Tampilkan postingan dengan label patenggang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label patenggang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Juli 2014

Menikmati Hijau dan Sejuknya Situ Patenggang, Jawa Barat

Ciwidey memang memiliki nuansa alam yang elok. Selain Kawah Putih, masih ada Situ Patenggang yang tidak kalah cantik. Letaknya juga tidak jauh dari Kawah Putih. Situ Patenggang sendiri berasal dari bahasa Sunda, di mana Situ berarti danau sedangkan Patenggang berarti saling mencari. Konon katanya, asal muasal terciptanya Situ Patenggang erat kaitannya dengan kisah percintaan antara Ki Santang, seorang Putra Prabu dan Dewi Rengganis, Putri Titisan Dewi. Sekian lama mereka harus berpisah, namun karena besarnya cinta di antara keduanya, mereka pun berusaha saling mencari, hingga akhirnya kembali bertemu di tempat, yang saat ini disebut “Batu Cinta”. Setelah bertemu, Dewi Rengganis pun meminta Ki Santang untuk membuatkan danau berikut perahu yang akan digunakan untuk berlayar. Konon, perahu yang dibuat oleh Ki Santang kini telah menjadi pulau yang berbentuk hati, yang dinamakan Pulau Asmara. Masih menurut cerita, pasangan mana pun yang mengelilingi Pulau Asmara kelak kisah cintanya akan abadi seperti kisah cinta Ki Santang dan Dewi Rengganis.


(Sumber: http://promobdg.com/isi/uploads/2013/02/cerita-batu-cinta.jpg)

Letak Situ Patenggang yang tidak jauh dari Kawah Putih membuat kebanyakan wisatawan yang menggunakan jasa angkutan umum, mengambil double trip, yaitu Kawah Putih dan Situ Patenggang. Bagi anda yang menggunakan angkutan umum, anda bisa melakukannya dengan mengikuti rute Terminal Leuwi Panjang-Terminal Ciwidey-Kawah Putih-Situ Patenggang, dengan mengeluarkan kocek Rp 70.000 (sudah termasuk tiket Kawah Putih-Situ Patenggang). Jika anda tidak mengambil double trip, dari Kawah Putih, anda bisa menggunakan jasa ojek menuju Situ Patenggang. Untuk masuk ke dalam lokasi, setiap pengunjung dikenakan tarif sebesar Rp 15.000,-, tarif minibus Rp 11.000,-, dan tarif bus Rp 22.000,-.

Wisata alam Situ Patenggang memang nyaman sekali. Sejuknya udara bahkan di siang hari sekalipun membuat kita merasa damai. Sepanjang perjalanan, kita bisa melihat hamparan hijau perkebunan teh dan danau alam yang benar-benar indah. Suasana alami yang disuguhkan Situ Patenggang sungguh menyejukkan. Untuk menyusuri danau, anda bisa menggunakan jasa sewa perahu dengan kisaran harga Rp 150.000-Rp 250.000 per perahu atau bisa juga dengan menggunakan Angsa-Angsa yang berkisar Rp 25.000-Rp 50.000.


(Sumber: http://media.viva.co.id/thumbs2/2012/08/10/167144_situ-patengan_663_382.jpg)

Setelah puas berjalan-jalan di sekitaran danau, sempatkan diri anda untuk berwisata belanja ataupun kuliner. Ada banyak penjual makanan dan oleh-oleh. Sore itu, kami pun menyempatkan diri untuk melihat oleh-oleh yang kebanyakan dodol dan strawberry. Jangan kaget bila saat sore harga jual oleh-oleh yang dijajakan dengan berjalan bisa turun drastis dibanding pagi dan siang hari. Itu semua dilakukan agar dagangan mereka habis terjual. Selain makanan, ada banyak penjual T-shirt yang menyediakan aneka T-shirt dengan gambar yang menarik tentang Jawa Barat dengan kisaran harga Rp 15.000-Rp 50.000, tergantung dari kualitas dan ukuran T-shirt.

Bagi wisatawan yang lebih suka wisata murah, mungkin wisata Situ Patenggang terkesan mahal dengan tiket masuknya, namun bila dilihat kembali pemandangan indah dan kesejukan yang bisa didapatkan, tentunya anda akan berpikir ulang untuk mengurungkan niat mengunjungi Situ Patenggang. Terlepas dari benar atau tidaknya mitos cinta Situ Patenggang, objek wisata alam satu ini selalu ramai dikunjungi wisatawan.

Oleh : Rahel Simbolon

Senin, 16 Juni 2014

Yuk Berwisata ke Kawah Putih

Wisata alam Bandung memang tidak ada matinya. Setelah Tangkuban Perahu, masyarakat tengah gencarnya menjelajahi Kawah Putih, salah satu kawasan wisata alam yang berada di Ciwidey, Bandung Selatan. Panorama cantik yang ditampilkan Kawah Putih memang sungguh memikat. Beberapa film Indonesia juga pernah menampilkan objek wisata ini sebagai settingnya, seperti film Heart (Acha Septriasa - Irwansyah) dan Falling in Love (Mikha Tambayong - Boy William). Ciwidey memang tidak bisa terlepas dari Kawah Putih, bahkan sebagian besar orang mengidentikkan Ciwidey dengan Kawah Putih, padahal masih ada objek wisata alam lainnya yang berada di areal ini. Situ Patenggang, Rancaupas, dan Rancabali adalah contoh lain wisata alam yang terletak di Ciwidey. Namun dibanding ketiga ini, Kawah Putih memang paling memikat.


(Sumber: https://i1.ytimg.com)

Menurut sejarah, di abad X dan XII terjadi letusan Gunung Patuha yang menyebabkan terbentuknya kawah besar nan indah, namun karena penduduk setempat menganggap areal kawah sangat angker, tak ada satu pun penduduk yang berani memasuki kawasan kawah tersebut. Pada tahun 1837, Dr. Franz Wilhelm, seorang Belanda merasa penasaran dengan areal kawah yang sepi dan kosong. Ia pun bertanya pada penduduk setempat dan mendapatkan informasi bahwa lokasi tersebut merupakan pusat kerajaan makhluk halus dan sangat angker. Dengan logikanya, Dr. Franz tidak mempercayai hal tersebut dan malah menelusuri hutan yang mengelilingi areal tersebut. Sesampainya di puncak gunung, Dr. Franz kaget sekaligus takjub melihat danau berair hijau dengan semburan larva yang menurutnya sangat indah. Sejak saat itu, pemerintah Belanda mendirikan pabrik belerang di Kawah Putih dan sejak 1991 hingga sekarang Perum Perhutani mengelola objek wisata Kawah Putih.

Seiring dengan perjalanan waktu, mitos keangkeran terus berkembang. Bahkan masyarakat setempat masih percaya bahwa Kawah Putih adalah pusat berkumpulnya roh para leluhur. Namun mitos tersebut tidak membuat para pengunjung menjadi takut , terbukti kian hari pengunjung Kawah Putih semakin banyak, terutama di hari libur. Sebagian besar masyarakat lebih berpikir positif dengan melihat Kawah Putih dari segi keindahannya. “What a beautiful Kawah Putih. What an awesome You, God”. Sama seperti objek wisata alam lainnya, keindahan Kawah Putih juga merupakan salah satu bukti kehebatan Sang Pencipta.

Aksesibilitas

Perjalanan yang harus ditempuh untuk mencapai Kawah Putih memerlukan waktu dua jam dari Bandung. Jika anda menggunakan jasa transportasi darat, mulailah perjalanan dari Teminal Leuwi Panjang dengan menaiki mobil elf L300 Bandung-Ciwidey. Sesampainya di Terminal Ciwidey, anda harus menaiki angkot berwarna kuning jurusan Ciwidey-Situ Patenggang dan mintalah turun di pintu Gerbang Kawah Putih. Biasanya supir angkot menawarkan jasa charter, yaitu mengantarkan hingga Kawah Putih, menunggu, dan membawa anda kembali ke Terminal Ciwidey. Umumnya harga yang ditawarkan berkisar dari 60.000-80.000 (sudah termasuk tiket masuk Kawah Putih), tergantung dari kesepakatan rute yang ingin ditempuh, apakah hanya ke Kawah Putih saja atau mengunjungi Situ Patenggang juga, mengingat lokasi Kawah Putih dan Situ Patenggang yang tidak terlalu berjauhan. Tetapi jika anda ingin naik ke atas sendiri, anda bisa turun di Gerbang Kawah Putih lalu membeli tiket masuk dan tiket ontang-anting (jasa kendaraan yang disediakan pengelola Kawah Putih).


(Dokumentasi Pribadi)

Keindahan Kawah Putih memang tidak dapat dipungkiri. Pasir putih, air danau yang berwarna biru kehijauan ditambah warna langit yang biru bersih menghiasi atap kawah membuat para pengunjung seketika takjub. Tidak salah jika Ciwidey sangat diidentikkan dengan Kawah Putih, karena memang sebagian besar pengunjung beranggapan bahwa Kawah Putih yang terbagus. Tapi sebaiknya jangan terlalu lama berada di dekat kawah, karena bau belerang yang terhirup akan mengganggu pernapasan.


(Dokumentasi Pribadi)

Oleh: Rahel Simbolon