Tampilkan postingan dengan label hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hiburan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Februari 2014

Kebudayaan Tayub Yang Terkikis Zaman

Kata Tayuban menurut kroto boso berasal dari kata tayub yang merupakan ringkasan dari, “Ditoto guyub”. Atau bisa juga diterjemahkan sebagai bentuk tarian yang dilakukan oleh para penari secara bersama-sama atau serempak dengan iringan gending para penabuh yang juga melibatkan penonton di dalamnya. Sehingga kebersamaan tersebut tidak hanya terjalin dalam lingkup penari, sinden, dan pengiring saja, tetapi juga melibatkan penonton agar kebersamaan tersebut melahirkan keselarasan. Hal ini juga bermakna filosofi, yakni menjunjung tinggi adanya kepentingan bersama (baca: guyub) dalam masyarakat. Sehingga sifat-sifat individualisme bisa dikesampingkan dengan kepentingan yang lebih luas agar keakraban dan rasa persaudaraan semakin erat.

Tari tayub ini berasal dari Blora, Jawa Tengah. Pada mulanya tarian ini dimaksudkan untuk menyambut kedatangan tamu penting atau pemimpin yang dihormati oleh masyarakat setempat. Hal ini dilakukan dengan cara mengiringi para penari dengan lagu, lalu penari tersebut berjoget seraya menyerahkan sebuah sampur atau selendang di leher tamu tersebut. Sedangkan tamu yang mendapatkan kehormatan dengan sampur pemberian penari diistilahkan “ketiban sampur”. Dan bersamaan dengan diterimanya sampur itu, maka tamu wajib untuk ikut serta berjoget bersama penari. Hal ini dimaksudkan untuk mengakrabkan tamu dan tuan rumah sehingga tidak ada kekakuan atau kasta antara yang dihormati dan yang menghormati. Hal itu dilakukan agar kedua belah pihak bisa saling hormat menghormati dan rasa persaudaraan bisa terjalin dengan baik.

Tari tradisional ini barangkali sudah mulai jarang ditampilkan, sekalipun dalam acara resmi pemerintahan kabupaten Blora. Misalnya hari jadi kota Blora dan momentum lainnya. Pasalnya tari-tarian ini kemudian bergeser fungsinya sebagai pertunjukan hiburan bagi masyarakat pedesaan. Misalnya dalam acara sedekah desa, sedekah bumi, atau upacara adat lainnya. bahkan tayuban lebih sering dipertontonkan untuk hiburan dalam acara haul dalam pesta pernikahan, khitanan, memenuhi nadhar, dan sebagainya. Sehingga tidak lagi dikenal oleh masyarakat setempat sebagai seni tari yang difungsikan untuk menyambut tamu atau pembuka sebuah acara resmi kedaerahan.

Pada mulanya, tari tayub ini memang sangat digandrungi oleh masyarakat. Namun bersamaan dengan perkembangan teknologi dan informasi, masyarakat di Blora mulai menganggap bahwa tayub tidak lagi menjadi sebuah kesenian yang memiliki daya pikat bagi masyarakat. Sehingga lambat laun tari tayub mulai ditinggalkan dan masyarakat kemudian beralih pada seni pertunjukan yang lebih modern. Seperti musik dangdut dan musik pop. Tak ayal event-event di desa maupun di kota kini dibanjiri oleh kebudayaan baru tersebut.

Tentu saja hal itu menimbulkan rasa keprihatinan yang dalam. Terlebih seni tradisional seharusnya mendapatkan perhatian dengan porsi yang lebih besar karena merupakan khasanah budaya bangsa Indonesia yang harus dilestarikan agar tidak ditinggalkan oleh masyarakatnya. Karena yang menjadikan kita sebagai bangsa yang berbudaya bukan lantaran tradisi kita yang mengikuti kebudayaan asing, melainkan cara kita untuk melestarikan kebudayaan daerah dengan semakin menumbuhkan perasaan cinta yang besar dalam diri masyarakatnya. Dengan demikian, generasi penerus bangsa tidak perlu merasa khawatir dengan terkikisnya kebudayaan daerah yang mulai terkikis oleh laju perubahan zaman.

Oleh : Mayshiza Widya

Serunya Arak-arakan 17 Agustusan di Cicalengka

Jam 6.30 waktu setempat. Jalan yang akan dijadikan tempat arak-arakan masih cukup lenggang. Tetapi sekitar 5 menit kemudian mulai ramai. Para sopir angkutan umum tidak mau melanjutkan perjalanan. Mereka menghentikan kendaraannya dan memaksa penumpang untuk turun. Untung tujuan kami sudah dekat. Kami pun berjalan menuju rumah saudara yang letaknya di pinggir jalan. Ya, kami sekarang ada di kota kecamatan bernama Cicalengka kabupaten Bandung, yang merupakan kota kecil kelahiranku.

Saat itu orang-orang sudah tumpah ruah ke jalanan. Ramai juga pedagang memenuhi pinggir jalan dengan aneka jajanan. Mulai dari es lilin, makanan ringan, balon dan lain sebagainya. Nenek, kakek, bapak, ibu, remaja, anak-anak bahkan bayi pun seolah tak mau kehilangan momen itu. Ya, hiburan gratis yang sangat mengesankan bagi kami sebagai warga desa. Selain itu juga arak-arakan ini jarang terjadi. Biasanya diadakan setahun sekali, tapi sudah beberapa tahun terlewati begitu saja dengan berbagai alasannya.



Tak berapa lama aku segera berdesak-desakan. Melihat satu per satu iring-iringan. Suara petasan dari lodong terdengar memekakkan telinga. Orang-orang di pinggir jalan ikut berteriak, tapi mereka hanya mundur sedikit ke belakang. Kemudian maju lagi untuk melihat tampilan berikutnya.

Yang khas dari arak-arakan ini adalah badawang. Itu lho orang-orangan dalam bentuk besar yang mirip ondel-ondel di Jakarta. Selain itu juga ada yang disebut peot jabrig. Itu berupa topeng monster yang diberi pakaian karung goni. Isinya sih manusia yang biasanya bertugas untuk menakut-nakuti. Walau kita tahu isinya manusia, sering kita merasa kaget dan takut saat didekatinya. Apalagi jika mulutnya terbuka seolah mau memakan kita. Hii…



Yang menarik perhatian adalah pria yang mengenakan pakaian wanita. Mereka kelihatan sangat cantik. Ada yang berperan sebagai orang hamil, sebagai wanita genit, pengantin perempuan dan banyak lagi.

Oh ya, kita itu punya sebuah desa penghasil sayur-sayuran. Namanya desa Dampit. Desa ini langganan juara arak-arakan tujuh belas agustusan. Kreativitasnya luar biasa dalam mengemas jampana (rumah-rumahan kecil yang digotong empat orang) dengan berbagai sayur-sayuran. Ada yang dihiasi kacang merah, bawang daun, tomat dan lainnya. Ternyata ada juga sejenis kerupuk yang menghiasi bagian atapnya. Bahkan beberapa ekor kambing muda diletakkan di atasnya.



Tak lupa seorang anak baru gede mengenakan pakaian nyentrik dengan selendang bertuliskan miss Dampit. Gadis kecil yang lincah itu tak keberatan para penonton mengabadikan penampilannya. Ia langsung bergaya saat orang-orang berniat memotretnya. Setiap desa kadang per Rw-nya menampilkan pawai beraneka rupa. Benar-benar puas mata memandangnya. Bangga rasanya menyaksikan atraksi pencak silat yang kompak, pasukan drum band, sebuah desa yang menunjukkan geliat ekonominya. Ya, Cicalengka memang cukup terkenal sebagai sentra penghasil kerudung di Jawa Barat ini.

7 jam kemudian, pawai ini usai sudah. Sampah masih terlihat berserakan. Kendaraan pun mulai leluasa bergerak di jalan. Kutinggalkan desaku dan kenangan tentang arak-arakan dengan gembira. Dalam hati berharap semoga bisa melihat hal ini lagi di tahun berikutnya. Hiburan rakyat gratis, dari rakyat dan untuk rakyat yang menggambarkan kegembiraan hari kemerdekaan Indonesia.

Mungkin satu yang tidak boleh terlupa, esensi kemerdekaan itu sendiri. Kita tidak hanya gembira karena merdeka dari penjajahan bangsa lain, tapi kita juga harus merasa merdeka dari korupsi dan tindakan anarkis yang semakin menjadi-jadi di negara tercinta ini.

Oleh : Dewi Iriani