eksotika gunung dan bukit di sekitarnya. Bagi aku pribadi, inilah refreshing yang sebenarnya.

Jalanan memang cukup sepi. Tak banyak orang berlalu lalang. Juga tak banyak rumah di kiri kanan jalan. Tapi sering kita berpapasan dengan grup pecinta sepeda yang ingin menaklukkan medan yang cukup berat. Bagi mereka, wisata Bukit Unggul mempunyai tantangan tersendiri. Selain jalannya yang tidak bersahabat, arealnya menanjak terus. Pastinya dibutuhkan stamina yang prima untuk menggowes sepedanya.

Masuk kawasan hutan lebih dalam, jalannya juga cukup besar. Kami lalu berhenti di sebuah warung untuk minum dan beristirahat sejenak. Ada beberapa rumah penduduk sederhana. Sambil minum kami berbincang dengan seorang bapak yang sudah lama tinggal di sana. Ia menunjukkan bukit-bukit yang mengelilingi tempat kami berada. Jaraknya terlihat cukup dekat. Ada gunung Palasari, gunung Manglayang dan bukit Tunggul yang terlihat paling dekat.

Lalu dia menceritakan sesuatu yang unik. Katanya kalau pergi ke pasar, penduduk harus menempuh perjalanan sejauh 17 km ke Lembang. Dan bukan ke Ujungberung yang jaraknya lebih dekat. Hal itu dikarenakan akses ke Lembang lebih bagus dengan tersedianya sarana transportasi berupa ojek dan jalan yang lebih bagus.

Setelah istirahat sejenak, atas petunjuk bapak itu, kami melanjutkan perjalanan. Kawasan wisatalah tujuannya. Di sana kami disuguhi berbagai pemandangan yang lebih menakjubkan lagi. Selain penangkaran rusa, kami juga bisa melihat camping ground. Ada juga sebuah pemancingan yang dikelilingi taman dengan bunga-bunganya yang menawan. Airnya tercurah menjadi semacam air terjun buatan menuju sungai. Tempat itu dinamakan situ Sangkuriang.

Melewati sungai banyak batu-batu besar yang cocok untuk mereka yang suka bernarsis ria. Latar belakangnya benar-benar hutan alami yang gelap dan cukup menyeramkan. Ada alur sungai yang airnya jernih sekali. Tapi kita harus melewati jembatan dari kayu yang kalau diinjak akan sedikit bergoyang.

Oh ya, beberapa kali kami berpapasan dengan burung perkutut yang hinggap. Rasanya ingin sekali menangkapnya karena lucu. Tetapi , tentu saja tidak kami lakukan. Kami kan harus menjaga kelestarian alam. Semoga saja burung-burung itu tidak ada yang menangkap untuk dipelihara. Keberadaan mereka yang bebas biarlah tetap jadi penyeimbang alam.

Keluar dari kawasan itu, menuju arah lain kita bisa melihat pemandangan taman dengan air terjunnya yang eksotik. curug Batu Sangkur Dekat sana ada taman bertingkat yang dipenuhi bunga-bunga aneka rupa. Belum saung-saung yang disebarkan di beberapa lokasi memudahkan pengunjung untuk mengaso dan menikmati pemandangan dari atas.

Bagi mereka yang menyukai tantangan bisa mencoba flying fox. Wow, pasti tak akan terlupakan mencoba tantangan satu itu. Bayangkan saja, meluncur dari ketinggian dengan pemandangan warna-warni taman yang indah. Sayangnya, aku tidak punya keberanian melakukan itu.

Oh ya, kalau mau berekreasi ke Bukit Unggul, sebaiknya membawa persediaan makanan dan air dari rumah. Sebab, hanya ada sedikit warung yang berjualan. Kawasan ini belum ramai seperti kawasan wisata lainnya. Tetapi bagi aku, sekali lagi, inilah refreshing yang sebenarnya.

Oleh : Dewi Iriani

Serunya Arak-arakan 17 Agustusan di Cicalengka

Jam 6.30 waktu setempat. Jalan yang akan dijadikan tempat arak-arakan masih cukup lenggang. Tetapi sekitar 5 menit kemudian mulai ramai. Para sopir angkutan umum tidak mau melanjutkan perjalanan. Mereka menghentikan kendaraannya dan memaksa penumpang untuk turun. Untung tujuan kami sudah dekat. Kami pun berjalan menuju rumah saudara yang letaknya di pinggir jalan. Ya, kami sekarang ada di kota kecamatan bernama Cicalengka kabupaten Bandung, yang merupakan kota kecil kelahiranku.

Saat itu orang-orang sudah tumpah ruah ke jalanan. Ramai juga pedagang memenuhi pinggir jalan dengan aneka jajanan. Mulai dari es lilin, makanan ringan, balon dan lain sebagainya. Nenek, kakek, bapak, ibu, remaja, anak-anak bahkan bayi pun seolah tak mau kehilangan momen itu. Ya, hiburan gratis yang sangat mengesankan bagi kami sebagai warga desa. Selain itu juga arak-arakan ini jarang terjadi. Biasanya diadakan setahun sekali, tapi sudah beberapa tahun terlewati begitu saja dengan berbagai alasannya.



Tak berapa lama aku segera berdesak-desakan. Melihat satu per satu iring-iringan. Suara petasan dari lodong terdengar memekakkan telinga. Orang-orang di pinggir jalan ikut berteriak, tapi mereka hanya mundur sedikit ke belakang. Kemudian maju lagi untuk melihat tampilan berikutnya.

Yang khas dari arak-arakan ini adalah badawang. Itu lho orang-orangan dalam bentuk besar yang mirip ondel-ondel di Jakarta. Selain itu juga ada yang disebut peot jabrig. Itu berupa topeng monster yang diberi pakaian karung goni. Isinya sih manusia yang biasanya bertugas untuk menakut-nakuti. Walau kita tahu isinya manusia, sering kita merasa kaget dan takut saat didekatinya. Apalagi jika mulutnya terbuka seolah mau memakan kita. Hii…



Yang menarik perhatian adalah pria yang mengenakan pakaian wanita. Mereka kelihatan sangat cantik. Ada yang berperan sebagai orang hamil, sebagai wanita genit, pengantin perempuan dan banyak lagi.

Oh ya, kita itu punya sebuah desa penghasil sayur-sayuran. Namanya desa Dampit. Desa ini langganan juara arak-arakan tujuh belas agustusan. Kreativitasnya luar biasa dalam mengemas jampana (rumah-rumahan kecil yang digotong empat orang) dengan berbagai sayur-sayuran. Ada yang dihiasi kacang merah, bawang daun, tomat dan lainnya. Ternyata ada juga sejenis kerupuk yang menghiasi bagian atapnya. Bahkan beberapa ekor kambing muda diletakkan di atasnya.



Tak lupa seorang anak baru gede mengenakan pakaian nyentrik dengan selendang bertuliskan miss Dampit. Gadis kecil yang lincah itu tak keberatan para penonton mengabadikan penampilannya. Ia langsung bergaya saat orang-orang berniat memotretnya. Setiap desa kadang per Rw-nya menampilkan pawai beraneka rupa. Benar-benar puas mata memandangnya. Bangga rasanya menyaksikan atraksi pencak silat yang kompak, pasukan drum band, sebuah desa yang menunjukkan geliat ekonominya. Ya, Cicalengka memang cukup terkenal sebagai sentra penghasil kerudung di Jawa Barat ini.

7 jam kemudian, pawai ini usai sudah. Sampah masih terlihat berserakan. Kendaraan pun mulai leluasa bergerak di jalan. Kutinggalkan desaku dan kenangan tentang arak-arakan dengan gembira. Dalam hati berharap semoga bisa melihat hal ini lagi di tahun berikutnya. Hiburan rakyat gratis, dari rakyat dan untuk rakyat yang menggambarkan kegembiraan hari kemerdekaan Indonesia.

Mungkin satu yang tidak boleh terlupa, esensi kemerdekaan itu sendiri. Kita tidak hanya gembira karena merdeka dari penjajahan bangsa lain, tapi kita juga harus merasa merdeka dari korupsi dan tindakan anarkis yang semakin menjadi-jadi di negara tercinta ini.

Oleh : Dewi Iriani