Tampilkan postingan dengan label masyarakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masyarakat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Juni 2014

Sehari Menjelajah Keunikan Pecinan Glodok - 1

Pecinan. Apa yang terlintas dalam benak Anda saat mendengar istilah tersebut? Sebuah wilayah kota yang mayoritas penghuninya adalah warga negara Indonesia keturunan Tionghoa? Sepenggal saksi sejarah keberagaman yang masih tersisa? Atau sederetan gang-gang kecil yang dipenuhi penjaja kuliner dengan kenikmatan yang khas?

Ketiganya tidak salah. Kawasan Pecinan memang dikenal sebagai satu “kampung” kecil, yang menyimpan segudang sejarah keunikan masyarakat Tionghoa yang bermukim di daerah tertentu. Hampir seluruh kota besar di Indonesia memiliki “pecinan”nya masing-masing, hanya saja dengan sebutan yang berbeda-beda. Sebagai salah satu kota besar yang multikultur, Jakarta ternyata juga memiliki kawasan pecinannya sendiri, yang dipusatkan di Glodok, Jakarta Barat.

Berbicara mengenai Pecinan, salah satunya berbicara mengenai identitas sejarah yang dewasa ini semakin terkikis oleh pengaruh modernisasi dan kapitalisme. Miris rasanya, saat mendapati fakta nasionalisme karbitan, yang seketika menyeruak tepat pada saat masyarakat menyadari bahwa mereka telah kehilangan apa yang selama ini “lupa” mereka jaga. Pecinan merupakan salah satu simbol sejarah yang masih tersisa. Keberadaan mereka menunjukkan, betapa Indonesia sejatinya sangat kaya akan kultur, yang tentunya menarik untuk dijelajahi secara lebih mendalam.

Tertarik untuk menjadi salah satu saksi pesona arsitektur dan kuliner khas Tionghoa yang masih tersisa, pada hari itu saya memutuskan untuk melakukan eksplorasi sederhana di kawasan Pecinan Glodok. Berbekal kaki yang siap melangkah, dan semangat untuk menikmati ragam suguhan wisata khas kota lama, saya berhasil menemukan tiga tempat unik yang patut Anda jelajahi di kala senggang.

Kawasan Petak Sembilan

Pedagang kaki lima yang ramai menjajakan dagangannya, lalu lintas yang padat, serta toko-toko elektronik yang berjajar di sepanjang jalan, meyakinkan saya bahwa saya telah sampai di tempat tujuan. Kawasan Petak Sembilan, begitu masyarakat sekitar biasa menyebut salah satu pasar tradisional di daerah Glodok, Jakarta Barat ini. Berbeda dengan pasar tradisional lainnya, kawasan ini lebih tampak seperti sebuah gang panjang yang menawarkan ragam eksotisme khas Tionghoa, baik dari segi arsitektur bangunan, maupun kulinernya. Sepanjang perjalanan, tidak jarang saya berpapasan dengan beberapa turis asing yang berkeliling, sambil sesekali menikmati kuliner unik yang dijual di tempat ini. Melangkahkan kaki menyusuri Petak Sembilan, sama artinya dengan harus siap menahan berbagai godaan. Sambil menyusuri gang-gang kecil, beragam camilan seolah berebut memanggil-manggil. Hidung tidak akan berhenti terpuaskan, apalagi ketika dihadapkan dengan harum aroma cempedak goreng dan kuo tie. Selain itu, Rujak Shanghai serta es selendang mayang yang sudah sangat jarang ada di Jakarta pun, tampak masih dijual di sepanjang kawasan ini.

Nuansa oriental khas Petak Sembilan, sebenarnya akan lebih terasa jika saya bertandang tepat di kala Imlek. Pada masa ini, biasanya lampion merah sebagai salah satu ornamen khas Imlek, akan digantungkan di sepanjang jalan. Warga keturunan Tionghoa pun akan ramai berdatangan dari seluruh penjuru Jakarta, sekedar untuk membeli perlengkapan khas (termasuk makanan), untuk menyambut datangnya Tahun Baru Cina tersebut.

Tidak jauh dari kawasan tersebut, saya menemukan trotoar panjang yang dipenuhi pelukis jalanan, dengan hasil lukisan yang tampak sangat hidup. Mayoritas karya dibuat berdasarkan foto asli seseorang, atau tokoh masyarakat yang saat ini sedang ramai diperbincangkan. Terlihat pula unsur humor, yang seringkali diselipkan di dalamnya. Saya cukup terkesan dengan seniman jalanan di tempat ini. Tangan mereka tidak pernah berhenti bergerak, bahkan ketika sedang sepi pelanggan sekalipun. Sambil sesekali bertanya kepada masyarakat sekitar yang mayoritas merupakan warga negara keturunan Tionghoa, saya berjalan menuju tujuan saya selanjutnya, Vihara Dharma Bhakti.

Bersambung Bagian 2

Oleh : Maria Miracellia Bo

Rabu, 26 Februari 2014

Kebudayaan Tayub Yang Terkikis Zaman

Kata Tayuban menurut kroto boso berasal dari kata tayub yang merupakan ringkasan dari, “Ditoto guyub”. Atau bisa juga diterjemahkan sebagai bentuk tarian yang dilakukan oleh para penari secara bersama-sama atau serempak dengan iringan gending para penabuh yang juga melibatkan penonton di dalamnya. Sehingga kebersamaan tersebut tidak hanya terjalin dalam lingkup penari, sinden, dan pengiring saja, tetapi juga melibatkan penonton agar kebersamaan tersebut melahirkan keselarasan. Hal ini juga bermakna filosofi, yakni menjunjung tinggi adanya kepentingan bersama (baca: guyub) dalam masyarakat. Sehingga sifat-sifat individualisme bisa dikesampingkan dengan kepentingan yang lebih luas agar keakraban dan rasa persaudaraan semakin erat.

Tari tayub ini berasal dari Blora, Jawa Tengah. Pada mulanya tarian ini dimaksudkan untuk menyambut kedatangan tamu penting atau pemimpin yang dihormati oleh masyarakat setempat. Hal ini dilakukan dengan cara mengiringi para penari dengan lagu, lalu penari tersebut berjoget seraya menyerahkan sebuah sampur atau selendang di leher tamu tersebut. Sedangkan tamu yang mendapatkan kehormatan dengan sampur pemberian penari diistilahkan “ketiban sampur”. Dan bersamaan dengan diterimanya sampur itu, maka tamu wajib untuk ikut serta berjoget bersama penari. Hal ini dimaksudkan untuk mengakrabkan tamu dan tuan rumah sehingga tidak ada kekakuan atau kasta antara yang dihormati dan yang menghormati. Hal itu dilakukan agar kedua belah pihak bisa saling hormat menghormati dan rasa persaudaraan bisa terjalin dengan baik.

Tari tradisional ini barangkali sudah mulai jarang ditampilkan, sekalipun dalam acara resmi pemerintahan kabupaten Blora. Misalnya hari jadi kota Blora dan momentum lainnya. Pasalnya tari-tarian ini kemudian bergeser fungsinya sebagai pertunjukan hiburan bagi masyarakat pedesaan. Misalnya dalam acara sedekah desa, sedekah bumi, atau upacara adat lainnya. bahkan tayuban lebih sering dipertontonkan untuk hiburan dalam acara haul dalam pesta pernikahan, khitanan, memenuhi nadhar, dan sebagainya. Sehingga tidak lagi dikenal oleh masyarakat setempat sebagai seni tari yang difungsikan untuk menyambut tamu atau pembuka sebuah acara resmi kedaerahan.

Pada mulanya, tari tayub ini memang sangat digandrungi oleh masyarakat. Namun bersamaan dengan perkembangan teknologi dan informasi, masyarakat di Blora mulai menganggap bahwa tayub tidak lagi menjadi sebuah kesenian yang memiliki daya pikat bagi masyarakat. Sehingga lambat laun tari tayub mulai ditinggalkan dan masyarakat kemudian beralih pada seni pertunjukan yang lebih modern. Seperti musik dangdut dan musik pop. Tak ayal event-event di desa maupun di kota kini dibanjiri oleh kebudayaan baru tersebut.

Tentu saja hal itu menimbulkan rasa keprihatinan yang dalam. Terlebih seni tradisional seharusnya mendapatkan perhatian dengan porsi yang lebih besar karena merupakan khasanah budaya bangsa Indonesia yang harus dilestarikan agar tidak ditinggalkan oleh masyarakatnya. Karena yang menjadikan kita sebagai bangsa yang berbudaya bukan lantaran tradisi kita yang mengikuti kebudayaan asing, melainkan cara kita untuk melestarikan kebudayaan daerah dengan semakin menumbuhkan perasaan cinta yang besar dalam diri masyarakatnya. Dengan demikian, generasi penerus bangsa tidak perlu merasa khawatir dengan terkikisnya kebudayaan daerah yang mulai terkikis oleh laju perubahan zaman.

Oleh : Mayshiza Widya

Pulau Komodo: Pulau Keajaiban Dunia Milik Indonesia

Untuk saat ini, tak ada seorang pun yang tak pernah mendengar nama Pulau Komodo. Pulau ini pada tahun 2011 yang lalu ditetapkan sebagai salah keajaiban Alam Dunia. Tak tanggung-tanggung, Yusuf Kalla mengajak masyarakat Indonesia untuk menjaga dan memelihara Pulau Komodo yang telah mengharumkan nama Indonesia.

Kini, Pulau Komodo menjadi tempat kunjungan wisatawan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Nah, Ingin tahukah Anda sejarah awal Pulau Komodo dan bagaimana cara untuk bisa sampai ke Pulau Komodo dengan biaya murah dan wajar. Bacalah artikel ini hingga tuntas.

Profil Singkat Pulau Komodo

Secara geografis, Pulau Komodo terdapat di Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Namun sejatinya, Pulau Komodo berada di perbatasan langsung dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Yang paling populer, Pulau Komodo terdapat di Pulau Flores.

Secara administratif tercatat bahwa luas wilayah permukaan Pulau Komodo adalah 390 Km². Jumlah penduduknya saat ini lebih dari 2000 jiwa. Pulau Komodo pada dasarnya bukanlah tempat wisata. Awalnya, ia dijadikan lokasi pengasingan para narapidana. Sehingga, tak mengherankan bila penduduk asli Pulau Komodo adalah campuran antara suku bugis dengan narapidana yang diasingkan tersebut. Agama mayoritas yang dianut masyarakat Pulau Komodo adalah Islam. Sedangkan agama lain yang terdapat di pulau tersebut adalah Kristen dan Hindu.

Pada tahun 1980 barulah didirikan di Pulau Komodo ini Taman Nasional Komodo. Ide pendiriannya adalah untuk menjaga dan melindungi komodo-komodo yang ada beserta habitatnya. Memang, di Pulau Komodo inilah aslinya habitat Komodo di Indonesia. Bahkan tercatat ada 277 spesies komodo yang terdapat di Taman Nasional tersebut. Komodo-komodo tersebut adalah percampuran antara komodo Asia dengan komodo Australia.

Penting jadi pengetahuan, bahwa di dalam Taman Nasional Komodo tidak hanya dipenuhi oleh spesies komodo saja. Ada sekitar 25 hewan lainnya terdapat di dalam Taman Nasional tersebut, baik hewan darat maupun jenis-jenis unggas. Semuanya dimasukkan di dalam Taman Nasional lantaran populasi hewan-hewan selain komodo tersebut selalu terancam dengan perburuan secara liar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Ketika Terpilih Sebagai Keajaiban Alam Dunia

Bernard Weber, Pendiri New 7 Wonders Foundation saat melakukan pemilihan 7 keajaiban dunia menggunakan sistem global dengan mengikutsertakan masyarakat sebagai pemilih. Proses pengikutsertaan masyarakat tampak jelas dari adanya kampanye, lalu dilakukanlah sistem penyaringan ketat. Dari penyaringan tersebut terdapat 440 lokasi dari 220 negara yang diikutsertakan sebagai 7 keajaiban dunia.

Setelah itu, dilakukanlah penjaringan dan kemudian terpilih 77 lokasi yang memenuhi kriteria. Lalu dilakukan kembali penjaringan, hingga akhirnya terpilihlah 28 finalis keajaiban dunia. Salah satunya adalah Pulau Komodo. Di sinilah baru masyarakat dilibatkan untuk ikut serta memilih 7 keajaiban dunia yang memang benar-benar memiliki keistimewaan.

Setelah dilakukan poling dari hasil pilihan masyarakat, maka terpilihlah 7 keajaiban dunia.Yaitu, pulau komodo yang ada di Indonesia, Halon Bay yang terdapat di Vietnam, Amazon yang terdapat di Amerika Latin, Pulau Jeju yang terdapat di Korea Selatan, Air Terjun Iguazu yang terdapat di Amerika Latin dan Puerto Princiea Underground River yang terdapat di Filipina.

Tiga Cara ke Pulau Komodo

Nah, jika Anda ingin berkunjung ke Pulau Komodo dengan murah, maka lakukanlah hal ini.

  1. Ikut Kuis Wisata Ke Pulau Komodo
    Biasanya, menjelang liburan atau akhir tahun, selalu ada event lomba atau kuis yang hadiahnya wisata. Salah satunya adalah wisata ke pulau komodo. Untuk mencari event seperti ini, Anda bisa mencarinya melalui internet atau media massa. Memang, tidak ada jaminan bahwa setiap akhir tahun atau menjelang liburan ada. Namun, tak ada salahnya mencari tahu melalui internet, barangkali ada kuis wisata ke Pulau Komodo.
  2. Melalui Travel Wisata
    Bagi Anda yang memang menginginkan wisata ke Pulau Komodo, maka bisa memanfaatkan jasa travel wisata. Cukup banyak travel yang menawarkan perjalanan ke Pulau Komodo. Anda bisa mensearchingnya di Google. Anda tinggal memilih paket-paket yang ditawarkan.
  3. Tiket Promo Penerbangan Ada juga maskapai penerbangan yang memberikan tiket promo untuk wisata ke Pulau Komodo. Biasanya tiket ini adanya di saat liburan atau akhir tahun. Namun pemesanan tiket tidak bisa dilakukan saat Anda ingin liburan. Biasanya, pemesanan tiket murah alias promo tersebut dilakukan minimal 4 atau 3 bulan sebelum keberangkatan.

Yang paling penting, Anda mencatat tangggal keberangkatan yang sudah ditetapkan oleh maskapai penerbangan. Pasalnya, Anda tidak dapat membatalkan tiketnya atau menunda keberangkatannya. Karena itu, catat tanggal keberangkatannya.

Inilah artikel singkat tentang Pulau Komodo sebagai pulau keajaiban dunia milik Indonesia. Semoga bermanfaat.

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution