Tampilkan postingan dengan label cina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cina. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Agustus 2014

Merasakan Eksistensi Muslim Tionghoa Lewat Masjid Cheng Hoo Palembang


1. Masjid Cheng Hoo Tampak Depan

Palembang adalah salah satu kota di Indonesia yang sangat sarat dengan budaya Tionghoa. Keberadaan Kerajaan Buddha Sriwijaya di masa dulu membuat sisa-sisa Tionghoa masih ada sampai sekarang ini, bahkan berkembang pesat. Selain Kampung Kapitan, jejak budaya Tionghoa dapat dilihat pada Masjid Cheng Ho, sebuah masjid yang bernuansa Melayu Tionghoa. Nama Cheng Ho sendiri diambil dari nama seorang kasim Cina bernama Laksamana Cheng Ho. Cheng Ho adalah seorang admiral Cina beragama Islam yang melakukan misi silaturahim terhadap Kerajaan Majapahit. Dalam pelayarannya, Cheng Ho mengunjungi Palembang sebanyak tiga kali. Di sinilah peran Cheng Ho terlihat, ia bersama pedagang Tionghoa lainnya ikut menyebarkan agama Islam di Palembang. Pada waktu itu, Cheng Ho memimpin 62 kapal dengan 27.800 tentara untuk berlabuh di Palembang.

Pada tahun 1407, Kota Palembang diganggu oleh sekelompok perampok Hokkian. Di bawah naungan Kerajaan Sriwijaya, Kota Palembang pun meminta bantuan kepada armada Tiongkok Asia Tenggara agar mau membantu mereka menumpas kejahatan para perampok Hokkian tersebut. Bantuan pun datang dan kepala perampok yang bernama Chen Tsu Ji berhasil ditangkap. Chen Tsu Ji dan anak buahnya menguasai perairan Sungai Musi, Sungsang, dan juga Selat Bangka dan merompak seluruh kapal yang melintas di ketiga perairan tersebut. Semenjak itu, Cheng Ho membentuk organisasi masyarakat Tionghoa beragama Islam di Palembang.

Masjid Cheng Ho Palembang berdiri megah di kawasan Jakabaring, tepatnya di Perumahan Amin Mulia. Pendirian masjid ini diprakarsai oleh masyarakat Tionghoa Palembang, para sesepuh, dan juga anggota Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. Pembinaan masjid dilakukan pada September 2005 tepat pada saat peletakan batu pertama. Masjid mulai digunakan pertama kali pada tahun 2008. Dengan tampilan arsitektur yang merupakan perpaduan antara budaya lokal Palembang, Tionghoa, dan Arab, masjid ini menjadi masjid favorit peziarah selain Masjid Agung Palembang di Jalan Merdeka. Banyak peziarah dari Cina, Taiwan, Malaysia, Singapura, dan Rusia yang sering datang ke Masjid Cheng Hoo. Selain berperan sebagai tempat ibadah, Masjid Cheng Hoo juga kerap digunakan untuk kegiatan kemasyarakatan, mengingat misi Cheng Hoo yang ingin menciptakan perdamaian bagi dunia.

Bagi anda yang ingin berkunjung ke Masjid Cheng Hoo Palembang, anda bisa langsung datang ke Perumahan Amin Mulia Jakabaring. Jika anda menggunakan jasa angkutan umum, seperti bus tujuan Plaju ataupun Kertapati, anda bisa berhenti di Simpang Jakabaring lalu naik angkutan pinggiran tujuan Pasar Induk Jakabaring. Tanyakan saja pada Pak Supir, mereka pasti tahu keberadaan masjid yang didominasi oleh warna merah ini. Selain di Palembang, masih ada dua Masjid Cheng Hoo di wilayah lain di Indonesia, yakni di Pasuruan dan Surabaya.

Masjid Cheng Hoo adalah simbol Muslim berdarah Tionghoa di Palembang. Gaya arsitektur yang menonjolkan sisi Tionghoa, pilar-pilar tinggi berwarna merah, dan warna hijau giok pada masjid ini menambah keindahan pesonanya yang seperti istana kerajaan. Keberadaan Masjid Cheng Hoo di Palembang menunjukkan eksistensi para muslim Tionghoa di Palembang sekaligus simbol akulturasi antara Melayu (Islam) dan Tionghoa.

Oleh : Rahel Simbolon
Gambar:
1. http://travelmatekamu.com/wp-content/uploads/2014/07/masjid_cheng_ho_palembang_2.jpg

Jumat, 30 Mei 2014

BATIK PEKALONGAN PUNYA CERITA

Batik merupakan hasil karya manusia yang mempunyai nilai seni tinggi dan telah menjadi warisan budaya asli Indonesia. Dunia pun telah mengakuinya melalui UNESCO. Dengan demikian, batik merupakan identitas bangsa Indonesia yang sangat tinggi nilainya. Bervariasi corak dan motifnya membuat batik juga diekspor ke mancanegara. Seni kerajinan batik ini terdiri dari batik cap, batik lukis, batik bordir, batik kombinasi, dan batik modern.

Salah satu penghasil batik terkemuka di Indonesia adalah Pekalongan. Kota ini telah memproduksi batik yang didistribusikan ke seluruh wilayah Nusantara dan bahkan diekspor ke luar negeri. Hampir setiap kampung yang ada di kota ini dijadikan sentra kerajinan batik. Seakan-akan batik menjadi nafas kehidupan masyarakat di sana. Berbagai motif yang dijadikan brand image batik Pekalongan adalah batik Jlampang yang motifnya dipengaruhi oleh India dan Arab, batik Encim dan Klengenan yang dipengaruhi oleh peranakan Cina, batik Belanda dengan motif buket bunga, batik pagi sore, dan batik Hokokai yang tumbuh pesat saat zaman penjajahan Jepang.

Pekalongan telah menjadi pusat batik sejak 1850-an. Saat itu batik didistribusikan di wilayah Banten. Orang-orang Arablah yang berperan penting dalam pendistribusian batik. Karena mereka adalah pedagang. Dulu, wanita-wanita Eropa yang justru menekuni batik. Bahkan mereka menjadi pengusaha batik. Sedangkan wanita pribumi sebagai pembatik biasa di rumahnya. Mereka mendapat pesanan dari pengusaha batik yang notabene adalah wanita Eropa. Akhirnya para pembatik pribumi pun direkrut oleh wanita Eropa sebagai pekerja atau buruhnya dan mereka mendapat upah. Melihat geliat usaha batik yang semakin cerah, orang Cina dan Arab mulai tertarik. Sehingga mereka pun mengajak wanita pribumi lainnya untuk bergabung sebagai pekerjanya. Pada 1880, tercatat ada lebih dari 500 pembatik yang bekerja di industri batik. Pada 1890, kerajinan batik Pekalongan pun berkembang pesat. Dan pada 1910, kerajinan industri batik berubah menjadi industri rakyat.

Pada 1930 terjadi malaise yaitu kondisi perekonomian yang sangat sulit dan Eropa pun terkena dampaknya hingga mengakibatkan pengusaha batik mengalami gulung tikar. Hal ini membuat mereka ada yang pergi ke luar Jawa dan ada juga yang beralih profesi berdagang kecil-kecilan. Akhirnya pada saat sekutu meninggalkan Indonesia, ganti Jepang menduduki wilayah Indonesia. Tak terkecuali Pekalongan pun juga dikuasai oleh Jepang. Semasa Jepang menduduki wilayah Pekalongan mereka pun tertarik dengan adanya batik dan lahirlah batik Jawa Hokokai. Batik ini dihasilkan oleh pengusaha Cina. Batik Jawa Hokokai ini merupakan gabungan dari unsur keraton yaitu lereng, kawung, ceplok, dan parang dengan hiasan bunga (sakura, anggrek, mawar, krisan, leli), burung merak dan kupu-kupu yang disusun dalam buketan dan lung-lungan sehingga menghasilkan pola yang kaya warna dan corak yang indah.

Berikut corak batik Pekalongan:

http://www.kopimaya.com/forum/showthread.php/1482-Batik

Oleh : Wahyu Inayah
Referensi:
Margana, Sri & Fitrianingsih, Widya. 2010. Sejarah Indonesia: Perspektif Lokal & Global. Yogyakarta: Penerbit Ombak.